“Kak, udah yuk balik aja,” bujuk Gina yang terus meminta Toni untuk pulang. Masalahnya pria itu benar-benar terlihat sangat pucat saat ini. Toni sama sekali tidak menggubris perkataan adiknya itu, matanya tetap saja nampak fokus melihat ke arah Chilla yang masih saja mengobrol bersama dengan Rafael saat ini. Apa sih yang sebenarnya mereka obrolin? Kenapa saat sama aku Chilla nggak pernah tertawa selepas itu, batin Toni yang merasa kesal melihat tawa Chilla. Sejujurnya Chilla memang pernah tersenyum dan tertawa lepas dengannya, namun saat itu ia masih dalam kondisi amnesia dan melupakan banyak kenangan mereka. Amarah yang sudah Toni tahan sedari tadi akhirnya mencapai puncaknya saat melihat tangan Rafael yang merangkul tubuh Chilla. Rasanya ia sangat ingin mematahkan tangan pria tersebu

