2 tahun berlalu dan saat ini Aku berusia 8 tahun. Selama 2 tahun pula aku tidak bertemu Kak Olivia. Kak Olivia memang sering menghubungiku lewat telfon Ayah namun aku merasa tetap saja itu tidak cukup hahaha. Kehidupanku yang sering dibully, disindir, dan dimarahi membuat kepribadianku mulai tumbuh menjadi keras. Aku semakin memberontak kepada keluarga dan tidak mau menuruti perintah dari saudara dan orang tua.
Kak Ihyas berkata “Kamu itu anak perempuan gak mau nurut sama perintah orang tua. Jangan main mulu! Sini bantuin Aku nyuci piring di rumah Mbah”. Aku menjawab “Aku mau main keluar Kak! Aku mau ketemu temen-temenku dulu. Kak Ihyas aja yang ngerjain sendiri. Aku gak mau ngerjain!”. Kak Naufal menjawab “Hahaha biarin aja. Nanti pulang gak usah dikasih makan sekalian. Biar kelaparan”. Kak Ihyas menjawab “Kenapa harus Olivia yang pergi ke Jakarta. Harusnya Bella aja dia yang pergi. Gak ada gunanya dia”.
Aku memukul Kak Ihyas dan menjawab “Jangan merendahkan aku Kak! Aku gak mau diejek terus!”. Kak Ihyas menjambak rambut panjangku dan menjawab “Masalahnya kamu memang gak berguna kok! Kamu pengen disamain sama Olivia tapi kamu sendiri otaknya ada jauh dibawah Olivia! Dia cantik sedangkan kamu jelek! Dia putih sedangkan kulitmu sawo matang! Dia cerdas sedangkan kamu bodoh!”. Aku membentak mereka “KAK OLIVIA SAJA YANG JAUH LEBIH HEBAT DARI KALIAN TIDAK PERNAH MENGHINAKU!! AYO GELUT!!”.
Aku akhirnya berkelahi saling adu pukul dengan Kak Ihyas yang usianya 4 tahun lebih tua dariku. Aku yang berumur 8 tahun adu pukul dengan Kak Ihyas yang umurnya 12 tahun. Sayangnya aku kalah terkapar. Sedangkan Kak Ihyas juga wajahnya bengkak dimana-mana. Kak Naufal menahan tangannya Kak Ihyas yang masih memukuliku yang sudah jatuh “Kamu ini usianya 4 tahun lebih tua dari Bella tapi gak bisa mengendalikan emosi sama Bella. Dia perempuan!”. Kak Ihyas menjawab “Dia duluan yang mengajak aku berkelahi Kak! Memangnya dia pikir bisa sepadan dengan aku!”.
Kak Naufal menjawab “Tapi kamu tetep gak boleh mukul perempuan! Apalagi kamu juga malu-maluin malah ikutan bonyok di pukul anak perempuan umur 8 tahun!”. Kak Naufal dan Kak Ihyas meninggalkanku masuk ke rumah Mbah. Dan aku jalan kaki pulang ke rumahku sendiri. Ayahku sangat kaget melihatku yang seharusnya ada di rumah Mbah Putri tapi jalan kaki sendiri pulang ke rumah “Aku pulang Ayah!”. Ayah yang sedang membuat kopi menjawab “Kamu kenapa sayang? Kok wajah kamu memar dimana-mana?”.
Aku menjawab “Aku berkelahi dengan Kak Ihyas! Dia ngatain aku tidak berguna! Aku marah dan memukulnya. Dibalas oleh Kak Ihyas dengan menjambak rambutku. Dan akhirnya kami berdua adu jotos dan aku kalah”. Ibu yang sedang menggoreng makanan lari ke arahku sambil memelukku “Yaa ampun anakku sayang. Kamu itu perempuan gak mungkinlah menang ngelawan laki-laki. Apalagi kamu masih kecil”. Aku menjawab “Aku kalah bukan karena aku perempuan Bu. Aku kalah karena rambutku panjang. Aku ingin memotong rambutku jadi pendek seleher atas”.
Ibu menjawab “Ayah! Tolong kasih tau sama Mas kamu itu anaknya sikapnya dijaga! Masa anak perempuan dipukuli seperti ini sampe tangannya ada yang biru loh”. Ayah menjawab “Iyaa Bella sendiri kan sudah mengakui dia yang mukul Ihyas duluan. Gak bisa disalahin juga sayang. Ihyas hanya membela dirinya sendiri”. Ibu menjawab “Tapi tetep aja masa dia laki-laki umur 12 tahun ngeladenin pukulan anak perempuan umur 8 tahun! Emang sekeras apa sih pukulan Bella? Dia ini hanya anak kecil!”.
Ayah menjawab “Iyaa nanti Ayah coba kasih tau ke Masku. Udah kita obati dulu Bella baru nanti aku ngomong sama mereka”. Aku menjawab “Ayah aku ingin memotong rambutku jadi pendek. Tadi ketika berkelahi setiap aku mengelak rambutku yang ditarik. Aku ingin berkelahi lagi dengan Kak Ihyas”. Ayah menjawab “Jangan sayang. Rambut kamu itu bagus dan cantik. Biarlah seperti ini kamu terlihat cantik. Dan kamu jangan mengajak berkelahi apalagi sampai memukul Kak Ihyas lagi”. Aku menjawab “Aku gak akan melakukannya jika Kak Ihyas tidak menghinaku! Dia bilang aku tidak berguna hanya karena aku gak mau nyuci piring”.
Ibuku menjawab “Tuh! Tolong ponakanmu itu mulutnya dijaga! Keluarga kalian sangat kasar perkataannya. Aku bisa didik anakku sendiri! Mulai sekarang Bella gak boleh nginep di rumah Ibumu!”. Ayah menjawab “Tapi niat Ibuku kan bagus untuk membentuk Bella supaya bisa mengerjakan pekerjaan rumah”. Ibu menjawab “Aku gak peduli! Aku gak terima anakku sampai dikasari seperti ini! Aku juga gak akan membolehkan Risa menginap di rumah Ibumu tahun depan!”. Kedua orang tuaku jadi bertengkar besar karena aku berkelahi dengan Kak Ihyas.
Mulai besok jika aku berkelahi dengan Kak Ihyas. Aku tidak akan mengadu lagi kepada orang tuaku. Semenjak saat itu Ibu membolehkan Aku memotong pendek rambutku sampai seleher atas. Dan itu sangat bertentangan dengan keinginan Ayahku hingga membuatnya marah. Ibuku memang sangat memanjakanku dan menyayangiku. Namun hal inilah yang menjadi awal pertengkaran mereka berdua. Aku memang sudah menjadi biang kerok sedari kecil hahaha.
Satu bulan berlalu dan Aku saat itu sedang menemani Riska belajar membaca yang usianya masih 5 tahun. Setelah kami berdua belajar Aku dan Riska tidur di kamar. Tiba-tiba jam 2 pagi Ibu membangunkanku dan Ayah “Mas! Mas! Bangun Mas! Ini suaminya dek Reni meninggal kecelakaan”. Aku dan Ayah terbangun merasa kaget bukan main mendengar Ibuku yang mengatakan Ayahnya Olivia meninggal “Yang bener Bu? Iyaudah siap-siap kita berangkat ke Jakarta. Bella kamu bangunin Riska dan mandi bareng Ibu yaa. Kita berangkat ke Jakarta sekarang”. (Bersambung…)