Bab 10

1875 Kata
"Tenang aja Ra, kan ada gue," ucap Awan merespon perkataan Zara. "Emang lo mau wakilin gue lari kayak gitu?" tanya Zara. "Maksudnya, kan ada gue yang siap gendong lo kalau lo pingsan," jawab Awan "Ha ha ha ha ha. Bercanda Ra, gue pasti akan wakilin lo lari entar. Jangankan cuma mengitari lapangan, mengitari dunia pun gue sanggup kalau demi lo," sambung Awan yang dibalas dengan senyum sinis dari Zara. Dasar Awan, tak henti-hentinya ia menggoda cewek yang di mata dia memiliki sebuah kecantikan tersendiri. "Ayo kita ke sana!" Seperti biasa, ketika sampai di setiap pos, sang ketua kelompok pun harus melakukan laporan. Dan itulah hal yang paling dibenci oleh setiap ketua kelompok. Bukan itu saja, ketua adalah orang yang harus bertanggung jawab atas kesalahan kelompoknya. Bisa dibayangkan jika seandainya ketua kelompok 7 adalah Awan Mungkin di setiap pos, hukuman telah menanti mereka. Kecuali, jika sifatnya mendadak berubah. "Di pos ini, materinya agak sedikit berbeda dengan pos yang lain. Materi kali ini adalah soal ketahanan fisik. Pertama-tama kalian semua harus berlari mengitari lapangan ini sebanyak 10 kali. Setelah itu kalian harus push up sebanyak 30 kali, dan diakhiri dengan sit up 50 kali," jelas seorang lelaki yang merupakan kakak kelas dengan suara lantangnya. Terik matahari yang sudah mulai menampakkan wujudnya jelas membuat mereka merasa kesal. Jangankan berlari, bergerak sedikit saja mereka sudah mulai sangat malas. "Kayaknya dia mau bunuh kita," bisik Awan. Lain dengan Awan, lain juga dengan Ardi. Pemuda yang satu ini masih nampak tenang-tenang saja. Seolah tak ada sesuatu yang berat yang sudah menantinya. "Tunggu apa lagi, cepat kerjakan!" bentak yang kakak kelas tepat di hadapan Awan. "Oh, sekarang ya, Kak ?" tanya Awan. "Terus mau kapan lagi? Cepat!" Sontak bentakan itupun membuat semuanya berlari kecil, memulai lari panjangnya mengitari lapangan sebanyak 10 putaran. Ardi memandang wajah sang kakak kelas dengan tatapan sinis. Raut wajahnya jelas sangat terlihat seperti orang yang sedang emosi. Keringat deras mulai menetes di setiap wajah-wajah manusia yang sedang berlari itu. Napas mereka juga sudah terengah-engah. Kalau seandainya saat ini adalah malam hari, mungkin ketahanan fisik mereka agak sedikit lebih kuat. Tapi, ini adalah waktu pagi menjelang siang dengan sinar mentari yang begitu terik. Akhirnya, setelah beberapa lama berlari, 10 putaran pun telah selesai. Kini mereka hanya harus menyelesaikan beberapa tugas lagi. Push up 30 kali ditambah lagi dengan sit up 50 kali. "Baiklah, sekarang kalian semua mulai push up mengikuti hitungan saya!" Hitungan pun telah dimulai, ke delapan anak remaja itupun mulai menjalankan tugas mereka masing-masing. Terik matahari masih terasa menyengat tubuh. Bagai dipanggang di oven dengan suhu 40 derajat, itulah yang dirasakan oleh mereka. Berbagai u*****n juga pasti mereka lontarkan kepada kakak-kakak kelas mereka. "Dasar kakak-kakak kelas b******n! Seenaknya saja nyuruh-nyuruh orang," batin Awan. Tak lama kemudian, hitungan pun sudah mencapai angka 30. Kini tinggal satu tugas lagi yang tersisa, yaitu sit up sebanyak 50 kali mengikuti hitungan lelaki yang merupakan kakak kelas itu. Tetesan keringat sudah seperti guyuran air ketika mandi. Tapi mereka tetap menjalankan tugas terakhir itu. Lebih tepatnya tugas terakhir di pos itu. Mungkin di pos-pos lain masih ada sesuatu yang jauh lebih berat dari ini. " 50." Hitunganpun berakhir di angka 50. Untuk sementara, mereka bisa bernapas lega. Semua tugas di pos itu sudah terselesaikan. Tinggal 2 pos lagi yang tersisa, yang mungkin akan sangat sulit juga untuk dilalui. "Ada yang kesal?" Pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan yang sangat dikenal oleh kebanyakan pelajar. Dan mau tidak mau, kebohongan pun harus mereka sampaikan demi mempersingkat waktu dan yang pastinya agar tidak diberi hukuman. "Nggak Kak," jawab mereka serentak. "Yakin?" "Iya Kak." Seorang lelaki yang tak diketahui namanya itu tiba-tiba mendekati satu persatu dari 8 orang yang berada di kelompok itu. "Apa kamu kesal dengan saya?" Itulah pertanyaan yang ia