23. AADY

1315 Kata
Setelah drama tangis Yani sedikit menyayat, akhirnya kami berangkat ke rumah sakit agak terlambat. Karena Yani lebih dulu mengompres matanya agak tidak terlihat bengkak, walau masih agak sedikit merah. Aku sudah melarangnya untuk masuk kerja, tapi gadis ini bersikeras agar tetap masuk. Padahal jika mau membolos pun sebenarnya tak apa, toh yang punya rumah sakit kan mertuanya, dan aku sebagai pewaris tunggal rumah sakit ini adalah suaminya. Bahkan, jika dia tidak kerja dan hanya santai-santai saja pun tak masalah. Tapi gadis ini sangat keras kepala, dia bertekad ingin bekerja. Dan ketika aku tanya alasannya, dia menjawab .... "Apakah kita akan menjadi suami istri selamanya? Bisakah kamu bisa hidup tanpa bersenang-senang dengan wanita lain? Karena aku tidak bisa hidup dengan laki-laki yang ada banyak wanita di hatinya. Dari pada begitu, lebih baik aku hidup sendiri. Aku nggak mau sakit hati untuk kesekian kalinya. Jadi jika masa percobaan dari Mama ini telah habis, maka aku ingin berpisah saja, jika kamu masih belum berubah. Dan aku bekerja keras untuk itu. Untuk mempersiapkan diriku sendiri jika nanti aku harus kembali hidup tanpa orang lain." Jawaban yang sangat menohok hatiku. Walau aku tersinggung dengan jawabannya tapi aku tidak bisa membantah, karena aku tahu, dia benar. Siapa juga wanita yang mau hidup dengan laki-laki tukang selingkuh? Aku yakin, seumpama ada pun, itu seribu satu ada di dunia ini. Dan Yani bukanlah salah satunya. "Nanti ketika kita di rumah sakit, tolong bersikaplah seperti kita nggak saling dekat. Anggap saja, aku adalah perawat seperti kebanyakan dan aku akan menganggap kamu seperti layaknya dokter pada umumnya. Atau mungkin lebih baik, selama di rumah sakit kita anggap aja kita nggak saling kenal." pintanya ketika kami sudah berada di dalam mobil, dalam perjalanan menuju rumah sakit. "Kenapa seperti itu? Apa karena Dafa? Kamu nggak mau dia tahu bahwa kamu adalah seorang wanita yang bersuami?" tanyaku bertubi- tubi tak terima. Bagaimana bisa seorang wanita yang sudah bersuami tapi masih ingin keliatan single. "Karena aku nggak mau ada yang tahu bahwa kamu lah suamiku. Aku nggak mau nanti, ketika kita sudah bercerai nanti, aku dikenal sebagai mantan istrimu di rumah sakit." "Kenapa kamu terus saja membahas tentang perceraian?" Tanyaku lagi semakin dongkol. Hingga aku nggak terlalu fokus pada mobil yang kukendarai. Yani terdiam, tak langsung menjawab. Sepertinya dia paham kalau aku emosi, dan dalam situasi seperti ini, yang aku menyetir mobil, emosi sangatlah tidak baik. Lalu akupun mulai mendinginkan kepalaku, mengendalikan amarahku. "Berikan aku alasan, kenapa kamu selalu saja membahas tentang perceraian. Kita bahkan baru bertemu kemaren?" tanyaku dengan nada yang sudah stabil. Amarah yang sempat memuncak tadi, sekarang sudah dingin. "Apakah aku masih perlu menjawabnya? Kenapa tidak coba kamu pikir sendiri, kenapa tidak coba kamu gali sendiri dalam dirimu, kenapa aku membicarakan perceraian di awal perjumpaan kita? Bukankah anda jenius Dokter Ariel?" Yah ... dan lagi-lagi aku tidak bisa membantahnya. Ini semua memang salahku. Aku yang mengawali, aku yang meninggalkannya juga. Sekarang saja aku sendiri tak tahu hubungan ini akan mengalir ke mana. Apakah akan berlanjut atau berhenti. Apakah aku bisa meninggalkan kebiasaan lamaku yang suka gonta ganti wanita? Apakah aku bisa mmebahagiakan gadis yang dududk di sampingku ini? Entahlah. Aku tak tahu. Lalu dalam sisa perjalanan kami menuju rumah sakit, hanya ada keheningan yang menyedihkan. Keheningan yang benar-benar tidak mengenakan. Dan ketika kami sampai di rumah sakit, dan memarkir mobil, Yani kembali berpesan. "Selama di rumah sakit, aku akan memanggilmu dengan sebutan 'anda' atau dokter. Jadi jangan kaget jika nanti sikapku berubah dingin." Brubah dingin apanya? Sikapmu kan memang dingin. Makin dingin itu iya. Rutukku dalam hati. Tidak mengiyakan dan tidak menolak pesan Yani padaku. Dengan santai dia melepas selt belt-nya dan keluar sendiri dari dalam mobil, bersamaan denganku. "Saya masuk dulu." pamitnya dengan mengganti kata 'aku' dengan kata 'saya'. Sikap formal, dingin dan seakan tak saling mengenal sudah di mulai. Gadis ini bahkan menganggukkan kepalanya tanda sopan santun, seperti bawahan pada atasan. Dan sialnya, melihat dia seperti itu malah makin membuatku kesal dan ingin meledak marah. Gadis itu, dengan santainya, berjalan meninggalkanku seorang diri di pelataran parkir rumah sakit. Karena jengkel jadi pihak yang ditinggalkan, Aku pun menarik tangannya agar dia nggak jadi meninggalkanku sendirian dan ingin mengomelinya. Gadis ini terlihat sangat kaget dengan reaksi spontanku. Dan ketika aku akan mulai omelanku karena dia nggak mau kita saling kenal selama di rumah sakit, tiba-tiba ... "Dokter Ariel." Sebuah suara yang lembut mengagetkanku. Aku pun menoleh ke asal suara. Dan ada tiga orang yang menatapku dengan kaget sambil berjalan ke arahku. Ada Bagas dan juga Kenzo, serta Dokter cantik Nilam. Dokter yang sudah dua bulan ini aku dekati tapi belum berhasil aku raih juga hatinya. Dan tanpa sadar, gara-gara Dokter Nilam menatap pada tanganku yang memegang tangan Yani, aku malah melepas pegangan tangaku pada gadis ini dengan agak kasar. Seakan takut ketahuan kalau aku punya cewek lain, padahal dia istriku sendiri. Sial ..! Ternyata aku memang se-b******k ini! "Lho Ril. Kok kamu bisa berangkat bareng si Riri?" tanya Bagas penasaran setelah dia dan dua yang lainnya sampai di dekat mobilku. Menatapku dan menatap Yani bergantian. "Memangnya kamu sudah berhasil?" "Berhasil?" Dokter Nilam menatap Bagas. Malah ganti gadis itu yang penasaran dengan ucapan Bagas. "Berhasil apaan?" Dasar Bagas ember. Rutukku sangat sebal. Kenapa malah bertanya tanpa lihat kondisi dulu sih. Dasar nggak peka. "Oh, Itu ... itu ... maksudku ... itu .." Nah malah gelagapan kan nih bocah. Mulut nggak di jaga sih. Mana Dokter Nilam malah keliatan makin penasaran gara-gara bocah sableng ini terlihat gugup. Dan si Kenzo ini malah bikin orang naik darah aja. Bukannya bantuin nyari alesan malah cekikikan nggak jelas. Dan aku pun sama sialnya dengan Bagas. Seperti makan buah simalakama. Jika aku mengatakan yang sebenarnya sekarang, kalau Yani adalah istriku, tentu saja akan jadi gosip besar dan pamorku pasti akan turun. Dan jika aku nyari alasan dan pura-pura nggak kenal Yani, maka itu sama saja aku menyetujui dengan usul Yani, kalau sebaiknya selama di rumah sakit, kami nggak saling kenal. Jika seperti itu, aku pasti nggak bisa menuntut Yani jika dia bersama dengan Dafa, dan aku juga nggak bisa melarang dia dekat pria lain selama di rumah sakit. Lalu apa yang harus aku lakukan? Pilihan mana yang harus kupilih yang paling menguntungkanku? "Ya?" Lagi, Dokter Nilam bertanya pada Bagas yang makin gugup. "Maksudnya berhasil operasi kemaren, Dok!" potongku. Nunggu si Bagas nyari alesan, kelamaan. Keburu Dokter Nilam makin curiga. "Kemaren kan ada pasien yang harus aku operasi dan kebetulan perawat yang merawatnya adalah gadis tadi." Aku menunjuk Yani yang berdiri di dekatku. "Tadi kami bertemu di halte bus dan aku mengajaknya bareng sekalian karena ada yang harus aku bicarakan dengannya. Setelah operasi selesai dan berhasil, aku membicarakan obat untuk pasien itu dengan perawat ini." Sekilas, Yani terlihat kaget dengan sorot mata terluka menatapku tak percaya. Tapi itu hanya sekilas. sedetik kemudian, matanya kembali berubah dingin. Dia bahkan mengangguk kan kepala sebagai tanda salam pada Dokter Nilam, Bagas dan Kenzo. Duuhh ... bener-bener dech aku ini. Nggak salah jika Kenzo selama ini menjulukiku sebagai rajanya tukang alasan. Bahkan dengan situasi yang terjepit tadi, aku dengan lancar membuat alasan yang masuk akal kenapa aku bisa berangkat bareng Yani. Dsar aku memang cowok cerdik. "Oh ... begitu ternyata." Dokter Nilam manggut-manggut paham. "Saya kira kalian ada apa-apa." "Ah tidak kok. Kami hanya kebetulan saja." Lagi aku menjawab ngasal sambil tersenyum cerah pada Dokter Nilam. "Maaf, menyela." Yani memutus tatapan mataku pada Dokter Nilam dengan ucapannya. "Saya pamit permisi masuk dulu ya! Saya harus segera bekerja." Katanya tanpa menatapku sama sekali. Seakan gadis ini hanya pamit pada Bagas, Kenzo dan juga Dokter Nilam. Yani hanya menatap mereka bertiga. Aku sedikit merasa aneh dengan sikap gadis ini. "Oh ya, silahkan Nona perawat!" Dokter Nilam lah yang menjawab. "Kalau begitu saya permisi dulu." Dan masih tanpa melihatku lagi, Yani langsung pergi begitu saja. Tanpa menoleh lagi. Entah kenapa melihat gadis itu bersikap seperti itu membuat perasaanku tidak enak. Kenapa dengan gadis itu ya? AADY? Ada Apa Dengan Yani?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN