Pindah Ke Jakarta

1115 Kata
2 tahun kemudian sekitar tahun 2007 Aku yang saat itu sudah kelas 5 SD di Banjarsari. Mendapat kabar bahwa Aku dan sekeluarga akan pindah tempat tinggal di Jakarta. Ayahku diminta untuk meninggalkan pekerjaan oleh Bule Reni untuk membantunya mengurus Olivia dan Arif. Karena Bule Reni mendapatkan pekerjaan sebagai koki kapal dan harus pergi berpindah-pindah pulau dan negara. Ayah menerima permintaan Bule Reni namun sebagai gantinya Ayah meminta agar kebutuhan hidup keluarga ditanggung Bule Reni untuk sementara. Dan Bule Reni menerima dan mengiyakan hal tersebut. Kami berempat akhirnya pindah ke rumah Kak Olivia di Jakarta. Ayah meninggalkan profesinya sebagai seorang tukang kayu pembuat mebel di Surakarta. Namun meskipun begitu Ayah tetap mencari pekerjaan agar tidak bergantung hidup kepada Bule Reni. Diluar dugaanku bahwa Kak Olivia tidak bisa menerima kami dengan baik. Ternyata Kak Olivia sangat menerima kami dan menyayangi kami semua. Sampai disana Kak Olivia langsung menjemput kami menggunakan mobil Nissan Serena yang baru dibeli keluarganya Bang Putra. Aku turun dari stasiun kereta dan Kak Olivia langsung berlari menyambut Aku dan Risa “Bellaaaa Risaaa. Kalian akhirnya dateng kesini dan tinggal bareng Aku hahaha”. Risa menjawab “Jadi mulai sekarang kita tinggal di Jakarta Kak Bella?”. Aku menjawab “Iyaa kita tinggal di rumah Kak Olivia. Kak Olivia bagaimana kabarnya?”. Kak Olivia menjawab “Aku sehat Bell. Aku udah nyiapin banyak makanan di rumah. Ayoo kita pulang dan makan”. Kami semua masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah Kak Olivia. Sampai di rumah kami semua termasuk keluarganya Bang Putra makan bersama di rumah Kak Olivia. Ayah memuji mobil Papanya Bang Putra “Pak makasih yaa sudah menjemput kami tadi. Mobilnya juga nyaman dan empuk. Berasa dijemput dengan fasilitas eksekutif saya hahaha”. Papanya Bang Putra menjawab “Iyaa ini saya baru beli mobilnya. Entah kenapa semenjak saya membantu Bu Reni dan anak-anaknya. Rezeki saya jadi melimpah sampai kebeli mobil baru lagi. Yang penting kalian nyaman”. Mamanya Bang Putra menjawab “Rezekinya Olivia dan Reni itu bagus banget. Saya juga dapet kerjaan dengan gaji lumayan juga. Tapi jadinya untuk pengurusan anak memang harus dibantu Reni dan Olivia”. Ayah menjawab “Olivia? Olivia bantu kalian mengurus anak-anak?”. Mamanya Bang Putra menjawab “Olivia itu anak yang hebat dan banyak bisa. Saya sampe banyak amanah yang saya kasih ke dia. Soalnya Olivia bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dan telaten anaknya”. Ayah menjawab “Iyaa dari dulu juga Olivia itu di kampung memang dikenal cerdas dan telaten. Penurut dan baik banget anaknya. Wajar sih kalo memang diberi kepercayaan sebesar itu. Apalagi Olivia kan sudah masuk SMP bulan depan ya?”. Kak Olivia menjawab “Iyaa Aku sama Putra bahkan masuk di SMP yang sama. Bella rencananya mau sekolah dimana? Sekolah di tempat aku aja ya? Deket gak jauh dari sini. Nanti Aku sediain motor buat Pakde nganter jemput Bella dan Risa”. Keesokan harinya Bule Reni berangkat ke pelabuhan untuk melakukan perjalanan pertamanya. Aku dan keluarga gak ikut karena kelelahan di perjalanan kemarin. Tapi di rumah ada banyak banget persediaan makanan dan fasilitas yang sudah di disediakan Bule Reni dan Kak Olivia. Aku yang tidur di kamarnya Kak Olivia tiba-tiba menemukan satu buku yang jatuh dari laci. Buku tersebut seperti buku Diary yang menjadi tempat Kak Olivia bercerita kehidupannya. Aku membuka buku tersebut dan membaca halaman pertamanya “Aku kehilangan Ayahku namun seorang pahlawan yang gagah saat ini hadir dalam hidupku”. Aku baru membaca beberapa halaman namun Aku langsung mengetahui bahwa Kak Olivia ternyata menyayangi Bang Putra. Terdapat banyak tulisan tentang perasaan Kak Olivia kepada Bang Putra yang dituliskan dibuku tersebut. Aku sambil membaca buku tersebut seketika mengenang kejadian 2 tahun lalu dimana Bang Putra dan Aku berjuang mencari obat demam untuk Kak Olivia. Beberapa jam kemudian Kak Olivia kembali ke rumah bersama Bang Putra “Aku pulang… Aku membawa kue donat yang aku beli dari mall untuk kalian. Donat ini rasanya enak”. Aku dan Risa keluar dari kamar “Donat? Baunya enak banget donatnya. Kayanya di Surakarta donat seperti ini gak ada”. Bang Putra menjawab “Iyaa Olivia tadi nanya ke Aku makanan apa yang pasti kalian suka. Aku saranin donat ini aja hahaha. Hati-hati donatnya ada yang rasanya manis banget”. Aku menjawab “Terima kasih banyak Bang Putra dan Kak Olivia. Aku pasti akan senang berada disini karena kalian berdua. Risa kamu bagiannya 3 donat dan aku 3 donat. Sisanya berikan kepada Ayah dan Ibu di kamar lantai dua”. Risa menjawab “Baik Kak. Akan aku berikan ke Ayah dan Ibu nanti setelah makan hehehe”. Kak Olivia menjawab “Sini yuk kalian berdua duduk dipangkuan aku sambil makan donat”. Aku menjawab “Mauu.. Aku pengen dipangku dan dipeluk Kak Olivia lagi”. Bang Putra mengambil satu donat dan tiba-tiba dia pamit pulang “Iyaudah Aku ke rumah dulu. Mama sama Papa mau berangkat kerja soalnya”. Kak Olivia memegang tangan Bang Putra “Aku ikut tunggu. Kamu juga belum dimasakin apa-apa di rumah”. Bang Putra menjawab “Aku dipegangin uang. Nanti aku beli aja sendiri”. Kak Olivia menjawab “Bella, Risa main ke rumah Bang Putra bareng Aku yuk? Kalian mau?”. Risa menjawab “Apa di rumah Bang Putra banyak makanan? Kalo banyak makanan aku mau”. Kak Olivia mengelus rambut Risa dan tertawa “Nanti kita bikin kue bareng-bareng disana ya. Aku belum bilang makasih sama Mama dan Papanya Putra”. Kami bertiga akhirnya main ke rumah Bang Putra. Aku melihat Papa dan Mamanya Bang Putra sedang terlihat repot terburu-buru ingin berangkat kerja. Kak Olivia berkata “Pa, Ma maaf yaa karena Ibu kalian jadi telat berangkat kerja”. Mamanya Bang Putra menjawab “Gak apa-apa sayang. Mama belum sempet masakin Putra dan Adrian. Mama minta tolong ya masakin Putra dan Adrian makan. Uangnya udah Mama kasih ke Putra”. Kak Olivia menjawab “Iyaa Ma. Aku pasti masakin Putra makanan yang enak dan bergizi hehehe”. Mamanya Bang Putra tiba-tiba menarik Kak Olivia masuk ke rumah. Dan aku ikut masuk ke dalam bersama Risa. Aku melihat Mamanya Bang Putra merapikan rambut Kak Olivia dan mencium pipi Kak Olivia. Dia juga berkata “Sayang. Mama minta maaf harus ngerepotin kamu. Tapi… Mama gak bisa terus-menerus ada disamping Putra. Dia anak yang ceroboh dan butuh pengawasan. Kamu anak yang sangat pintar dan bisa dipercaya”. Kak Olivia menjawab “Aku akan mengurus dan menjaga Putra Ma. Aku juga akan menyayangi dia. Mama gak perlu khawatir. Urusan Putra dan Adrian biar aku yang urus”. (Bersambung…)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN