“Kak El mana sih? Dari tadi ditungguin nggak datang-datang.” gerutu Arsyila
Hari sudah semakin malam, karena itu waktunya mereka beristirahat. Namun tidak dengan El, ia justru sibuk dengan urusan pekerjaannya. Tidak di rumah, tidak di kantor, El selalu disibukkan dengan urusan kantor.
Arsyila memutuskan menemui Elfathan di ruangan kerjanya. Untung saja ruang kerja Elfathan bisa langsung terhubung dengan kamar mereka. Hal itu bisa memudahkan Arsyila keluar masuk ke dalam tanpa harus keluar kamar. Karena di rumah mereka sudah ada sopir dan pembantu.
Ceklek
Arsyila tersenyum menatap suaminya dari arah belakang. Ia berdiri di ambang pintu sembari menatap suaminya lekat. “Sepertinya Kak El nggak sadar kalau aku datang.” ucapnya dalam hati
“Sibu banget kayaknya.”
Arsyila berjalan mendekat ke arah suaminya. Elfathan masih belum sadar meskipun Arsyila berdiri tepat di belakang tubuhnya. Kaca mata yang bertengger di hidung mancung Elfathan menambah kesan tampan dan dewasa. Bahkan ketampanannya berkali-kali lipat saat mode serius.
Hap
“Kak El!” ucapnya sembari memeluk leher suaminya dari arah belakang.
Elfathan tersenyum saat mendapat pelukan dari istrinya. Ia menggenggam tangan Arsyila. Sesekali ia mengelus punggung tangan Arsyila dengan Ibu jarinya. “Kenapa, hm?”
“Kak El sibuk banget ya?!”
“Enggak juga.”
“Terus kenapa nggak selesai-selesai? Sudah mau larut malam, Kak.”
Elfathan tersenyum kecil. Perkataan Arsyila barusan bentuk dari perhatiannya pada sang suami tercinta. Ia tidak ingin Elfathan sakit karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Saat di rumah seharusnya Elfathan mengambil istirahat, bukan malah terus bekerja sampai larut malam. Namun, sebagai seorang Ceo Elfatan memiliki tanggung jawab yang besar pada Perusahaannya.
“Hmm.. sebentar lagi selesai kok.” Jawab Elfathan
“Bohong! Matiin laptopnya sekarang terus istirahat.” Arsyila berucap dengan nada tegas dan tidak terbantahkan.
“Sedikit lagi, ya!”
Arsyila mengernyitkan keningnya tidak suka. Biasanya perkataan Elfathan tidak bisa dibantah, tapi jika dirinya yang berbicara Elfathan selalu membantah. Arsyila melepas pelukannya. Ia beralih duduk di pangkuan Elfathan. Ia menatapnya lekat namun memiliki banyak arti di dalam matanya.
“Kenapa, hm?” tanya Elfathan sembari mengelus kepala istrinya dengan lembut.
“Kak El membantah perkataan Arsyila?”
Elfathan terkekeh geli mendengar perkataan istrinya. “Enggak kok. Cuma minta tambahan sedikit waktu karena sebentar lagi selesai.”
“Ooh.. jadi Kak El lebih memilih pekerjaan daripada Arsyila, iya?”
“Huhh..” Elfathan menghela nafas kasar.
“Tapi Arsyila…”
Cup
“Uumhh..”
Belum selesai Elfathan bicara Arsyila tiba-tiba menyatukan bibir keduanya. Arsyila membungkam mulut suaminya agar tidak terus membantah. Perbuatan Arsyila sempat membuat Elfathan terkejut namun setelahnya ia kembali rileks. Justru Elfathan kesenangan karena perbuatan istrinya.
“Emhh..”
“Enghh..” Arsyila melenguh pelan.
Elfathan menarik pinggang Arsyila semakin mendekat ke arahnya. Entah bagaimana caranya Arsyila sudah berpindah posisi. Posisinya terlihat semakin nyaman. Bahkan ia mulai bergerak naik turun membuat Singa dalam diri Elfathan seketika bangun.
“Uumhh..”
“Arsyilaa!” panggil Elfathan dengan nada meracau.
Elfathan mencengkram pinggang Arsyila sebagai pelampiasan. Ia mengikuti pergerakan istrinya secara perlahan. Ia tidak bisa diam saja. “Owhh..”
“Owhh.. s**t!” Elfathan mengumpat dalam hati.
Arsyila membuatnya gila karena pergerakan wanita itu cukup pelan. Elfathan tidak bisa menahan diri untuk tidak bergerak. Matanya terpejam menikmati pergerakan istrinya. Ia membantu pergerakan Arsyila dengan gerakan naik-turun.
“Enghh..” Arsyila melenguh pelan.
Srett
“Kak..”
Arsyila terkejut karena Elfathan tiba-tiba berdiri membuat bibir mereka terlepas. Nafas keduanya memburu. Arsyila menghirup udara sebanyak mungkin karena pasokan oksigen di sekitarnya seolah semakin menipis.
“Huhh..” nafas Arsyila terengah.
Dada keduanya bergemuruh hebat. Namun setelah ini Elfathan akan melakukan yang lebih dari ini. Berani berbuat berani bertanggung jawab, itulah yang harus Arsyila lakukan. Elfathan membawa istrinya menuju kamar. Mereka butuh tempat yang lebih nyaman untuk melakukan hal lebih.
“Kak El mau bawa Arsyila ke mana?” tanyanya masih dengan nafas terengah
“Kita akan melakukannya di kamar.”
Arsyila tersenyum manis. Dengan senang hati ia melakukannya. Ia ikhlas dan penuh ketulusan selama melayani suaminya. Bahkan malam ini ia yang memulai lebih dulu. Arsyila mengalungkan kedua tangannya pada leher Elfathan. Keduanya saling menatap dengan tatapan penuh cinta.
“Bukan pintunya, sayang!” ujar Elfathan
“Sayang?” Arsyila menyipitkan mata. Apa ia tidak salah dengar? Elfathan memanggilnya dengan sebutan sayang.
“Kenapa, hm?”
“Apa Arsyila tidak salah dengar, Kak?”
Elfathan menggelengkan kepalanya. “Tidak. Sayang menjadi panggilan baru untuk kamu.”
Seketika hati Arsyila berbunga. Mimpi apa ia semalam sampai mendapat panggilan kesayangan dari suaminya! Seorang Elfathan berubah menjadi manis saat bersama seorang perempuan adalah suatu hal yang langkah. Dan Arsyila adalah perempuan yang telah memenangkan hati pria dingin itu.
Brugh
“Aakkhh..”
Elfathan melempar tubuh Arsyila ke atas tempat tidur. Ia tersenyum smirk lalu melepas pakaiannya. Tanpa menunggu lama ia bergerak menindih tubuh istrinya. Arsyila menyambut Elfathan dengan senyuman manis. Ia belajar banyak hal dari permainan Elfathan sebelum-sebelumnya. Karena itu ia tidak terkejut jika Elfathan tiba-tiba melakukannya.
“Mau melakukan sekarang atau…”
Cup
“Uumhh..”
Elfathan mencium bibir istrinya sekilas. “Sekarang kamu terlihat lebih agresif dariku, Arsyila.”
“Karena Kak El yang mengajarkan Arsyila.”
Elfathan terkekeh geli mendengarnya. “Jadi kamu belajar dariku, hm?” Arsyila mengangguk sebagai jawaban.
“Arsyila sudah belajar banyak hal pada Kak El.”
Arsyila mengusap d**a bidang suaminya dengan lembut. Ia menarik tengkuk Elfathan agar keduanya semakin dekat. Tatapannya tertuju pada bibir merah alami milik suaminya. Dan…
Cup
“Uumhh..”
Arsyila menyatukan bibir keduanya lebih dulu. Ia menggerakkan bibirnya dengan lembut. Seketika suara decapan memenuhi ruangan tersebut. Elfathan tidak memulai, ia hanya mengimbangi pergerakan istrinya. Sesekali ia memberikan gigitan kecil di bibir mungil Arsyila. Hal itu membuatnya merintih merasakan kenikmatan.
“Sshh..”
“Emhh..”
“Enghh..” Arsyila melenguh pelan.
Jemari kekar Elfathan tidak tinggal diam. Ia mulai bergerak menelusuri keindahan yang dimiliki istrinya. Ia mengelusnya dengan lembut dan penuh sensasi. Hal itu membuat tubuh Arsyila bergetar merasakan sensasi aneh dalam dirinya. Getaran yang dirasakan saat bermain dengan sang suami tercinta.
Krekk
“Aahh..”
Arsyila terkejut saat Elfathan tiba-tiba merobek pakaian yang dikenakan. Dalam satu tarikan pakaian itu sudah tergeletak di lantai. Entah bagaimana caranya Elfathan melakukan hal tersebut. Arsyila tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan perbuatan suaminya. Nafasnya memburu. Ia lebih memilih mengambil nafas sebanyak mungkin daripada berdebat dengan suaminya.
“Kamu tidak perlu menggunakan pakaian itu, sayang. Seperti ini jauh lebih cantik di mataku” ujar Elfathan sembari tersenyum smirk.
Elfathan menatap penampilan Arsyila malam ini. Sangat cantik, bahkan ia enggan berpaling darinya. Ia menatapnya lapar seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya. "Kita akan menikmati malam panjang setelah ini. Jadi, bersiaplah istriku!" ucapnya dengan suara berat.
Next