Bab 17

1925 Kata
Hujan lebat di pagi hari itupun telah reda. Kini, hanya menyisakan rintik-rintik air yang masih menghujam daratan. Gumpalan awan tebal masih menghambat sang mentari untuk menyinari bumi. Sementara itu, di dalam sebuah aula yang bercahayakan remang-remang, terlihat para guru pengawas sedang mengoreksi hasil tes para murid. Semua murid menunggu dengan cemas hasil tesnya sembari duduk bergerombol bebas. "Di, gue lulus gak, ya?" tanya Awan pada Ardi. "Kayaknya sih enggak, Wan," jawab Ardi santai. "Hufff. Kalau gue gak lulus, berarti ini salah lo!" tuduh Awan. "Kok gue?" sangkal Ardi. "Lagian lo, ngasih jawaban gak jelas amat. Udah tu, gue tulis lagi tu jawaban," ucap Awan dengan penuh penyesalan. "Wan, kan lebih baik berusaha sendiri. Apapun itu hasilnya, yang penting kita telah berusaha keras untuk bisa menyelesaikannya. Ingatlah, lelaki sejati tak pernah mau dianggap tinggi oleh orang lain. Tapi juga bukan berarti rendahan. Dan lelaki pengecut adalah dia yang selalu ingin dianggap tinggi meski didapatkannya dengan cara yang curang," ucap Ardi sok bijak. Awan mengambil napas panjang, kemudian menghembuskannya pelan-pelan. "Itu menurut lo. Kalau gue ya beda lah," sangkal Awan. "Kalau begitu, tingkatkan saja!" "Tingkatkan apa?" tanya Awan bingung. "Tingkatkan kapasitas otak lo, agar nggak dangkal lagi!" jawab Ardi. Awan mendecak sebal. Tapi mau bagaimana lagi? Itulah resiko untuk dia ketika Ardi sudah menemukan sifat aslinya. Walaupun begitu, ia lebih memilih dibuat bahan tertawaan oleh Ardi daripada saling berdiam diri satu sama lain. "Kenapa, kenapa aku sulit sekali untuk marah ketika kamu menertawaiku? Malahan, dengan begitu, entah mengapa, rasanya itu sangat menyenangkan," batin Awan. *** Para guru pengawas terlihat telah selesai mengoreksi jawaban dari para murid baru di dua lembar kertas sialan itu. Ke empat guru itu berunding terlebih dahulu sebelum membuat keputusan. Tak lama kemudian, Pak Yanto diberi lembaran-lembaran itu oleh ketiga guru lainnya. Dengan begitu, tanggung jawab dipegang oleh Pak Yanto sepenuhnya. Ia mulai mengecek kembali hasil dari pengoreksian ketiga guru yang merupakan teman se profesinya itu. Pak Yanto mulai membacakan setiap nama dan yang pastinya, pernyataan lulus atau tidaknya. Untuk sementara, dari sekian banyak nama yang telah disebutkan, belum ada yang dinyatakan gagal. Semua dari mereka telah lulus dan pastinya diterima di sekolahan itu. Semua yang disebutkan namanya pun bersorak gembira seolah-olah tak peduli lagi dengan nasib teman seperjuangannya yang belum dinyatakan lulus atau tidak. "Jonathan Ardilan." Suara Pak Yanto membuat Ardi mendadak gemetar. Ia langsung mendongakkan kepalanya menghadap Pak Yanto yang sebenarnya sedari tadi ia menundukkan kepalanya. Ia berharap-harap cemas dengan ucapan selanjutnya dari Pak Yanto. "Lulus." Akhirnya, sang manusia tampan bernama Jonathan Ardilan pun dinyatakan lulus dan menjadi siswa sungguhan di sekolahan itu. Bukan lagi berpangkat calon siswa. Namun ia tak bersorak seheboh yang lain, ia hanya tersenyum kecil setelah mendengar pernyataan itu. Malahan, teman-teman dekatnya lah yang heboh setelah mendengar pernyataan itu. Satu persatu nama dari 61 siswa baru itupun disebutkan. Termasuk ke -6 teman dekat Ardi. Dan semuanya pun dinyatakan lulus. Tapi masih ada satu teman dekat atau bahkan berasa seperti saudaranya Ardi yang belum disebutkan namanya. "Dan ini yang terakhir. Arawan Sinaga." Ucapan Pak Yanto terhenti sebentar. Entah disengaja atau tidak, tapi nampaknya sangat disengaja untuk membuat jantung Awan berdebar kencang. "Heh, sengaja banget ditaruh paling belakang," gumam Awan pelan. Awan mencoba menenangkan dirinya mengingat perkataan Pak Yanto yang masih loading. Ia begitu kesal srkaligus takut akan pernyataan yang akan segera diterimanya. "Lulus," ucap Pak Yanto agak sedikit pelan. Mendengar hal itu, Awan bersorak dengan hebohnya. Mungkin kalau dari sudut pandang orang yang melihatnya, ia terkesan lebay, bahkan sangat lebay. Tapi berbeda dari sudut pandang ia sendiri. Rasanya hal yang demikian itu sangat sulit ia dapatkan. Berusaha sendiri tanpa bergantung pada orang lain dan diakhiri dengan sebuah keberhasilan. Mungkin itulah alasan atas sorak sorainya. Atau mungkin juga, alasan mengapa ia bersorak adalah karena ia tak jadi dihukum oleh Pak Yanto. "Selamat, kalian semua keterima untuk masuk disekolahan ini," ucap Pak Yanto. Semua murid kembali bersorak. Namun tidak dengan Nando, Ardi dan Awan. Mereka bertiga hanya berdiam diri meski dengan senyum-senyum nggak jelas sembari menyaksikan sorakan dari teman - teman mereka. "Apa gue bilang ?" Ucap Nando. "Iya ya, Ndo. Mana mungkin mereka berani menendang satu muridpun dari sekolahan ini. Bisa-bisa nggak dapat murid lah," ucap Ardi. Ketiganya pun tertawa lepas. Bukan karena pernyataan itu, tapi karena tepatnya perkataan Nando pagi tadi. *** Tak terasa, hari sudah semakin siang. Awan hitam dilangit pun perlahan pudar. Sedikit demi sedikit, sudah nampak secercah cahaya dari sang mentari yang telah berhasil menembus awan yang sudah perlahan pudar itu. Sebenarnya, sudah tidak ada kegiatan lagi disekolah. Hanya tinggal menunggu pengumuman lebih lanjut sekaligus pembagian seragam untuk para siswa baru. Ardi, Awan, Bara, Vino dan Nando berkumpul disebuah tangga yang menghubungkan antara lantai satu ke lantai dua. Ke -5 orang yang baru kenal beberapa hari, tapi sudah seperti kenal selama bertahun-tahun. Bahkan untuk Nando. Ia baru kenal dengan Bara dan Vino tadi pagi. "Gue pikir, lo nggak akan keterima sekolah disini, Wan," ucap Vino membuka pembicaraan. "Enak aja, lo nggak tau ya, gue waktu SMP pernah dapet ranking 2, bro," ucap Awan dengan sombongnya. "Emang iya, Di?" tanya Bara yang terpancing dengan pernyataan Awan. "Iya," ucap Ardi. "Dari bawah," lanjutnya. Nando, Vino dan Bara pun tertawa lepas mendengarkan jawaban Ardi. Ardi pun ikut tertawa tanpa memperdulikan Awan yang masih menatap tajam ke arahnya. "Wan, Wan. Ternyata otak dangkal lo itu udah dari dulu, ya?" ejek Vino tanpa rasa sungkan. "Punya teman baru, tapi kerjaannya cuma ngetawain gue aja," ucap Awan. "Daripada diketawain, mending ngetawain. Iya nggak?" tanya Nando pada Ardi, Vino dan Bara. "Betul," jawab ketiganya serentak. Di dalam serunya pembicaraan mereka, tiba-tiba ada seseorang yang melangkah ke arah mereka berlima. Seseorang yang sangat cantik bagai bidadari. Seseorang yang pasti sangat dikagumi dan disukai oleh para kaum Adam. "Hmm, Di. Calon istri lo tu, datang," ucap Awan. Ardi menoleh ke arah seseorang yang sedang melangkah mendekati mereka berlima. Jujur, Ardi pun sedikit tertegun ketika melihat cantiknya wajah gadis yang dilihatnya. Tapi entah mengapa, hal itu cuma sebentar terjadi. Setelah itu, ia pun kembali ke sifat aslinya yang seolah-olah sangat sulit untuk tertarik pada kaum hawa. "Istri, istri. Sekolah sono dulu yang bener! Sekolah aja belum bener, pakai ngomongin istri segala," omel Ardi. "Iya, bener tu. Sekolah sono yang bener!" ucap Vino ikut-ikutan mengolok-olok Awan. "Tapi, ngomong-ngomong. Dia beneran pacar lo, kah?" sambung Vino sambil menghadap Ardi. Ardi mendengus sebal. Wajah tampannya ia ubah menjadi raut wajah yang tak enak dipandang. "Heh, dasar saudara beda orang tua," ucap Ardi. Si cantik itupun kini sudah berada di dekat kelima lelaki yang masih asyik mengobrol. Pesonanya begitu enak dipandang. Bagai kecantikan alami dari sang bidadari yang tak pernah pudar. "Ada apa Dik Syila cantik?" tanya Awan dengan gombalan mautnya. "Nggak ada apa-apa," jawabnya santai. "Ah, bohong nih. Pasti nyari abang Awan yang ganteng nih, ya?" godanya lagi. Syila tersenyum tipis mendengar gombalan dari Awan. Dalam beberapa saat, ia melirik seseorang yang berada di samping Awan dengan perasaan malu. "Ada yang bawa kantong kresek, nggak?" tanya Vino tiba-tiba. "Buat apa, Vin?" tanya Bara. "Gue kayak mau muntah nih," jawabnya. Sontak, suara tawa pun tak dapat ditahan lagi oleh Nando, Bara, Vino dan juga Ardi. Sampai-sampai, tawa mereka berempat menggema di seluruh area sekolah. "Gue juga nih, gara-gara ada yang ngaku ganteng, tadi," ucap Nando ikut-ikutan. "Gini nih, kalau jadi orang ganteng. Pasti banyak yang iri," ucap Awan dengan kepercayaan diri tingkat tinggi. Tawa kembali menggema. Kali ini, gadis cantik itu juga ikut tertawa. Meski pelan, tak sekencang keempat lelaki itu. "Hufff, sudah-sudah. Kalian ini. Gak boleh hina-hina orang!" ucap Syila. "Kalian ada yang ngelihat Alma sama Zara, nggak?" tanya Syila. "Kita nggak tau, La," jawab Nando. "Oh, ya udah kalau gitu. Aku pergi dulu, ya," ucap Syila. Syila melangkah meninggalkan kelima lelaki itu. Namun, entah disadari atau tidak, sekilas ia menatap ke arah Ardi. Entah apa maksud dari tatapan itu. "Syila, jangan nyari yang nggak pasti! Carilah yang benar-benar sudah pasti! Contohnya cintaku ini," ucap Awan dengan gombalannya lagi. Syila menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Setelah itu, ia pun kembali berjalan meninggalkan mereka berlima. "Heeee, dasar Mendung," ucap keempat temannya serentak. *** Lelah diri menunggu, akhirnya para guru pun memberikan kepastian bahwa para murid sudah boleh pulang. Namun, sebelum pulang, para murid diberi sedikit pengumuman untuk hari ke depannya. Dan setelah itu pula, ada pembagian seragam. "Wah, wah. Kayaknya kebesaran deh, celanaku," ucap Ardi sembari menguji coba celana abu-abunya. "Makanya, punya badan tu yang gede!" "Kayak badan lo gede aja, Wan," sahut Nando. "Badan dia gede lah, Ndo. Tapi....." "Tapi apa, Vin?" tanya Nando. "Otak dia yang kecil," ucap Vino dengan hebohnya. Tawa mereka lagi-lagi terdengar oleh banyak telinga yang berada didekat mereka. Dan lagi-lagi pula, Awan lah yang menjadi korban ataupun bahan tertawaan mereka. "Nyesel gue ikut ngomong," ucap Awan pelan. *** Pembagian seragam pun telah usai. Kini, murid-murid telah diperbolehkan untuk pulang kerumah masing-masing. Tapi, di depan pintu gerbang masuk sekolahan itu, nampak 5 lelaki masih asyik berkumpul. "Wan, maafkan kesalahan gue untuk hari ini, ya! Gue janji, besok gue nggak akan mengolok-olok lo. Tapi tenang, masih ada hari lusa dan juga seterusnya," ucap Vino. Sontak, lagi-lagi, tawa mereka kembali terdengar. Entah kenapa, keempat lelaki itu suka sekali tertawa tanpa mengajak seorang lelaki lainnya. "Wan, tapi lo jangan dendam sama gue. Mentang-mentang lo kaya, jangan-jangan lo ada niat buat beli rumah gue. Terus gue tinggal di mana?" ucap Vino. Awan menarik napas panjang kemudian menghembuskannya pelan-pelan. "Caraku balas dendam, berbeda dengan cara orang lain." "Dan caraku balas dendam mungkin sangatlah manis. Tapi dampak dari balas dendamku itu, lebih besar dari yang lainnya," sambung Awan. "Wih, serem banget kata-kata lo," ucap Bara. "Heh, udah, gue sama Ardi mau pulang dulu," ucap Awan. Awan dan Ardi berjalan menuju ke arah motor yang memang sudah Awan parkir di luar gerbang sekolah. Awanpun mulai menstarter motornya dan melajukan motornya menuju arah pulang. "Untuk hal sekecil itu, mana mungkin gue akan balas dendam. Heh, dasar lebay," batin Awan. *** Cahaya sang mentari telah sepenuhnya bisa menembus gumpalan awan dan akhirnya bisa menyinari bumi. Panas yang dihasilkannya pun perlahan mulai mengubah suhu bumi yang sedari tadi terasa dingin. Jam 13.15. Ardi sedang tiduran di kamarnya tanpa melakukan apapun. Ia lebih memilih untuk menunggu bapak dan kakaknya pulang. Sesuai rencana kemarin, sore ini adalah hari penggantian nisan sang pemilik nisan tanpa nama. Meski sedang menanti-nanti kedatangan sang bapak dan kakak, sebagai seorang muslim, Ardi pun harus menjalankan kewajibannya. Yaitu sholat, lebih tepatnya sholat dhuhur. *** Jam 14:00 Mungkin benar, ketika manusia ingin waktu itu cepat-cepat berlalu, maka ketika itu pula waktu terasa sangat lambat. Itulah yang dirasakan oleh manusia tampan bernama Jonathan Ardilan ketika sedang menanti kedatangan bapak dan kakaknya. Sampai-sampai, saking bosannya menunggu, ia pun tertidur pulas di kasurnya. Bahkan, dalam keadaan tidak sadar pun, Ardi masih terlihat sangat tampan. Wajar saja kalau banyak wanita yang menyukai dia. Tapi mungkin, ada satu hal yang bisa saja membuat para wanita merasa muak saat melihat Ardi. Itu adalah saat-saat, di mana sifat seorang Jonathan Ardilan, mendadak tidak jauh beda dari Awan. *** Jam 16:15 "Ardi, bangun!" perintah Ibu Ardi. Ardi masih belum mau bangun, ia begitu menikmati tidurnya. Ia mungkin sedang bermimpi dikelilingi banyak wanita cantik yang sangat indah untuk dipandang. Tapi, tidak mungkin juga sih. Kalau untuk Awan, hal itu baru mungkin. Ardi mungkin sedang bermimpi berada di dunia yang amat menyenangkan. Tidak ada sekecil penderitaan dan rasa sakitpun di sana. Karena itulah, ia begitu sulit untuk dibangunkan. "Ardi.... Bangun!" teriak Ibu Ardi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN