Wawancara

1101 Kata

Mak menarik tangan ini hingga pelukan ini makin erat. “He em,” gumam Emak enteng. “Maak!” protesku hampir menangis, merasa kehilangan support system. “Masak, nanti Rayya yang kondangan di pernikahan ustaz itu yang menikah sama teman dekat sendiri? Gimana dong? Mak bayangin dong kayak mana hati Rayya saat itu?” imbuhku dengan nada menyayat-nyayat. “Itu pasti lucu sekali, Ra,” jawab Emak lirih sambil terkekeh pendek. “Mak!” seruku tak terima. Detik berikutnya aku menyadari kalau protesku tak berguna, wanita dalam pelukanku ini sudah memuarakan kelelahannya dalam tidur nyenyak. Ah ... Emak .... Aku tertidur sambil memeluk Emak selama kurang lebih lima belas menit dan terbangun sesaat sebelum alarm dua puluh Emak berbunyi. Sebuah notifikasi muncul ketika mata ini melihat layar handph

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN