5. Gadis berwajah hitam arang

1877 Kata
"Apa gadis itu baik-baik saja?" Doni mendekat pada Pak Siddiq begitu melihat wajah si gadis yang diseret. Wajah Doni agak takut-takut melihatnya. Pak Siddiq tidak menjawab. Sepertinya beliau juga agak syok melihat gadis yang masih di seret itu. Aku sendiri juga kaget bukan main pas lihat wajah si gadis. Gadis itu wajah keseluruhannya semua hitam. Hitam legam. Seperti di kasih arang hitam. Hanya terlihat matanya saja yang berkedip. Seram. "Ke-kenapa wajahnya seperti itu, Pak?" Dewa bahkan sampai gugup setelah ikut melihat juga. Tapi tetap belum ada jawaban dari Pak Siddiq. "Apa ini juga tradisi?" Kini ganti Jali yang bertanya. Masih belum ada jawaban juga dari Pak Siddiq. Akhirnya kami semua menatap Pak Siddiq. Pria setengah baya itu seperti tercenung dan tubuhnya seakan kaku. Apa saking kagetnya Pak Siddiq sampai seperti itu ya? Akhirnya kami ganti menatap Pak Beno. Berharap mendapat jawaban dari bapak yang bersedia mengantar kami ke sini. "A-aku nggak tahu." Pak Beno pun juga terlihat gugup dan takut. "Seumur-umur aku juga baru pertama kali ini melihat seorang gadis digiring ke tempat Pak Takur dengan kondisi yang mengerikan seperti itu. Selama ini aku hanya mendengar dari cerita-cerita orang saja." Lalu Pak Beno kembali melihat gadis yabg diseret tadi. "Sungguh, aku benar-benar nggak tahu kalau keadaan desa ini ternyata begitu tragis seperti itu." Kami pun mengikuti arah mata Pak Beno. Menatap kembali gadis itu. Dan tanpa di duga ternyata gadis itu juga menoleh menatap pada kami. Bukan. Bukan pada kami. Gadis itu menoleh menatapku. Hanya padaku. Tidak. Aku bukannya GR. Dia benar-benar menatapku. Bukankah sudah aku bilang dari awal kalau panca indera ku itu tajam. Dan indera penglihatanku pun juga sama tajamnya. Walau gadis itu berjarak sudah agak jauh, tapi mataku masih bisa melihat dengan jelas setiap gerakan dan bahkan garis kulitnya. Serta gerak matanya. Dan aku sangat yakin jika gadis itu menatapku. Bola matanya yang berwarna hitam pekat, tapi matanya terlihat begitu jernih itu, sedang menatapku. Tatapan matanya pun bukan tatapan seperti orang yang minta tolong. Tapi tatapan tenang dan begitu dingin. Walaupun tubuhnya menolak di seret ke tempat Pak Takur, tapi tatapan matanya tidak terasa seperti gadis yang ketakutan. Tatapannya seakan tatapan yang sudah tidak punya keinginan untuk bertahan hidup. Tatapan yang tanpa kehidupan. Kenapa dengan gadis itu? Bagaimana bisa, gadis SMA bisa mempunyai tatapan tak punya gairah hidup kayak gitu? Apa yang sudah terjadi padanya? "Yaaannnn ...!" Tiba-tiba saja ada suara yang berteriak kencang dari ujung jalan. Suara seorang gadis yang lain. Kami langsung beralih menatap gadis yang berteriak tadi. Dan gadis itu juga memakai seragam putih abu-abu. Mungkin temannya. Kurasakan tubuh Pak Siddiq yang berada tepat di sampingku, kini malah sedikit menegang. Auranya ada rasa kaget yang bercampur marah. "Yaniiii ....!" Gadis yang berteriak tadi kini malah berlari menyusul gadis yang di seret. Dan Pak Siddiq ternyata juga ikutan lari ke arah yang sama dengan gadis itu. Tentu saja kami gelagapan dengan gerakan Pak Siddiq. Karena Pak Siddiq tadi yang melarang kami untuk ikut campur, tapi sekarang dia malah lari kencang menyusul si gadis itu. Dan mau tak mau kami pun mengikuti larinya Pak Siddiq. "Lepaskan temanku! Lepaskan!" Si gadis yang berteriak tadi berusaha sekuat tenaga mendorong pria-pria bertubuh besar yang memegangi gadis yang dipanggil Yani itu. Anehnya, gadis yang berusaha ditolong temannya itu, cuma diam saja tanpa ekspresi. Ketika semuanya sekarang berkumpul mengerumuni tiga pria dan gadis yang dipanggil Yani itu, aku masih berdiri agak jauh di belakang mereka. Mengamati situasi. Tampak salah satu pria berbadan kayak bodyguard itu mendorong gadis yang berusaha menolong temannya. Tapi si gadis tidak menyerah. Dia terus berusaha melepaskan gadis bernama Yani dari cengkraman ketiga pria yang wajahnya rada sangar. Dan mungkin karena mereka sebal sebab kerjaan mereka terganggu oleh seorang anak SMA, dengan tidak sabar, pria bertubuh besar dengan tato rajawali di punggung tangan kirinya itu mendorong si gadis pengganggu agak kasar hingga gadis itu terjerembab ke tanah berpaving. "Diaaaannn!" Dan tanpa kami duga pak Siddiq berteriak dan segera merengkuh si gadis yang terjatuh. Memeluknya begitu erat lalu mengelus kepalanya dan memeriksa beberapa bagian tubuhnya. "Kamu nggak papa? Apa ada yang sakit?" Tanyanya penuh kecemasan. "A-ayah ..." Ayah? Jadi Pak Siddiq itu ayah dari gadis yang berlari tadi? Makanya tubuh Pak Siddiq seakan terasa menyalurkan tegangan tinggi karena syok tadi. Gadis yang dipanggil Dian itu menatap ayahnya dengan berkaca-kaca. "Ayah, tolong Yani, yah! Kasihan dia!" Dan gadis itu mulai menangis. Pak Siddiq segera merengkuh kembali sang putri. "Jangan ikut campur, Dian! Kamu kan tahu sendiri Pak Takur itu bagaimana." "Tapi kasihan, Yani, ayah. Bapak ibunya baru saja meninggal." Gadis setia kawan itu sedikit histeris. "Tolonglah Yani, Ayah! Tolong!" Pak Siddiq melerai pelukan dan menatap putrinya tak percaya. "Me-meninggal?" Dian mengangguk dalam-dalam. "Ba-bagaimana bisa?" Aku nggak tahu kenapa Pak Siddiq yang sejak awal aku kenal pendiam dan bisa membawa diri itu menjadi gugup kayak gini. Apa mungkin gadis yang wajahnya penuh arang hitam ini masih keluarganya? Dan ayah atau ibu dari si gadis bernama Yani ini masih saudaranya? Aku, kami semua tidak tahu. "Kata orang-orang dari pagi tadi, paman Totok dan Bi Darsih sudah pergi ke hutan buat nyari jamur." Dian mulai menjelaskan di sela-sela tangisannya. "Ta-tapi ... tapi sampai siang mereka juga belum kembali. Akhirnya sepulang sekolah tadi, aku dan Yani minta tolong Pak Dulah dan beberapa warga lain untuk mencari Paman Totok. Tapi ternyata ... ternyata kami menemukan mereka dalam keadaan sudah meninggal." Jedeerrrr ...! Aku sangat yakin, kabar yang diberitakan putrinya pada pak Siddiq itu pasti bagai petir yang menyambar di sore hari. Terlihat jelas dari pupil matanya yang tiba-tiba membesar. Serta ekspresi wajahnya yang sangat terkejut tak menyangka. Jadi apa karena itu gadis bernama Yani ini, walau di seret dan mau di serahkan oleh pria b******n tatapannya begitu tak ada kehidupan. Karena dia baru saja kehilangan orang tuanya sekaligus. "Ayo!" Suara pria dengan tato rajawali itu menyadarkan kami kalau Yani masih berada di tangan mereka. Bahkan pria yang terlihat paling seram dari ketiganya itu, langsung mencengkeram kuat lengan Yani dan memaksanya berdiri. Tampak alis Yani mengernyit menahan sakit. Tapi tak ada suara apapun yang terdengar dari mulutnya. Aku hanya mendengar deru napasnya yang berusaha dia tekan agar tetap tenang. Benar-benar gadis yang pemberani. Tuan!" Panggil Pak Siddiq takut-takut. Terlihat sekali kalau dia mencoba memberanikan diri. "Tolong lepaskan keponakan saya!" Ah ... tenyata benar, gadis ini adalah keponakan pak Siddiq. "Kasihan dia, gadis ini baru saja kehilangan orang tuanya." "Apa kamu bisa bertanggung jawab atas perkataan mu itu?" "Eh? Maaf apa maksudnya?" "Jika kamu melarang kami membawanya, apa kamu mau berhadapan langsung dengan Pak Takur karena sudah menghalangi tugas kami." Pria bertato itu benar-benar terlihat songong. Aku saja yang mendengar perkataannya jadi sebal. "Bu-bukan begitu. Maksud saya ..." "Atau kamu mau menggantikan membayar hutang orang tua gadis ini?" Pak Siddiq terdiam. Tidak sanggup membantah lagi. "Apa kamu mau menggantikan gadis ini dengan putrimu itu?" Si pria bertato menunjuk Dian yang masih berada di dekapan ayahnya dengan dagu. Lagi, Pak Siddiq tidak sanggup menjawab. Dia hanya diam sambil memeluk putrinya semakin erat. "Jika kamu nggak bisa bayar utangnya dan nggak mau menyerahkan anakmu, lebih baik kamu diam saja!" Dan setelah itu, dengan kasar, pria bertato burung rajawali itu melempar tubuh Yani ke teman bodyguard nya yang lain. "Pegangi gadis ini, jangan sampai lepas! Kalau dia masih berontak, pukul saja dia!" Perintah yang kejam dan sadis. Aku bukanlah orang yang baik. Dan aku juga benci jika berurusan dengan permasalahan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya denganku. Tapi kali ini entah kenapa darahku terasa mendidih melihat perlakuan para pria sombong ini. Dan tanganku gatal ingin sedikit memberi pelajaran pada orang-orang yang sok ini. "Oeee!" Panggilku ketika mereka sudah mulai berjalan pergi. Ketiga pria itupun berhenti dan menoleh padaku. Seakan tatapannya berkata meremehkan, 'mau apa lagi nih bocah ingusan.' Tapi sayangnya aku bukan bocah ingusan. Dengan perlahan dan pasti, aku melangkah mendekat pada orang-orang antagonis itu. Satu pria menghadang langkahku ketika aku hampir sampai di tempat gadis bernama Yani itu berada. "Mau apa kamu?" Tanyanya curiga. Aku tersenyum miring sambil melemaskan otot tanganku. Aku kepalkan lalu aku putar-putar sedikit yang berpusat pada pergelangan tangan. Agar peredaran darah di telapak tangan dan pergelangan tangan lancar. Karena setelah ini telapak tanganku harus bekerja. Jadi perlu sedikit pemanasan. "Mau ini." Dan secepat kilat, aku langsung mengayunkan bogem mentahku dan aku arahkan ke jakun pria yang menghadang ku. Duak! Suara agak keras terdengar ketika kepalan tanganku memukul tepat di jakun lehernya. "Arrrggghhh!" Tentu saja ini adalah suara korban pukulan pertamaku. Pria itu langsung berjongkok kesakitan memegangi tenggorokannya. "Hoi ...!" Pria bertato burung rajawali langsung berderap melangkah ke arahku. Tapi ketika dia sudah tepat di hadapanku dan hampir memukulku, aku berkelit dengan memutar tubuh ku. Memutar tubuh sambil berjalan tiga langkah dan tepat berdiri di belakang pria yang memegangi Yani. Lalu seperti tadi aku memukul bagian belakang kepala si pria itu. Duak! Kali ini bukan dengan tangan yang terkepal. Melainkan dengan tangan terbuka dan jari-jari menempel kuat. Dan secepat kilat juga langusng aku pukul leher belakangnya. "Aaaaarrrrgggghhhhhh ...!" jeritan yang lebih panjang dari korban pertamaku. Si pria itupun melepas pegangan tangannya pada Yani dan berjongkok kesakitan. "Ka-kamu ...!" Tampak di pria bertato sangat emosi. Dan sebelum dia beranjak dari tempatnya dan menghajarku, aku sudah lebih dulu mendekat padanya dan memegang kedua bahunya. Saking cepatnya pergerakanku dan karena saking kagetnya pria bertato itu, dia bahkan hanya bisa melongo melihat kecepatanku. Aku tersenyum meremehkannya. "Hai ...!" Sapaku. Dan bersamaan dengan itu kaki kananku aku tekuk dan aku gunakan lututku untuk menghantam alat vitalnya yang berharga. "Aaaaarrrrggggggggghhhhhhhhhhh ...!" jeritan yang lebih panjang dan lebih sakit terdengar dari korbanku yang kedua. Seperti kedua temannya, pria sombong itupun berjongkok sambil memegang Mr. P nya yang kena tonjokan lututku. Setelah kurasa aman, segera kuraih lengan gadis yang menyedihkan ini. Dengan perlahan dan lembut, aku tuntun dia dan menyerahkannya pada Pak Siddiq serta putrinya yang melongo menatapku. Lalu aku kembali berbalik dan menatap ketiga pria yang masih kesakitan itu. Ada alasan kenapa aku memukul mereka di tempat yang berbeda. Jakun, belakang kepala.dan juga alat vital. Itu karena ketiga titik tempat aku memukul tadi adalah titik yang sangat mematikan dengan rasa sakit yang tiada terkira. Buktinya ... dan lihatlah mereka. Untuk sekedar kembali berdiri saja mereka tidak sanggup. "Pergilah dan katakan pada Bos kalian! Semua hutang gadis ini, aku yang tanggung. Jika bos kalian ingin uang itu maka carilah aku. Dan jangan mengganggu gadis ini lagi." Aku tak yakin ketiga preman kampungan ini mendengarku atau tidak. Aku cuma yakin, mereka masih sibuk dengan rasa sakit yang menjalar di tubuh mereka. Pukulanku tak bisa diremehkan begitu saja. Tapi walaupun begitu, aku masa bodoh. Entah mereka menyimak perkataanku atau tidak itu terserah mereka. Akupun segera berbalik dan akan pergi, tapi aku teringat sesuatu. Jadi aku berhenti dan berbalik menghadap mereka lagi. "Oh ya. Namaku Ariel. Dokter praktek di sini. Jika ingin mencariku, aku ada di polindes desa." Setelah itu aku benar-benar pergi meninggalkan tiga pria yang masih kesakitan itu. Meninggalkan Pak Siddiq, Pak Beno, si supir mobil, Doni, Jali, Dewa, serta dia gadis berseragam SMA yang terbengong-bengong melihat aksiku. Tapi sekali lagi aku bodo amat. Tadi aku hanya kesal saja. Jadi aku kembali ke polindes tanpa berpamitan pada mereka semua dan tanpa mengajak mereka. Dengan langkah mantap dan ringan aku kembali sendiri. Kembali dengan senyum terkembang puas di bibirku. Akhirnya aku dapat pelampiasan gara-gara kesal dengan jalan menuju ke sini tadi. Hehehe.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN