Tari tersipu malu. Entah mengapa saat ini dirinya sudah berani bermanja-manja dengan Rigi, kendati masihlah kerap kali berusaha keras menjaga wibawa di depan lelaki itu. Apa yang terjadi padanya sekarang? Ia juga tidak paham dengan keanehan yang dialaminya saat ini. Seolah hati dan pikirannya bertolak belakang untuk saling memahami. Ia pun tampak kesal dengan dirinya sendiri. "Ish! Kenapa aku jadi manja gini, sih?" rutuknya pada diri sendiri. Melihat hal tersebut, Rigi terkekeh. Sebenarnya ia gemas dengan perempuan itu, tetapi gengsinya mengalahkan rasa gemas yang dimiliki dalam hati. Mengingat Rigi adalah pria yang menunjung tinggi rasa gengsi. "Eleh! Bilang aja modus. Dasar perut gentong!" Tari mengerang kesal mendengar hinaan yang keluar dari mulut Rigi. Perempuan itu menghentakk

