Musim panas di bulan Agustus begitu menyengat sampai orang-orang bahkan tidak segan-segan menggunakan payung saat melintas di jalan raya. Pepohonan hijau yang membayangi jalanan hanya sedikit memberi kenyamanan. Terik yang membakar seolah siap memanggang setiap orang. Senja sedang memasukkan semua keperluannya ke dalam tas kerjanya saat teleponnya berbunyi. Tanpa melihat siapa yang menelepon Senja mengangkatnya. “Halo,” sapanya sembari memeriksa keperluan yang harus disiapkan ke kantor. Senja berjalan ke dapur dan memeriksa isi lemari es. Senyumnya merekah demi melihat sekotak sandwich dan juga sebotol s**u segar rendah lemak. Aku mencintaimu, Mawar! “Jangan lupa hari ini kamu akan bertemu dengannya, Sayang.” Senja mengerang begitu tahu kalau ibunya yang menelepon. Paginya yang cerah

