Aku masih belum bisa melepas pikiranku dari gadis UGD kemarin. Gadis itu seakan sudah menyedot seluruh hati dan pikiranku.
Aku bukan lah seorang pemula yang baru tertarik pada seorang wanita. Dan biasanya aku tidak akan memikirkan seseorang hingga sedalam ini. Apa mungkin karena aku belum bisa mendapatnya makanya dia selalu memenuhi pikiranku? Tapi biasanya aku juga tidak seperti ini. Walau aku belum bisa mendapatkan seorang gadis, biasanya aku akan mencari kesenangan lain dan dengan mudah melupakannya.
Seperti ini. Pergi ke diskotik mencari wanita yang mau menemani malamku, maka dengan mudah aku akan melupakan gadis yang belum bisa aku raih.
Tapi kali ini agak sedikit berbeda.
Suara music yang keras dan sentuhan lembut tubuh wanita yang sedari tadi melekat di tubuhku, tidak bisa mengalihkanku dari sosok gadis UGD itu. Aromanya, matanya dan juga suaranya, seakan tidak mau lepas dari pikiranku.
"Lo kenapa?" tanya Devan dengan suara berteriak, mencoba mengimbangi suara musik yang begitu keras memekakkan telinga.
Aku hanya melirik cowok yang yang sudah setengah teler yang sekursi denganku ini. di kanan kirinya ada dua cewek yang menggelayut manja di tubuh cowok itu. Dan si b******k itu bahkan tidak sungkan-sungkan memasukkan tangan kanan dan kirinya ke dalam baju depan ke dua cewek tersebut.
Tak perlu aku beritahu, kalian pasti sudah bisa menebak apa yang dilakukan k*****t ini. "Nggak usah peduliin gua. Kayaknya lo yang segera butuh kamar buat perang." Balasku tak kalah keras.
Mendenagr jawabanku, bocah ini tertawa keras.
"Nggak bisa gitu dong. Lo kan hubungin gua buat ajak lo senang-senang. Masak gua pergi senang-senang sendiri. Mau mencoba b******a ramai-ramai."
Aku menyipitkan mata, menatap tajam Devan atas usul gilanya. Aku memanglah suka gonta ganti wanita, tapi sedikitpun tidak terlintas di pikiranku melakukan s*x secara ramai-ramai dan dilihat orang lain.
Malu? Tidak. Bukan itu.
Aku bukanlah pria baik-baik yang malu akan hal itu. Aku hanya merasa nggak nyaman dan jijik. b******a tapi dilihat orang lain, bagiku sama aja seperti membunuh hasrat ingin b******a itu sendiri.
"Lo udah ngajak gua dan bikin gua b****k kayak gini. Jangan bikin gua makin ancur lagi sampai nggak berbentuk!" Larangku.
Ya. Memang. Aku mengenal dunia malam ini pertama kalinya karena ditawari Devan. Dan aku juga tahu bahwa ini tidak sepenuhnya salah cowok itu. Ini juga sebagian besar adalah kesalahanku sendiri. Bisa saja kan aku menolak tawarannya tiga tahun lalu, tapi apa nyatanya. Aku menerima ajakannya dan bahkan masih melakukannya hingga sekarang. Mendengar gerutuanku, cowok ini tertawa sangat keras.
"Jangan tanggung-tanggung Bro! Kalau mau rusak, rusak sekalian aja. Kalau mau b****k, b****k sekalian. Kalau mau ancur, ancur sekalian dong! Jangan setengah-setengah."
"Terima kasih. Tapi tidak. Aku masih punya niatan untuk bertobat kelak."Tolakku.
Dan mendengar dalihku, tak bisa dipungkiri, tawa cowok ini makin keras menggelegar, bahkan mungkin bisa mengalahkan dentuman suara musik yang memenuhi diskotik ini.
"Oke. Oke. Gua nggak akan memaksa lo lagi. Gua akan tinggalin lo dengan niat tobat bodoh lo itu. Hahahaha!" Devan pun mencoba berdiri walau sempoyongan tapi segera di papah kedua cewek bayaran yang menemaninya.
Tapi sebelum benar-benar pergi cowok itu masih saja melirikku.
"Apa?" tanyaku gerah dilihat seperti itu.
"Cewek di samping lo itu. Lo masih butuh nggak?"
Aku melirik cewek yang sedari tadi menempel di tubuhku. Aku sangat yakin gadis ini pun bosan padaku, karena sedari tadi aku hanya diam saja bagaimanapun cara provokasinya. Dari menyentuh, membelai, sampai mengusap, tapi indera perasaku yang biasanya tajam, sama sekali nggak merespon sentuhannya.
"Bawa aja sekalian. gua udah nggak butuh!" putusku.
Tak hanya Devan yang terlihat senang, tapi gadis di sampingku ini pun terlihat berbinar. Dasar para sekumpulan pecinta s*x. b******k semua memang!
"Beneran nih?"
Jiah ... masih juga bertanya. Sudah jelas sekali bocah b******k ini kegirangan. Pakai pura-pura bertanya juga.
"Cepat bawa sebelum aku berubah pikiran." Aku mendorong gadis yang menemaniku pada Devan. "Tenang aja. Gua yang bayar." lanjutku biar k*****t ini nggak kebanyakan tanya lagi.
Dan seperti bocah yang mendapat mainan yang diinginkannya, Devan terus saja tersenyum kesenengan.
Devan, cowok itu, dari pertama aku kenal memang sangat suka main ke tempat seperti ini dan menghabiskan waktu luangnya melakukan segala sesuatu yang berbau tidak jauh dari alkohol dan juga wanita. Bukan hanya waktunya, uangnya juga dia habiskan kebanyakan di hal-hal seperti ini.
Pertama kali aku bertemu dengan Devan yaitu empat tahun yang lalu, ketika aku masih terpuruk karena rasa bersalah sudah meninggakan gadis yang aku nikahi. Padahal waktu itu aku bisa begitu yakin meninggalkan bocah ingusan itu di tangan Bu Adisty.
Aku sangat yakin asisten Mamaku itu akan mngurusnya dengan sangat baik. Makanya aku tidak pernah bertanya sekalipun tentang gadis itu pada Bu Adisty. Walau aku sangat penasaran tapi aku menahan diriku sendiri untuk tidak bertanya. Dan Bu Adisty sendiri tidak pernah mengatakan apapun tentang gadis itu. Dan situasi seperti itu terus berlangsung hingga empat tahun lamanya. Dan itu semakin membuatku yakin kalau gadis berwajah arang itu baik-baik saja.
Tapi entah mengapa, walaupun aku punya keyakinan seperti itu, hatiku masih tidak tenang. Mungkin aku memang tidaklah sejahat itu. Di lubuk hatiku yang terdalam masih ada sisa-sisa keinginan untuk bertanggung jawab penuh pada gadis yang sudah aku nikahi itu.
Tapi waktu itu aku masih berumur dua puluh dua tahun. Gejolak masa mudaku masih begitu membara. Keinginan bebas dan bisa mengeruk segala kesenangan masih begitu kuat.
Di saat-saat seperti itu aku benar-benar kebingungan memilih antara gadis yang sudah aku nikahi atau kebebasanku. Kedua-duanya sungguh pilihan yang sangat berat.
Dan untuk melampiaskan rasa frustasiku, aku mencoba datang ke diskotik untuk pertama kalinya. Di sanalah aku bertemu dengan Devan. Cowok itu, menghampiriku yang masih sangat kaku dengan keadaan di diskotik. Menawari minuman dengan kadar alkohol yang sangat tinggi hingga membuat tenggorokanku terasa terbakar. Aku, yang saat itu memang baru pertama kali merasakan minuman seperti itu pun terbatuk-batuk. Devan dan beberapa temannya sampai tertawa kesenengan melihat kepolosanku.
Ketika waktu itu padahal aku tidak bercerita apapun pada Devan, tapi tiba-tiba cowok itu berkata padaku ...
"Cewek itu banyak Bro! Jangan hanya terfokus pada satu wanita saja. Semua wanita pasti akan datang padamu dan bertekuk lutut padamu selama kamu punya uang. Dan ... jika kamu juga tampan, maka jalanmu akan makin mudah. kayak jalan tol. Jadi nikmati saja hidup ini!"
Dan saat itulah untuk pertama kalinya aku merasakan tubuh wanita tanpa busana yang menempel pada tubuh telanjangku. Dan untuk sejenak aku melupakan gadis berwajah arang itu.
***
Aku pulang dalam keadaan mabuk. Tapi tidak semabuk itu hingga aku tidak dapat menyetir sendiri.
Setelah Devan pergi dengan ketiga cewek itu, aku pun memanggil waiters dan membayar tagihanku dan segera pergi meninggalkan segala hiruk pikuk suasana di diskotik itu.
Aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin segera pulang dan beristirahat.
Sampai di parkiran basement apartemenku, aku segera memarkirkan mobilku dan keluar dari sana. Berjalan agak sempoyongan menuju ke arah lift.
"Ariel!" Sebuah suara yang terdengar kaget memanggilku.
Aku pun menoleh ke asal suara. Dan di detik itu juga aku mengumpat.
Shit! Kenapa harus ketemu dia sih? rutukku.
Gadis yang memanggilku itu, dengan sedikit tergesa berjalan menghampiriku.
"Kamu dari mana?" tanyanya dengan nada menginterogasi. "Dari tadi aku mengunjungimu di apartemenmu, tapi tak ada yang membuka pintu waktu aku udah memencet bel berkali-kali."
Ya iyalah Markonah, nggak akan ada yang buka pintu. Secara kan aku tinggal sendiri, jadi kalau aku nggak ada di rumah ya nggak bakalan ada yang buka pintu.
"Aku habis jalan-jalan tadi."
Gadis bawel ini langsung menutup hidungnya ketika aku baru saja membuka mulut.
"Kamu mabuk ya?"
Haish ... aku yakin habis ini pasti bakal dapat ceramah panjang kali lebar kalau aku nggak segera menghindar. "Nggak aku cuma minum sedikit kok."
"Tetep aja itu namanya mabuk Ariel. Seberapapun kamu minum tetep aja mabuk"
Dah lah terserah dia aja. Mau ngeyel kayak apapun aku, kalau sudah ama gadis satu ini, aku nyerah.
"Kamu mau, aku bilangin Mamamu kalau kamu pergi ke diskotik lagi?"
Nah kan, sekarang kalian tahu kenapa aku paling malas urusan sama gadis ini dan bilang lebih baik menyerah saja. Ini nih gara-garanya. Ancaman paling mujarab dan tidak pernah bisa di bantah. Ngadu ke Mama.
"Ya dech iya. Aku nggak akan pergi ke diskotik lagi." jawabku pada akhirnya. Menyerah juga.
"Janji ya!"
"Iya." balasku ngasal.
"Aku kayak gini nih, karena aku sayang kamu, Ariel."
"Iya, aku percaya."
Lagian siapa sih yang nggak tahu kalau gadis ini suka padaku. Seluruh Rumah Sakit pun tahu kalau gadis yang menjadi salah satu dokter di rumah sakit Mama ini, mengejar-ngejarku kayak gadis gila. Bahkan, mentang-mentang Mamanya kenal dengan Mamaku, dia menggunakan koneksi itu untuk mendekatiku. Bukan hanya aku, gadis ini pun juga mendekati Mamaku. Dengan berbagai alasan, Si bawel ini selalu mencari alasan agar bisa terus menempel padaku. Bahkan, ketika aku mulai tinggal sendiri dengan membeli apartemen, gadis ini pun mengikuti membeli apartemen tepat di sampingku.
Tidak hanya sampai di situ kegilaannya. Dia bahkan mengancam dan memberi pelajaran pada gadis-gadis yang ku goda.
Kalau yang ini kadang benar-benar bisa membuatku marah. Belum jadi apa-apa aja dia udah sehiper ini. Apalagi jika kami punya hubungan. Bisa dikurung dalam sangkar emas aku tiap hari.
Males berdebat dengan si tukang ngadu ini, akupun berbalik dan kembali berjalan ke lift.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Pulang lah."
"Bareng yuk!"
Aku hanya diam malas menanggapi. Tanpa di suruh pun gadis ini mengikutiku masuk ke dalam lift. Entah apa saja yang di ocehkan gadis ini, semuanya seperti masuk telinga kanan dan lansung keluar dari telinga kiri. Bahkan aku tidak tahu dia berbicara tentang apa. Semuanya terdengar seperti radio rusak yang yang tidak jelas suaranya. Hanya seperti angin lewat saja.
Ting.
Lift pun kembali terbuka dan kami keluar dari lift. Karena kami adalah tetangga apartemen yang sangat dekat. Kami pun berjalan beriringan menuju apartemen kami. Dan bibir gadis ini belum mau berhenti mengoceh. Ingin sekali aku menyumpal mulut gadis ini pakai kaos kaki. Telingaku rasanya sudah panas terus menerus mendengar dongengannya.
"Inez!" Peringatku ketika kami sudah sampai di dekat apartemen kami dan gadis ini tidak mau beranjak dari depan pintu apartemenku. "Cepat pulang ke apartemenmu sendiri!"
Tapi gadis ini bergeming. Tak bergeser sama sekali.
"Inez!" Aku mulai nggak sabar.
"Bukannya kamu sekarang lagi mabuk?" tanyanya dengan suara sedikit bergetar.
"Kamu nggak usah berharap yang macam-macam!" Lagi, aku memperingatinya.
"Bukannya kalau orang mabuk itu hasratnya meningkat?" tanyanya penuh harap. "Apa kamu mau aku menemanimu malam ini?"
Aku meraup wajahku frustasi. Dan ini adalah puncak dari kegilaan cewek ini. Tidak sekali dua kali saja gadis ini menawarkan tubuhnya padaku. Bahkan di setiap kesempatan dia selalu mencoba membuatku tidur dengannya.
Tapi tidak. Tidak akan kulakukan dan tidak akan pernah kulakukan. Aku sangat tahu konsekuensinya jika aku sampai tidur dengan gadis ini walau cuma sekali saja. Bagiku, lebih baik aku meniduri wanita-wanita di diskotik dari pada meniduri Inez.
Kalau wanita di diskotik, setelah semalam b******a maka keesokan paginya kami akan kembali menjadi dua orang asing yang berpisah dengan uang bayaran atas kesenangan semalam. Tapi kalau dengan Inez, bisa saja, hanya gara-gara satu malam lalu berujung pada pernikahan. Sedangkan aku sendiri dalam posisi yang tak mungkin melakukan pernikahan itu.
Tidak! Tidak! Apapun alasannya, bahkan jika itu bukan pernikahan, aku masih tidak dapat menanggung resiko harus terbelenggu selamanya pada wanita ini. Tidak. Aku tidak sanggup.
"Inez, aku mohon! Kamu tahu sendiri kan kalau aku nggak mungkin bisa melakukan itu denganmu?"
"Kenapa?" tuntutnya. "Kenapa nggak bisa?"
"Karena aku tidak menyukaimu."
"Tapi kamu bisa tidur dengan p*****r-p*****r itu walau kamu nggak menyukai mereka."
Agak kaget aku dengan bantahan Inez kali ini. Dia pasti menyuruh seseorang untuk mengawasiku dan melaporkan setiap tindakanku di luaran sana. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia tahu kalau aku tidur dengan wanita-wanita diskotik itu.
"Itu beda Inez. Mereka memang di bayar untuk pemuas nafsu pelanggannya. Sedangkan kamu adalah wanita terhormat dan seorang dokter. Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan hal memalukan seperti ini."
"Dan wanita terhormat dan seorang dokter ini, tidak malu melakukan ini, Ril. Karena aku mencintaimu, karena aku ingin memilikimu, karena aku terobsesi padamu dan karena aku mengilaimu."
Dasar sinting. sungguh baru pertama kali ini aku dihadapkan pada wanita yang bahkan nggak mencoba menjaga kehormatannya sendiri. Dan atas nama cinta menyerahkan semuanya pada seorang cowok.
Nah, kalau cowoknya bertanggung jawab sih nggak masalah. Lha kalau cowoknya b******n kayak aku gimana?
"Masih banyak cowok di luaran sana yang lebih baik dari pada aku, Nez. Aku bukanlah cowok baik-baik seperti perkiraanmu. Aku ini cowok b******n. Dan aku ini cowok brengsek."
"Ya. Aku tahu itu." selanya." Aku tahu kalau kamu memanglah cowok yang b******k dan b******n. Tapi mau gimana lagi? Walau pun aku tahu begitu, aku masih saja menyukaimu. Mencintaimu. Cintaku begitu gila padamu. Aku bahkan rela memberikan segalanya untukmu. Tapi kenapa kamu selalu menolakku? Kenapa kamu tidak mau menerimaku? Kamu hanya perlu menerima hati dan tubuhku. Dan selesai."
Aku sudah kehilangan kata-kata atas semua penyangkalannya. Dan satu yang pasti membuatku yakin. Gadis ini dengan cinta gilanya, benar-benar sudah makin edan dan tidak tertolong lagi. Gadis ini 'end'.