Diamku bukan berarti aku tak tahu.
Diamku sejatinya memberimu waktu.
Waktu untukmu menoleh dan berdekatan denganku.
***
Jam dinding berbentuk bulat dengan gambar mi instan di bagian tengah itu baru menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Tetapi, beberapa karyawan mulai ada yang berkemas. Ada yang memasukkan botol minum. Ada yang mengeluarkan jaket dan mulai memakainya. Ada yang menyisir tambut yang sebelumnya menjadi korban kefrustrasiannya.
Grace termasuk golongan terakhir. Dia menyisir rambut tebalnya sambil menatap komputer. Seharian dia cukup frustrasi menangani laporan prodak mi instan yang baru diluncurkan. Hasilnya cukup memuaskan, tetapi masih perlu banyak evaluasi sana sini.
Kringg.... Suara telepon tiba-tiba memecah keheningan yang tercipta.
Hampir semua karyawan kompak menoleh dengan wajah harap-harap cemas. Pasalnya, mendapat telepon saat menjelang jam pulang kantor adalah hal yang paling dihindari. Mereka bisa menebak jika ujung-ujungnya diminta lembur.
"Grace, diminta ke ruangan Pak Bos."
"Ha?" Grace menatap rekan kerjanya yang barusan mengangkat telepon. Dia menggedarkan pandang, mendapati temannya yang tersenyum lega. "Lagi?" Pasalnya ini ketiga kalinya dia dipanggil.
"Buruan!" seru salah seorang.
Grace menghela napas panjang lantas beranjak. "Semoga bukan perintah lembur, ya!"
"Jangan ngomong gitu!" Semua karyawan serempak mengingatkan.
"Hahaha...." Ada hiburan tersendiri saat mengerjai rekan-rekannya. Yah, siapa yang mau lembur coba? Grace juga tidak mau.
"Tapi, ngapain dia nyari gue lagi?" gumam Grace harap-harap cemas. Dia mengusap d**a yang tiba-tiba terasa sesak. Khawatir Ale akan memarahinya kembali.
Begitu sampai di ruangan teratas, Grace disambut oleh sekretaris Ale. Wanita itu telah membuka pintu dan mempersilakan masuk. Tindakan itu justru membuat Grace kian takut. Ibarat ayam, ayam itu dipeluk erat sebelum akhirnya dipotong.
"Huh. Enggak!" Grace mencoba berpikir jernih. Dia melangkah mantap masuk ke ruangan bosnya, tetapi tidak mendapati seseorang yang tadi duduk di kursi hitam itu. Sontak Grace menoleh ke meja sekretaris bosnya, tetapi wanita itu dengan cepat menghilang.
"Permisi!" teriak Grace sambil mengedarkan pandang.
Tidak ada tanggapan.
Grace melangkah masuk sambil melongok. Perhatiannya tertuju ke sebuah pintu di ujung yang sedikit terbuka. Ah, bahkan dia baru menyadari di sana ada pintu. Tadi pagi, sangking takutnya sampai-sampai tidak menyadari keadaan sekitar.
"Permisi, Pak Ale," ujar Grace lebih kencang. Dia berdiri di tengah ruangan sambil memperhatikan interior ruang kerja Ale.
Ruangan itu didominasi warna putih dan biru. Di bagian tembok sebelah kanan terdapat foto-foto pejabat perusahaan dari masa ke masa. Hingga sampai ke pejabat terakhir, yakni Ale yang berada di bagian paling bawah.
Grace menatap sisi tembok kiri, melihat sebuah peta dengan logo mangkuk yang dipasang. Jelas itu peta sebaran mi instan yang dijual perusahaannya. Lantas, perhatian Grace tertuju ke beberapa figura berisi rekor muri di samping peta besar itu.
"Emang keren, sih," gumam Grace.
"Kamu baru tahu perusahaan sekeren itu?"
Tubuh Grace berjingkat mendengar suara berat itu. Dia menoleh ke sumber suara, mendapati bosnya mengenakan kemeja lengan pendek dengan rambut klimis. Wajah bosnya terlihat segar dan sorot matanya tampak berbinar.
Grace tanpa sadar tersenyum. Ale memang tampan. Semua karyawan wanita di kantor mengagumi ketampanan Ale. Lelaki itu tinggi dengan bahu lebar. Pembawaan Ale yang cool menjadi daya tarik tersendiri.
"Melamun lagi?" tanya Ale setelah berdiri di depan Grace.
"Tidak, Pak." Grace buru-buru menunduk dan menggeleng.
Ale menahan tawa. "Mengagumi saya?"
"Tidak!"
"Tumben banget langsung jawab?" Ale memperhatikan Grace yang mulai menatap dengan pipi memerah. "Sudah biasa saya ditatap karyawan seperti itu."
Grace menggerakkan tangan ke depan, tidak ingin Ale terus salah paham. "Saya sudah punya tunangan, Pak." Kemudian dia menurunkan tangannya dengan gugup.
"Setelah punya tunangan apa nggak boleh lirik lelaki lain?"
"Jelas nggak boleh," jawab Grace mantap.
Ale manggut-manggut. "Sekalipun lelaki itu lebih tampan dari tunanganmu?" tanyanya sambil memajukan tubuh. "Yakin?"
Grace refleks bergerak mundur. "Ada apa Bapak manggil saya lagi?"
Tidak ada respons dari lelaki di depan Grace. Dia memperhatikan wanita di depannya yang menghindari pertanyaan. Sekaligus, dia penasaran apakah tindakan Grace sesuai dengan ucapannya barusan?
"Jika tidak ada saya permisi." Grace seketika bergeser dan berbalik. Tetapi, ada tangan hangat yang mencekal pergelangan tangannya.
"Beri saya laporan."
"Ha?"
Ale menarik hingga wanita itu kembali berbalik. Dia melepas pegangannya kemudian berjalan menuju meja. "Sudah baca laporan tadi? Saya butuh pendapatmu. Sekarang."
"Harusnya, kan, kepala divisi yang...."
"... saya butuh pendapat lain."
Grace menghela napas panjang. "Baik, Pak." Dia mendekat dan menarik kursi di hadapan Ale.
"Sebelum itu pesankan saya makan malam."
"Pak, yang benar saja?"
"Saya belum makan seharian."
Grace melotot. "Saya tadi udah siapin sarapan sama makan siang! Terus, pada ke mana?"
Ale menahan tawa melihat Grace yang mengomel. "Ada klien datang, jadi saya harus tangani."
"Kalau waktunya makan, ya makan!"
"Kok kamu ngomel?"
"Huh...." Grace duduk bersandar sambil menggaruk tengkuk. Dia tidak sadar telah mengomeli Ale. Entahlah, dia merasa tindakannya tadi percuma. Dia sudah repot-repot mencari makan, tetapi berujung dibuang.
Ale tersenyum kecil melihat Grace yang berusaha mengontrol emosi. "Kamu mau bikin saya pingsan?"
"Ya udah," jawab Grace setengah terpaksa. "Saya pesan online saja, ya. Bapak maunya apa?"
"Kamu!"
"Yang bener!" Grace tanpa sadar melotot.
Ale geleng-geleng. Dia tidak percaya wanita yang tadi pagi menatapnya takut-takut sekarang memelototinya tanpa takut. Baginya itu menarik. Bisa jadi, tindakan barusan adalah sifat asli Grace.
***
Grace berjalan cepat menuju sebuah apartemen kelas menengah yang hampir setiap hari didatangi. Dia janji akan malam bersama, tapi terlambat tiga puluh menit. Grace kesal saat ingat siapa yang membuatnya terlambat. Siapa? Tentu saja si bos besarnya itu.
"Hisssh!" Tangan kanan Grace menepuk dadanya yang naik turun. Napasnya tak teratur karena jalannya yang terburu-buru. Dia menarik napas dari hidung dan mengembuskan dari mulut. Setelah beberapa kali melakukan itu, Grace menekan angka kombinasi.
Klik....
Pintu yang tertutup itu perlahan terbuka, Grace mendorong dengan satu tangan lalu masuk apartemen. Di dekat pintu dia melepas heels yang terasa menyiksa. Saat itulah dia merasakan ada sedikit keanehan.
"Sepatu cewek?" Grace melihat flatshoes berwarna putih yang terletak di sebelah sepatu hitam yang jarang dipakai pemiliknya. Grace segera masuk, ingin mencari tahu siapa tamu wanita yang ada di apartemen tunangannya.
"Kamu harus ngomong nanti. Aku nggak mau tahu!"
"Apa ini nggak terlalu cepet?"
"Nggak ada yang terlalu cepet, Ernes!"
Grace mendengar suara Ernes dengan seorang wanita. Tidak mau menebak-nebak siapa dan apa yang dibicarakan, Grace segera berlari ke sumber suara. Sesampainya di dapur, Grace mendapati Ernes dan Erma berdiri berhadapan.
"Er..nes.. Er..ma..," panggil Grace terbata.
Dua orang yang tampak bersiteru itu seketika menoleh. Bola mata mereka membulat mendapati Grace tiba-tiba muncul. Ernes yang sadar lebih dulu segera mendekat. "Kamu sudah lama?"
Grace menatap wajah Ernes yang tampak kaget. Dia lalu menatap wanita yang sekarang berdiri di sebelah Ernes.
"Hai, Grace. Ernes udah dari tadi nungguin," ucap Erma dengan senyum tipis lalu mengalihkan pandang. Tatapannya berubah saat menatap Ernes, seperti mengancam. "Ya udah, gue pergi dulu, ya. Jangan lupa janji lo."
Janji? batin Grace heran.
Grace mendapati Ernes melotot ke Erma. Pandangannya lalu tertuju ke Erma yang tampak biasa saja. "Janji apa?" tanyanya setelah Erma keluar dapur.
Ernes menggaruk tengkuk. Dia menarik tangan Grace dan membimbing duduk di kursi makan. Setelah itu Ernes duduk di sebelah Grace. "Kamu sudah lama?"
Grace memutar tubuh hingga sepenuhnya menghadap Ernes. Dia melihat ada sedikit kebingungan dari mata Ernes. Tangan Grace perlahan terangkat ke pipi lelaki di depannya dan mengusapnya pelan. "Baru sampai. Ada apa sebenernya? Aku barusan denger kalian debat."
"Eh, masa?" tanya Ernes dengan nada meninggi.
Satu alis Grace terangkat, bingung dengan reaksi Ernes yang berlebihan. "Ada apa sebenarnya?"
Ernes membenarkan posisinya hingga berhadapan dengan Grace. Dia memegang kedua tangan Grace dan menggenggamnya erat. "Nggak ada apa-apa. Bisa kita jangan bahas yang lain dan bahas tentang kita aja?"
Hati Grace bergemuruh melihat Ernes menatapnya lembut. Dia tersenyum malu-malu kemudian mengangguk. "Oke!"
"Oh ya, sebenarnya ada hal penting yang harus aku sampaiin," ucap Ernes setelah dirasa suasana kembali mencair.
Grace menatap Ernes penuh tanya. Raut wajah tunangannya hari ini gampang sekali berubah. Tadi kaget, lalu bingung dan sekarang tampak serius. Kayak bunglon aja.
"Serius banget sih," ucap Grace lalu terkekeh untuk mencarikan suasana yang entah kenapa mendadak tegang lagi.
Ernes menatap Grace intens. Dia terlihat bingung mengungkapkan rencananya. Lelaki berambut tipis itu menarik napas panjang lalu mengembuskan dengan perlahan. "Ini tentang pernikahan kita."
Tubuh Grace mendadak kaku, tidak percaya Ernes akan membahas pernikahan. Sejak bertunangan, Ernes sama sekali tidak membahas hal itu. Bahkan tunangannya itu terkesan menjauh dari topik pernikahan. "Per..per.. nikahhhh... an?"
"Iya pernikahan." Ernes memajukan tubuh semakin dekat. Dia melihat raut Grace yang terlihat kaget dengan ucapannya.
"Ke..kenapa dengan per..ni..kahan kita?"
"Aku mau kita nikah akhir bulan ini."
Jantung Grace berdegup lebih cepat. Udara mendadak terasa panas, tetapi ada hawa dingin yang datang tiba-tiba menyejukkan. Grace tidak bisa menggambarkan dengan pasti perasaannya sekarang seperti apa.
"Gimana menurutmu, Grace?"