Doa Bu Adisty

1220 Kata
"Apa yang kamu inginkan dari putraku?" Seorang wanita dengan penampilan penuh kharisma duduk di hadapanku di sebuah restoran. Bu adisty tadi memperkenalnya sebagai Mamanya Dokter Ariel. Ah ... pertanyaan yang sama dengan pertanyaan Bu Adisty tadi. Alih-alih tersinggung, entah kenapa aku merasa kebal dengan pertanyaan seprti itu. Yah, bohong kalau aku bilang nggak kecewa. Tentu saja aku kecewa dengan pertanyyan itu. tapi aku juga bisa memaklumi kenapa Mamanya Dokter Ariel bertanya seperti itu di pertemuan pertama kami. Lagipula orang tua mana yang nggak keberatan jika anaknya tiba-tiba menikah dengan orang yang tidak dikealnya. Wajar jika Mamanya Dokter Ariel bertanya seperti itu. tapi entah kenapa, walau aku tahu, aku masih tetap merasa nggak nyaman. "Saya tidak tahu, Nyonya." jujurku. Ya. Aku memang nggak tahu apa yang aku inginkan dari Dokter Ariel. Aku hanya menjalani apa yang sudah jadi takdirku saja. Walau sakit, tapi ini memanglah sudah jalanku. Jadi aku hanya akan menjalaninya saja. "Apa kamu mau uang?" Mama Dokter Ariel kembali bertanya. "Kalau iya katakan saja. Kamu ignin berapa?" Uang? Apa mamnya Dokter Ariel ingin mengetesku? Hah ... padahal tadi aku sudah sangat berharap, jika suamiku meninggalkanku, paling nggak, Tuhan akan berbaik hati memberikan Mama mertua yang baik hati. Tapi ternyata itu pun belum terwujud. "Maaf, Nyonya. Alih-alih uang, apakah saya boleh meminta sesuatu yang lain?" Mamanya Dokter Ariel melebarkan matanya sejenak. Mungkin kaget atas keberanianku. "Memangnya kamu mau apa? Rumah? Saham? Apartemen? Mobil? Tan-?" "Kuliah." "Eh ... apa?" Lagi Mamanya Dokter Ariel melebarkan matanya terkejut. "Kuliah, Nyonya. Bolehkah saya minta dikuliahkan dengan jurusan perawat?" Belum ada tanggapan dari dari Mamanya Dokter Ariel. Wanita itu masih menatapku dengan matanya yang besar. "Kenapa kamu ingin sekolah jurusan perawat?'' Entahlah, Aku tidak berpikir sampai ke sana kenapa aku ingin kuliah jurusan perawat. Setahuku Dokter Ariel adalah seorang Dokter, paling nggak aku harusnya jadi perawat agar bisa membantu Dokter Ariel nanti. Aku nggak terlalu memperhatikan alasan khususku. Hanya ada itu dipikiranku ketika aku meminta kuliah pada Mamanya Dokter Ariel. Tapi tentu saja tak aku katakan alasanku sebenarnya. Aku nggak mau dicap modus, ngedeketin Dokter Ariel dengan menjadi perawat. Aku hanya ingin jadi perawat saja. hanya itu. "Apa kali ini pun kamu nggak tahu apa alasanmu ingin jadi perawat?" "Saya hanya ingin menyiapkan hari tua saya." jawabku serampangan. Bodo amat nanti aku makin di cap matre. "Maksudmu?" "Jika nanti Dokter Ariel sudah tidak menginginkan saya lagi, paling nggak saya sudah mempunyai pekerjaan tetap untuk mengurusi anak-anak saya nanti." "Anak-anak?" entah kenapa, aku merasakan Mamanya Dokter Ariel begitu berbinar-binar ketika mengatakan 'anak-anak'. "Kamu mau anak berapa?" Eh ... apa? Kok jadi begini? "Maaf, Nyonya. Maksud saya itu ..." "Mau laki-laki atau perempuan?" Sekarang wajah Mamanya Dokter Ariel terlihat begitu ringan dan bersahabat ketika berbicara tentang anak-anak. Bahkan wajah seramnya tadi langsung ilang entah ke mana. "Mau empat atau enam?" Ha? Apa? *** Dari tadi Bu Adisty selalu mengulum senyum. Sejak aku dan Mamanya Dokter Ariel berpisah tadi, Bu Adisty nggak bisa menahan senyumnya. Aku tahu kenapa sekretaris yang sudag berumur tapi masih cantik ini terus menerus tersenyum. Tentu saja pasti karena pebincangan tentang anak tadi. "Sampai kapan Bu Adisty mau tersenyum seperti itu?" tanyaku merasa dipermainkan dua ibu-ibu ini. "Baru kali ini aku melihat Nyonya tersenyum dengan mata berbinar-binar seperti itu." Kata Bu Adisty. "Bahkan dulu, ketika rumah sakit berdiri dengan resmi dan mendapatkan penghargaan dari pemerintah, beliau tidak pernah sesenang itu. Baru kali ini beliau merasa senang hingga senyumnya terasa begitu hidup." Aku menatap Bu Adisty yang mengemudikan mobil sendiri dari kursi penumpang di belakangnya. "Kenapa bisa seperti itu, Bu. Bukannya kalau kaya itu pasti bahagia." Bu Adisty melirikku dari kaca spion mobil. "Kata siapa?" "Aku dengar banyak yang bilang kayak gitu. Orang kayak pasti bahagia dan orang miskin susah." Bu Adisty kembali mengulum senyum. "Bahagianya seseorang itu tergantung di hatinya. Ada uang atau nggak, juga nggak menjamin seseorang bahagia. Karena ukuran bahgia setiap orang itu berbeda." Aku menatap Bu Adisty semakin serius. Tak begitu mengerti maksud dari penjelasannya. Apa karena aku baru sembilan belas tahun makanya belum mengerti tentang arti hidup sama sekali. Sepertinya Bu Adisty menyadari pandanganku padanya. Beliau pun melanjutkan perkataannya tadi dengan pertanyaan. "Coba lihat ke dalam hatimu sendiri, apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?" Aku sedikit kaget dengan pertanyaan Bu Adisty. "Aku tahu, hanya dalam sekali lihat, Tuan Muda Ariel bersikap buruk padamu. Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu yang seperti itu?" Aku terdiam sangat lama. Sangat sangat lamaaaa. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Bu Adisty yang ini. Pernikahanku ... apa aku bahagia? Aku memang menyukai Dokter Ariel. Aku memang mencinai Dokter Ariel. Tapi aku juga terluka. sangat terluka dengan sikapnya yang meninggalkanku seperti ini. Aku merasa ... hanya seperti barang yang nggak dianggap. Setelah berhasil memiliki maka sang pemilik sudah tak peduli lagi. Seperti itu rasanya. Jadi ... apa aku bahagia? Aku masih belum tahu. "Jangan terlalu dipikirkan!" Suara Bu Adisty menyadarkanku. "Aku dan Nyonya sudah mengerti posisimu, jadi kami juga nggak akan memaksamu melakukan apa yang Nyonya inginkan. Sementara ini Nyonya akan diam saja, sampai Tuan Muda Ariel mencarimu sendiri, seperti permintaanmu tadi. Nyonya juga nggak akan mengusikmu jika kamu ingin fokus kuliah dulu." Aku masih terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Memang, setelah perbincangan yang menegangkan tadi, sampai ke 'anak-anak' dan perbincangan berubah menjadi ringan, Mamanya Dokter Ariel menawarkan dirinya untuk memaksa putranya bertanggung jawab atasku. Tapi aku menolaknya. Aku percaya dan masih yakin kalau Dokter Ariel pasti ingat padaku dan segera mencariku. Aku yakin jika aku menunggunya dengan setia, Dokter Ariel pasti akan membawaku pulang dengan tangannya sendiri. Membangun rumah tangga yang bahagia bersama. Aku percaya itu. Walau entah kapan, aku akan bertahan dengan kekuatanku untuk menantinya. "Lalu kamu jadi tinggal di panti? Bukan di apartemen?" Aku tahu Bu Adisty hanya mencoba mengalihkan pikiranku agar lupa dengan pembahasan kami tadi. Mungkin dia merasa nggak enak karena sudah emngusik hatiku yang masih gundah sejak perpisahanku dengan Dokter Ariel. "Iya. Jadi, Bu. Aku tinggal di panti saja." "Bukannya lebih enak di apartemen. Memang sih, bukan apartemen yang sangat bagus seperti apartemennya Tuan Muda Ariel. Nyonya memang membuat apartemen yang bisa dijangkau oleh kalangan menengah, jadi konsep apartemennya cuma biasa saja." Aku tersenyum. "Bukan seperti itu, Bu. Aku hanya nggak mau sendirian saja." jawabku. "Menanti adalah hal yang tidak mudah. Apalagi menanti tanpa ada kepastian. Aku tahu itu berat. Dan aku nggak yakin aku bisa melewati itu jika aku sendirian. Makanya aku ingin tinggal di panti saja. Selain karena aku memanglah seorang yatim piatu, di sana nanti pasti banyak anak-anak yang membutuhkan teman, sama sepertiku yang membutuhkan teman juga. Agar kami bisa saling menguatkan, terutam aku." Ya. itulah alasanku sebenarnya ingin tinggal di panti. Aku nggak bisa membayangkan hidupku jika harus tinggal di apartemen sendirian dan menanti Dokter Ariel untuk menjemputku entah kapan. Aku ... belum sanggup. "Aku nggak tahu harus bilang apa, tapi sebagai seseorang yang sudah ikut membesarkan Tuan MUda Ariel sejak dia masih kecil, aku minta maaf atas keburukan anak asuhku itu." Aku kaget dengan permintaan maaf Bu Adisty. "Kenapa ibu minta maaf, ini kan bukan salah ibu." "Tetap saja, aku merasa bersalah atas perbuatannya tapi aku juga nggak bisa apa-apa." "Nggak papa, Bu. Itu memanglah jalan taksirku. jadi aku akan melewatinya dengan sabar dan ikhlas." Bu Adisty melirikku lagi dari kaca spion mobil dalam. "Semoga kamu bahagia, Nona." ucap Bu Adisty tiba-tiba penuh haru. "Semoga apa pun yang menantimu ke depannya hanyalah kebahagiaan. Doaku sangat tulus untukmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN