Desire 2 Kamu... Siapa?!

1543 Kata
"Nduk, ini bude sama pakde mau ke rumah sakit dulu ya, mau menjenguk teman pengajian yang dirawat inap. Pak Ganda kan baru besok atau lusa sampai di sini. Katanya sih sudah sampai di Jakarta tapi masih ada urusan dulu." "Gadis ikut dong bude nebeng sampai toko baju terdekat. Mau beli baju renang nih. Bude sih gak bilang kalau ada kolam renang kan Gadis bisa bawa baju renang dari rumah. Sayang uangnya iih bude kan Gadis jadinya beli baju renang lagi." Gadis merajuk manja pada budenya. Budenya ini tidak punya anak perempuan. Dua anaknya semua laki-laki. Gadis adalah anak terkecil di trah keluarga sang bapak, makanya dia sangat disayang bude pakdenya ini, dianggap seperti anak sendiri, bahkan cenderung dimanja. "Kamu Dis, kok ya masih perhitungan ae toh. Mentang-mentang kamu nih, manfaatkan situasi ya nduk. Lagipula bude sudah bilang sama Pak Ganda kalau nantinya beliau harus membayar upah buatmu kok. Gak usah khawatir, Pak Ganda setuju-setuju saja tuh waktu bude bilang kamu minta per bulan dikasih tiga juta. Banyak kan?" "Alhamdulilah bude... jadi tiga bulan Gadis akan dapat sembilan juta ya? Asiiik bisa buat beli hengpon baru..." Gadis seperti anak kecil, melonjak-lonjak gembira. "Hengpon? Opo maneh kuwi?" (Apa lagi sih itu?) "Hahaha... handphone bude. Yuk aah, kita berangkat bude biar nanti Gadis kembali ke sini gak kesorean." Di mobil, bude menceritakan sekilas tentang Pak Ganda pada Gadis. Gadis tidak pernah serius mendengarnya, apalagi sekarang dia sudah terbayang akan mendapat hampir sepuluh juta setelah tiga bulan bekerja di sini membantu budenya. Sudah terbayang sih apa saja yang akan dilakukannya dengan uang senilai itu. Buat tambahan biaya kuliah S2 di kampus targetnya, UNJ atau Universitas Negeri Jakarta. "Nduk... dengerin bude gak? Pasti enggak ya." Gadis meringis, ketahuan berkhayal. "Pak Ganda itu memang duda, duren kalau kata anak jaman sekarang ya pakne? Duda keren. Ganteng, bagus ngunu uwonge (cakep orangnya), tapi bukan berarti kamu boleh menggodanya ya. Yang bude tahu, Pak Ganda itu ceplas ceplos kalau bicara, kadangan menyakitkan hati, tapi mungkin itu karena beliau lama tinggal di Jerman. Pak Ganda kan sudah jadi warga negara sono tuh, makanya jarang pulang ke Indonesia. Kalau ada perlu saja katanya baru pulang ke Indonesia." "Ooh berarti Pak Ganda gak punya KTP lagi dong bude kalau begitu. Laah kenapa jadi pindah warga negara bude?" "Bude gak tahu nduk, biarlah itu urusan Pak Ganda. Malam ini kamu sendirian dulu gak papa kan ya? Ada pak satpam sih tapi kan jaga depan. Kamu berani kan nduk?" si bude bertanya pelan, takut-takut meninggalkan Gadis sendirian sebenarnya. "Insya Allah berani bude. Gadis udah gak takut lagi sama kecoak kok, cuma geli aja. Eeh tapi gak ada kecoak kan bude di rumah?" Gadis bergidik ngeri membayangkan kecoak. Phobia terbesarnya pada hewan, mengalahkan ular. Ular sih asalkan tidak berbisa, dia masih berani pegang karena Bima yang sering mengajarkannya. Tapi kalau kecoak...?? Waah dia menyerah kalah apalagi kalau kecoak terbang. "Gak ada, wong rumah bersih gitu kok. Nah itu toko bajunya, jangan pilih baju renang yang modelnya aneh-aneh ya nduk! Ingat walau tubuhmu mungil seperti anak-anak tapi kamu sudah dewasa. Pilih yang sopan." "Siyap bude." Gadis segera saja asyik memilih baju renang. Tapi wajahnya berubah kecewa karena baju renang one piece yang sesuai ukuran tubuhnya ternyata habis. Tinggal model yang two pieces. Ragu-ragu Gadis akhirnya membeli baju renang two pieces itu. Modelnya memang sedikit menantang, warna merah pula. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya itu yang tersisa, hingga mau tak mau Gadis akhirnya membeli baju renang two pieces itu. Sementara di villa utama, pak satpam tampak tergopoh-gopoh membuka pintu dan meletakkan koper ke kamar utama. Sedangkan di belakangnya tampak sesosok tubuh tegap dan gagah mengikuti, berucap terima kasih, kemudian membuka kemeja yang dipakainya, dan segera melompat ke atas kasur empuk di depannya. Akhirnya... aku ketemu kamu lagi.... Lelaki itu kemudian menepuk-nepuk kasur dan tanpa sadar dia terlelap. Sementara, Gadis yang sudah sampai di villa utama, karena terlalu bersemangat membayangkan akan berenang sampai tidak memperhatikan sekitarnya bahwa ada sepasang sepatu pantofel laki-laki yang licin tersemir tertata rapih di rak sepatu. Segera saja dia memakai bikini two pieces yang baru dibelinya, tanpa mau repot mencucinya lebih dulu. Toh sebentar lagi juga kena air kan? Gadis membuka kimono yang dipakainya, kemudian melakukan pemanasan sebentar sebelum akhirnya dia mencelupkan kaki terlebih dulu ke air kolam renang itu. Mumpung Pak Ganda, si empunya villa baru akan datang besok sore dan malam ini bude dan pakde tidak berada di villa, dia bisa menikmati berenang sepuasnya. Hiii... agak dingin airnya... tapi syegeeerrr... Dengan gerakan anggun, Gadis meluncur dan berenang perlahan, menikmati sore itu. Segala gaya berenang yang dia tahu, sudah dicobanya. Sekarang saatnya dia bersenang-senang. Layaknya anak kecil yang sangat suka bermain air, Gadis menggoyangkan kakinya di air kolam hingga menimbulkan bunyi kecipak air. Sesekali bahkan Gadis tertawa bahagia. Tidak menyadari bahwa di kamar sebelah kolam renang itu, ada seseorang yang terganggu tidurnya karena bunyi kecipak air. Lelaki itu menggeliat, dan mengucek matanya dengan kesal, merasa terganggu. Baru juga bisa tidur sebentar sudah ada gangguan. Siapa sih yang berani mengganggu tidurku? Sosok tegap dan gagah lelaki itu kemudian berdiri dengan malas-malasan dan membuka tirai yang menghalangi jendela kamarnya ke kolam renang. Jendela sekaligus juga berfungsi sebagai pintu. Matanya sedikit menyipit, memastikan apa yang dilihatnya benar. Ada seorang anak perempuan yang berenang di kolam renangnya! Mentang-mentang masih anak-anak, berani pakai bikini two pieces. Mungkin dia keponakan bibi penjaga villa ini yang katanya akan membantu selama tiga bulan. Memikirkan itu, si lelaki tampan ini berniat melanjutkan tidurnya yang terganggu tapi mendadak tidak jadi saat melihat dengan jelas wajah imut-imut anak perempuan itu. Kalau melihat wajahnya, dia bukan anak-anak lagi sepertinya. Tapi tubuhnya kecil dan imut sih. Pendek. Hmm sepertinya lucu juga kalau aku isengin dia. Lumayan deh daripada sepi. Lelaki tampan dan gagah ini kemudian hanya memakai celana renangnya saja dan perlahan membuka pintu, masuk ke kolam renang dengan mengendap agar tidak diketahui oleh Gadis yang masih sibuk berenang. Gadis yang memakai kaca mata renang tentu saja tidak menyadari akan hadirnya sesosok lelaki yang malah sudah masuk ke kolam renang dan berenang bersamanya. Saat ini Gadis sedang mencoba gaya punggung, tapi saat hendak sampai ke ujung kolam renang, dia menjerit kaget karena mendengar suara deheman seorang lelaki. Reflek dia membalikkan badannya, tapi dia lupa masih memakai kaca mata renang jadi penglihatannya tidak begitu jelas. Ada seorang lelaki di kolam renang villa