lontarkan kepada ke delapan adik kelasnya. Dan pastilah jawaban dari mereka adalah..... "Nggak Kak." Hingga pertanyaan itupun sampai kepada Awan. Semua mata pun memandang Awan dengan ragu. Takut ia akan menjawabnya asal. Kalau benar-benar ia akan menjawabnya asal, maka hukuman pun siap menanti mereka. "Apa kamu kesal dengan saya?" "Eng... enggak Kak." Semua orang pun bisa bernapas lega dengan jawaban Awan. Kini tinggal satu orang yang belum mendapat pertanyaan itu, yaitu seorang Jonathan Ardilan. "Apa kamu kesal dengan saya?" Ardi memandang wajah yang kakak kelas lekat. Jujur ia sangat kesal, bahkan mungkin jauh lebih kesal dari yang lainnya. "Nggak Kak," jawabnya. "Bagus. Kalian semua harus tahu, kita bukan bermaksud untuk bertindak semena-mena dengan kalian. Ini hanyalah sebuah pelajaran agar kalian bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi," jelasnya. Semuanya pun manggut-manggut tanda mengerti. Meski di hati mereka masih tersimpan sesuatu yang tidak dapat diungkapkan. "Sekarang, kalian boleh melanjutkan perjalanan. Udah tau rutenya kan?" "Sudah kak," jawab mereka serentak. *** Sebenarnya tak ada yang salah dari mereka. Hanya saja, ada sesuatu yang telah mereka sadari sejak lama, tapi tak pernah mereka pahami. Bentakan-bentakan itu hanyalah sebuah pencitraan, tapi banyak yang menganggapnya serius meski sudah tau hal itu. "Awan omong doang bisanya," ucap Zara dengan sinis. "Hufff, bukannya gitu cantik, tapi kan tugas itu adalah sebuah cara untuk mencari jati diri kita. Kalau gue wakilin tugas lo, sama aja gue menghambat lo mencari jati diri lo." Tak ada lelah-lelahnya dua orang itu saling adu mulut. Tapi entah kenapa, hal tersebut malah bisa menjadi hiburan bagi yang lain. *** Syila berjalan agak jauh di belakang yang lain bersama seorang wanita berhijab yang bernama Alma. Matanya terlihat sedang memandang sesuatu di depan sana. "Lihat apa sih?" tanya Alma. "Hehh, enggak. Bukan apa-apa," jawabnya berbohong. "Jangan bohong!" Syila mengernyitkan dahinya, wajahnya masih terlihat sangat cantik meski sudah sangat kelelahan. "Tu Ardi kenapa sih, tak biasa-biasanya dia begitu?" tanya Syila. "Cie, perhatian nih." Kedua sudut bibir Syila mengembang. Jujur ia memang memerhatikan Ardi selama perjalanan. "Ihhh bukannya gitu, tapi kan aneh aja," sangkal Syila. "Halah, bilang aja kalau suka!" goda Alma. "Cie, Syila," lanjut Alma. Syila sudah tidak tahan dengan godaan dari Alma. Bibirnya mengembang dengan sempurna hingga menambah kesan cantik dari dalam dirinya. "Hufff, sebenarnya...." " Sebenarnya, gue itu...." "Sebenarnya gue itu berpikir kalau dia bukan Ardi," ungkap Syila. Alma menghela napas berat sembari memasang wajah tak enak dipandang. "Kamu sakit?" tanyanya. "Nggak." "Terus kamu pikir, orang yang ada di depan itu setan yang sedang menyamar. Jelas-jelas itu Ardi, malah dibilang bukan," ucap Alma. "Bukannya gitu, tapi ya sudahlah," kata Syila. Mereka pun kembali berjalan agak cepat untuk menyusul teman-teman lain yang sudah berjalan cukup jauh didepan mereka. "Woy, gantian dong bawa tasnya!" rengek Awan tiba-tiba. "Ogah banget," jawab Vino. "Bar, bawain dong! Lo kan ketua kelompoknya. Lagipula, ini kan tas lo," rengek Awan lagi. "Berani nyuruh ketua, mau lo gue pecat dari kelompok 7?" gertak Bara. "Wah, nggak asyik lo. Dikit-dikit ngancem, dikit-dikit ngancem." Semua anggota kelompok pun tertawa kecil mendengar keluhan dari Awan. "Lagian lo, masa lo kalah sama Alma, yang sedari tadi menggendong tasnya tanpa ngeluh sedikitpun," ucap Bara. Awan mendecak sebal. Melihat hal itu, teman-temannya kembali tersenyum senang. Mungkin itu bisa menjadi pelajaran agar Awan tudak menggunakan mulutnya untuk menjerumuskan teman-temannya yang lain dalam masalah. "Ardi." "Nggak," jawab Ardi singkat. Awan pun pasrah dengan keadaan. Teman-temannya benar-benar dzolim kepadanya. *** Pukul 11.00 Akhirnya pos ketiga pun telah nampak di depan mata. Terik matahari terasa sudah mencapai puncaknya, padahal sebenarnya pun belum. Ke delapan anak remaja itu cuma bisa berharap agar sesuatu yang sedang menanti mereka itu bisa mereka lalui dengan mudah. "Oke, di pos 3 