Bab 14

2049 Kata
Sore hari, pukul 16:00 Ardi sudah berada di rumah. Hari ini, kegiatan MOS sudah berakhir. Dan hal yang sangat disukai para murid pun ada di hari ini, yaitu pulang pagi. Ardi duduk santai sembari menonton televisi. Ia dan ibunya masih menunggu bapak dan kakaknya yang masih sibuk bekerja. Rencananya, sore ini, mereka sekeluarga akan meluncur ke rumah sakit untuk memperjelas berita tentang kematian Lita. Tok-tok-tok. Terdengar suara pintu rumah diketuk oleh seseorang. Refleks, Ardi pun menoleh kearah pintu beriringan dengan suara ucapan salam dari seseorang diluar sana. "Assalamualaikum." "Waalaikum salam," jawab Ardi. Ia masih duduk di depan televisi. Tak ada sedikitpun niat untuk membukakan pintu, karena ia pun sudah tahu siapa seseorang di luar sana. Pintu rumah perlahan terbuka, dan akhirnya nampaklah sosok seorang lelaki yang gagah, yang tidak lain adalah Bapak Ardi. "Kakakmu belum pulang, Di?" tanyanya. "Belum Pak," jawab Ardi singkat. "Ya udah, kita tunggu aja kakakmu pulang. Baru nanti kita berangkat ke rumah sakit," ucap bapaknya. "Iya Pak," jawab Ardi. Bapak Ardi berlalu begitu saja dari hadapan Ardi. Ardi pun melanjutkan aktivitasnya kembali, yaitu menonton televisi. Hingga teleponnya berdering kencang, tanda ada panggilan masuk. Ia langsung mengambil teleponnya dan di layar teleponnya terpampang jelas nama sosok penelepon itu. Di layar, tertulis nama Awan kribo yang berarti Awan, sahabat Ardi. "Hallo Wan, ada apa?" "Lah, nih anak. Salam dulu kek! Langsung nyerocos aja," ucap Awan sok alim. "Assalamualaikum, ada apa?" tanya Ardi. "Bentar dong, gue jawab salam lo dulu. Buru-buru amat sih," ucap Awan. "Ya, cepet jawab!" perintah Ardi. "Waalaikum salam." "Ada apa?" tanya Ardi yang ketiga kalinya. "Apanya?" tanyanya balik. Ardi mulai kesal dengan situasi ini. Keningnya dikernyitkan tanda kekesalan dia. "Ada apa lo nelpon gue?" tanya Ardi mempertegas. "Kenapa, gak boleh ya?" tanya Awan balik. "Enggak," jawab Ardi singkat. "Yah, Ardi. Kenapa nggak boleh?" tanya Awan dengan nada lebay. "Gue sibuk," jawab Ardi. "Sibuk apa lo?" tanya Awan. "Pergi ke Manchester, mau ketemu Lionel Messi." "Wah, konslet nih anak. Lionel Messi di Barcelona kali," ketus Awan. "Gue kan ngikut lo," ujar ardi. "Udah, cepet! Ada apa sih nelpon gue?" sambung Ardi. Untuk beberapa saat, tak ada jawaban dari Awan. Entah apa yang ia lakukan hingga tak langsung menjawab pertanyaan dari Ardi. "Ikut gue yuk!" ajaknya. "Ke mana?" tanya Ardi. "Main PS." "Nggak ada duit, gue," jawab Ardi. "Lah, lo lupa gue nih siapa? Tenang aja lah, gue bayarin," ucap Awan menyombongkan diri. "Sok lo, tapi gue gak bisa. Gue mau ke rumah sakit buat buktiin kebenaran kematian Kak Lita," ucap Ardi. "Gitu ya, gue boleh ikut?" tanya Awan. "Sorry, mending jangan deh, Wan. Ini kan urusan keluarga," jawab Ardi. "Oh, ya udah deh." "Ya udah, tutup teleponnya. Pulsa 5000 aja sok-sok an nelpon," ejek Ardi. "Hey, gue kan.... " Dengan segera, Ardi memutuskan panggilannya sebelum Awan berbicara lebih panjang lagi. *** "Wah, resek banget nih anak," umpat Awan. Awan membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Mungkin ia akan mengurungkan niatnya untuk pergi main PS dengan satu alasannya, tidak ada teman. Aneh memang, ngaku kaya, tapi tidak punya PS sendiri. "Baru nelpon siapa, Wan?" Sebuah suara mengagetkan Awan yang sedang enak-enaknya tiduran di sofa. "Ardi, Ma. Dia sekeluarga mau ke rumah sakit buat mastiin kematian Kak Lita," jawab Awan. "Oh, semoga ada keajaiban, ya. Orang yang dianggap meninggal itu bukan Lita," ucap Mama Awan. "Hufff, iya Ma. Kasihan Ardi." "Oh ya Ma. Papa kapan pulang?" sambung Awan. "Papa kan kerja, Wan. Ngurus perusahaan se antero nusantara nggak gampang lho. Jadi papa nggak bisa pulang tiap hari lah." Awan manggut-manggut mengerti. Memang, Papa Awan jarang sekali pulang. Jadinya, rumah sebesar itupun cuma terisi oleh dua orang dengan sifat gilanya. "Papa kayak Bang Toyib ya, Ma?" tanya Awan. "Ya gantengan papa lah, Wan." "Emang mama tahu, Bang Toyib itu siapa?" tanya Awan. "Ya tau lah, Bang Toyib tukan sayur itu kan?" Awan memasang wajah tidak enak didepan mamanya. Ia kira, mamanya akan mengerti apa yang ia maksud. Tapi nyatanya tidak, jawaban mamanya malah jauh melenceng dari jawaban yang sebenarnya. *** Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya, Heri pun pulang. Dengan segera, mereka langsung bersiap untuk pergi ke rumah sakit. "Ayo berangkat!" ajak Bapak Ardi pada semuanya. Tanpa menunggu lebih lama, mereka berempat langsung bergerak untuk pergi ke rumah sakit yang dimaksud oleh Ardi. Beberapa menit berselang, merekapun sudah sampai di tempat tujuan. Satu keluarga itupun bergegas masuk ke rumah sakit besar itu dan menemui Dokter Ridwan, seorang dokter senior dan satu-satunya dokter yang mengetahui tentang kejadian 11 tahun yang lalu. Atau kejadian tentang seorang gadis korban kecelakaan yang tewas di rumah sakit tersebut. "Mohon maaf, Dokter Ridwan. Bisa minta waktunya sebentar?" ucap Ardi. "Oh, bisa Dik. Adik yang kemarin ke sini kan? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. "Iya Dok, tujuan kami ke sini cuma ingin memastikan kebenaran pembicaraan kita yang kemarin, Dok." Dokter Ridwan menatap semuanya dengan cukup serius. "Gini Dok, apa bener, 11 tahun yang lalu ada seorang gadis korban kecelakaan yang dirawat di sini?" tanya Bapak Ardi. "Iya, benar Pak." "Apa benar, gadis itu meninggal dunia?" "Gadis itu memang telah meninggal dunia, pak. Tapi saya tidak bisa memastikan identitas dia yang sebenarnya," jawab sang dokter. "Ciri-cirinya gimana, Dok?" tanya Bapak Ardi lebih antusias. "Saya tidak terlalu ingat, Pak. Yang saya ingat cuma, ia memakai gaun berwarna merah." "Gaun berwarna merah?" ucap Bapak, ibu serta kakak Ardi serentak. Mereka bertiga saling berpandangan. Seolah-olah tidak percaya dengan pernyataan dokter. Tapi Ardi, ia hanya menundukkan kepalanya saja, tak ada ekspresi kaget yang nampak pada dirinya, karena memang ia telah mengetahui hal itu. "Iya Pak, apa anak bapak belum memberitahu hal ini?" tanya sang dokter. Ketiganya pun memandang Ardi lekat. "Maaf Pak, Bu, Kak. Aku gak sempat memberitahu kalian," sahut Ardi. Sang bapak pun mengalihkan pandangannya dari Ardi, dan kembali memandang dokter itu kembali. "Kalau boleh tahu, apa dokter tau kuburan gadis itu?" tanya Bapak Ardi dengan terisak. "Ia dikuburkan di TPU yang tidak jauh dari sini. Tepatnya, sekitar 100 meter dari belakang rumah sakit ini. 11 tahun yang lalu, jenazah gadis itu telah beberapa hari berada di rumah sakit ini. Tapi tak ada yang mengaku sebagai keluarganya. Dan dengan terpaksa, pihak rumah sakit pun menguburkannya dengan nisan tanpa nama," jelas Dokter Ridwan. Linangan air mata pun tak mampu mereka tahan. Kesedihan kehilangan orang tersayang telah memaksa air mata mereka untuk keluar. Rasa kehilangan telah mengubah segalanya. Tak memandang sekuat apapun dirinya, hanya dengan kehilangan orang tersayang, ia pun bisa menangis tersedu-sedu. Mungkin, itulah yang disebut kehidupan. Seseorang yang kuat nan hebat pun tak menjamin untuk ia selalu tersenyum dan tertawa. Dalam keadaan tertentu, ia pun bisa menangis. Dan salah satunya adalah saat kehilangan orang-orang tersayangnya. *** Ardi sekeluarga telah sampai di TPU yang dimaksud oleh Dokter Ridwan. Jauh dari perkiraan mereka berempat, ternyata TPU itu sangat sepi. Hanya suara semilir angin yang menjatuhkan dedaunan yang bisa terdengar oleh indra pendengaran mereka. Ditambah lagi dengan suara kicauan burung yang entah kenapa malah membuat bulu kuduk merinding. "Kok sepi amat ya, Pak," Ucap Ardi. "Sudahlah, yang penting kita harus jaga adab!" ucap Bapak Ardi. "Iya Pak," jawab Ardi. Mereka mulai memasuki area pemakaman itu. Kesan angker lebih terasa ketika mereka sudah berada didalam area pemakaman. Tak ada sedikitpun pemandangan indah ditempat itu. Hanya ada banyaknya nisan yang menancap, ditambah lagi dengan rimbunan pohon jati di kanan, kiri, depan dan belakang mereka. Kesan horor ditempat itu bertambah di kala di belakang mereka terasa ada sosok yang mengikuti. Sosok yang bisa jadi bukan manusia. Namun, tak ada yang berani menoleh kebelakang, hingga sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang dan yang pastinya membuat mereka kaget. "Ada yang bisa saya bantu?" Namun keterkejutan mereka hanya sementara. Kalau dicermati dari nada suara dan kalimatnya, jelas terlihat kalau orang yang sedang di belakang mereka saat ini adalah manusia. Bukan setan bukan pula sesuatu yang menakutkan lainnya. Perlahan, mereka berempat menoleh kebelakang. Dan apa yang mereka lihat? Ternyata sesosok kakek-kakek tengah berdiri dengan membawa cangkul. Kalau dilihat-lihat, kakek itu mirip dengan sesosok hantu di sebuah film horor, yaitu kakek cangkul. "I... ini kek. Kami sedang mencari makam seseorang. Makam dengan nisan tanpa nama," jawab Bapak Ardi. "Nisan tanpa nama? Ooo, iya-iya, saya tau letaknya. Kebetulan saya adalah juru kunci di pemakaman ini. Memangnya, itu makam siapa?" tanya si kakek. "Itu makam anak kami, Kek," jawab Ibu Ardi yang sudah mulai terisak. "Turut berduka cita, ya." "Terima kasih, Kek. Kalau nggak ngrepotin, bisakah kakek menunjukkan di mana letak makam itu?" "Ooo bisa, tentu saja bisa. Mari saya antarkan!" jawab si kakek. Ternyata, lagi-lagi hanya sebuah ketakutan belaka. Kakek itu hanyalah seorang juru kunci pemakaman ini. Soal kenapa ia membawa cangkul? Cuma dia dan yang maha kuasa yang tahu, atau mungkin juga ada segelintir orang yang tahu. "Masih jauh kah, Kek?" tanya Bapak Ardi pada laki-laki tua itu. Kakek tua itu tak menjawab, ia terus berjalan dengan diikuti oleh Ardi sekeluarga. "Itu makamnya," ucap kakek tua itu sembari menunjuk sebuah makam yang berada disisi kanan jalan yang dilewati mereka. Dan benar sekali. Nisan itu memang benar-benar tanpa nama. Bukannya tulisan di nisan itu sudah hilang dimakan usia ataupun apa, tapi memang dari dulu batu nisan yang satu ini sudah tidak bernama. "Kalau begitu, saya pamit dulu, ya," ucap kakek tua itu. "Iya Kek. Terima kasih sudah mengantarkan kami ke sini," ucap Bapak Ardi. Kakek itu langsung berjalan meninggalkan mereka berempat. Tak butuh waktu lama, tubuh yang sudah mulai rapuh itupun lenyap ditelan rimbunnya pepohonan. Suasana ditempat itupun lagi-lagi berubah menjadi sangat mencekam. Walau bagaimanapun juga, mereka lebih memilih untuk tidak banyak bicara mengingat keberadaan mereka ditempat keramat itu. "Mari kita do'akan almarhumah Lita agar tenang di alam sana!" Lita, seorang kakak yang tak pernah bersosialisasi dengan Ardi. Seorang kakak yang hanya ia lihat saat ia masih balita. Seorang kakak yang bahkan wajahnya saja belum sempat ia kenali dengan sempurna. Sekarang, sang kakak itu telah menjadi tulang belulang di bawah sana. Tanah sebagai rumahnya kini. Setelah selesai mendoakan Lita, Ardi dan keluarga pun berencana untuk beranjak dari tempat itu. Tangisan air mata dari keempat orang itu masih terus menetes. Sebuah tangisan yang tak tahu kapan bisa berhenti. Hingga di depan pintu masuk area pemakaman, Ardi dan keluarganya bertemu kakek tua yang mirip kakek cangkul itu lagi. "Udah mau pulang?" tanya kakek tua itu "Iya Kek." "Mohon maaf, Kek. Apa makam anak saya, tidak bisa dipindahkan?" tanya Ibu Ardi yang masih sedikit terisak. "Ndak bisa, Nduk. Tapi kalau nisannya mau diganti ya, silahkan!" Ibu Ardi mengeluarkan ekspresi kekecewaan. Sudah 11 tahun lamanya, ia menantikan putrinya kembali. Dan kini, putrinya pun kembali. Tapi bukan kepadanya, melainkan kepada sang pencipta. Dan sebagai kerinduannya atas putrinya itu, ia hanya ingin putrinya dikubur di tempat yang dekat dengan tempatnya berada, namun tidak bisa. "Gitu ya, Kek?" "Sudahlah, Bu. Setidaknya, kita sudah tahu letak kuburan anak kita," ucap Bapak Ardi menenangkan. *** Ardi dan keluarganya pulang ke rumah dengan rasa yakin bahwa Lita benar-benar sudah meninggalkan mereka. Sedih? Pasti. Manusia seperti apa yang tidak sedih ketika seseorang yang ia sayangi meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Jangankan manusia, hewanpun akan bersedih ketika salah satu dari keluarganya ada yang mati. Nampaknya, julukan makam tanpa nama itu akan berakhir esok hari. Rencananya, keluarga Ardi akan mengganti nisan itu dengan nisan yang bertuliskan, "Lita Binti Ahmad" ditambah dengan tulisan-tulisan yang lain. "Bu, kita harus mengikhlaskan kepergian Lita, Bu!" Ucap Bapak Ardi. "Mengikhlaskan gimana to, Pak? Ini semua gara-gara ibu. Kalaulah ibu tidak lalai dalam menjaga Lita dulu, pasti sekarang dia masih bisa berada di sini bersama kita," ucap Ibu Ardi menyalahkan diri. "Jangan menyalahkan diri sendiri, Bu. Ini semua sudah kehendak yang maha kuasa. Kita, sebagai manusia harusnya bisa menerima dengan ikhlas semua yang dikehendaki oleh yang maha kuasa, meski itu hal yang sangat menyakitkan." "Iya Bu, ada saatnya kita ini harus kehilangan orang tersayang kita. Kita harus sabar, Bu!" ucap Heri, Kakak Ardi. "Benar Bu. Kita tidak boleh menganggap kalau orang-orang tersayang akan terus hidup abadi. Walau bagaimanapun juga, kita hanya manusia biasa kan, Bu? Suatu saat nanti, entah itu kapan, kita pasti juga akan meninggalkan orang-orang tersayang," tambah Ardi. Berbagai kata-kata diucapkan oleh Bapak Ardi, Kakak Ardi dan juga Ardi untuk menenangkan ibunya. Bukannya mereka bertiga tidak bersedih atas kematian Lita. Tapi, mereka adalah seorang laki-laki. Rasa sedihnya pasti hanya disimpan di dalam hati mereka sendiri-sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN