Hujan dan Air Mata

1224 Kata

“Lepaskan!” teriak Senja mendidih. Dia menarik lengannya dari cengkeraman Langit, tapi tangan pria itu menempel seperti lem. “Tidak sebelum kamu jelaskan apa yang terjadi.” Senja tertawa sumbang. “Memangnya Bapak pikir aku ini apa? Apa aku benar-benar serendah itu sampai mau dibujuk untuk mengatakan sesuatu yang akan merugikan perusahanmu?” Cengkeraman di lengan Senja akhirnya terlepas. “Senja aku…” “Jika Bapak benar-benar berpikir kalau aku mampu melakukan tindakan sehina itu kurasa aku memang sudah tidak pantas bekerja di sana lagi.” “Apa maksudmu?” tuntut Langit dengan suara meninggi. “Aku akan resign. Percuma bekerja pada orang yang tidak bisa memercayaiku.” “Katakan kalau kamu bercanda.” “Oh aku sangat serius,” balasnya marah, tidak peduli jika tatapan Langit begitu membara hi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN