"Pertemuan itu terlalu singkat, janjimu juga tidak pernah tepat. Bisa aku putar kembali?"
___________
Raline house,
Suara gaduh berasal dari dapur menggema di pagi hari. Seorang gadis dewasa sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan adiknya. Sehingga tidak sempat naik ke atas.
"Runa, bangun jam berapa ini, lo nggak sekolah apa?"
Teriakan nyaring nan lantang itu nyaris memecahkan gendang telinga yang mendengarnya.
"makanya semalem dibilangin jangan begadang, tuh nurut! mama sama papa pulang hari ini loh, kalau nggak sekolah ntar di roasting lagi, MAU LO?!" lanjutnya dengan nada lebih tinggi lagi.
Decitan pintu terdengar dari lantai 2. Lalu pintu itu dibanting cukup keras. Gadis yang lebih muda turun dengan wajah yang ditekuk. Tangannya menggenggam pouch make up yang belum ia masukkan ke tasnya.
"bawel banget sih kak, sabar dikit elah," protes Runa yang berjalan menuruni tangga seraya menenteng tas hitamnya.
Rambutnya di cepol tinggi dengan poni panjang dibelah dua, memberi kesan manis. Kalau menurut kalian dia lembut? em em em salah besar. Dia setengah tomboy.
"sabar sabar, bolos lagi awas aja," ancam gadis yang dua tahun lebih tua darinya.
"kak Luna, kemarin gue udah capek diceramahi mama, cukup lo ga usah nambahin beban. Minggir, gue mau sarapan," usir nya agar tidak menghalangi jalan.
Aluna Raline, seorang gadis yang menginjak angka 19, mahasiswi fakultas hukum semester 2, salah satu Universitas swasta yang terletak di kota yang asri. Bukan tidak pintar, namun dirinya kurang beruntung saat bersaing masuk negeri, dan tidak mau ribet ujian lagi. Lagipula dia tidak mau menunda wisudanya, menghindari iri dengki.
Sedangkan, Arruna Raline, adik perempuannya yang kini duduk di bangku kelas 12 SMA. Sejak kelas 10 anak ini memang agak bandel dan suka tiba - tiba hilang dari kelas. Mana orang tuanya jarang di rumah alhasil kakaknya lah yang terpaksa menjadi tameng bolak balik ruang BK. Sampai gurunya jengah dan hafal.
'Yah, seperti biasa neng,' - ucap guru BK Runa.
Tetapi Runa berjanji dia akan tobat, dia sudah lelah di hukum melulu. Universitas menunggunya sekarang, makanya Runa mulai belajar lagi serta mengikuti les. Itu hal baru baginya, namun mau bagaimana lagi, dia tidak mau terlihat bodoh diantara teman - teman serta keluarga besarnya. Kakaknya---Luna, dia pintar dalam akademik dan non akademik.
Capek juga dibanding - bandingkan.
"kakak buka florist sendiri hari ini?" tanya Runa sembari mengunyah roti selai matcha kesukaannya.
"engga sih, nanti ada kak Ziya yang bantuin. Nanti kalau udah pulang jangan lupa mampir loh," Luna juga mengisi energinya dulu sebelum berangkat kerja.
"iya kak. Eh btw, kak Luna nggak ada kuliah kah?"
Hanya dijawab gelengan oleh Luna. "enak banget, pengen cepet kuliah gue," lanjut Runa berdecak kesal. Kalimat itu sering diucapkan anak kelas 12 yang sudah lemah, letih, lesu mengikuti ujian dan lain - lain. Nyatanya, kuliah itu seperti bom atom.
Dilihatnya tidak seberapa, kalau meledak menimbulkan korban jiwa.
"enak mulut lo, ya elo taunya gue tiap hari cuma masuk kelas 2 kali doang tapi tetep jangan berpikiran kuliah itu enak. Lupa kalau dosen sama kayak guru, suka ngasih tugas nggak perhitungan?" sanggah Luna tidak setuju dengan adiknya.
"iya juga sih," gadis itu lanjut minum s**u putih kesukaannya. Lalu mengambil sebuah buku kecil dari tasnya. Mencatat jadwalnya hari ini.
"Gue masih nggak percaya liat lo begini," celetuk Luna. Ia memandang adiknya dengan senyum jahil. Kepalanya ditopang tangan kanan yang tergenggam.
Runa menghela nafas pelan, "hah mau gimana lagi. Seenggaknya gue berusaha lagi walaupun telat, gue juga capek dibandingin mulu sama lo," curhatnya memandang buku itu. Dia pun tidak menyangka.
"gapapa, semangat! lo pasti bakal kalahin gue nanti. Usaha sama ibadah terus ya," tutur Luna lebih halus sambil mengusap rambut adiknya.
Luna aslinya dua orang, kok.
"kak, nggak ada niatan buka cabang florist?"
"hmm, gue masih ada project buka cafe,"
Anyway, Mereka mempunyai florist yang sudah terkenal dimana - mana. Raline's flo namanya. Toko bunga itu dibangun atas hasil gabut Luna. Kakak beradik kembar nama saja itu lahir dalam keluarga yang kebutuhannya lebih dari cukup. Sebenarnya Luna dan Runa tidak diperbolehkan untuk jualan bunga.
Pertanyaannya buat apa?
Namun, saat itu Luna dilanda kegabutan yang tidak berfaedah. Liburannya sangat hampa dan flat. Akhirnya terlintas ide di otak cerdik Luna untuk menjual bunga dengan awal modal yang pas - pas an. Sebab waktu itu hanya bermodalkan uang jajan bulanan dia yang ia kumpulkan.
Tak disangka, toko bunga kecil - kecil an itu semakin ramai bahkan banyak yang jadi member langganan. Luna sangat bersyukur, dia bisa membuktikan pada orang tuanya kemudian berani meminta izin untuk membuka toko dilahan yang lebih luas lagi dan dekat kampus supaya lebih fleksibel.
"Kak Luna belum cerita tau, alasan pasti buka toko bunga itu buat apa," sogok Runa agar kakaknya jujur. Sebenarnya dia sudah mengetahui tujuan kakaknya mendirikan toko bunga.
Ya, sekedar mancing dikit lah.
"apa sih, kan udah pernah bilang, gue cuma gabut doang," elak Luna menampilkan wajah kerutan nya, ngambek.
"bukan karena kak Jean suka bunga kan?" lanjut Runa menggodanya.
Raut wajah Luna yang semula berkerut mendadak sirna, berubah jadi merah merona ketika adiknya menyebut nama seorang lelaki yang ia sukai.
"ndak Run, effort banget gue sampai begitu," elak Luna sekali lagi. Padahal ekspresinya sangat menunjukkan kalau dia salah tingkah. "jujur aja sih, tindakan lo ini bisa disebut gila atau maklum ya? kalaupun maklum ini kelewatan, gue suka sama orang nggak begini amat," cibir Runa.
"beda, Run. Ini tuh semacam balas budi karena dulu gue belum sempat ngucapin terimakasih. Lo juga belum tau kan cakep nya Jean tuh kayak louis patridge,"
Dengan pede nya Luna menyebut doi-nya mirip bule berwajah tirus itu. Padahal tidak menyiratkan sedikitpun kemiripan.
"serah kakak deh, mau mirip satpam komplek juga nggak peduli gue. tapi, gue juga pengen cepet kuliah, biar bisa tau modelan si Jean - Jean idaman lo itu,"
"awas kalau kepincut, gue coret dari kk," ancam Luna sambil menyodorkan garpu nya, membuat
Runa tertawa kecil membalasnya, "sadar diri kali, kak. Toh gue nggak mau saingan sama lo, ada kali crush gue tuh nganggur," ucapnya sedikit angkuh. Dia ini tipe cewek idaman para cowok juga. Banyak kaum adam di sekolahnya yang mengincar, tapi sayangnya dia sudah punya crush--yang dia pilih.