itu! Tentu saja Gadis menjerit heboh. "Aaaah... siapa kamu! Kamu siapa?" Gadis berontak hingga gerakannya menimbulkan cipratan air, sebagian mengenai wajah lelaki itu. "Hei.. hei... diam! Berhenti kataku! Berhenti!" Lelaki itu kemudian memeluk Gadis dan semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Gadis yang semakin heboh meronta. "Lepasin aku..! Lepasiiiin!! Lepas kubilang! Dasar m***m!" "Lepas kacamatamu dulu! Dan jangan seenaknya bilang aku m***m!" "Gimana bisa lepasin kaca mata kalau tubuhku kamu peluk gini! Dasar m***m kuadrat!" kembali Gadis memberontak. Sayangnya karena Gadis yang tidak mau diam, membuat aliran listrik seperti mengalir di tubuh Ganda, dari otaknya yang mengalami korsleting hingga menjalar ke seluruh tubuh, bahkan ke bagian tubuhnya yang paling primitif sekalipun. Ganda menahan nafas sejenak, mencoba mengumpulkan oksigen agar mau kembali mengaliri otaknya hingga ia bisa berpikir jernih, memanggil kewarasannya yang tadi sempat mengepul karena korsleting. Dia lelaki dewasa normal, sudah menikah, dua kali malahan dan pasti sudah merasakan nikmatnya duniawi dari tubuh seorang perempuan. Ganda mengerang pelan, celana renangnya mendadak sempit. Kulit mulus tubuh Gadis yang dia yakin masih gadis - jangan ditanya bagaimana dia bisa tahu kalau gadis di depannya masih perawan, karena dia ahli dalam hal ini - bergesekan dengan kulitnya. Dia harus menghentikan skinship contact ini atau dia akan kehilangan akal dan menerkam gadis imut ini dan membawanya ke kamarnya. Ketika Gadis sudah melepaskan kacamatanya dan bisa melihat dengan jelas wajah lelaki super ganteng yang ada di depannya, tubuh Gadis mendadak kaku. Dia juga masih tidak sadar bahwa tubuhnya masih dipeluk oleh Ganda. Ganteng...!!! Kya... cowok ganteng...! Ganteng pakai banget!!! Kulit sawo matang malah menambah kesan macho. Gusti... ini cowok ganteng gini dari mana datangnya? Batin Gadis dalam hati. Matanya membola, terkesima dengan ketampanan Ganda. Matanya bagus banget, bulat, bola mata hitam pekat itu membuatku semakin terjerat. Kulit kenyal kuning langsat, mulus, menggoda imanku untuk mencicipinya. Pikiran Ganda melayang ke mana-mana. Tidak hanya Gadis, Ganda juga merasakan hal yang sama. Kulitnya mulus banget walau tidak putih, tapiii kulitnya terasa sangat kenyal dan menggodaku... Sungguh menggoda imanku. Berpikir tentang mulus dan kenyal, mendadak celana renang Ganda yang tadi sudah biasa saja jadi sempit lagi. Sial!!! Udah lama banget gak ngerasain skinship contact kaya gini, kenapa aku malah jadi kacau? Nih cewek mungil bener-bener minta dibawa ke kamar. "Kamu siapa?" suara berat menyapa Gadis. "Saya yang harusnya tanya, bapak siapa? Kenapa bapak bisa sampai masuk ke mari? Bapak maling ya? Kalau iya saya teriak nih...!!" Gadis mengancam. Lelaki di depannya tersenyum misterius melihat kenekatan gadis mungil di depannya ini. Mana ada maling ngaku coba? Dasar bocah! "Pertama kamu harus lihat sekelilingmu dulu, kalau kamu menjerit juga percuma karena pak satpam pasti sedang ada di pos jaganya seperti yang sudah saya tugaskan. Kedua, kamu juga harus tahu dibelakang tembok tinggi ini adalah sawah seluas beberapa hektar yang sudah saya beli dari petani agar mereka tidak berani menjual ke orang lain. Ketiga, kamu tuh siapa sih?" "Sebentar... sebentar... " otak Gadis berpikir cepat. Dia mulai merasa khawatir. Euum... tugaskan? Sawah yang aku beli...?? Whaaattt... jadi lelaki ini adalah...?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN