2. Keanehan Dimulai

1650 Kata
Udara di kampung masih sangat terasa segar. Suara kicau burung terdengar menyambut datangnya mentari pagi. Meskipun hari masih pagi, jalan kampung depan rumah Ahmad dan Sari sudah mulai dipenuhi pejalan kaki. Namun pejalan kaki itu, bukanlah pejalan yang sedang berolah raga seperti di kota-kota pada umumnya. Tapi pejalan kaki itu adalah orang-orang yang hendak ke kebun atau ke delta ( daratan di tengah sungai yang dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam ). Selain ke kebun, sebagian dari pejalan kaki itu adalah sebagian warga yang hendak mencari kerang atau pasir di sungai. “Monggo Mas!” Ucap salah satu warga pada Ahmad sembari menebar senyum. “Monggo Pak!” Jawab Ahmad sembari membalas senyum, meski tak mengenalnya. Ahmad memang mengerti bahasa Jawa, namun masih logat Jawa Timuran. Untuk keseharian di rumah, Ahmad dan keluarga lebih senang berbahasa Indonesia sedikit campur Jawa Timur. ( Monggo : mari ) Tak lama warga kembali melintas di depan rumah Ahmad. “Agi ngapa Mas?” Tanya warga pada Ahmad yang sedang duduk di teras rumahnya. ( Bahasa Cilacap yang artinya lagi ngapain Mas ) “Lagi duduk-duduk aja. Ke mana Pak?” Ahmad menjawab sekaligus bertanya balik. “Arep ngarah thoe!” Jawab warga masih dengan bahasa Cilacap. “Apa Pak?” Ahmad terlihat bingung. Ahmad belum begitu paham dengan bahasa kampung istrinya. “Oh, gak bisa Jawa sini ya? Mau cari kerang!” Ucap warga sembari terkekeh. Ahmad merasa mulai betah tinggal di kampung istrinya. Selain udara yang masih segar, warga di kampung juga begitu ramah. Warga kampung masih memegang sopan santun serta toleransi yang tinggi. Berbeda sama orang kota yang sebagian lebih memikirkan dirinya sendiri. “Pak... Pak...!” Suara teriakan Sari terdengar dari dalam. “Opo to Bu, bengok-bengok koyo ono kebakaran wae?” Ahmad berlari menghampiri istrinya. ( Ada apa Bu, teriak-teriak kaya ada kebakaran aja ) “Ibu lupa eh Pak, tadi mbok pesan Bapak suruh ke kebun bantu cabut singkong!” Sari menepuk jidat sendiri. “Ya udah, Bapak siap-siap dulu!” Ahmad mengambil cangkul serta caping di belakang rumah mertuanya. Kebetulan rumah Ahmad dan mertuanya bersebelahan. “Bu, Bapak berangkat ya!” Teriak Ahmad dari luar. “Tunggu Pak, memang Bapak tahu di mana kebunnya? Biar Ibu antar, sekalian Ibu bantu bawa minum buat di kebun.” Ibu berteriak lagi dari dalam. “Gak tahu. Terus Ifah piye Bu?” Ahmad geleng-geleng kepala disertai senyum malu pada istrinya. “Ibu sudah nitip mbok. Lagian Ibu cuma sebentar aja kok Pak! Kebunnya juga deket.” Sembari menenteng botol minum berukuran sedang, Sari bergegas ke kebun. Sementara Ahmad mengikuti istrinya dari belakang. Sepuluh menit melewati perkebunan bambu serta kebun tetangga Sari dan Ahmad pun tiba di kebun orang tua Sari. Di kebun sudah ada seorang laki-laki yang sudah cukup berumur. “Abot loh Mas, apa bisa mbedhul budin?” Ucap Tarno pada Ahmad. Tarno adalah tetangga Sari dan Ahmad yang sering diperintah untuk mengurus kebun serta sawah orang tua Sari. Tarno juga biasa mencari kerang atau menambang pasir di sungai. ( Berat lo Mas, apa bisa nyabut singkong ) “Apa Lek?” Ahmad terlihat bingung mendengar ucapan Tarno. ( Lek : paman ) “Man nganggo bahasa Indonesia bae, ben mudeng! Ya wis, aku tek bali!” Sari mencium punggung tangan kanan suaminya. ( Paman pakai bahasa Indonesia saja, biar paham! Ya udah, aku mau pulang! ) “Bu, hati-hati!” Ahmad tiba-tiba berpesan pada Sari. “Iyo Pak, lah wong cuma dekat aja kok Pak.” Sari merasa santai, karena Sari saat di kampung dulu sudah terbiasa pulang pergi ke kebun sendiri. “Biar dekat, ya tetap harus hati-hati!” Ahmad tetap berpesan pada Sari. Sari bergegas pulang, karena di rumah ada Ifah yang dia tinggal sendiri. Sari tak berani meninggalkan Ifah berlama-lama meski sudah berpesan pada ibunya. *** Siang sebelum waktu Dzuhur Ahmad sudah tiba di rumah. Sudah lama tak berkebun, tubuh Ahmad terasa sangat lelah. Keringat masih terasa mengalir di sekujur tubuhnya. Sembari menunggu keringat berhenti, Ahmad melepas pakaian luarnya. Dan kini Ahmad hanya mengenakan kaos dalam. Sebenarnya Ahmad ingin cepat menyiram tubuhnya dengan air. Sari melarangnya karena melihat tubuh suaminya yang bermandikan keringat. “Bapak mau mandi dulu Bu, gerah!” Ucap Ahmad sembari mengibas tubuhnya dengan baju luarnya. “Mandi? Bapak kan masih keringatan, nanti malah masuk angin! Tunggu keringat ilang dulu!” Sari melarang Ahmad mandi. Tidak seperti biasa, Ahmad menuruti saja perintah Sari. Padahal Ahmad tahu, sebentar lagi akan memasuki waktu Dzuhur. “Iya Bu, nek gitu Bapak tak tiduran dulu sambil nunggu keringat hilang!” Ahmad duduk di kursi panjang depan TV. Tak lama Ahmad merebahkan tubuhnya di kursi panjang. Rasa lelah serta angin sepoi yang masuk dari jendela ruang tengah, membuat Ahmad tak bisa menahan kantuknya. Ahmad pun tertidur. Suara azan Dzuhur pun berkumandang, Ahmad yang belum lama terlelap tak mendengar suara panggilan Tuhan. Sementara Sari tengah sibuk dengan Ifah, hingga dia lupa membangunkan suaminya. “Jangaan... Lepass... !” Teriak Ahmad terdengar cukup kencang. Sari pun berlari ke arah suara suaminya sembari menggendong Ifah. Kedua mata suaminya masih terpejam, namun mulut Ahmad berteriak. “Pak... Pak... bangun!” Tangan kanan Sari menggoyangkan lengan Ahmad. Sari, istri Ahmad sudah cukup paham dengan kebiasaan suaminya. Suaminya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Sari juga paham, setiap datang ke tempat baru pasti ada saja hal aneh yang dialami suaminya. “Astaghfirullahaladzim. Jam berapa ini Bu?” Ahmad bangun dari tidurnya. Kedua tangan Ahmad membasuh wajahnya. “Hampir jam 1 siang, nyapo Pak? Makanya kalau habis pergi-pergi, bersih-bersih badan dulu Pak! Apalagi dari kebun, kan kotor! Pas bedug neh!” Sari mengingatkan Ahmad. Di kampung memang ada waktu-waktu tertentu yang tak tepat untuk tidur. Seperti pas bedug Dzuhur sama Maghrib. Menurut warga kampung, di jam-jam itu banyak makhluk dunia lain yang berkeliaran. Apalagi seperti Ahmad yang baru dari tempat kotor. Maksud Sari dari tempat kotor itu mempunyai dua arti. Yakni kotor karena tidak bersih serta kotor karena ada makhluk lain yang tak kasat mata. Apalagi menuju kebun orang tua Sari melewati kebun bambu yang cukup luas dan rindang. ( Pas bedug Dzuhur lagi ) “Ya ampun jam 1 Bu? Bapak gak apa-apa. Iya Bu, Bapak tadi ketiduran. Ibu sih gak banguni Bapak!” Ahmad terlihat lelah. Sebenarnya saat tidur tadi, Ahmad merasakan ada makhluk berjubah hitam dengan mata merah yang mencoba menarik tangan Ahmad. Namun Ahmad memilih menunda apa yang dialami barusan. Karena waktu Dzuhur yang sudah lewat. Dan Ahmad merupakan orang yang pantang menunda kewajiban. *** Langit cerah telah berubah menjadi langit oranye. Azan Maghrib juga telah berkumandang. Ahmad berpamitan pada Sari untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah di musala yang tak jauh dari rumahnya. Pemandangan mata yang sangat berbeda bagi Ahmad. Ahmad yang selalu menemui masjid ataupun musala dalam keadaan penuh di kampungnya, kini dia harus menikmati suasana yang sangat terbalik di kampung istrinya. Musala hanya diisi beberapa kaum ibu serta anak-anak baik laki-laki ataupun perempuan. Lalu ke mana, bapak-bapaknya? Kenapa hanya ada satu kepala dari bapak-bapak yang ikut shalat jamaah di musala? Padahal setahu Ahmad, penduduk kampungnya banyak kaum laki-laki. Usai shalat Maghrib juga tak ada kegiatan apa-apa di musala, seperti mengaji misalnya. Anak-anak serta jamaah orang tua memilih pulang dulu, dan menunggu waktu shalat Isya di rumah. Ahmad yang pertama kali berjamaah akhirnya ikut pulang dulu ke rumah. Bagaimana Ahmad mau menunggu di musala, sementara tak ada kegiatan ataupun jamaah yang berada di sana. “Bu, memang biasanya musala gimana?” Tanya Ahmad pada Sari saat tiba di rumah. “Gimana piye Pak? Ibu malah bingung?” Sari balik bertanya. “Maksud Bapak, memang musala biasanya sepi?” Ahmad duduk di ruang tengah, meraih segelas teh yang memang biasa sudah disediakan istrinya. “Oh, iya Pak. Di sini musala ramai paling nek bulan puasa, pada shalat tarawih. Tapi ya ramainya pas awal-awal juga Pak, nanti ke sana-sana berkurang.” Sari menjelaskan. “Gitu to Bu. Terus tadi bapak-bapaknya juga gak ada yang shalat jamaah, hanya seorang saja. Malah akeh bocah-bocah.” Ahmad kembali bercerita. ( Malah banyak anak-anak ) “Memang di sini, pengetahuan agama sangat kurang Pak! Bagi warga, sek penting iso golek duit. Masalah agama gak penting! Ini kan sebentar lagi bulan puasa, Bapak nanti bisa lihat sendiri piye situasi puasa di sini.” Ibu menjelaskan lagi. ( Bagi warga, yang penting bisa cari duit ) “Iyo to Bu? Kok bisa ya, mereka punya pikiran kayak gitu? Yo salah tenan pikirane! Tapi warga sini muslim to Bu?” Ahmad mengerutkan kedua alisnya. Ahmad heran dan bingung dengan pikiran warga kampung istrinya yang kini menjadi kampungnya juga. ( Iya salah banget pikirannya! ) “Muslim. Iya memang gitu Pak, yo wis Pak gak usah diurusi! Bapak kan orang baru, gak usah ikut campur yang penting kita shalat ya shalat! Mereka mau ngapa-ngapain terserah!” Sari seolah tak peduli dan gak mau mengurusi orang. “Ya gak bisa gitu Bu! Bapak sudah banyak belajar di pondok, apa salahnya kalau Bapak sedikit berbagi ilmu. Sama-sama belajar, biar ilmu Bapak juga bermanfaat. Lagian sudah menjadi kewajiban sesama muslim untuk saling mengingatkan dalam kebaikan!” Ahmad tidak setuju dengan pikiran warga. “Gak usah Pak, Bapak belum kenal warga sini. Takutnya malah mereka tersinggung, piye Pak?” Sari tetap melarang. “Iya Bapak kan bisa pelan-pelan, kenalan dulu! Lihat situasi warga juga to Bu!” Ahmad tetap pada pendiriannya. “Iyo sakarepmu Pak! Ibu mung bisa ndukung!” Meski awalnya melarang, Sari akhirnya menyetujui niat baik suaminya. ( Iya terserah Bapak! Ibu hanya bisa dukung! ) Ahmad merasakan banyak keanehan di kampung yang baru di tempatinya. Dari istrinya yang melarang dirinya mencari penghidupan di sungai. Dan sekarang, Ahmad mendengar bahkan merasakan sendiri betapa rendahnya pendidikan agama di kampung barunya. Hati Ahmad begitu tergerak melihat kondisi warga terutama perihal agama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN