Setelah berbincang panjang dengan Bang Putra kita berdua keluar dari air curug dan menyewa tenda untuk berkemah hingga malam. Bang Putra bertanya “Udah puas belum hari ini Bell? Udah jam 8 malem mau kemana lagi?”. Aku duduk sambil tersenyum dan menjawab “Makasih banyak Bang Put. Gua udah merasa baikan sekarang hehehe. Tapi Gua masih pengen disini ngeliatin pemandangan malam kota hehehe”. Bang Putra menjawab “Ohh iyaa santai aja. Mau minum kopi gak? Beli kopi yuk?”.
Aku menjawab “Boleh aku mau kopi cappucino. Bisa dibawa kesini kan yaa?”. Bang Putra menjawab “Bisalah pasti kan memang sudah satu fasilitas dengan perkemahannya”. Entah kenapa malam itu suasana begitu tenang dan hangat. Kadang aku sendiri merasa bahwa Bang Putra memang laki-laki yang selama ini aku idamkan. Bahkan beberapa situasi aku merasa Bang Putra udah kaya pacarku sendiri. Meskipun aku harus menerima fakta bahwa Bang Putra adalah milik Kak Olivia.
Sampai kapanpun mereka berdua secara tidak langsung dijodohkan orang tuanya. Dan kebetulan mereka berdua memang saling menyukai dan menyayangi. Sedangkan aku hanyalah seorang perempuan yang diasuh Kak Olivia. Apa salahkah aku jika suatu saat aku benar-benar jatuh cinta dengan Bang Putra? Iyaa mungkin memang salah. Tapi sebisa mungkin jangan sampai aku menyakiti hati Kak Olivia karena keinginanku sendiri.
Keesokan harinya Kak Gisel gak dateng ke rumah Bang Putra sepulang sekolah karena lagi gak enak badan. Sebagai gantinya Kak Sasha yang dateng cuma agak sorean. Aku nemenin Bang Putra main game sekaligus ngerjain PR dari sekolahku. Aku inget banget waktu itu kita berdua main game Dragon Ball Tenchaiki Budokai yang ada di PS3. Beberapa kali main sudah pakai Son Goku, Gotenks, dan Vegeta pun tetep kalah ngelawan Bang Putra yang cuma pakai Piccolo atau Android 18 hahaha.
Entah kenapa sore itu Bang Putra keliatan berbeda banget. Dia keliatan gemes dan sering ngelus kepala ataupun ngerangkul aku ketika aku ngerengek kalah main game. Selesai main game Bang Putra kembali ke laptopnya dan lanjut ngerjain tugas pemograman dia. Aku tiba-tiba dapet telfon dari Ayah dan Aku angkat “Bella kamu baik-baik aja disana?”. Aku menjawab “Aku baik-baik aja Yah. Ini lagi di rumah Bang Putra. Ada apa?”. Ayah menjawab “Kamu nanti malem Ayah jemput yaa? Ayah semalam sudah selesai berurusan dengan Ibumu”.
Aku menjawab “Ibu gimana Yah? Apa Ayah berhasil membujuk Ibu pulang ke rumah?”. Ayah menjawab “Ayah semalem menemukan Ibu sedang menginap bersama pacarnya di hotel Jakarta Barat. Ayah bersama temen-temen Ayah dan petugas hotel udah menggrebek Ibu. Namun Ibu memaki-maki Ayah dan meminta cerai dari Ayah”. Tanganku mulai bergetar hebat dan dadaku terasa sangat sesak mendengar Ayah berkata seperti itu.
Aku menjawab “Be…Berarti Ayah dan Ibu akan bercerai? Ibu meminta cerai dari Ayah?”. Ayah menjawab “Iyaa Nak. Ayah akan mengurus berkas dokumen perceraian besok bersama Ibu. Dan Ibu ingin bertemu kamu dan Risa sebelum dia pergi jauh dari kita”. Aku mulai meneteskan air mata dan masih merasa gak percaya. Ayah dan Ibu mereka berdua bercerai. Dan untuk apa Ibu ingin menemuiku jika akhirnya meminta berpisah dengan Ayah?
Selama ini pun Ibu sangat jarang pulang ke rumah menemuiku dan Risa di rumah. Aku menutup telfon dan menangis di rumah Bang Putra. Bang Putra yang mendengar aku menangis akhirnya menghampiriku dan mencoba menenangkan aku. Bang Putra bertanya “Kenapa Bell? Ada apa lu sampe nangis begini?”. Aku menjawab “Orang tua Gua cerai Bang. Baru kemarin Gua ngerasa seneng dan bahagia. Sekarang Gua udah nerima kabar buruk kedua orang tua Gua memutuskan untuk berpisah”.
Bang Putra memelukku dan menjawab “Iyaa itu memang keputusan yang sulit Bell. Namun mungkin ini memang jalan yang mereka berdua pilih. Dan ini juga ketentuan Tuhan yang gak bisa kita ubah”. Aku menjawab “Gua udah pasrah Bang orang tua Gua mau ngapain sumpah. Gua udah pasrah dan terserahlah. Ibu Gua bener-bener egois dan cuma ngikutin hawa nafsunya sendiri tanpa mikirin anak-anaknya. Risa masih kecil dia masih 12 tahun umurnya. Risa masih butuh kehadiran seorang Ibu”.
Bang Putra menjawab “Iyaa tapi kalian tetep bisa nemuin Ibu kalian Bell. Meskipun mungkin udah gak bersama Bokap lu lagi. Lu tetep harus kuat buat adek lu. Risa butuh lu dan lu harus kuat Bell”. Aku menjawab “I…Iyaa Bang. Gua akan tetep kuat. Gua akan berusaha tegar untuk Risa dan Ayah Gua yang tetep ada di samping Gua sampe sekarang”. Selang beberapa menit Aku mulai berhenti nangis dan menenangkan diriku sendiri.
Bang Putra tetep masih meluk Aku dan entah kenapa aku bener-bener merasa nyaman banget. Aku berkata “Kadang Gua merasa kehadiran lu bener-bener berarti buat Gua Bang. Ketika Ibu Gua selingkuh yang pertama kali Gua lakukan adalah mencari sosok pengganti orang tua. Gua dan Risa bersandar ke Kak Olivia dan dia berhasil mendidik kita dan membuat kita nyaman. Namun semenjak insiden dia HB sama Rizky di rumah ditambah sama Naufal. Gua merasa kembali kehilangan sosok yang bisa Gua percaya lagi”.
Bang Putra menjawab “Iyaa meskipun begitu lu tetep harus sayang dan hormat ke Kak Olivia. Itu masalah pribadinya dia. Gua aja yang punya hak untuk marah dan menghakimi Olivia pun tidak melakukannya. Karena Gua sadar itu gak akan merubah Olivia. Ditambah kemarin lu bilang Olivia seperti kehilangan arah dan jiwanya seperti gelandangan”. Aku menjawab “Lu orang yang bener-bener memahami Gua dan bisa mencapai mengerti segala kondisi dengan sabar dan bijaksana”.
Aku memandang wajah Bang Putra beberapa saat dan wajahnya dia terasa begitu dekat di hadapanku. Hasrat untuk memiliki Bang Putra dan perasaan sayang Aku ke dia seketika kembali muncul dan menguat. Dan saat itu secara spontan dan setengah sadar aku berkata “Gua sayang sama lu Bang Putra. Terima kasih udah jadi orang yang selalu ada buat Gua dan terus ngesupport Gua”. Seketika aku mencium bibirnya Bang Putra dan saat itu kita berdua berciuman mesra (Bersambung…)