“Lo bisa cepatan dikit enggak?!” tanya Auriga yang berdiri di ambang pintu kamar Gala. Remaja laki-laki itu menatap kesal ke arah saudara kembarnya yang baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk. “Yang sabar kenapa? Orang sabar, pantatnya lebar!” ujar Manggala sambil membuka pintu lemari pakaiannya untuk memilih baju. Karena malam nanti pembukaan Warung Nenek, tentu saja Gala harus tampil badai. “Lo gue tinggal beneran mau?” ancam Auriga yang amat-amat kesal, hampir ditahap dengki sebenarnya jika tidak mengingat bahwa Gala adalah orang yang satu rahim bersamanya. “Setengah jam aja, gue yakin nanti udah siap!” seru Gala tak menoleh, remaja itu mempercepat gerakan matanya untuk memilih pakaian. Auriga menghela nafasnya panjang. Jadi seperti ini rasanya menunggu seseorang bersia

