Terima Kasih, Dok

1110 Kata
Aku pulang dalam keadaan linglung. Akhirnya tadi aku tidak jadi menemui Dokter Ariel. Setelah melihat Dokter Ariel yang seperti itu, aku langsung balik kanan mengajak Bu Adisty pulang. Dan syukurlah, Bu Adisty hanya diam saja. Beliau tidak bertanya apapun padaku selama perjalanan pulang. Dan aku sangat berterima kasih atas pengertian Bu Adisty itu. Tapi ketika Bu Adisty sudah mengantarku sampai depan gerbang, ketika aku pamit akan turun, Bu Adisty tiba-tiba saja langsung memelukku erat. Sangat erat. "Apa kamu baik-baik saja?" Aku diam. Tak menjawab. Bohong kalau aku bilang kalau aku baik-baik saja. Tapi aku juga nggak punya kekuatan untuk bilang kalau aku sakit. hatiku sangat sakit. Jadi aku hanya diam saja seperti patung. "Mau aku temani?" Kali ini aku bisa menjawab walau hanya dengan gelengan saja. Bu Adisty melerai pelukannya dan menatapku teduh. "Baiklah kalau begitu. Masuk dan istirahatlah. Besok aku akan ke sini lagi." Aku hanya mengangguk dan berjalan keluar. Berdiri di samping mobil. Menunggu mobil Bu Adisty pergi dari gerbang depan panti asuhan. Setelah mobil Bu Adisty tak terlihat, barulah kakiku terasa lemas dan aku langsung ambruk begitu saja ke tanah. Rasa sakit yang menyiksa tadi mulai terasa lagi. Sedari tadi aku menahannya agar Bu Adisty tak tahu dan tak merasa bersalah. Tapi kini, setelah aku sendirian, luka itu terasa menganga dan emakin dalam dan semakin parah. Dan sakitnya terasa lebih sakit dari pada tadi. Bayangan sosok Dokter Ariel yang b******u dnegan dua wanita tadi kembali mengidi benakku, dan itu membuat mataku kembali berembun. Bukan hanya berembun tapi langsung banjir seketika. "Hiks! Hiks! Hiks!" Aku mengusap kasar air mataku yang keluar seakan saling berebut mengalir. Dan semakin aku usap, semakin banyak juga air mata yang semakin keluar. Tep! Kaget, aku segera berbalik, menatap tangan siapa yang telah menepuk pundakku. Dan ternyata itu adalah Dokter Dewa. Teman Dokter Ariel. Raut wajah Dokter Dewa pun terlihat sangat sedih. Mungkin karena melihat air mataku yang menalir menyedihkan. Tanpa berkata sepatah kata pun, Dokter Dewa langsung melebarkan sayapnya dan merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya. "Huwaaaa ...!" Dan ambrol lah segala perasaanku yang aku tahan tadi. "Huwaaaaaaa ...!" Rasa tertekan, rasa sakit, rasa kecewa, seakan aku keluarkan semuanya melalui jeritan tangisanku. "Huwaaaaaaaaa ...!" Dan Dokter Dewa memelukku semakin erat. Seakan pelukannya bisa berkata, 'keluarkan segala kesedihanmu, menangislah, menjeritlah, meraunglah. Aku di sini untukmu.' "Huwaaaa ..." "Huwaaaaaa ..." "Huwaaaaaaaaaaa ..." *** "Enak?'' Tanya Dokter Dewa menatapku yang makan es krim rasa coklat dan strowberry. Setelah puas menangis tadi, ketika Dokter Dewa menawariku untuk mengantarku ke dalam panti, aku menolak. Aku nggak mau nanti Bu Dian, kepala pantiku melihat kondisiku yag menyedihkan ini. Makanya aku malah meminta Dokter Ariel untuk menemaniku membeli es krim. Karena biasanya, aku bisa menenangkan diriku ketika aku makan es krim rasa coklat. Dan untungnya Dokter Dewa nggak keberatan. Akhirya dia menemaniku pergi ke indomart terdekat dan membeli es krim. Lalu berakhir, duduk di kursi yang di sediakan indomart di pelatarannya. "Ya. Sangat enak." Kataku tersenyum manis. "Nggak ada yang bisa mengalahkan enaknya es krim rasa cokelat." Aku berusaha membuat suaraku seceria mungkin. Dokter Dewa hanya tersenyum melihatku. "Ngomomg-ngomong, kenapa Dokter Dewa ke panti?" ''Mencarimu." "Hahaha. Yang benar saja?" Aku sama sekali nggak menganggap perkataan Dokter Dewa itu serius. "Lagian buat apa mencariku? Kayak kurang kerjaan saja." Aku masih saja tertawa. "Kalau aku bilang mau menjemputmu, apa kamu akan percaya?" Dokter Dewa bertanya. "Tidak!" "Ternyata kamu jenis gadis yang susah luluh ya?" Dokter Dewa terkekeh. "Dan begitu lah aku." Dokter Dewa diam, menatapku agak intens. Aku tahu maksud tatapannya itu, tapi aku juga hanya diam saja. Aku masih agak berat jika bercerita. "Bolehkah aku bertanya?" "Tidak." jawabku mantap. "Kenapa?" " Bukan apa-apa. Toh kalau dokter bertanya pun, aku juga nggak akan menjawabnya." "Oh ... ternyata begitu. Oke. Berarti aku sudah tahu." "Tahu apa?" "Penyebab kamu menangis." Aku menatap Dokter Dewa tak mengerti. "Aku sudah kenal Ariel selama bertahun-tahun. dan aku tahu baik buruknya bocah itu. Dan gadis yang menangis sepertimu tadi, sudah sangat banyak. Bukan hanya kamu. Kau hanyalah salah satu seperti mereka saja." "Ah ... ternyata seperti itu." Ada rasa kecewa yang begtu mendalam mendengar penjelasan Dokter Dewa. Aku tak menyangka kalau Dokter Ariel se-playboy itu. "Aku bilang seperti ini bukannya untuk menjelek-jelekkan Ariel di depanmu, atau membuatmu terluka lagi. Aku hanya ingin kamu tahu sifat Ariel sebenarnya, agar kamu nggak terlalu kecewa. Tapi jika kamu nggak kuat, kamu bisa lari padaku. Tanganku dan pelukanku, selalu tersedia untukmu." Lagi, aku tertawa. "Dokter promosi?" "Ya. nggak rugi juga aku promosi diri sendiri ke kamu." "Aku sudah ada yang punya lho, Dok." "Aku nggak peduli. Yang punya kamu aja nggak peduli padamu, buat apa aku peduli padanya jika ingin merebutmu." Aku tersenyum lemah. Apa yang dikatakan Dokter Dewa ada benarnya. Memang Dokter Ariel nggak peduli padaku. Lalu aku harus bagaimana. Apa aku harus menerima tawaran Dokter Dewa? Tidak. Jika aku menerima tawaran Dokte Dewa untuk lari bersamanya itu tidak adil baginya. Karena yang sudah mencuri hatiku adalah Dokter Ariel. Jadi mau se-b******k apa pun Dokter Ariel, anehnya, aku tak bisa membencinya. AKu hanya bisa terluka tanpa bisa membenci si pemberi luka. Dan aku marah dengan diriku yang seperti itu. "Mau pulang sekarang?" tanya Dokter Dewa. Mungkin karena meliharku kembali murung dan diam jadinya dia mengajakku pulang. "Aku antar." Aku pun mengangguk. Kami berjalan bersisian. Masih saling diam sejak keluar dari area indomaret tadi. "Apa Dokter masih merasa bersalah padaku?" tanyaku memecah keheningan. "Apa?" "Bukannya Dokter pernah bilang kalau Dokter merasa bersalah padaku karena Dokter lah yang mengajak Dokter Ariel ke desa dan bertemu denganku?" Dokter Dewa hanya diam tak menjawab. "Lalu apa Dokter mencariku sampai panti dan menawariku untuk bersama Dokter, itu masih karena rasa bersalah Dokter?" "Ah ... ternyata ketahuan ya. hehehe." Aku tersenyum miris. "Tenang saja, Dok. Dokter nggak perlu merasa bersalah dan merasa bertanggung jawab atas kebahagiaanku. Semua ini nggak kan terjadi tanpa kemauanku juga. Jadi faktor terbesar aku jadi seperti ini adalah karena kesalahanku sendiri. Jadi Dokter nggak usah merasa bersalah. Ini adalah kesalahanku sendiri. Bukan kesalahan Dokter Dewa atau yang lain. Jadi Dokter Dewa bisa kembali ke kehidupan Dokter seperti biasa tanpa harus mengkhawatirkanku." Pluk! Bukannya menjawab, Dokter Dewa malah meletakkan tangannya ke atas kepalaku dan mengusap-usap rambutku. "kecil kecil, kamu perhatian juga ya." Ledeknya. Aku merengut. "Aku bukan anak kecil Dok. AKu sudah hampir Dua puluh tahun." "Masih kecil." Dokter Dewa masih kukuh meledekku. "Aku sudah beranjak dewasa." "Tapi kenapa tinggimu nggak nambah?" "Memangnya aku pohon? Umur segini mana bisa tumbuh lagi?" "Berarti kamu masih kecil. "Nggak. AKu sudah dewasa." "Masih kecil." "Nggaaaaaakkkk." Dan begitu lah. Kami terus saja berdebat sampai kami tiba di depan gerbang panti dan berpisah. Terima kasih Dokter Dewa. Berkat Dokter, perasaanku yang buruk tadi sekarang bisa menjadi ringan. Terima kasih, Dok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN