“Ini bukan barang-barang kamu, kenapa dikeluarkan semua, Rin?” suara Gibran datar, namun emosi di guratan wajah nya tergambar jelas. Tegas, kesal,protes.
Empat tahun, bukan empat hari. Setiap detik yang Rinjani lewatkan disamping Gibran, tanpa terlihat sekalipun, membuatnya memahami betul reaksi suaminya itu.
“Maaf, mas” ucap Rinjani, buru-buru mengemasi semua barang kembali ke dalam totebag. Ia menyodorkan itu pada Gibran “I-ini buat Embun ya Mas?”
“Iya, lain kali jangan buka barang yang bukan milik kamu” Gibran hendak berbalik, tidak menjelaskan apapun, seolah ini bukan masalah besar.
Reaksi itu menyentuh ego Rinjani. Tidak cukup setahun, dua tahun, bahkan sekarang sudah tahun ke empat, Embun selalu selangkah lebih dulu darinya.
“Mas, malam ini, bisa habiskan waktu dengan aku nggak?” Rinjani memberanikan diri berbicara
“Saya ada urusan diluar” Gibran sempat menoleh, tapi jawaban yang dia berikan tidak membuat Rinjani merasa puas.
“Tapi Mas, malam ini kan annive kita yang ke….”
“Embun baru saja pindah ke apartemen baru, dia nggak sempat merayakan ulang tahunnya. Malam ini saya dan yang lainnya mengadakan pesta kecil-kecilan untuk dia”
Tidak adil....
Rinjani menikahi Gibran ketika usianya 23 tahun, sementara usia Gibran saat itu sudah 25 tahun. Empat tahun sudah berlalu, Gibran tidak pernah merayakan ulang tahun Rinjani. Entah itu sebuah kesialan, atau sekedar perasaan menggebu-gebu.
Perasaan yang Rinjani miliki untuk Gibran sudah ada sejak ia berusia 15 tahun. Sebuah rasa kagum, menjadi penasaran, hingga rasa ingin memiliki dan jatuh cinta.
Rinjani mengira, dengan mereka sudah menikah maka semuanya berubah. Ia lupa, bahwa semua ini hanyalah pernikahan kontrak.
“Saya sudah bilang, jangan menaruh harapan apapun. Harus berapa kali saya katakan, Rin?”
“Tapi Mas, Bunda telfon aku terus, minta kirimin foto kita ngerayain Anniv. Kalau malam ini bunda nelfon lagi, aku harus bilang apa?”
“Biar aku yang urus Bunda, lagian bunda juga tau kamu menantu yang didambakan kok”
“Mas, aku juga….”
Gibran menyodorkan kartu pada Rinjani “Habisin waktu sama teman-teman kamu. Beli apapun yang kamu suka, tapi jangan pulang larut malam” katanya, berlalu pergi, membiarkan Rinjani hanya menatap punggung lebarnya.
Coba lemparkan pertanyaan, alasan apa yang membuat Rinjani bertahan dalam pernikahannya?
Alasan klise yang denial. Rinjani bertaruh pada harga dirinya, ingin perjuangan dan ketulusannya terbalas lunas. Dia percaya Gibran akan jatuh cinta melebihi perasannya hari ini. Toh selama ini Gibran memperlakukannya dengan baik kok.
Tidak ada penghinaan dalam rumah tangga, tidak ada kekerasan fisik maupun verbal, semua kebutuhan materi sebagai istri tercukupi. Hanya soal waktu, dan Rinjani yakin akan datang masa dimana cintanya akan terbalas.
Di dalam kontrak itu tertulis, pernikahan mereka harus bertahan 6 tahun. Kesepekatan yang disetujui oleh keluarga besar masing-masing pihak. Sebuah tujuan yang harus mereka capai, keuntungan yang mereka dapatkan untuk masing-masing pihak.
“Maafin saya nyonya, ini salah saya” Sari menghela nafas berat
“Enggak kok mbak” Rinjani tersenyum tipis “Aku mau keluar ya mbak, jadi mbak Sari nggak perlu masak makan malam”
“Apa perlu saya suruh pak Joko siapin mobil sekarang nyonya?” tanya Sari, menatap sendu nyonya nya. Dia tau bagaimana usaha nyonya nya mempersiapkan malam ini.
Dekorasi, makan malam, hadiah, bahkan musik yang akan diputar untuk menciptakan suasana romantis malam ini. Sari menjadi saksi, untuk setiap semangat cinta yang terlihat dari Rinjani.
Gagal, semuanya sudah gagal, rencana, harapan, keinginan malam ini.
Sebelum Rinjani menjawab pertanyaan Sari, ponselnya kembali berdering. Ia menyambar benda itu dari tempat tidur “Nggak usah mbak, aku minta Lusi jemput aku”
Malam harinya, berhampakan hati, Rinjani bertemu teman-temannya di salah satu café yang sedang booming untuk kalangan sosialita. Dia mentraktir teman-temannya tanpa perhitungan, sebagai usaha menghilangan kesedihannya.
Lusi, Putri, dan Ajeng. Biasanya hanya Lusi yang paling dekat dengan Rinjani, tapi kali ini dia mengajak yang lainnya, berniat menggunakan kartu pemberian suaminya melebihi batas belanja yang ditentukan, tidak lagi peduli, hanya ingin menghibur dirinya.
“Pesen apa aja ya, gue mau ke balkon bentar, cari udara segar” Rinjani beranjak. Teman-temannya bersorak girang menenteng hasil belanjaan mereka ke meja bundar di sisi kanan.
“Kamu lagi apa Mas?” gumam Rinjani, bersender di pagar Balkon, menatap langit gelap tanpa bintang. Semesta pun mendukung kehampaan hatinya.
Suasana café instagrammable sekali malam ini, interior yang elegan dan bebepa spot cozy, tapi Rinjani sama sekali tidak tertarik untuk mengambil foto dirinya. Rinjani juga tidak pernah membangun branding kemewahan yang dia dapatkan di social media nya.
Beberapa akun social medianya paling hanya ada lima foto dan beberapa video saja. Tidak banyak yang tahu bahwa dia adalah istri dari Gibran Suryanerasa, pewaris tunggal dari keluarga konglomerat, pemilik Angkasa Jaya Group, perusahaan properti ternama.
“Mau sampai kapan Lo jadi bayang-bayangnya, Embun sih?” suara Lisa, menyusul sahabatnya itu, ia menghisap vape liquid creamy nya, menghembuskan asap itu ke udara seakan semua kegelisahan Rinjani ikut terlepas disana.
“Namanya juga pernikahan kontrak, mau gimana lagi?”
“Cerai aja kalau gitu. Lo udah berkorban banyak, ninggalin karir Lo, jadi istri fulltime, penurut, nggak neko-neko.”
“Apasih? emangnya gue elo. Gampang nyerah sama keadaan?” sarkas Rinjani.
“Gue janda bukan sembarang janda. Semua orang juga nggak bakalan ngira gue janda” Lusi bangga dengan itu, memutuskan melepaskan suaminya setelah mengalami KDRT selama tiga tahun.
Mereka sama-sama memunggungi pagar, pun sorot mata mereka sama-sama tertuju pada dua orang yang baru saja masuk.
Mengambil meja di ujung, tempat duduk sofa. Pasangan yang akan dinilai romantis, karena wanita nya membawa buket bunga big size.
“Rin?” Lusi menyentuh pundak Rinjani, tubuhnya ikut menegang
“Diam disini Lusi, please” dia khawatir sahabatnya tersulut emosi, karena pasangan yang mereka lihat adalah Gibran dan Embun, yang terlihat hangat bercengkrama memilih menu makanan.
“Putri sama Ajeng….” Lusi beralih melirik temannya, mereka terlihat sibuk berfoto.
Rinjani maju selangkah “Ternyata kamu bisa tersenyum ya Mas?” gumam nya, menyaksikan senyuman Gibran yang begitu tampan, tulus, hangat. Senyuman yang tidak pernah ia temui di rumah, atau setiap saat dia berada disamping Gibran.
“Rin? Suami Lo bisa datang kesini sama simpanannya, tapi nggak bisa ngerayain anniv kalian? Dia udah nggak waras?”
Rinjani menggelengkan kepalanya “Embun bukan simpanan, sejak awal dia nggak pernah jadi simpanan” Rinjani membantah
“Maksudnya gimana? Lo istri sah Gibran, sementara cewek gila itu hanya…”
“Gue yang simpanannya Gibran, Si” suara Rinjani bergetar. Sepenuhnya sadar dengan ucapannya “Sejak awal, gue simpanannya” katanya memberikan penekanan.
Rinjani melihat Embun mengenakkan gaun yang sempat ia pegang siang tadi, lalu totebag coklat yang Embun letakkan di sebelah kanan, hingga Gibran yang mengusap poni Embun, karena menghalangi tatapan Embun membaca menu makanan.
“Rin, kita pulang aja, gue kasih tau yang lainnya” Lusi mengambil tindakkan.
Sakit, sesak, cemburu…
Seperti biasa, tangisannya ia telan ke dalam. Rinjani melangkah mundur perlahan, hendak berbalik sampai dia menabrak seseorang.
“Ouch, maaf” ucapnya
“Jadi, Gibran masih pacaran sama Embun sampai detik ini?” ucap suara yang tidak asing di telinga Rinjani. Kepalanya terangkat, matanya membundar panik menatap pria di depannya.
“Om Pandu?”
Pandu tidak boleh melihat semua ini, karena Rinjani ragu untuk bisa mengatasi hal selanjutnya yang akan terjadi.
“Om? Aku bisa jelas….” Belum sempat Rinjani menyelesaikan ucapannya, Pandu sudah meleset melangkah ke arah meja Gibran