Bab 5 - Bertemu Kembali

1969 Kata
Anaya duduk termenung di bangku panjang di tepi jalan. Tatapannya kosong, terarah pada deretan pohon mangga yang berdiri rapi di hadapannya. Jari-jarinya bergerak resah, sesekali menepuk paha kanannya sambil menggoyang kaki, seolah ingin mengalihkan kegelisahan yang mengendap di dalam d**a. Pandangannya kosong, lurus ke bawah, sampai suara riang seorang anak kecil memecah lamunannya. "Bapak, Bapak! Katanya Bapak mau beliin aku mobil-mobilan?" seru bocah laki-laki yang merengek sambil menarik-narik lengan ayahnya. Si bapak hanya tersenyum kaku, berusaha mengalihkan topik. "Nanti Bapak beliin, ya. Sekarang kita makan dulu aja. Nih, udah Bapak beliin ayam goreng." Namun bocah itu menggeleng keras, air matanya mulai menetes. "Nggak mau. Aku maunya mobil-mobilan! Bapak kan janji. Bapak nggak sayang sama aku!" teriaknya sebelum berlari meninggalkan sang ayah. Lelaki itu terburu-buru mengejar anaknya, meski langkahnya tak secepat si kecil. Anaya tersenyum tipis melihat adegan itu. Ada rasa hangat yang menguar, namun diiringi getir. Ingatannya melayang pada masa kecil, ketika ia sendiri merengek pada ayahnya agar dibelikan boneka. Bedanya, ayahnya selalu memenuhi permintaan itu tanpa menunda. Mungkin karena dulu keluarganya terbilang mampu, jadi ia tak pernah benar-benar tahu bagaimana lelahnya orang tua mencari nafkah. "Ya Allah ... kalau orang tuaku masih ada, mungkin aku nggak perlu pusing mikirin makan tiap hari." bisiknya lirih. Ucapan itu keluar begitu saja, dipicu oleh rasa rindu yang menyesak. Namun setelahnya, ia buru-buru memukul bibirnya sendiri. "Astaghfirullah, Anaya. Kamu ngomong apa sih. Itu sama aja nggak menghargai nenek," gumamnya menyesali diri. Ia menengadah, menatap langit. Awan putih bergerak perlahan, seolah menenangkan hatinya. Dan sejenak, ia mulai menyadari bahwa hidup memang tidak pernah mudah. Menyalahkan nasib tidak akan mengubah keadaan, justru hanya membuatnya semakin terpuruk. "Lebih baik pulang. Kelamaan di luar malah bikin pikiranku tambah kacau." katanya pada diri sendiri. Anaya beranjak, melangkah pulang dengan lesu. Setibanya di depan rumah, ia sempat mengucap salam. "Assalamu—" ucapannya terhenti. Pertengkaran tadi terlintas lagi di kepalanya, membuat hatinya ciut. Ia mengurungkan niat masuk, lalu menimbang. Mungkin lebih baik ia pergi mencari pekerjaan saja, sekadar pelarian dari rumah yang terasa sumpek. Ia masuk ke kamar, mengambil tas selempang kecil. Sebuah pulpen dan selembar kertas kosong ia selipkan ke dalamnya. Tak ada berkas penting, tak ada ijazah, hanya tekad yang terasa lebih berat dari apa pun yang ia bawa. Ia melangkah keluar dengan hati-hati, nyaris tanpa suara, seolah tak ingin keberadaannya disadari siapa pun. Namun dari tangga, Aldo sempat melihatnya. Ia terdiam, mematung sesaat. Banyak pertanyaan berkelebat di kepalanya. Ke mana kakaknya hendak pergi, dan untuk apa, namun ia memilih diam. Ada sesuatu pada langkah Anaya yang membuatnya merasa, urusan itu tak ingin diganggu. Anaya melangkah lagi, menyusuri jalan yang sudah begitu dikenalnya. Beberapa meter ke depan, langkahnya melambat, lalu berhenti sama sekali. Di hadapannya berdiri rumah lamanya. Rumah yang dulu dipenuhi suara, tawa, dan pertengkaran yang kini terasa begitu jauh. Tempat ia pernah tinggal, saat orang tuanya masih ada dan dunia belum terasa seberat ini. Bangunan dua lantai itu masih tegak, catnya mengelupas di beberapa sudut. Halamannya berantakan, daun-daun kering menumpuk di bawah pohon rambutan yang dulu selalu berbuah lebat. Kini pohon itu tampak layu, ranting-rantingnya kurus, seolah ikut menua bersama waktu yang tak pernah memberi jeda. Meski telah lama dikosongkan, rumah itu masih terlihat layak dan terawat dalam diam. Ditinggalkan, namun tak pernah benar-benar dilepaskan. Anaya berdiri di depan pagar besinya. Jemarinya menggenggam jeruji dingin, matanya menelusuri setiap sudut yang dulu begitu akrab. Sepuluh tahun telah berlalu sejak ibunya pergi. Tapi rumah itu seakan menolak berubah, seakan menunggu sesuatu yang tak pernah kembali. Pandangan Anaya perlahan naik ke jendela lantai atas. Sesaat, napasnya tertahan. Di balik kaca yang sedikit berdebu itu, bayangan seorang wanita berdiri. Rambutnya terurai sederhana, wajahnya terlalu dikenali untuk disangkal. Ibunya. Anaya tahu itu tak mungkin nyata. Ia tahu pikirannya sedang mempermainkannya, menyusun ingatan, merangkai kerinduan menjadi bentuk yang nyaris menyerupai hidup. Namun dadanya tetap terasa sesak. Pandangannya tak sanggup berpaling. Bayangan itu menatap ke arahnya, diam, tanpa senyum. Lalu perlahan, seolah mengikuti alur kenangan, sosok itu menghilang dari jendela atas. Anaya menahan napas, matanya turun ke lantai satu. Ibunya kini berdiri di balik jendela bawah. Telapak tangannya menempel pada kaca, meninggalkan kesan samar, bukan bekas, hanya ilusi yang dibentuk oleh rindu Anaya sendiri. Wajah itu kosong, matanya menyimpan kelelahan yang tak pernah sempat diceritakan. Ada kesedihan yang dalam, penderitaan yang tak terucap, seperti beban hidup yang berhenti tepat sebelum selesai dijalani. Anaya menatapnya lama. Tak ada air mata. Tak ada senyum. Hanya diam yang berat. Sosok ibunya tetap berdiri di sana, seakan jiwanya tertahan di rumah itu. Rumah itu menyimpan terlalu banyak hal yang tak pernah sempat diucapkan, cinta yang terputus di tengah jalan, dan rindu yang dibiarkan menggantung tanpa jawaban. Bertahun-tahun telah berlalu, namun Anaya tahu, ia tak pernah benar-benar bisa mengabaikan rumah lamanya. Anaya menarik napas dalam-dalam. Genggamannya pada pagar mengendur. Ia tahu bayangan itu akan menghilang begitu ia berpaling. Dan benar saja, saat matanya berkedip, jendela itu kembali kosong. Hanya kaca buram dan pantulan dirinya sendiri yang tampak rapuh di sana. Namun rasa sesak di dadanya tak ikut pergi. Anaya menghembuskan napas panjang, lalu memalingkan wajahnya dari rumah itu. Terlalu lama berdiri di sana hanya akan membuatnya lupa alasan ia keluar hari ini. Ia melangkah pergi. *** Sore kian merambat, tetapi Anaya belum juga pulang. Ia keluar-masuk toko dan ruko, menawarkan diri untuk bekerja. Namun jawabannya selalu sama. "Maaf, pekerjaan ini untuk laki-laki." Atau,"Kami butuh yang lebih berpengalaman." Lelah akhirnya menang. Anaya duduk di tangga sebuah ruko, punggungnya bersandar lemah. Napasnya tersengal, seolah seluruh dunia menekan pundaknya sekaligus. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya, mencoba mengumpulkan sisa tenaga yang masih ia punya. "Ternyata susah banget ya, cari kerja di kota besar." Gumam Anaya pelan. Ia bangkit dari duduknya, menendang kerikil kecil di tepi jalan dengan ujung sepatu. Helaan napasnya berat. Tanpa sadar, langkahnya terus menjauh, hingga cahaya lampu dari seberang jalan menarik perhatiannya. Sebuah restoran berdiri tenang di sana. Bergaya klasik, dindingnya dilapisi tanaman rambat yang menjuntai rapi. Nuansa biru dan putih mendominasi fasadnya, memberi kesan teduh. Berbeda dari hiruk-pikuk di sekelilingnya. Pandangan Anaya tertahan pada selembar kertas di kaca depan. DIBUTUHKAN: WAITRESS PARUH WAKTU Jantungnya berdegup lebih cepat. Untuk pertama kalinya sejak sore itu, ada sesuatu yang menyerupai harapan. Anaya memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk. "Permisi, saya lihat ada lowongan di pintu. Apa masih ada?" katanya pada seorang karyawan bernama Baldi, jika dilihat dari name tag nya--sedang merapikan meja. "Oh, iya. Kebetulan memang masih dicari. Kamu berminat kerja di sini?" jawab Baldi dengan ramah. "Iya," Anaya tersenyum gugup. "Baik, ikut saya." Anaya mengikuti langkahnya menyusuri lorong sempit di samping dapur. Aroma makanan hangat bercampur dengan suara piring beradu pelan. Lorong itu berakhir di depan sebuah pintu kayu. Baldi berhenti, lalu menoleh. "Namamu siapa?" "Nama saya Anaya." "Baik. Tunggu di sini sebentar." Pintu tertutup. Beberapa menit terasa lebih lama dari seharusnya. Anaya merapikan rambutnya, menarik ujung kemeja agar terlihat lebih rapi. Akhirnya pintu terbuka kembali. "Kamu boleh masuk sekarang." Anaya mengangguk kecil, lalu melangkah masuk. Ruangan itu sederhana namun elegan. Dindingnya dihiasi lukisan laut, dengan cahaya lampu yang lembut. Seorang pria berdiri tegap membelakanginya, menghadap lukisan itu, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. "Duduklah," ucapnya singkat. Suaranya berat. Tenang. Berwibawa. Anaya duduk perlahan. Jantungnya berdegup cepat, telapak tangannya mulai terasa dingin. "Jadi kamu Anaya? Kamu ingin bekerja di sini?" lanjut pria itu, masih belum berbalik. "Iya, Pak." Jawab Anaya pelan, tapi mantap. Pria itu akhirnya berbalik dan melangkah mendekat. Begitu wajah mereka bertemu, keduanya terdiam. "Loh ... kamu?" alis pria itu terangkat. Anaya membelalakkan mata. Wajah itu--ia mengenalnya. "Bukannya kamu yang tadi nolong saya?" lanjut pria itu, jelas terkejut. Anaya membelalakkan mata. Butuh beberapa detik sebelum potongan ingatan itu menyatu. Ia pernah melihat wajah ini. Pria di hadapannya adalah dia. Pria yang nyaris tertabrak di jalan. Yang ia tarik tanpa berpikir panjang. Orang sembrono itu. "Saya nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi di sini," katanya ramah. Pria itu menatapnya lekat, lalu tersenyum tipis. "Saya Zainal. Dan kali ini, izinkan saya berterima kasih dengan benar." Ia mengulurkan tangan. Anaya meraih tangan itu, balas tersenyum. "Jadi, Pak Zainal kerja di sini?" tanya Anaya asal, sekadar mencari kata untuk memecah keheningan. Zainal tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan. "Ya bisa dibilang begitu. Saya bantu-bantu di sini." Anaya mengangguk, tapi alisnya nyaris tak terlihat mengernyit. Ada sesuatu yang terasa tidak pas. Ruangan itu terlalu rapi. Meja kayu besar di hadapannya tertata bersih, map-map tersusun rapi, dan lukisan laut di dinding seolah dipilih dengan sengaja, bukan hiasan asal. Belum lagi cara pria itu berbicara, tenang, terukur, dan penuh keyakinan. Meski harus ia akui, bahwa tatapannya yang tajam cukup mengintimidasi. Ia melirik Zainal sekilas, lalu kembali menunduk, menyimpan pikirannya sendiri. Zainal menangkap perubahan kecil di wajahnya. Ia tertawa pelan, seolah paham betul apa yang sedang dipikirkan Anaya. "Kamu kelihatan nggak percaya," katanya ringan. Anaya tersentak kecil. "Eh, bukan begitu. "Cuma ... saya kira-" ujarnya cepat, sedikit gugup. Zainal tertawa. "Apa yang kamu kira?" Anaya gelagapan, mencoba mencari kata yang tepat. Melihat itu, Zainal hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, nada suaranya merendah. "Saya yang mengelola restoran ini." Anaya terdiam. Matanya kembali menatap sekeliling ruangan, lalu berhenti di wajah Zainal. Potongan-potongan yang sejak tadi terasa janggal akhirnya menyatu. "Oh ..." katanya lirih. Beberapa detik berlalu, lalu tanpa ia sadari, sebuah kalimat meluncur begitu saja dari bibirnya. "Berarti ... Bapak owner-nya?" Begitu kata itu keluar, Anaya langsung menyesal. Matanya melebar, tangan refleks menutup mulutnya sendiri. Zainal justru tertawa, kali ini lebih lepas. "Bapak? Kedengarannya tua sekali." ulangnya sambil tersenyum geli. Wajah Anaya memanas. "M-maaf. Maksud saya Pak Zainal." "Zain saja," potongnya santai. "Dan ya, restoran ini memang saya yang kelola." lanjutnya, masih dengan nada merendah. Anaya mengangguk-angguk kecil, masih sedikit canggung. Di dalam hatinya, ia tak bisa menahan satu pikiran sederhana. Pantas saja. "Jadi, kamu ingin bekerja di sini?" tanya Zainal. Nadanya kali ini terdengar lebih serius, seolah tak lagi sekadar basa-basi. Anaya menelan ludah. Ada jeda singkat sebelum ia menjawab, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang tersisa. "Iya, Pak. Saya ... saya memang sedang butuh pekerjaan," ucapnya pelan. Suaranya sedikit bergetar, tapi tatapannya tak goyah. "Apa pun yang bisa saya kerjakan, saya akan berusaha sebaik mungkin." Zainal memperhatikannya beberapa detik lebih lama dari yang Anaya perkirakan. Bukan tatapan menghakimi, lebih seperti menilai tekad dan ketulusannya. Ia lalu mengangguk pelan. "Kalau begitu, mulai besok kamu bisa ikut percobaan kerja. Anggap saja training. Kalau cocok, kita lanjut. Kalau tidak, setidaknya kamu dapat pengalaman." katanya. Butuh beberapa detik bagi Anaya untuk benar-benar mencerna kalimat itu. Matanya membinar. "Serius, Pak?" Anaya bangkit refleks dari kursinya. Kedua tangannya mengepal kecil di sisi tubuh, menahan luapan yang nyaris tak tertampung. Ada kilat lega di matanya. "Terima kasih banyak." Ia menunduk sopan. Terlalu lama untuk sekadar formalitas. Lebih seperti rasa syukur yang nyaris meluap. Zainal terkekeh kecil melihat reaksinya. "Sama-sama. Tinggal satu hal. Buktikan saja kalau kamu memang layak di sini." ucapnya ringan. Anaya mengangguk cepat, tanpa ragu. "Siap, Pak. Saya pasti akan memberikan yang terbaik." Zainal menahan senyum yang hendak mengembang lebih lebar. Entah kenapa, sapaan Pak dari Anaya terdengar jujur, bukan dibuat-buat. Ia mengulurkan tangannya ke depan, kali ini lebih resmi. "Kalau begitu, selamat bergabung." Anaya sempat terpaku sejenak. Seolah butuh satu detik penuh untuk mencerna bahwa ini benar-benar terjadi. Lalu ia meraih tangan itu, menjabatnya dengan senyum yang sederhana, tapi penuh keyakinan. "Terima kasih, Pak." Zainal membalas jabatannya, menatap Anaya sedikit lebih lama. Dalam diam, ia menangkap sesuatu yang jarang, keteguhan yang lahir bukan dari percaya diri berlebihan, melainkan dari kebutuhan untuk bertahan. Itu cukup meyakinkan. Anaya tersenyum cerah, lalu bangkit dari kursinya, melangkah keluar ruangan. Saat pintu tertutup di belakangnya, langkahnya terasa lebih ringan dari saat ia masuk. Di luar restoran, Anaya berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. Matahari sudah terbenam saat dia keluar. Dan untuk pertama kalinya hari itu, bahunya terasa lebih ringan. Mungkin hidupnya belum benar-benar berubah. Tapi setidaknya, hari ini memberinya alasan untuk bertahan sedikit lebih lama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN