BAB 2 RESAH

1967 Kata
BAB 2 RESAH Aku turun ke dapur lebih cepat, karena memang setelah pembicaraan itu sama sekali tak bisa tidur. Selesai shalat Subuh, kuputuskan untuk membuat sarapan, mengambil alih tugas Mbak Karmi yang pintu kamarnya belum terbuka. Aku maklum, ART yang tak lagi muda itu bahkan lebih lelah dari kami. Dalam beberapa hari ini, perempuan itu baru bisa beristirahat setelah lewat tengah malam. Kubuka kulkas, melihat bahan-bahan apa saja yang tersedia. Ternyata masih ada ayam beberapa potong. Kurendam terlebih dulu ayam tersebut dengan air hangat agar mudah untuk kuolah. Setelahnya kusiapkan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe, ketumbar, sedikit kunyit dan lengkuas. Kuhaluskan semua bumbu itu untuk merebus ayam. Rencana pagi ini aku akan membuat menu kesukaan Mas Aditya, soto ayam. Setelah kurasa daging ayam tersebut empuk, kuangkat dan goreng hingga kekuningan. "Hmmm bau apa ini? Enak banget," komentar Mas Adit sembari menarik satu kursi makan. Sementara aku masih menyiapkan beberapa mangkuk berisi bihun, suwiran ayam, bawang goreng dan daun seledri yang nantinya akan kusiram dengan kuah santan panas berbumbu tadi. "Aku masak soto kesukaan kamu, Mas." Aku menyodorkan mangkuk yang masih mengepulkan aroma harum racikan bumbu-bumbu. "Makasih, Sayang. Aku bisa kekenyangan nih nanti," pujinya sembari tersenyum manis. Hatiku tetap meleleh meski senyum itu sudah kunikmati hampir 6 tahun lamanya. Pagi ini ia bersikap hangat seperti Mas Aditku biasanya. Duka yang beberapa hari menyelimuti rumah ini perlahan pergi sedikit demi sedikit dan Mas Adit bersikap seolah tak pernah ada pembicaraan yang membuatku galau semalaman. Aku akhirnya berharap bahwa ternyata masalah itu akan selesai begitu saja tanpa perlu pengorbanan menyakitkan yang harus suamiku lakukan. "Ambilin dong, Mbak. Aku harus buru-buru ke kampus nih. Ada kelas pagi." Liana, anak bungsu keluarga ini duduk dengan sikap tergesa. Gestur tubuhnya juga mengisyaratkan bahwa ia sudah kembali ke aktivitas semula tanpa terbebani duka kemarin. Dengan telaten aku mengambilkan apa-apa yang diminta gadis manja itu. Sebagai menantu dan kakak ipar di keluarga ini, aku memang harus bersikap penuh pengertian. Semua kulakukan dengan tulus, berharap cinta Mas Aditya selalu tumbuh subur untukku meski sampai saat ini aku belum juga bisa menghadirkan seorang cucu di rumah ini. "Kamu sudah bicara soal Adelia, Dit?" Mama yang baru saja bergabung tiba-tiba bertanya satu hal yang membuatku tercenung. Setelah pagi ini dibuka dengan manis, Mama datang dan membuatku kembali harus merasa galau. "Bagaimana kalau kita tunda dulu ngomonginnya, Ma. Setidaknya sampai tidak ada tamu yang datang untuk mengucap duka cita. Lagian aku butuh waktu yang tenang untuk bicara soal ini pada Sabina." Mas Adit menatapku canggung seolah merasa tak enak hati. "Tapi sampai kapan? Perut Adelia sudah mulai terlihat menonjol, kasihan dia," sahut Mama menanggapi perkataan Mas Aditya. Aku hanya bisa terdiam tanpa kata, berusaha tak bereaksi berlebihan. Adelia bukanlah orang asing di rumah ini, ia bahkan jauh lebih dekat dan diterima di rumah ini. Bukan hanya karena ia jadi calon istri untuk almarhum Nanda, tetapi juga latar belakang pertemanan dua keluarga mereka. Adelia merupakan putri dari Surya Prakasa, pengusaha yang dianggap sebagai dewa penolong di keluarga ini. Papa Mas Adit adalah sahabat sekaligus orang kepercayaan keluarga Surya Prakasa. Tak heran jika orang tua gadis itu seolah pahlawan bagi keluarga ini. Tentunya jauh berbeda denganku, yang tidak jelas asal-usulnya. Aku hanyalah gadis yatim piatu yang beruntung dinikahi dan dicintai begitu besar oleh Mas Aditya. "Ini hanya formalitas belaka, Dit. Adelia harus dijaga nama baiknya. Toh bayi yang dikandungnya adalah darah daging Nanda, yang artinya cucu kandung Mama sendiri. Tentu saja kamu tidak perlu keberatan, bukan?" Mama menoleh ke arahku. Seperti biasa, dengan narasi kalimat yang berupa pernyataan daripada pertanyaan. Yang lebih mirip perintah daripada permohonan. Jangankan untuk hal sepele lain, untuk hal besar begini saja Mama seolah yakin aku tidak akan keberatan atau lebih tepatnya tak pantas untuk merasa keberatan. "Ma, jangan bicarakan ini sekarang. Adit mau ke kantor dulu. Nanti biar aku yang bicara," sergah Mas Adit dengan nada sedikit tinggi. "Mas, pelankan suaramu." Aku menyentuh bahu Mas Adit pelan dan menenangkan lelaki itu dengan tatapanku. "Kamu membentak mama hanya karena takut Sabina keberatan?" Mama mulai tersulut emosinya. Dadanya turun naik. Aku buru-buru mendekati perempuan berusia lebih dari setengah abad itu dengan khawatir. Mama punya penyakit jantung akut, emosinya harus dijaga agar selalu stabil. "Maafkan Mas Adit, Ma. Bukannya bermaksud membentak, tapi pasti karena terburu-buru harus segera sampai di kantor. Maklum sudah beberapa hari Mas Adit tidak masuk, kan. Oh ya, Mama mau aku ambilkan jus mangga lagi?" Aku berusaha mengalihkan perhatian Mama dari topik yang membuatnya marah tadi. Tampaknya berhasil, perlahan napasnya tampak teratur. Ia bahkan menghabiskan tuntas jus mangga yang barusan kusodorkan. "Maafkan sikapku tadi ya, Ma. Adit pamit mau ke kantor dulu. Jangan terlalu banyak pikiran dulu, ya." Lelaki berdada bidang itu meraih tangan wanita yang telah melahirkannya itu lalu mencium dengan takzim. Setelahnya ia menghampiriku dan memberikan kecupan hangat di kening. Aku menikmati setiap perhatian lelaki itu dengan perasaan cinta yang tak pernah berkurang dari hari ke hari. "Jadi Delia mau dinikahkan sama kak Adit? Ya ampun, lucu banget sih kisahnya. Mirip sinetron di stasiun Ikan Terbang." Liana tertawa sembari mulutnya sibuk mengunyah setangkup roti selai. Aku hanya menanggapi komentar sarkasnya dengan senyum kecil. Meski Mas Adit dan Mama meyakinkan bahwa semua hanya pernikahan sandiwara untuk menyelamatkan muka Delia dan keluarga besarnya, tetapi hati ini tak bisa memungkiri. Ada perasaan tak rela, was-was dan cemburu yang saling berpadu. Poligami? Aku bahkan bergidik ngeri membayangkan kenyataan itu. Aku memang belum menjadi istri yang salihah. Pengetahuan agamaku pun terbatas. Rasanya wajar bila aku takut terhadap kenyataan yang mungkin tak lama lagi harus kuhadapi. Jangankan untuk bisa menjalaninya, membayangkannya pun belum sanggup. "Sa, tolong bawakan air putih dan obat mama ke kamar, ya. Rasanya kepala mama agak pusing." Perempuan parobaya di sebelahku memberi perintah. Tubuhnya berjalan sedikit tertatih menuju kamarnya yang terletak di sayap kanan. "Baik, Ma." Tergesa aku menyusul sambil membawakan apa yang ia minta. Sampai di kamar, aku membantunya minum obat dan naik ke tempat tidur. "Delia itu anak yang polos, manis dan baik, Sa. Mama mengenal dia sejak masih berusia anak-anak. Jadi jangan pernah menganggap dia sebuah ancaman bagimu. Kau mengerti?" Setelah kubantu meminum obat, Mama kembali ke topik sensitif yang tadi sempat terjeda. Aku menghela napas panjang, memompa oksigen lebih banyak ke seluruh sel-sel tubuh ini. Aku tahu, sejak hari ini topik tentang Delia tidak akan berhenti sampai Mama mendapatkan keinginannya. 'Itu kesalahan Nanda dan Delia, Ma. Kenapa harus Mas Adit dan aku yang harus kena getahnya? Kenapa tidak suruh Delia mencari pengganti Almarhum Nanda saja, agar tak mengusik kehidupan perempuan lain!' tetapi kata-kata itu hanya bergema di dalam dadaku saja. "Sabina belum bisa jawab semua itu, Ma. Tetapi satu hal, rasanya tidak ada wanita manapun yang rela berbagi suami dengan wanita lain walau hanya pura-pura." Meski rasanya cukup menohok, tetapi itu kukatakan dengan nada pelan dan tenang. "Delia bukan orang lain, Sa. Ia nyaris seperti putri kandungku sendiri!" Suara Mama kembali meninggi. Kalau sudah begini, tandanya lampu merah bagiku agar tak lagi memperpanjang pembicaraan. Bisa fatal akibatnya. Mama mertua tak boleh sampai emosi. "Maaf, Ma. Sebaiknya itu kita bicarakan lain waktu saja. Bukannya Mama sedang pusing ya? Istirahat dulu ya, Sabina masih mau beberes rumah dulu." Tak mau bersitegang, aku menaikkan selimut hingga sebatas leher perempuan yang sudah melahirkan suamiku itu, lalu bergegas keluar kamar sebelum ada protes terdengar. $$$ Mas Aditya pulang selepas magrib. Pekerjaannya sebagai manager operasional sebuah perusahaan alat berat menjadikan ia jarang pulang cepat. Aku memaklumi dan mendukungnya fokus pada pekerjaan, sebab ia adalah tulang punggung di rumah besar ini. Bukan hanya bertanggung jawab membiayai rumah tangga kecil kami, tetapi juga membiyai keperluan mama dan Liana yang masih kuliah. "Capek ya, Mas?" tanyaku sambil meraih tangannya untuk kucium. Lalu kami bersama-sama masuk ke kamar. Lelaki berdada bidang itu mengecup keningku dengan rasa sayang yang terlihat tulus di matanya. Di titik ini, aku tak bisa membayangkan bahwa akan ada perempuan lain yang menjadi orang ketiga di antara kami. Meskipun mungkin sekadar pura-pura seperti yang akan Delia lakukan di rumah ini. "Hmmm kok malah melamun? Ada apa? Masih mikirin soal Delia?" Ia langsung menembak pada sasaran. Aku hanya mengangguk lesu. "Nanti kita bicara lagi. Nggak usah terlalu dipikirkan. Mas mandi dulu ya," pamitnya sembari meraih handuk yang ada di tanganku. Selepas mandi, kami menuju ruang makan untuk santap malam. Malam ini aku menyiapkan tempe orek, ayam goreng dan sayur lodeh. Mas Aditya selalu makan masakanku dengan lahap, itulah sebabnya aku senantiasa bersemangat berjibaku di dapur karena merasa dihargai. "Tambah secentong lagi, Sayang. Ini lodehnya enak banget," pinta lelaki itu sembari menyodorkan piringnya yang sudah kosong. Dengan semringah, aku menurutinya. Mama biasanya tidak makan malam, hanya menyantap buah atau salad. Sedangkan Liana, kadang makan malam dengan jam suka-suka. "Mas, jadi gimana? Tidak ada jalan lainkah?" tanyaku hati-hati saat kami kembali ke kamar. Kuungkit lagi masalah yang sudah terlanjur dibahas. Entah kenapa aku berharap ada jalan lain padahal aku tahu sendiri, ini juga tidak adil bagi Delia. Janin itu memang benih Nanda, di dalamnya mengalir darah keluarga Sasongko dan aku tak mungkin bisa memungkiri itu. "Apa yang membuatmu risau, Sayang?" tanya Mas Adit sembari membingkai kedua pipiku dengan telapak tangannya yang hangat. Netra kami bertemu dan kulihat cinta yang begitu besar di matanya. "Pernikahanku dengan Delia hanya formalitas belaka, Bi. Hanya untuk menyelamatkan harga diri keluarga mereka dan demi masa depan bayi yang dikandungnya. Tidak ada yang akan berubah, aku tidak akan menyentuhnya barang sedetikpun. Paham?" Jemari berurat itu menyentil ujung hidungku, lalu menarik tubuh ini hingga aku masuk dalam dekapannya. Kata-ktanya cukup menenangkan, tetapi hanya sebentar. "Kamu janji tidak akan menyentuhnya dan segera bercerai begitu bayi itu lahir, kan?" Aku kembali memastikan. "Iya. Aku janji, Sayang." Dengan cepat Mas Aditya menjawab. Kepalanya ia selipkan ke ceruk leherku dan mulai menciumi area yang cukup sensitif itu. "Udah ah aku ngantuk. Bener kamu bisa pegang janji kan, Mas?" Aku masih saja dikuatirkan oleh masalah itu. Delia gadis yang cantik dan menawan. Usianya mungkin bahkan belum 20 tahun, jarak yang cukup jauh dengan usiaku yang tahun ini akan 30 tahun. Rambut panjang bergelombangnya senantiasa ia gerai di atas tubuh yang mungil dan langsing. Kecantikan gadis itu tentu saja di atas rata-rata. "Iya, Sayang ... aku janji. Apa selama ini aku pernah ngecewain kamu?" tanyanya kini sambil menghentikan kegiatannya menciumi leherku. Dan ketika aku menggeleng, lelaki itu kembali mengikis jarak di antara kami. Perlahan wajahnya mendekat, lalu ia mencium dengan lembut permukaan bibirku. Sentuhannya sekecil apapun selalu membuat hati ini melayang. Aku memejamkan mata, menikmati gelenyar aneh yang mulai merambati seluruh sel tubuhku. Aku makin mengawang saat lidah lelaki itu makin intens melumat bibirku dibarengi hisapan dan gigitan-gigitan kecil. "Mas ehmp ... aku kehabisan napas," keluhku sambil berusaha menarik wajahku lalu menghirup udara banyak-banyak. Ciuman panjang Mas Adit telah membuatku kehabisan napas. "Habis kamu jadi istri ngegemesin banget. Bikin candu tahu!" Ia tertawa kecil. Tangannya mulai menyelusup ke balik mini dress yang kukenakan. Menyentuh dan meremas apapun yang ada di baliknya. Aku membiarkan saja karena semua yang ada di tubuh ini memang sudah menjadi hak Mas Aditya. Lagi-lagi hanya lenguhan panjang yang lolos dari bibirku, sentuhan-sentuhan lelaki tampan yang telah 6 tahun resmi meminangku itu tak pernah gagal membuatku terhanyut dan terbuai. "Kita usaha bikin adek kecil lagi ya." Setengah memaksa, lengan besar Mas Adit mengangkat tubuh ini lalu menghempasnya ke atas kasur kami yang empuk. Malam yang tersisa kami isi dengan saling memuaskan satu sama lain. Saling memberi nafkah batin yang membuat hubungan kami tetap mesra dan baik-baik saja hingga detik ini. Kami baru berhenti setelah dini hari datang menjemput. Dentang sebanyak 12 kali pada jam besar dari kayu jati yang tergantung di ruang tamu, menjadi penanda berakhirnya pergulatan kami. Akhirnya Mas Adit tertidur pulas dengan rasa lelah dan senyum yang tersungging di sudut bibirnya. Aku mendekat dan memandangi wajah lelaki yang semakin kucintai dari hari ke hari itu. Mengelus pipinya, lalu memberi kecupan lembut pada lelaki yang kini dengkur halusnya mulai terdengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN