Bab 10. Istri Kecil ( pov Aditya)
Dengan masih menahan kantuk aku berjalan tersaruk ke dapur. Rasa haus dan lapar sudah mendera sejak semalam. Aku memang lupa makan malam, tepatnya tidak berselera. Sabina sejak kemarin berada di panti untuk menjenguk bunda Syahidah sekaligus menggantikn perempuan parobaya itu mengurus anak anak panti yang berjumlah hampir 30 anak tersebut. Bunda syahidah terpaksa harus bedrest karena baru selesai menjalani operasi usus buntu. Rencananya besok pagi aku baru akan menjemputnya pulang ke rumah ini lagi.
"Eh Ma--Mas Aditya? Ada yang mau dicari?" Sebuah sapaan dengan intonasi rendah mengagetkanku yang sudah berada di ambang pintu. Terlihat Adelia yang masih mengenakan daster rumahan sedang berjibaku di depan kompor. Sesuatu yang tengah dimasaknya di atas kompor telah menguarkan aroma harum rempah rempah
nyata hingga memenuhi ruangan. Sekilas perutnya yang mulai menonjol tertangkap oleh penglihatanku. Reflek aku memundurkan tubuh.
"Tidak. Nanti aku kembali lagi," sahutku sambil membalikkan badan, menghindari harus satu ruangan denganya. Meski terlihat kecewa tetapi perempuan itu tak mencegahku berlalu.
"Eh, Dit? Kamu mau kemana? Semalam nggak makan kan? Ayo balik lagi ke dapur, Adelia udah capek capek bikin sarapan loh buat kita."
Mama yang tampaknya baru pulang dari warung segera menghentikan langkahku.
"Nanti aja, Ma. Aku mandi aja dulu," elakku sambil menaiki tangga kembali menuju kamar atas.
"Dit! Sudah mandi nanti langsung turun lagi, sarapan! Kasihan Adel dah susah susah bikin sarapan." Kembali Mama mengingatkan, tentu saja dengan setengag memaksa.
Aku hanya mengangguk kecil sembari meneruskan langkah ke kamarku untuk mandi.
Aku mandi dengan perasan sedikit galau. Tidak ada Sabina di rumah sehari saja rasanya begitu menyiksaku. Ya, dia adalah paket lengkap bagiku. Cekatan, patuh, pandai membawa diri dan juga partner ranjang yang memuaskan. Meski kenyataan kami belum juga dikaruniai buah hati, tetapi intensitas di atas ranjang tidak pernah meredup. Aku tak pernah bosan melintasi nirwana bersama Sabina dalam dekapan. Senyumnya, suaranya, tubuhnya, semua adalah candu bagiku.
"Ups!" Aku terlonjak kaget saat kusadari sosok asing berada di kamarku. Kamar aku dan Sabina. Adelia terlihat berdiri ragu di tengah tengah kamar.
"Kenapa masuk?" tanyaku kaget, reflek mengetatkan gulungan handuk yang kulilit asal di pinggang. Wajah gadis itu memerah sekaligus merasa terlihat kebingungan.
"Maaf, Mas Adit. Mama yang menyuruhku untuk ke sini, mengingatkan Mas untuk segera sarapan," jawabnya dengan wajah resah dan ketakutan.
"Iya. Aku segera turun. Lain kali jangan sembarangan masuk ke kamar ini, Adel!" ujarku dengan perasaan resah. Aku tak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Bisa gawat jika Sabina salah paham. Aku sangat tidak ingin membuat sabina bersedih. Sudah banyak yang ia korbankan dalam pernikahan formalitas ini.
"Sekali lagi maaf ya, Mas," sahutnya lirih sembari menundukkan pandangan. matanya menekuri lantai yang ada di bawah kakinya.
"Ya udah. Kamu boleh turun sekarang. Saya sebentar lagi menyusul."
Gadis itu hanya mengangguk tanpa suara. Lalu membalikkan badannya dan bergegas turun menuruni anak tangga.
.
.
.
.
Dengan gerakan malas aku menuruni anak tangga setelah terlebih dulu mengirim chat pada Sabina, menanyakan keadaannya hari ini dan apakah jadi dijemput esok hari.
Di meja makan, sudah duduk Adelia dan Mama. Mereka sepertinya menungguku turun. Sebab piring di hadapan mereka masih kosong.
"Del, tolong ambilkan nasi goreng nya buat Adit dong. Dia harus segera mencicipi masakanmu yang enak dan lezat ini," ujar Mama sesaat setelah aku menarik salah satu kursi makan.
"Baik, Ma." Tangan mungil itu terlihat mengisi salah satu piring dengan beberapa centong nasi goreng. Tak lupa daun selada dan acar buah yang selalu tersedia di dalam toples kaca.
"Topingnya mau telur atau sosis goreng atau dua duanya, Mas?" Adelia bertanya. Hhh situasi seperti ini justru sangat membuatku tersiksa. Berada sedekat ini dengan Adelia saja sudah membuatku merasa sangat bersalah pada Sabina.
"Terserah ...."
"Adit!" Mama langsung bereaksi tehadap jawabanku tadi. Padahal rasanya nada suaraku biasa biasa saja.
"Terimakasih." Aku langsung saja mengambil piring sarapan itu dari tangannya. Makan nasi goreng tanpa toping apapun yang bikin ribet.
Hmmm .... rasa nasi goreng itu lumayan enak, bahkan cenderung sangat enak. Lumayan kaget juga, aku pikir dia tak lebih dari gadis manja yang tidak bisa apa apa dan hanya merepotkan orang tua saja.
"Nah apa Mama bilang, masakan Delia nggak kalah enak dari masakan Sabina kan? Ayo tambah, jangan sok gengsi gitu." Mama seolah mengompori saat melihat isi piringku yang telah kandas tak bersisa.
"Udah, Ma. Udah kenyang juga," jawabku sambil meletakkan piring yang telah kosong di wastafel. Walau rasanya ingin menambah nasi goreng, tetapi tampaknya waktu sedang tidak tepat. Aku tidak mau tindakanku itu diartikan lain oleh Delia. Apalagi Mama jelas jelas selalu mencari akal dan cara agar pernikahanku dengan Delia bisa berjalan normal seperti lazimnya.
Kudengar mama menarik napas sangat panjang, seolah sangat kesal dengan sikap keras kepalaku. Aku bukan tidak tahu, mama betul betul menjadikan moment kepergian Sabina sebagai ajang untuk nendekatkan aju dengan Adelia.
.
.
.
Selesai sarapan, karena ini hari minggu, aku memutuskan untuk mencuci mobil sendiri saja tanpa perlu ke carwash. Sesekali mumpung tidak ada kesibukan. Biasanya jika waktu senggang, aku akan memilih 'sibuk' dengan Sabina di kamar kami. Berhubung Sabina tidak ada di rumah, aku harus mengalihkan ingatanku akan istri tercinta itu.
Tengah aku menggosok roda mobil dengan brush, saat ekor mataku menangkap sepasang kaki mungil yang berdiri tak jauh dari mobilku. Aku menoleh dan menemukan Adelia yang berdiri terpaku dengan wajah gelisah dan mata terlihat memerah.
"Ada apa?" tanyaku sambil mengerutkan kening. Bibir gadis itu bergerak gerak, tetapi tidak ada kalimat apapun yang keluar.
"Ada apa, Adelia? Kau butuh sesuatu?" Aku mengulang dengan nada suara yang sedikit lebih tinggi.
"Ma--maaf, Mas. A--aku mau minta maaf." Suaranya terbata. Haduuuh drama apalagi ini? Apa dia disuruh mama untuk sengaja mendekatiku lagi? Ah mama semakin mengada ada saja belakangan ini. Aku merutuk dalam hati.
"Maaf? Untuk apa? Nggak usah aneh aneh deh omongan nya. Kamu nggak liat saya sedang sangat sibuk?"
Tiba tiba bulir bening tampak mengalir dari dua bola mata itu. Haduuh kenapa dia malah mewek gak jelas begini?
"Sorry sorry ... iya iya, kamu boleh minta maaf kok. Tapi saya emang nggak ngerti kamu minta maaf untuk apa?" Aku sengaja melembutkan suara agar tangisnya tidak makin menjadi.
"Adel ngerasa Mas marah dan benci sama Adel. karena semua ini, Mas. Mas pasti benci sekali karena menganggap saya adalah pengganggu, kan?" Suaranya kembali terbata saat merangkai kalimat itu.
Walau sesungguhnya aku mengamini kalimat itu, tetapi tidak mungkin aku mengiyakan secara terang terangan di depan gadis itu.
"Sudahlah, Del. Anggap saja semua ini adalah takdir dari Yang Maha Kuasa. Jadi apapun itu berbaik sangka lah. Aku sama sekali tidak merasa terbebani kok, niat aku memang nolongin kamu dan juga wujud tanggung jawab sebagai kakaknya Nanda. Lagian anak yang kamu kandung akan jadi keponakanku juga, kan?" Kali ini aku berusaha tak ketus dalam melayani obrolan dari Delia.
Semakin kuperhatikan, sesungguhnya ia terlihat sebagai gadis lugu yang tidak banyak tingkah. Menjalani kehamilan dalam keadaan seperti ini pasti sudah membuatnya terbebani.
"Alhamdulillah. Semoga yang Mas Adit ucapkan itu benar adanya. Jadi Adel tidak terus dihantui oleh rasa bersalah. Karena sejak tinggal di rumah ini, Adel selalu merasa bersalah terhadap Mbak Sabina, Mas," lanjutnya masih dengan nada penuh penyesalan.
"Tidak udah terlalu berlebihan memikirkan semua itu, Del. Sabina bukan perempuan picik kok. Dia perempuan berwawasan luas dan sangat pengertian. Jadi tidak usah terlalu khawatir." Aku mengucapkan kalimat itu dengan jujur dari bilik hati terdalam. Aku memang bangga memiliki seorang istri layaknya Sabinna.
Kulihat wajah di hadapanku terdiam, ia seperti tiba tiba melamun saat mendengar kalimatku barusan. Aku jadi bertanya tanya sendiri, apa ada yang salah dalam kalimatku.
"Delia, sini, Sayang. Ini bawakan es jeruk dan pisang goreng untuk Mas Adit ya."
Tiba tiba terdengar suara mama memanggil Adelia. Di tangan mama terdapat nampan berisi es jeruk dan kudapan. Aku bisa membaca apa maksud mama menyuruh perempuan itu untuk mengantarkan nampan tersebut. Kalian juga pasti tau kan? Beliau selalu membuat momen yang memungkinkan aku berinteraksi dengan Adelia secara masif.
"Mas ini minuman dan pisang gorengnya." Delia meletakkan nampan di meja yang terdapat di teras.
"Iya, makasih ya. Udah ini kan sudah menjelang siang, ibu hamil perlu istirahat juga kan?" Aku mengusirnya secara halus. Jujur aku merasa jengah sedang beraktifitas dan ditunggui orang yang masih asing bagiku.
"Oh eh iya, Mas. Adelia permisi mau istirahat dulu ya, Mas," pamitnya dengan suara semringah.
Aku menghela napas panjang. Menikah demi nama baik keluarga rupanya tak sesederhana yang kusangka di awal. Terlebih dengan adanya niat terselubung yang mama rencanakan untukku dan Delia.
"Lihat lah, Dit. Delia memang paket lengkap kan? Cantik, muda, penurut dan subur pula. Kamu nggak kepikiran buat beneran serius dalam pernikahan ini?" Mama berdiri menyebelahi. Aku menarik napas panjang, tidak tahu harus bagaimana lagi menyakinkan pada Mama bahwa aku tidak ingin berpoligami. Satu satunya perempuan yang ingin aku jadikan istri hanyalah Sabina seorang.
"Ma berapa kali harus Adit terangkan---"
"Tunggu, Dit. Tidak ada larangan untuk berpoligami, Dit. Apalagi di dalam rahim Adelia ada janin yang mengalir darah keluarga kita di dalamnya."
"Istriku hanya Sabina, Ma. Tidak akan ada lagi istri berikutnya," ucapku tegas.
Mata yang mulai sayu karena menua itu tampak berkaca kaca. Aku jadi merasa n bersalah.
"Kamu ternyata egois dan tidak bisa memahami perasaan mama. Usia mama sudah tidak muda lagi, ingin rasanya menimang seorang cucu dan bermain bersama mereka." Suara Mama tercekat.
"Bersabarlah, Ma. Toh bayi Adelia juga nanti akan jadi cucu mama."
"kau mau bayinya tetapi menolak ibunya?" Mama bertanya sinis.
"Lalu aku harus bagaimana, Ma? Jangan tuntut Adit untuk melakukan sesuatu yang Adit tidak mampu," ujarku lirih sembari menghindar dari percakapan yang tak ada ujung pangkalnya ini.
"Mama tidak banyak berharap padamu, Dit. Mama tahu siapa Adelia, dia gadis yang cocok dan baik untukmu."
"Ma, seandainya itu mama katakan sebelum aku bertemu dengan Sabina. Tapi kini takdirku bersama Sa, Ma. Aku cuma cinta sama dia. Adit benar benar tidak kepikiran untuk poli
gami. Jauh sekali dari kata sanggup, Ma." Lagi lagi aku berusaha untuk meyakinkan perempuan yang sudah melahirkan aku ke dunia ini.
Air muka mama terlihat sangat kecewa. Beliau beranjak dari hadapanku tanpa sepatah kata pun lagi.