“Kiri atau kanan?”
Butuh sepuluh detik untuk menjawab pertanyaan itu, bahkan saat jawabannya sudah keluar Rania tidak yakin ia menjawab dengan benar.
“Kanan?” ucapnya dengan nada bertanya. satu tangannya menunjuk ke arah yang ia pikir sebagai kanan.
Awan menoleh ke belakang, tersenyum lebar. Tanpa kata ia menarik tangan Rania yang teracung dan mengarahkannya ke arah berlawanan.
“Kanan,” katanya lembut.
Wajah Rania memerah. “Maaf, aku….”
Awan tertawa. “Ayo turun, setelah ini kita harus berjalan.”
Rania mengangguk. Ia turun dari motor milik Awan. Ia menyerahkan helm miliknya pada pria itu.
“Berapa jauh tepatnya tempat itu?” tanyanya sambil melihat sekitar. Sejauh mata memandang hanya ada padang rumput yang dikelilingi bunga liar. Ranting ilalang setinggi pinggang bergoyang seirama, menciptakan gelombang hijau keemasan yang memanjakan lensa penglihatannya. Di bawah langit yang mulai menggelap Rania berdiri terpaku, merasakan embusan angin yang membawa aroma tanah basah dan nectar bunga liar.
Di antara hamparan rumput, bintik-bintik warna dari bunga Lantana dan Marigold tampak seperti permata yang berserakan. Rania memejamkan mata sejenak, mendengarkan simfoni angin meresap dalam dirinya.
Saat ia membuka mata, ia mendapati Awan tengah berdiri sambil menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Gelombang perasaan yang selama ini berusaha keras ia tekan dengan cepat memenuhi dadanya. Rania buru-buru memalingkan pandangan, takut jika ia tidak melakukannya momen rapuh itu akan membuatnya lepas kendali.
Ia tidak bisa melakukannya.
Ia tidak ingin menghancurkan persahabatan mereka.
Awan satu-satunya yang mengerti dirinya. Orang yang ia izinkan dekat dengan dirinya.
“Jadi?” tanyanya, berusaha membuat wajahnya seriang mungkin.
Awan menghela napas. “Ayo, ada yang ingin kutunjukkan.”
Bibir Rania mengerucut, meski begitu ia menyambut uluran tangan Awan. Bersama, dengan tangan saling menggenggam mereka melanjutkan perjalanan menembus padang ilalang. Sesekali Rania membiarkan ujung jemarinya menyentuh kasarnya alang-alang yang mulai mengering.
“Lihat ke sana,” bisik Awan pelan begitu mereka berhenti.
Rania mengalihkan pandangannya. Di hadapannya, matahari perlahan tergelincir, menyentuh garis cakrawala. Seketika, seluruh padang rumput itu bermandikan cahaya jingga keemasan yang begitu pekat. Helai-helai ilalang yang tadinya terlihat kusam kini berkilau seperti untaian emas, dan bunga-bunga liar di bawah kaki mereka seolah terbangun untuk menyerap sisa hangat terakhir.
Untuk sesaat, Rania lupa bagaimana caranya bernapas. Keindahan itu begitu megah, namun pada saat bersamaan terasa menyakitkan. Rania memandang profil wajah Awan yang tersapu cahaya jingga dan saat itulah ia merasakan seolah ada yang mencambuk dadanya. Keindahan di depannya terlalu banyak untuk ditanggung sendirian. Ia ingin meneriakkan nama pria itu, mencengkeram kemejanya, dan menumpahkan segala rasa yang telah menggerogotinya begitu dalam.
Namun, setiap kali kata-kata itu sampai di ujung lidah, ia mengingat persahabatan mereka. Dan ia tidak sanggup jika harus kehilangan itu. Ia memilih untuk menelan kembali pengakuannya, meski rasanya seperti menelan pecahan kaca.
“Ini waktu dan tempat favoritku.” Awan menoleh tersenyum lembut sebelum kembali menatap keindahan di depan mereka.
“Kau tahu kenapa?”
Rania tidak menjawab, rasanya ada yang ingin meledak dari dadanya. Ini tempat favorit dan waktu favorit pria itu. Mereka telah banyak melewati waktu bersama. Bepergian bersama dan melakukan banyak hal gila bersama, tapi kenapa yang ini terasa berbeda? atau sekali lagi, kepalanya berhasil menipu dirinya sendiri karena putus asa mengharapkan Awan merasakan apa yang ia rasakan?
Awan melanjutkan ucapannya tanpa tahu gejolak badai emosi yang tengah melanda Rania.
“Saat senja segalanya berakhir. Twilight adalah saat di mana satu hari berakhir, saat di mana cahaya dan gelap beradu untuk terakhir kalinya,” lanjut Awan, suaranya kini selembut embusan angin yang menggoyangkan ilalang.
“Segalanya memudar, Ran. Beban hari ini, lelahnya kita, semuanya seolah dimaafkan langit sebelum malam benar-benar menjemput.”
Rania meremas ujung lengannya hingga buku-buku jarinya memutih.
“Tapi gelap selalu berarti cahaya hilang kan?”
“Kau lupa, ada beberapa keindahan yang hanya bisa dilihat saat gelap datang?”
Awan mengulurkan tangannya ke depan, menunju ke arah barisan ilalang yang kini hanya tampak sebagai bayangan hitam pekat.
“Lihat ke sana, Ran.”
Tepat saat sisa cahaya jingga berakhir terkubur dibalik bukit, satu titik cahaya hijau pucat muncul dari balik rimbun rumput. Disusul satu lagi. Lalu belasan, hingga puluhan. Cahaya-cahaya kecil itu menari pelan, naik-turun di antara helain daun, seolah bintang-bintang baru saja jatuh dan tersangkut di padang rumput.
“Kunang-kunang,” bisik Awan, suaranya mengandung kekaguman kekanak-kanakan.
“Mereka tidak akan terlihat kalau matahari masih ada. Kadang, kita harus kehilangan cahaya besar untuk bisa melihat keajaiban-keajaiban kecil yang selama ini tersembunyi.”
Rania tertegun, menatap keindahan magis yang mengelilinginya. Ia menatap salah satu cahaya yang terbang mendekat ke arah Awan, seolah makhluk kecil itu pun tertarik pada ketenangan pria di sampingnya.
Dada Rania berdenyut nyeri. Ia merasa seperti kunang-kunang itu—memiliki perasaan yang berpijar terang, namun hanya bisa ia tunjukkan dalam kesunyian dan kegelapan, karena takut cahaya itu akan langsung padam jika dipaksa bersaing dengan terangnya kenyataan.
“Bagus ‘kan?” Awan menoleh. Di bawah pendar kunang-kunang yang remang, mata Awan tampak lebih hangat dari senja tadi.
“Gelap nggak selalu buruk, Ran. Kadang itu hanya cara semesta menunjukkan apa yang benar-benar berharga.”
Rania menelan ludah, ia bisa gila jika terus seperti ini. Rania menarik napas panjang, mengumpulkan setiap serpihan keberanian yang tersisa di dasar hatinya. Pendar kunang-kunang di sekitar mereka seolah memberinya restu.
“Awan…” suara Rania bergetar, separuh berbisik. “Sebenarnya ada sesuatu yang—“
Rania baru saja akan mempertaruhkan segalanya. Ia sudah membuka bibirnya, siap menumpahkan pengakuan yang selama ini menyumbat napasnya. Namun, dibalik punggung Awan dunia mendadak membeku.
Dari kegelapan ilalang, muncul sosok yang sangat ia kenali—horor hidupnya, sumber trauma yang mengakar. Suaminya. Berdiri di sana, matanya yang kosong namun penuh kebencian menatap Rania, seolah sedang menghakiminya karena berani mengecap sedikit saja kebahagiaan.
Tanpa kata, tanpa peringatan tangan dingin itu bergerak dengan ketepatan mematikan.
Jleb.
Suara logam yang menembus daging itu terasa lebih nyaring dari dengung lebah mana pun. Dunia seolah melambat. Senyum lembut yang tadi menghiasi wajah Awan menghilang, digantikan oleh ekspresi kosong yang membingungkan. Rania melihat tubuh Awan limbung, darah merah pekat menyembur, mengotori kelopak bunga Lantana dan tangan Rania yang gemetar.
Merah darah menelan warna emas senja dalam sekejap.
Kebahagiaannya dibantai tepat di depan matanya sendiri.
“Awan!”
Rania tersentak bangun dengan napas yang memburu dan keringat dingin yang membasahi keningnya. Jantungnya berdentum keras seolah ingin meninggalkan tubuhnya. Napasnya tersengal, dadanya sesak seolah masih ada sisa teriakan yang tersangkut di tenggorokan.
Rania menatap tangannya yang masih gemetar di balik selimut tipis yang membalut tubuhnya. Ia melirik tas ransel di sudut meja—di dalamnya terselip map berisi surat perceraian yang sudah ditanda tangani suaminya. Selembar kertas yang seharusnya menjadi tiket kebebasan, namun kini terasa seperti umpan.
Rania seharusnya tahu, Raka tidak akan pernah membiarkannya pergi semudah itu. Secara hukum ia masih terikat di rantai yang sama. Dan selama rantai itu ada, Awan berada dalam jangkauan belati suaminya.
Setiap detik ia berada di sini, ia sedang menghitung mundur waktu hingga “sosok hitam” dalam mimpinya jadi kenyataan. Rania turun dari ranjang dengan langkah seringan kapas. Ia berjalan ke jendela, menatap taman indah yang sering ia pandangi dengan penuh syukur.
Namun, sekarang harus ia tinggalkan.
Aku harus pergi, batinnya perih.
Awan berada dalam bahaya selama pria itu berada di dekatnya. Rania mulai memasukkan pakaiannya ke dalam tasnya dengan gerakan mekanis. Air matanya jatuh bersamaan dengan pedih yang menusuk-nusuk dadanya.
Ia harus pergi. Ia harus menghilang sebelum Awan memberinya senyum hangat yang hanya akan membuatnya semakin sulit untuk melangkah.