"iya dah, buruan gue tunggu di mobil," Dia mencubit pipi chubby adiknya.
"hmm," Runa memasukkan barang - barangnya ke dalam tas.
Luna menyelesaikan sarapannya dan berhenti berbincang random dengan adiknya. Kemudian, dia berjalan keluar duluan untuk memanasi mobil jazz full hitam ala mamba-nya. Suara knalpotnya pun bukan main, gebar - geber seperti mobil sport. Tipe Luna banget.
Style kerja nya pun tidak main - main. Rok hitam span, inner putih tanpa lengan dibalut jaket denim yang kembar dengan bias koreanya---lee Jeno. Tak lupa make up tipis, rambut gulung keatas dengan jepit anti patahnya. Itu menjadi ciri khas seorang Luna.
Kacamata hitam juga on point pastinya.
Terlihat Runa yang sudah rapi keluar dari rumah sambil mengunci pintu. Ia mengecek penampilannya dulu dikaca belakang sebelum masuk, bikin Luna menghela nafas jengah.
"udah cakep ayolah, lo telat gue tanggungan bk lagi," seru dia melalui jendela mobil yang terbuka separuh.
"bagus dong," jawab Runa enteng, bibirnya ia poles lagi dengan lip tint, karena luntur akibat minum s**u.
"maksud lo bagus?!"
"ya berarti lo sayang sama gue, sampe belain dateng ke guru bk,"
"KALO NGGAK GUE SIAPA LAGI!!" tukas Luna menaikkan nada bicaranya. Runa jadi merinding takut. Ia memilih diam lalu memakai seat belt dan pura - pura mengecek handphone.
Luna melajukan mobilnya menuju SMA Regina, sekolah adiknya. Kebetulan satu jalan dengan florist. Jadi, Luna tidak perlu putar balik.
Hanya butuh 20 menit untuk sampai di depan pintu gerbang sekolah megah dan bersih itu.
"pulang naik grab aja, gue males kalau bolak - balik," pesan Luna saat adiknya berpamitan.
"iya kak,"
"belajar yang bener, if you colut again, you keluar dari rumah!"
"iya ya ampun kak, gue nggak bakal lakuin itu lagi, udah lah,"
Runa langsung melangkahkan kakinya pergi, terlalu malas untuk berdebat panjang lebar dengan kakaknya. Luna menghela nafas sabar menghadapi tingkah laku adik satu - satunya itu.
Sebelum tancap gas lagi, tiba - tiba ponsel Luna berdering.
"halo zi, ada apa?" tanya Luna melalui obrolan suaranya yang di loadspeaker sebab tangannya sibuk menyetir.
Ternyata itu Ziya, teman dekatnya.
"Lo free gak?"
"Gue lagi otw mau beberes florist, nih. Eh, bukannya kemarin udah bilang ya dasar pikun,"
"iya gue lupa, hp nya ke reset tadi, 20 menitan gue nyusul. Stress berat di rumah," keluh Ziya, suaranya terdengar seperti habis menangis.
"kenapa? lagi ada masalah?" tanya Luna khawatir.
"ntar gue cerita, see u Luna Maya mwahhh,"
"hmmm"
Hampir setiap hari Ziya menelepon dirinya, seperti pacarnya sendiri. Mereka berdua jomblo jadi ya, maklum lah...
Gimana sih rasanya punya ayang?
Luna belum pernah, kalian udah punya?
Dia memilih stuck di satu nama yang disebutkan Runa tadi, si Jean idaman para gadis dan tante - tante. Aneh, kenapa Luna bisa naruh rasa ke modelan kayak gitu?
Luna jika tidak ada jadwal kuliah, selalu menyibukkan diri di florist. Entah sekedar memantau, membantu buat pesanan atau bahkan mengantar buket. Ada sih, beberapa teman cowoknya ngajak main. Namun, dia selalu menghindar dan mencari alasan. Soalnya, belum pernah mencoba jalan berdua saja, takut canggung.
