Aku nggak ingin benar-benar melukainya, aku hanya ingin membuatnya sedikit belajar untuk nggak bertindak dan mengucapkan hal yang menyakitkan itu. “Jadi, di dunia ini hanya Kamu anak yang berbakti? Heh!” seruku kemudian melemparkan senyum seringai sinis. Gadis itu berusaha melepaskan cengkeramanku dengan menggerak-gerakkan bahunya dan ketika itu tak membuahkan hasil kedua tangannya berusaha menepis kedua tangan ini. “Gimana jika sekarang kurendahkan ibumu yang sudah meninggal itu?” lanjutku ingin memberikan gambaran apa yang saat ini sedang kurasakan. Seketika mata gadis ini melotot, ekspresi geram yang sebelumnya terlihat jelas, makin menjadi. “Jangan berani-berani!” ancamnya dengan tegas. “Kalau begitu, katakan itu pada eyangmu itu, dengan cara yang sama!” tantangku sambil kembali

