Kesal, sebal, jengkel, muak, marah, dan entah apa lagi yang kurasakan.
Sejak kejadian tadi siang di taman bawah rumah sakit perasaanku masih kacau balau. Emosiku masih sangat terasa walau kejadiannya sudah berlalu, bahkan sampai malam ini, di saat ini, amarah itu masih begitu terasa.
"Kenapa sayang? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Wanita diskotik yang aku sewa malam ini memang agak berbeda dari biasanya. Wanita ini tidak menggelendot terus menerus seperti gadis-gadis biasanya. Kali ini aku mendapatkan wanita yang agak dingin. Yang sedari tadi hanya merokok dan meminum alkohol yang tersedia di meja.
"Setahuku, bukankah setiap gadis itu lemah dengan harta dan juga tampang yang tampan?" Tanyaku lebih ke diriku sendiri. Karena baru kali ini ada gadis yang menolakku dan aku tidak bisa menerimanya.
Selama ini, belum ada yang menolakku. Bahkan jika itu cuma hubungan singkat pun, belum pernah ada yang menolakku dan secara terang-terangan menunjukkan rasa bencinya padaku.
Benci?
Oh ya, apa alasan gadis itu membenciku ya? Padahal kami kan baru bertemu dua kali. Tapi gadis itu seakan sudah mengenalku lama dan begitu sangat membenciku.
Apa dia salah satu dari banyaknya mantanku ya? Tapi jika benar dia adalah salah satu mantanku, tentu saja aku pasti mengingatnya. Wajahnya yang nggak pasaran itu pasti susah untuk dilupakan.
Siapa sih gadis itu sebenarnya? Dan kenapa dia seperti membenciku begitu?
"Bwahahahaha ..." Tawa wanita diskotik yang aku sewa ini begitu keras menggelegar hingga langsung menyadarkanku saat itu juga. "Eh, Tuan. Ternyata pede-mu itu sangat tinggi ya, saking tingginya hingga nggak keliatan dari bawah."
Aku mengernyit, tak terlalu paham dengan perkataan wanita ini. "Maksudmu?"
"Ada tahu pesawat kan?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Setinggi apapun pesawat terbang, masih terlihat dari bawah, walau pun nampak kecil. Dan orang yang melihatnya pun masih mempunyai rasa kagum pada kendaraan besi yang bisa terbang itu." Jelasnya.
Tapi aku belum menemukan makna yang terkandung dari keterangannya itu.
"Lalu apa anda tahu satelit?"
Aku diam, kali ini tak menjawab. Bukannya aku tak tahu satelit itu apa, cuma sepertinya gadis ini tidak membutuhkan jawabanku. Dia hanya butuh perumpamaan untuk penjelasan teorinya saja.
"Orang awam kebanyakan tidak tahu kapan satelit terbang, orang awam juga tidak tahu bagaimana satelit terbang. Kebanyakan orang tahu cuma dari cerita-cerita atau dari film yang menayangkan satelit itu sendiri. Maksudnya nggak ada yang kagum dengan satelit kecuali orang yang tahu manfaatnya dan yang memanfaatkannya. Orang yang tidak tahu apa manfaatnya tidak akan peduli dengan satelit itu."
Aku masih belum mengerti akan arah pembicaraan wanita ini. Jadi aku hanya menatapnya dengan wajah penuh pertanyaan.
"Tuan belum paham?" tanyanya sedikit takjub ketika melihatku dengan mimik wajah seperti murid yang belum paham akan pelajaran yang didapatnya.
Aku pun menggeleng polos.
Wanita ini tertawa lagi. "Dari desas-desus yang beredar anda ini jenius lho. Tapi kenapa hal seperti saja anda tidak mengerti."
Aku hanya diam tak menjawab karena aku benar-benar tak mengerti arah pembicaraan wanita ini. "Jadi bisakah kamu menjelaskan maksud dari perkataanmu tentang pesawat dan satelit pada murid yang jenius tapi belum mengerti ini?" pintaku sedikit berbelit-belit.
Lagi wanita itupun tertawa. "Pesawat itu sombong, sama seperti anda. Jika semua kendaraan besi yang begitu berat hanya beroperasi di tanah layaknya mobil, kereta api, bus dan lain-lain, hanya pesawat yang beroperasi di udara. Terbang seakan mengalahkan seluruh kendaraan besi yang lain. Tapi walaupun begitu, kesombongan pesawat itu masih bisa dinikmati orang-orang pada umumnya. Yah, walau cara menikmati mereka kadang berbeda, ada yang menikmati dengan menaikinya, ada juga yang menikmatinya hanya dengan memandangnya dari bawah. Tapi semua orang itu bisa menikmatinya."
Wanita itu berhenti sejenak. Mungkin memberiku waktu untuk mencerna kalimatnya yang panjang. "Dan jika kesombongan anda selayak pesawat maka banyak orang yang bisa menikmati kesombongan anda adalah rekan kerja anda, teman nongkrong anda, kekasih anda, sampai wanita malam seperti saya. Karena orang sombong itu identik dengan menghambur-hamburkan uang. Jadi besar kemungkinan, anda pasti royal pada kami."
"Beda dengan satelit. Tuan kira di dunia ini sebanyak apa orang yang tahu yang tahu satelit itu apa dan apa manfaatnya? Sangat jarang yang tahu kan? Bahkan jika ada yang tahu pun, itu hanyalah orang-orang yang tahu manfaatnya dan yang ingin memanfaatnya. Sama seperti kesombongan anda yang begitu tinggi hingga tak terlihat seperti satelit. Jika anda menyombongkan diri seperti satelit kepada gadis yang anda incar, sedangkan yang diketahui gadis itu hanyalah pesawat, maka gadis itu tidak akan melihat kagum pada anda. Bahkan aku yakin gadis tersebut tidak akan melirik anda. Yang melirik anda justru gadis lain yang yang tahu bagaimana memanfaatkan anda dalam jangka panjang. Yang ini tentu anda tahu maksud saya kan?"
Memanfaatku dalam jangka panjang? Kenapa pikiranku langsung tertuju ke Inez ya. Apa gadis itu gencar mendekatiku gara-gara aku adalah putra pemilik Rumah Sakit?
Hei ... hei ... Ariel. Jangan keterlaluan kamu. Walaupun kamu nggak suka Inez, bukan berarti dia punya niat yang buruk mendekatimu. Siapa tahu dia mengejarmu dan mendekatimu karena murni mencintaimu.
"Gimana tuan apa penjelasan dari saya bisa dimengerti dengan baik?" tanya wanita malam ini dengan sedikit kesombongan.
Aku tak segera menjawab, tangan nakalku malah mengelus pahanya yang terekspos karena memakai gaun yang super mini. Mendengarnya berhasil menceramahiku, rasanya malam ini gairahku tumbuh lagi.
"Sangat baik dan sangat bisa dimengerti. Bahkan sampai di luar penjelasan pun ada hal yang aku mengerti lagi."
Wanita ini tersenyum menahan diri mendapati sentuhanku yang semakin ke atas, memprovokasi tubuhnya hingga dia sedikit menggelinjang.
"Apa itu, Tuan?" tanyanya dengan suara mendesah.
"Apakah kamu mau jawabannya?"
Wanita ini mengangguk, wajahnya sudah agak memerah menahan hasratnya sendiri.
Tanpa berkata apapun lagi, aku semakin mendekat padanya. menelungsupkan tanganku di bawah kakinya dan di belakang punggungnya yang terbuka. Dan dalam sekali sentakan, aku langsung bisa mengangkat tubuhnya yang memang ramping ke atas pangkuanku.
Kemudian kemesraan itu pun berlanjut semakin panas dan membara. Kami saling mengecup, saling memagut dan saling menyedot lidah. Tangan pun tidak bisa hanya berdiam saja. Tanganku sudah bergerilya di punggung dan dadanya. Baju seksinya sudah tidak karuan. Semuanya terangkat bersamaan dengan tanganku yang masuk ke dalam bajunya, mengeksplor setiap senti kulit lembutnya, membuat wanita ini merintih dan mendesah di sela-sela kecupan kami.
Sedangkan wanita inipun bukan wanita yang baru pertama melakukan hal seperti ini. Bahkan bisa jadi dia lebih ahli dariku. Lihat saja, walau dia menahan hasrat yang dirasakannya akibat serangan cumbuanku, wanita ini masih bisa membalas setiap gerakan untuk mengimbangiku. Tangannya pun juga tidak tinggal diam. Jari jemari lembutnya melepas kancing kemejaku dan bergerilya mengelus dinding dadaku yang bidang dan kekar.
Ketika tangannya merasakan otot d**a dan perutku, wanita ini menarik wajahnya dan melerai ciuman kami. Matanya menatapku penuh dengan godaan.
"Sepertinya Tuan sangat kuat?" tanyanya memancing dengan suara yang agak parau.
Tentu saja. Mau mencobanya?" godaku dengan suara tak kalah serak menahan hasratku sendiri. Apalagi dengan indera perasaku yang begitu sangat tajam. Sentuhan sedikit saja sudah bisa merangsangku, ditambah lagi sentuhan dengan penuh provokasi sepeti ini. Semua itu terasa semakin ingin membuatku meledak saja.
"Kuat berapa jam?" tanyanya menantang.
Dan itu semakin membuatku bersemangat.
"Berapa jam pun yang kamu inginkan, akan aku ladeni sampai kamu puas. Bagaimana?"