Arofah yang sudah memejamkan mata mengikuti gerakanku. “Gimana? Gimana?” ucapku dan Arofah hampir berbarengan. “Tuh ‘kan, akhirnya kepo juga,” ujar Ana sambil tersenyum puas. Aku mengangguk-angguk dengan gerakan cepat. “Cerita dong, kronologisnya!” ucapku seolah itu berita di televisi. Ana tersenyum. “Pas itu aku nggak sengaja dengar, bener lo, kalian jangan berprasangka buruk bahwa aku menguping ketika itu, oke!” perintahnya tegas, kami berdua langsung mengangguk-angguk dengan tak sabar. “Pas itu aku sedang diminta untuk mengantarkan sesuatu ke ruangan yang digunakan oleh para ustaz itu lo, tahu ‘kan? Na, aku nggak enak mau nyela, jadi, aku duduk dulu di bangku semen depan ruangan itu, tahu ‘kan?” ucapnya, sekali lagi kami mengangguk-angguk, makin tak sabar. Ana menghela napas da