ini, apa ada yang sudah tahu materinya?" tanya seorang lelaki bertubuh normal yang entah siapa lagi namanya. "Belum," jawab mereka serentak. "Oke, materi kali ini adalah tentang baris-berbaris. Tapi sebelum itu, saya ingin tau yel-yel kalian. Coba nyanyikan!" Yel-yel, sebuah hal yang pasti sangat tidak disukai oleh kebanyakan pelajar, khususnya bagi pelajar laki-laki. Jujur mereka pun tak sebegitu mempersiapkan hal yang satu ini. "Ok, are you ready ?" "Ready." "One, two, three." Di bawah komando seorang Bara, mereka semua bersiap untuk menyanyikan yel-yel mereka. Kami kelompok tujuh Kami nggak punya yel-yel Kenapa nggak punya yel-yel ? Karena kami nggak buat Buat apa pakai yel-yel Kalau cuma sebentar Contohlah kelompok kami Biar semua berkembang KELOMPOK 7 IS THE BEST Begitulah yel-yel dari kelompok mereka. Nadanya hampir sama dengan tentara yang sedang berlatih, ataupun sama dengan pekerja di acara Bedah Rumah GTV. Dan satu hal lagi yang harus diketahui tentang siapa sosok pembuat yel-yel itu. Dialah sosok dengan rambut kribonya yang dikenal sebagai Arawan Sinaga atau yang akrab dipanggil Awan. Setelah yel-yel mereka nyanyikan, kini giliran mereka melaksanakan tugas utama di pos 3 itu, yaitu baris-berbaris. Rasa penat ditambah dengan sengatan sang mentari yang terasa seperti sejengkal diatas mereka pun menambah penderitan bagi ke delapan anak remaja itu. Mungkin bukan hanya mereka, tapi yang lain juga. *** Setelah beberapa lama melakukan kegiatan baris-berbaris, akhirnya adzan dhuhur pun berkumandang. Sang kakak-kakak kelas memerintahkan semua yang berada di sana agar pergi ke masjid terdekat untuk melaksanakan sholat dhuhur. Sedangkan, mungkin bagi kelompok-kelompok lain yang sudah berjalan lebih dulu dari kelompok tujuh, melaksanakan sholat dhuhur di masjid yang lain. Setelah sholat, para murid pun mengeluarkan bekal mereka dari dalam tas yang dibawa oleh perwakilan anak. "Hufff, akhirnya beban beratku akan hilang," ucap Awan. "Eh teman-teman, makan dan minumnya nanti aja gimana?" goda Bara. "Iya, gue setuju. Kalau perlu di sana tu kan ada botol-botol kosong, kita isi air lagi aja untuk bekal nanti," tambah Vino sembari menunjuk kearah botol-botol yang berada di pojokan masjid. "Lalu siapa nanti yang harus bawa nih tas?" tanya Awan. Semua mata telah memandang Awan, bersiap untuk menjawab pertanyaan darinya. "Ya lo lah," jawab mereka serentak. Sudah ia tebak, pasti itulah jawaban dari teman-temannya. Satu hal yang harus ia lakukan, yaitu pasrah. "Zaman modern gini, masih aja ada kerja rodi," gumam Awan pelan. "Ha ha ha ha ha, bercanda Wan. Mana bekal kami?" "Tu, ambil sendiri!" jawab Awan sembari menunjuk tasnya. Satu persatu dari mereka pun mengambil bekalnya masing-masing. Ada yang dibungkus, ada juga yang ditaruh di kotak. Sebuah variasi dengan misteri yang berada didalamnya. "Lo nggak makan, Wan ?" tanya Bara. "Apanya yang mau dimakan? Batu atau kayu?" "Oh iya ya, lo kan gak bawa, ha ha ha ha." Awan merasakan sesuatu yang sangat mengesalkan, ia pikir dengan membawa tas berisikan bekal mereka, ia akan dibagi sedikit. Tapi nyatanya malah ditertawakan. "Kalau mau, ambil punya gue aja, Wan," ucap Ardi tetap dengan ekspresi dingin. "Terima kasih, Ardi. Lo adalah sahabat terbaik gue. Nggak kayak mereka tu," sindir Awan. "Woy-woy, gue tadi cuma bercanda kale. Kalau lo mau, ambil aja!" ucap Bara. "Telat." "Eh, ngomong-ngomong, ini buat gue semua kan, Di?" Sambungnya. Ardi tak merespon pertanyaan Awan. Dengan segera ia menyantap bekalnya, mungkin takut dihabiskan oleh Awan. Awan sedikit melirik Ardi, nampaknya sikap sahabatnya itu sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia menghela napas pelan sembari ikut menyantap bekal yang dibawa oleh Ardi. Ternyata, sebuah ikatan yang disebut dengan persahabatan itu sangatlah kuat. Ia akan saling memahami perasaan satu sama lain, dan akan senantiasa saling membantu meski dengan cara mereka sendiri. "Ada satu dari banyaknya hal yang aku yakini di dunia ini. Bahwa selamanya, kita akan saling memahami perasaan kita satu sama lain." - Arawan Sinaga -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN