BAB 8. Menemani Maduku Ke RS

1307 Kata
BAB 8. Menemani Maduku ke RS Aku memoles bibir mungilku dengan lipstik merah muda. Sementara pada wajah ini hanya kububuhi krim siang tipis tipis. Kemeja longgar lengan panjang kupadu dengan celana jeans warna hitam. Tak lupa sebuah kaca mata hitam kusampirkan di atas kerudung. Aku mematut diri dengan seksama. Meski simple dan sederhana, tetapi aku ingin terlihat segar dan cantik hari ini. Sudah beberapa minggu ini, aku cukup tertekan. Realita hidup yang baru kujalani membuatku cukup shock. Bagaimana tidak, tiba tiba aku dipaksa harus berada dalam pernikahan poligami, sesuatu yang sangat aku hindari dan bahkan aku haramkan terjadi dalam hidupku. Meski pernikahan Adelia dan Mas Adit hanyalah formalitas belaka. Tetapi tetap saja aku adalah seorang istri yang telah dimadu. Hati kecilku ingin sekali menolak realita itu, tetapi aku terlalu mencintai seorang bernama Aditya Hermawan. Selain itu, aku juga tak melihat adanya alasan yang akan membuat suamiku berpaling. Aku membiarkan semua berjalan sesuai dengan rencana Mama mertua dan besannya. Aku berusaha menutup mata dan telinga. Sepanjang ini, semua baik baik saja. Mas Aditya tidak sedikitpun hirau akan kehadiran Adelia dalam hidup kami. Di titik ini, betapa besar rasa syukur yang aku panjatkan karena memiliki suami seteguh Mas Aditya. Semoga selamanya tak akan berubah .... Aku meraih sepatu highheels yang entah sudah berapa bulan tidak kukenakan, meraih kunci mobil dari gantungan. Aku seolah begitu bersemangat hari ini. Mungkin akibat lava kemarahanku yang anti klimaks, bukan? "Mbak Sa cantik sekali." Aku dikejutkan oleh sapaan dari Adelia yang tiba tiba sudah ada di bawah tangga. Gadis itu mengenakan dress di bawah lutut berbahan satin lembut yang jatuh. Perutnya yang mulai terlihat menyembul ke permukaan justru terkesan menambah kecantikan perempuan mungil itu. Wajah itu terlihat jauh lebih muda dariku. Mungkin perbedaan usia kami hampir mencapai sepuluh tahun. Satu yang membuatku tenang, tidak ada sisi dari Adelia yang terlihat mengancam hubungaanku dengan Mas Aditya. Ia, terlihat seperti seekor kelinci yang jinak dan manis. Semoga, selamanya demikian. Sampai pernikahan di atas perjanjian itu berakhir dengan semestinya. "Kamu sudah siap?" tanyaku tanpa merespon pujian itu. Berjalan menuruni anak tangga. "Eh tunggu! Mama nggak perlu ikut, Adel? Kamu nggak papa cuma pergi dengan Sabina?"tanya Mama dengan tubuh tergopoh gopoh. Rasa khawatir jelas terpatri di wajah itu. Ia pasti menghkawatirkan Adelia yang hanya pergi bersamaku. Ya Tuhan, sabarkan hati ini menghadapi orang tua model mamanya Mas Adit ini. Seakan akan aku bakal membuat Delia celaka saja. Entah darimana pikiran itu timbul, menyakiti semut saja aku tidak lah tega, apalagi berpikir untuk menyakiti orang lain. Jika aku tak sanggup, maka aku bisa mengibarkan bendera putih saja pada Mas Aditya. Bukan dengan jadi pengecut dan mencelakai rivalku. Itu pecundang, bukan? Lagian aku hidup dan besar di panti asuhan yang kental dengan norma norma agama, rasanya didikan Bunda Syahidah sudah begitu melekat di diri ini. Aku tidak akan membuat dosa dengan menyakiti orang yang tidak bersalah. "Mama mau ikut? Boleh banget kok, Ma. Sementara Adel nanti diperiksa dokter, kita bisa shoping atau makan bareng di luar kan? Kan mama jarang banget ngedate berdua dengan Sabina," ujarku memasang wajah serius, padahal dalam hati aku tertawa terpingkal pingkal. Aku sudah bisa menduga reaksi mama dengan ajakan sarkas dariku tadi. Beliau pasti sangat tidak ingin pergi berduaan saja denganku. "Eh anu ... mama lebih baik jaga rumah aja kalau gitu. Kasihan nanti Adit pulang tidak ada yang di rumah," elak mama dengan bola mata berputar putar. Aku tahu ia kebingungan karena mengatasi kalimatku barusan. Yang tetap di kepalanya adalah, aku menantu yang tidak pantas berdekatan dengannya. Aku mengedikkan bahu, kemudian melenggang ringan meninggalkan ibu mertua setelah terlebih dulu berpamitan. Kami menuju sebuah rumah sakit swasta dengan layanan terbaik yang ada di kota ini. Di rumah, Adelia tadi sempat mengisi form pendaftaran online. Berkat panduan itu aku yakin kami tidak perlu mengantri terlalu lama. "Mbak .... " Terdengar suara lirih Adelia, teramat lirih. Aku sempat juga ikut terharu mendengarnya. Perempuan di sampingku ini memang betul betul sangat ideal untuk laki laki masa kini. "Ya" Aku menatap sekilas. Adelia tampak menerawang. Membuang pandangannya keluar dari kaca mobil. "Mbak--pasti bahagia sekali, ya. Tiap hari bisa bersama Mas Adit," tanyanya dengan sura masih bernada rendah. Sekali lagi aku menatap, dan belum menilai apa sesungguhnya yang sedang bermain di kepala itu. "Aku tidak tahu, Del. Yang jelas aku berusaha ngasih yang terbaik. Untuk Mas Adit maupun Mama," sahutku dengan suara bergetar dan Sendu. Tentu saja jauh di dalam palung hati ini, aku telah mengabdikan seluruh hidupku bersama Mas Adit. "Tapi aku iri, Mbak. Mas Adit kelihatan cinta banget dengan Mbak Sa. Semua fokusnya kepada Mbak. Hhhh kapan ya aku bisa dapet laki laki sebaik itu." Matanya menerawang lagi. "Pasti ada lelaki seperti yang kamu harapkan, Del. Sekarang yang harus kamu ingat, ada penerus keluarga Hermawan di dalam rahimmu," ujarku tegas. Delia mengangguk dengan khidmad. Ia kemudian turun dari mobil setelah aku memarkirkan di halaman rumah sakit Mitra Setia. Dengan beriringan kami masuk ke area yang cukup sering dikunjungi. Ya, beberapa tahun ke belakang, aku sering mendatangi RS ini, tetapi bukan ke poli Kandungan. "Mbak, aku masuk dulu, ya." Delia berucap dengan gestur sedikit ragu. wajar ia berkata sedemikian. Ini adalah pengalaman pertama ia berada di poli yang dulu sering juga kuhindari. Berjalan dan melewati poli kandungan, lalu melihat deretan perempuan dengan perut membulat, adalah tamparan untukku. Cukup lama aku menunggu Delia selesai dengan pemeriksaannya di dalam. Mengingat hal ini, aku jadi ingin tertawa panjang. Siapa sangka, aku yang terkenal paling anti pati dengan kehidupan rumah tangga Poligami. Justru kini tengah menjalaninya dengan sadar. Demikianlah memang gambaran dari Allah. Sepanjang Dia mengizinkan maka itu akan terjadi. Sekuat apapun logika kita ingin menolaknya. Aku tengah fokus pada layar ponsel di hadapan kala kudengar sebuah sapaan dari arah kiri. "Ibu Sabina Kaytara?" Aku menoleh dengan cepat saat nama lengkapku ia sebutkan. Ternyata adalah seseorang yang pernah amat sering aku temui di rumah sakit ini. Sosok lelaki berusia beberapa tahun di bawahku dan berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam. "Dokter Sean? Apa kabar, Dok?" tegurku dengan sedikit membungkukkan kepala. Senyum sedikit lebar menghiasi wajah tampan berhidung mancung tersebut. "Alhamdulilah baik, Bu. Sedang apa di sini?" Ia bertanya sambil memindai tampilanku dari atas sampai ke bawah. Lebih dari 3 tahun menjadi pasien, kami sedikiedikit banyak pernah saking berinteraksi secara intens d di ruang periksa RS. Aku bahkan menaruh atensi dalam hal ini. "Bukan berobat untuk diri saya, Dok. Tetapi ---" " Mba Sa, saya udah rampung nih." Delia muncul dari ruang pemeriksaan. Wajahnya terlihat lebih semringah dari pada saat berangkat tadi. Pasti hasil pemeriksaan janin di dalam perutnya membuahkan hasil yang baik. "Oh ada yang baru dari poli kandungan. Pasti sedang berbahagia," kicau dokter Sean sambil menoleh ke arah Adelia yang makin mendekat pada kamu. "Ibu hamil yang terlihat fresh. Ngomong ngomong ini siapanya Bu Sabina?" Dokter Sean bertanya sekilas. "Ini--" Aku kebingungan untuk menjawab. Tidak mungkin kalau kukatakan pada lelaki di depanku bahwa Delia juga istri Mas Aditya bukan? Ah sungguh sandiwara yang cukup melelahkan hati ini. $$$ "Mbak, aku boleh ttanya sesuatu, gak?" Adelia membuka percakapan di dalam perjalanan pulang. "Heem tanya aja," jawabku singkat. "Mbak udah lama kenal dokter tampan itu?" Delia terlihat sangat ingin tahu. "Lumayan, taoi ya emang karena aku jadi pasien dia cukup lama juga. Sskit lambung," terangku. "Hebat, ya. Dokter bisa hafal gitu sama pasiennya. pasti pasien istimewa. Jangan jangan dia naksir Mbak Sa," cetusnya tiba tiba. Sukses membuatku tertawa geli. "Ngawuuuur. Mana mungkin lah, Del. Dia itu udah ada tunangan kabarnya. Bisik bisik sih anaknya direktur RS itu. Wajarlah, klop." "Hmmm iya juga, klop lah. Pasti tunangannya cantik ya, Mbak." "Pastilah. Cantik, modis dan kaya tentu," timpalku. "Tapi ...." "Apalagi?" "Kayaknya enak jadi mbak Sa, gampang narik perhatian lawan jenis. Meski umur mbak Sa udah lewat 30 ya, Mbak?" "Biasa aja, Adel. Apa enaknya, jatahnya juga cuma satu. Gak mungkin suaminya jadi doble kan?" Aku tertawa geli. "Hehehe iya juga ya, Mbak." Adelia ikut tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN