Saat kamu memiliki bos dengan tatapan setajam elang maka menatap matanya merupakan kesalahan fatal
***
“Aku tidak mengerti kenapa ada orang yang mau membuang-buang waktunya dengan menonton film membosankan seperti itu.”
Celutukan itu berhasil menghentikan gerakan tangan Senja yang hendak meraih minuman di atas meja. Berhubung sekarang hanya ada mereka berdua di dalam rumah—selain para pekerja rumah tentu saja—Senja tidak merasa dia perlu bersandiwara.
“Tidak ada yang meminta Bapak duduk di sini,” sahutnya malas. Senja melipat satu kakinya di atas sofa, tidak lupa menyampirkan sleimut di atas lututnya sebelum kembali menikmati film yang tampilkan layar TV di depannya.
Keluarga Langit benar-benar tidak tanggung-tanggung dalam membuat sesuatu. Mereka bahkan menyiapkan ruangan khusus untuk menonton dengan sofa empuk yang bisa digunakan untuk tidur.
Senja memandang langit-langit ruangan dan melihat lampu kristal menggantung di atasnya. Dia menelan ludah. Rumah ini mungkin saja terlihat sederhana dari luar, tapi interior ruangan di rumah ini sama sekali tidak bisa dikatakan sederhana.
“Ini terlalu dibuat-buat. Siapa yang mau menonton film seperti itu? Pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama? Kurasa dia hanya tertarik pada wajahnya.”
Senja mengerang. Dia menoleh dengan sengit. “Ada yang namanya love at first sight, ya, Pak, tapi karena Bapak sudah pasti tidak pernah mengalaminya penjelasan apa pun sudah pasti tidak akan berguna, jadi sebaiknya Bapak diam atau pergi dari sini karena aku ingin menikmati film ini dengan tenang.”
Langit mendengus. “Apa kamu mau bilang kalau kamu pernah mengalaminya?”
“Tentu saja! Semua orang pernah mengalaminya kecuali Bapak tentu saja.”
Kedua alis Langit terangkat. “Jadi hal pertama yang membuatmu tertarik pada seorang pria adalah wajahnya?”
“Ada yang salah dengan hal itu?” tantang Senja.
“Apa yang bagus tentang hal itu?” tanya Langit balik.
Senja memejamkan mata. Jika tahu kalau waktunya yang berharga digunakan untuk berdebat dengan bosnya yang arogan sudah pasti Senja lebih memilih menghadiri pesta pertunangan sialan itu.
Dia pura-pura kesakitan agar Langit pergi sendirian. Siapa menyangka kalau keluarganya jsutru meminta lelaki itu menemaninya? Bukannya untung Senja merasa kebahagiaannya dirampas.
“Apa Bapak tidak mau kerja?” Senja melirik tablet yang di pegang Langit. “Lebih baik Bapak fokus ke sana dan saya fokus ke sana.” Senja menunjuk layar televisi sebelum kembali memusatkan perhatian pada layar.
Untungnya Langit tidak mendebatnya lagi sehingga Senja bisa menikmati kegiatan menonton film romantis kesukaannya sementara Langit…Senja melirik pria itu lewat ekor matanya dan melihat Langit fokus dengan tablet komputernya sama sekali tidak sadar dengan keadaan.
Bagus!
“Senja….”
Apa lagi sekarang? Erang Senja dalam hati.
“Ada apa?” tanyanya ketus.
“Ada rencana untuk mengundurkan diri?”
WHAT?!
Jantung Senja berdetak kencang begitu mendengar kalimat itu diucapkan. Langit mengatakannya dengan santai sama sekali tidak ada beban tapi entah bagaimana Senja merasa bulu kuduknya merinding.
“Maksudnya, Pak?” tanyanya polos.
Langit menoleh dan Senja berusaha mati-matian menjaga ekspresinya tetap terlihat datar. Saat kamu memiliki bos dengan tatapan setajam elang maka menatap matanya merupakan kesalahan fatal untuk itu Senja menolak menatap matanya.
“Kamu tahu apa maksud pertanyaanku Senja.”
Senja menelan ludah susah payah. “Aku tidak tahu maksud Bapak, tapi untuk menjawab pertanyaan itu aku akan mengatakan tidak.”
Untuk sekarang, tambah Senja dalam hati.
Langit kembali fokus pada tabletnya seolah percakapan sebelumnya tidak pernah terjadi. Senja mengamati pria itu diam-diam sekarang merasa benar-benar bingung kenapa Langit tiba-tiba menanyakan pertanyaan itu. Apa mungkin Langit mendengar percakapannya dengan Mawar waktu itu? Senja menggerakkan kepalanya ke samping. Itu tidak mungkin.
Lalu apa?