????
Raline's flo.
Setelah 15 menit lagi, sampai juga di depan toko bunga dengan banyak sekali kaca tembus pandang. Dimaksudkan supaya ada cahaya matahari yang masuk dan bunga yang dijual masih terlihat segar. Mirip rumah kaca dalam film luar negeri.
Satu toko yang cukup luas dan terhimpit beberapa bangunan yang lebih tinggi serta terdapat aneka ragam bunga.
Toko ini dibangun oleh Luna tahun 2018 an, saat dia masih libur transisi dari SMA ke Universitas. Kurang lebih libur 3 bulan, sia - sia juga kalau rebahan saja.
Rencana awalnya Luna akan ke Singapura, namun batal karena waktu itu Visa nya belum keluar. Lalu, dia memutuskan untuk mencari ide lain. Ketemulah jualan bunga. Tokonya selalu ramai, apalagi saat musim wisuda atau mendekati valentine, pesanannya bisa membludak. Bukan hanya bunga saja, tetapi barang, snack dan yang lain pun bisa jadi buket dengan model buketnya selalu bervariasi.
Luna dan Runa bisa tidak tidur seharian karena membantu karyawannya.
"Pagi semua," sapa gadis itu kepada para pegawai florist - nya yang sudah sampai lebih dulu.
"pagi bu boss," jawab mereka serempak.
Luna tersipu malu dipanggil boss, "sebelum kalian kerja ini ada kopi dan cake untuk kalian. Ingat ya harus serius ngerjain pesanannya, saya lihat orderan hari ini sampai dua lembar folio ya? SEMANGAT!!" tuturnya memberi energi positif.
"siap bu! Terimakasih,"
Pegawainya mengambil kopi dan cake satu per satu, tak lupa mengucap terimakasih lagi. Luna tersenyum bahagia mempunyai teman - teman florist yang baik, jujur, gesit dan rajin.
"bu bos, kemarin baru testing grand opening cafe Jena nih. Alhamdulillah, banyak yang suka menunya," ucap salah satu asisten yang menghampirinya diselingi senyum merekahnya.
Dia menunjukkan lembaran berupa grafik - grafik peningkatan penjualan. Senyum Luna tambah merekah melihatnya. Mulai dari testi customer, rate yang diberikan, serta kegesitan koki dan baristanya. Tak hanya senang karena penghasilannya lancar, tetapi dia bisa bantu orang disekitarnya memberikan pekerjaan.
Bidadari mana sih ini?
Ternyata bukan hanya Florist saja, namun Luna akan mendirikan sebuah cafe hasil dari kerja kerasnya dan bisa menjadi bukti pada kedua orang tuanya. Cafe ini dibangun dengan sedikit modal yang diberi orang tuanya, uang bulanan Luna dan Runa. Nantinya akan bergantian mengurus dua toko ini.
Alasan Luna bangun cafe, ada sangkut pautnya dengan Jean pastinya, haha. Bisa dilihat dari nama cafenya.
"Ih seneng banget aku hari ini, Puji Tuhan. Good job buat kalian nanti aku kasih bonus deh, kamu juga pinter banget cari koki sama baristanya," puji Luna antusias seraya menggoyang - goyangkan lengan gadis seumuran di depannya.
Mata sayu nya masih terpana dengan jajaran komentar positif yang ia terima. Semoga semuanya lancar.
"iya dongs, apasih yang engga buat kak Luna. Btw terimakasih ya bonusnya," seru asistennya ikut senang.
Alluna Raline terharu. Terharu untuk semuanya. Dia selalu dikelilingi orang - orang baik, usaha yang awalnya dari gabut tidak disangka jadi sebesar ini, bahkan bisa membuka cafe yang dulu memang masuk wishlist nya.
Sambil menunggu sahabatnya datang, Luna mengambil beberapa lembar laporan penjualan tadi dan menyusunnya di ipad agar tidak tercecer atau hilang.
Setelah itu beralih sebentar mengambil diary lamanya. Jari - jari nya menari di atas kertas, menuliskan sesuatu. Senyum simpulnya menunjukkan bahwa dia sedang bahagia.
"it's been long time, Jean. Walaupun kenyataannya kita gak bisa deket, 0,1% harapannya. Tapi, Puji Tuhan aku bisa bangun suatu hal yang menjadi kesukaanmu. Kita emang belum ketemu lagi Jean, tapi nggak tau hati ini selalu menggebu - gebu kalau ada yang nyebut nama kamu," gumam Luna seraya mendongak menatap langit pagi yang cerah biru tanpa awan.
beep beep!!!
"HELLOW BESTIE!!" teriak Ziya memanggil dari seberang jalan begitu lantang. Padahal dia belum turun dari mobil. memalukan,
Dia tersenyum tanpa dosa saat mendapat lirikan tajam dari Luna. ck, ngerusak orang lagi galau aja ni bocah satu, gagal maning gagal maning gue galau, gerutunya dalam hati.
"tadi aja lesu pas di telepon. Habis ketemu gue keluar tuh singanya," cibir Luna mendelik kesal.
Ziya berjalan ke arah Luna dengan wajah tidak ada kesedihan, "pardon? not you but your flower make me...hmm very semangats lagi," ujarnya berakting menghirup kelopak bunga mawar disebelahnya.
"alay. Lo kenapa? hidup stress mulu perasaan, Harsa Arby lagi? "
Ziya mendudukkan pantatnya dan melempar tasnya dengan kasar, di seberang Luna yang sibuk mengetik. Wajahnya ia tekuk dan cemberut. "itu masalah sepele Harsa mah, ada yang lebih gaswat. If you want know, hah..." helaan nafas terdengar dari mulutnya.
"Bokap gue mau balik ke Indo astaga, gue belum ziap," tegasnya lalu merengek seperti bayi.
Padahal ditempat umum loh, kebiasaan.
Ziya Asfara, akrabnya dipanggil Zizi atau Jia. Teman sebangku, sehidup semati, sejurusan, sefrekuensi, pokoknya seribu persen apa - apa mereka lengket kayak anak kembar. Sampai - sampai mamanya Luna sudah menganggap Ziya sebagai anaknya sendiri.
Aneh, tapi gapapa, biasalah ibu - ibu.
Dia lebih tua dari Luna 3 bulan. Bawel, rewel, alay, cengeng. Definisi manusia terpaket lengkap nyebelin dan ngerepotinnya. All of day, ada aja barang branded yang ia checkout. Biasa, anak gadis semata wayang dari pemilik perusahaan besar. Tidak heran apa yang dia mau pasti dapat.
Namun, berbanding terbalik dengan kondisi keluarganya sekarang.
"Lah orang bokapnya balik kok malah nolak, aneh. ingat ya, uang jajan lo semuanya itu dari bokap lo," nasehat Luna rada naik darah tingginya.
"I know I know, Luna. Gue juga syukur puji tuhan deh bokap gue pulang. Tapi mama yang nggak mau, secara kan papa udah jadi mantan suaminya tuh. Ya meskipun dia anggep begitu padahal belum resmi juga, sih. Well, gue ikut mama, otomatis mama no gue juga no,"
Luna berhenti mengetik, sepertinya Ziya butuh wejangan lagi. "alasan bokap lo pulang apa??"
"mana gue tau, tapi rumornya sih mau bangun perusahaan lagi di Indo kayak cabangnya gitu, kata om gue. Gue harus lari kemana lagi coba? sungkan gue ke rumah lo mulu,"
"najis sok - sok an bilang sungkan, biasanya juga langsung bobol masuk kamar gue tanpa salam. Lagian kenapa harus lari sih?"
"gue belum siap nerima kebisingan di rumah, Lun,"
Luna menggelengkan kepalanya pelan, "No Ziya, lo itu udah gede. Mikir dong, lo udah dikasih kehidupan enak bukannya bersyukur malah lari dari masalah mulu, lo cari enaknya doang sih,"
Luna berani bicara seperti itu juga atas dasar kenyataan yang ada. Ziya memang lebih tua, tapi pemikirannya masih kecil, taunya kabur terus. Makanya perlu didikan lebih agar pola pikirnya berubah.
"Gue kasih tau nih. Setiap bagian hidup ada aja problemnya. Kalau bokap lo ada niatan balik kemungkinannya dua sih, apa yang diomongin om lo itu bener atau mau rujuk sama nyokap lo lagi, itu malah lebih bagus,"
"Kalau semisal berantem juga lo jangan b**o lah, jangan kabur. Lo itu anak satu - satunya sebagai penengah dari segala keributan orang tua lo. Cari solusi, nyari enak doang," lanjutnya berkata lebih pedas lagi .
Habisnya geram melihat tingkah Ziya yang seperti anak kecil ini. Luna hafal sekali.
Jika Ziya sedang ada masalah di rumah atau dimana pun, dia selalu kabur. Ujung - ujungnya Luna atau Runa yang jadi sasaran empuk.
"iya gue ngerti," balas Ziya cuek. Gadis itu menyenderkan punggungnya pada kursi, bersedekap merajuk.
"Jangan iya iye doang lo, besok lakuin!" tegas sahabatnya sekali lagi.
"Iya Luna, ya ampun bawel. tapi gue juga iri sama kehidupan lo. Nyokap lo mau adopsi anak lagi nggak sih?" tanya Ziya ngelantur kemana - mana.
Luna menepuk jidat lebarnya, ngomong dengan sahabat satu - satunya ini memang menguras tenaga dan emosi. "ya itu buktinya, lo selalu mandang sebelah mata dan lihat enaknya aja. Gue tadi udah bilang kan tiap hidup pasti ada masalahnya, gue juga punya masalah. Cuman satu - satunya cara yang gue lakuin adalah Deeptalk. Itu penting banget Zi, apalagi dengan orang yang bermasalah sama lo,"
"masalah akan cepet selesai kalau salah satunya ngalah, berani untuk buka suara, deeptalk terus sama - sama cari jalan keluar. Bukan malah ngilang, marah nggak jelas itu nggak bakal nyelesaiin masalah. Yang ada jadi beban hidup lo sendiri, makanya lo stres mulu,"
Kan, Ziya Asfara butuh wejangan...
Gadis itu diam sambil menggigit bibir bawahnya. Mencerna setiap nasehat yang keluar dari mulut sahabatnya. Jujur, semua itu benar namun kondisi sifat orang tua Ziya yang menghalangi cara itu. Terlebih lagi mamanya sangat keras kepala.
"iya sih lo bener, tapi masalahnya ortu gue nggak pernah ada waktu semenit pun. Bahkan nyokap gue pas di rumah nggak mau diganggu, ya gue makin stres lah,"
"Belum waktunya aja, ndak harus sekarang kok. Apalagi disituasi kayak gini, nyokap lo yang gila kerja dan bokap lo sama. Intinya nanti bakal ada titik terangnya, sabar ya," ucap Luna, kali ini dia tersenyum serta mengusap bahu Ziya supaya sahabatnya ini lebih kuat,
Ziya memajukan bibir bawahnya, matanya berkaca - kaca ingin menangis. Kemudian, dia berdiri mendekati Luna, dan memeluknya erat. "cuma lo yang bisa ngertiin dan sabar ngadepin gue, Lun. Gue pasrahin jalannya sama Tuhan, i hope my family comeback again. Gue mau ngehamburin uang satu milyar pun juga engga bakal bahagia kalau keluarga gue begini," ucapnya setengah lesu.
"Gue juga do'ain yang baik - baik. Semangat jangan gampang putus asa, perbanyak sadar diri sebagai anak satu - satunya di keluarga, lo ini perantara buat mereka, jadi pihak keduanya bukan salah satunya. Lo cari kesalahan mereka sampai nemuin titik terangnya,"
"Nyokap lo keras kepala, sama kayak lo. Sedangkan bokap lo masih sayang kalian dan berusaha nyari cara biar nyokap lo percaya,"
"Walaupun gue kesannya selalu galak dan pedes tiap ngomong gini, tapi gue tetep sayang sama lo apapun yang terjadi. Biar lo juga sadar kalau masalah itu perlu diselesaikan bukan ditinggalkan,"
"udah gue mau bikin orderan," ujar Luna menutup perbincangan sebelum air matanya ikut menetes. Jujur sebenarnya dia tidak tega melihat kondisi mental Ziya yang kacau akibat orang tuanya sendiri, sahabatnya ini memang selalu tersenyum meskipun itu adalah topengnya.
Dia melepaskan pelukan Ziya kemudian masuk ke dalam untuk mengambil bahan dan alatnya. Seraya mengusap air mata yang perlahan menetes di pipinya.
"eh, kakak nggak papa?" tanya pegawai kasirnya menghampiri. Wajahnya terlihat sangat khawatir.
Tangisan Luna pecah tanpa suara. Dia tidak bisa menahannya lagi. Tetapi dia tidak boleh berlarut karena Ziya masih ada di depan. Takut menambah beban pikirannya.
"gapapa, ada tisu nggak?"
Pegawai itu memberikan beberapa lembar tisu. "serius, kak Luna gapapa? kalau capek mending istirahat di rumah aja kak,"
"gapapa,"
Begitu pula dengan Ziya. Dia memandang ke atas agar air matanya tidak turun. Belum siap menerima yang terjadi nanti. Segala hidupnya berubah ketika papa nya meminta izin ke luar negeri. Sementara mama yang melepas tanpa rasa percaya.
"Lun, ada bunga mawar hitam nggak?" tanya Ziya random, setelah Luna keluar lagi. Kembali dengan topeng senyumnya.
Beratnya hidup.
"aneh, ya nggak ada lah. Seumur - umur gue belum lihat mawar hitam asli, kecuali di lukisan. Ada - ada aja lu, buat apaan emang??"
"Buat belasungkawa ke hati gue. Udah kosong, nanggung sakit mulu, belum punya ayang lagi," curhat Ziya mulai memajukan bibir bawahnya lagi.
"sabar, lo kurang ibadah kali. Makanya nggak dapet jodoh," balas Luna terkikik geli.
"paan sih, ngaca dong. Ibadah lo berarti juga minus ya," sengit Ziya tak mau kalah.
Tangannya ikut mengambil beberapa tangkai bunga. Daripada tidak ada kerjaan, dia membantu sahabatnya sedikit.
"yee dikasih tau malah ngeledek. Gue mah tetep stay di satu orang walaupun kemungkinannya minus nol, tapi gue setia. Ya you know lah siapa orangnya,"
"Jean lagi Jean lagi, lo napa sih maksain suka sama dia. Jelas banget modelannya begitu, gue haters nomer satu Lun, sumpah dia argh udah lo mending ganti yang lain aja," tukas Ziya mengomelinya.
Luna tidak menghiraukan ucapan Ziya yang setiap hari tidak jauh beda kalau membahas cowok itu. "Gue suka Jean juga ada alasan khusus,"
"alah alibi pake alasan khusus. paling juga sama aja kayak cewek lain, emang pesona Jean bukan main, tapi buat gue sih enggak," bantah Ziya berdecak sebal.
"mang napa si?"
"Jean playboy anjir daripada lo sakit hati, mikir pake logika lo. Jangan kedepanin perasaan mulu,"
Luna berdecih meremehkan, "heleh, apa kabar mas Harsa?"
"Ga asik lo bawa - bawa Harsa. btw, Dia punya cewek baru. Kemarin di post i********: tuh,"
"WHAT THE HELL,"
segitu dulu teman - teman jangan lupa vote, komen dan share yups. Terimakasih banyak papai
tbc...