“Mungkin karena aku pernah melihatmu menemui seseorang,” ucap Langit seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Senja.
“Menemui seseorang?” tanya Senja. Tidak mungkin Langit melihatnya menemui HRD dari perusahaan itu kan?
Langit mengangkat satu tangannya, menunjuk layar televisi yang masih menyala. “Silakan lanjutkan menontonnya. Seingatku kamu menyukai film sampah seperti itu.”
Buk
Senja melempat popcorn miliknya tepat mengenai kepala Langit.
“Senja!”
“Syukurin,” gumam Senja puas sebelum berlari meninggalkan Langit.
Senja mengunci pintu kamarnya dengan cepat. Dia ragu Langit mau bersusah payah mengejarnya, tapi tetap saja dia tidak ingin mengambil risiko. Senja baru saja berbaring di ranjangnya saat mendengar pintu kamarnya diketuk.
“Senja!”
Mampus!
Senja berkedip beberapa kali saat menatap pintu kamarnya. Sejak kapaan seorang Langit Samudera segigih itu untuk membalas dendam?
“Senja kita harus pulang sekarang!”
Apa?
Alarm di kepala Senja seketika menyala. Ada yang tidak beres. Senja membuka pintu kaamrnya dan langsung melihat wajah kaku Langit. Sorot matanya begitu dingin hingga sejenak Senja merasa kemarahan itu ditujukan padanya.
“Apa maksud Bapak kita harus pulang malam ini?” desaknya penasaran. Senja menatap tablet komputer Langit yang menyala dan melihat kalau atasannya itu baru saja log in ke perusahaan.
“Sesuatu terjadi di kantor?”
“Lab kebakaran.”
Senja terpaku selama 3 detik penuh. Untungnya sisi profesionalismenya dengan cepat mengambil alih.
“Aku akan berkemas.”
Langit mengangguk tanpa kata dan Senja tahu kalau masalah yang mereka hadapi benar-benar serius. Begitu Langit menghilang dari pandangan Senja dengan cekatan mengemas semua pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.
Dia menatap jam tangannya. Jam 8.00 malam yang berarti mereka akan sampai di pusat kota besok pagi-pagi sekali. Senja mengenakan jaket dan juga sepatu olah raganya. Rambut sebahunya dia kucir kuda agar tidak mengganggu. Lima menit kemudian Senja keluar kamar dan melihat Langit sudah siap dan sedang menunggu di ujung pintu.
“Bagaimana dengan keluarga Bapak?” tanya Senja saat mereka berjalan menuju mobil yang sudah menunggu.
“Aku sudah memberitahu Laut dan Awan. Ayo, Senja kita harus sampai di sana secepatnya!”
Senja mengangguk dan mengikuti Langit. Perjalanan menuju bandara di isi oleh ketegangan dan juga keheningan yang begitu pekat. Senja membuka ponselnya untuk mencaritahu seberapa parah keadaan yang harus mereka hadapi.
“Kebakaran itu belum dimuat di media manapun. Aku sudah memberitahu PR kita agar menahan berita itu sampai kita tahu situasi di sana.”
Senja memasukkan ponselnya kembali. Jika Langit sampai memerintahkan public relation mereka turun tangan situasi ini bisa dikatakan benar-benar buruk. Senja memejamkan mata. Kebakaran lab? Tidak mungkin semua usaha yang sudah mereka lakukan untuk meluncurkan produk baru akan tertunda karena kejadian ini kan?
Senja tidak bisa membayangkan seandainya hal itu benar-benar terjadi.
“Tidurlah, kita mungkin tidak akan tidur selama ada di kantor.”
Senja tidak meragukan hal itu sama sekali. Dalam situasi normal Senja bahkan jarang pulang tepat waktu dan sekarang dengan adanya kejadian ini Senja ragu dia bahkan punya waktu untuk pulang.
Senja menoleh dan melihat Langit sedang sibuk dengan ponselnya. Pria itu mungkin sedang sibuk memberikan sederet perintah pada semua orang. Senja hanya berharap tidak ada orang yang bertanggung jawab atas insiden ini karena kemarahan Langit bukan sesuatu yang bisa dihadapi.
Dibawah bayang-bayang pepohonan dan juga lampu lalu lintas yang menyala sosok Langit mengingatkan Senja pada wujud dewa Alastor. Begitu menakutkan dan juga dingin.
“Apa kebakarannya benar-benar separah itu?” tanya Senja akhirnya setelah gagal menahan rasa penasarannya.
Langit menoleh dan kilat yang bermain di matanya yang hitam membuat Senja menahan napas.
“Peluncuran produk yang sudah di depan mata kemungkinan akan mengalami kegagalan karena insiden ini.”