Bab 3 - Pertemuan Tak Terduga

2298 Kata
Perpustakaan kampus siang itu tidak terlalu ramai. Beberapa mahasiswa duduk terpencar, tenggelam dalam dunia masing-masing. Di salah satu meja dekat rak referensi, Anaya duduk dengan punggung sedikit membungkuk, dikelilingi tumpukan buku dan kertas. Makalahnya hampir selesai. Buku-buku tebal terbuka dengan lipatan kertas kecil sebagai penanda halaman. Coretan pulpen memenuhi lembar catatan, sebagian sudah dicoret, sebagian lain ditandai garis bawah. Tangannya bergerak cepat, sesekali berhenti hanya untuk membaca ulang satu paragraf sebelum menulis kembali. Wajahnya tenang, fokus, bukan tipe yang mudah bosan ketika belajar. Ia justru tenggelam. Getaran kecil dari telepon di samping buku tulisnya membuat Anaya mengalihkan pandangan. Sebuah telepon sederhana merk Nokia. Ia meraihnya dan membaca pesan masuk. Nomor tak tersimpan, tapi ia langsung tahu siapa pengirimnya. Halo Anaya. Ini saya orang tua Salma. Saya mau tanya, nanti kamu ada waktu untuk ngajarin Salma lagi? Kalau ada, kamu bisa langsung ke rumah saja. Tapi tidak apa-apa kalau kamu berhalangan. Anaya membaca pesan itu dua kali. Jemarinya menggantung sebentar di atas tombol, lalu mengetik balasan singkat seperlunya. Bisa, Bu. Nanti saya datang. Ia menekan kirim, lalu segera menaruh teleponnya. Tak ada balasan lagi, dan Anaya memang tidak menunggu. Pulsa bukan sesuatu yang bisa dihamburkan untuk percakapan panjang. Dan untungnya setelah ini, ia tidak ada kelas lagi. Ia kembali menunduk ke makalahnya. Beberapa menit kemudian, halaman terakhir ia baca ulang dengan saksama. Setelah yakin tak ada yang terlewat, Anaya menyusun kertas-kertas itu rapi, memasukkannya ke map plastik tipis, lalu berdiri. Makalah itu ia serahkan ke meja pengumpulan. Selesai. Keluar dari gedung perpustakaan, cahaya matahari langsung menyambutnya. Udara Jakarta terasa hangat, bercampur debu dan suara kendaraan dari kejauhan. Anaya menuruni anak tangga kampus, melewati gerbang, lalu berhenti sejenak di pinggir jalan. Ia menyesuaikan tali tas selempangnya, menoleh ke kiri dan kanan, menunggu angkot yang melintas. Hari sudah menjelang siang. Masih ada satu peran lagi yang harus ia jalani hari itu, bukan sebagai mahasiswi, melainkan sebagai guru les privat yang diam-diam ia lakoni demi tambahan uang. Angkot akhirnya berhenti di depannya. Anaya naik, duduk di dekat jendela, dan kendaraan itu kembali melaju, membawa Anaya menuju rumah Salma, menuju rutinitas lain yang hanya ia simpan sendiri. *** Angkot berhenti tepat di depan sebuah rumah berpagar hitam. Rumah itu tak mencolok. Cat krem bersih, halaman kecil dengan pot-pot tanaman tertata rapi, cukup untuk menunjukkan kehidupan keluarga menengah yang terjaga dan sederhana. Anaya turun, merapikan tas selempangnya, lalu melangkah mendekat untuk menekan bel. Belum sempat ia menekan, pintu sudah terbuka. "Kak Anaya!" Seorang gadis berambut panjang berlari kecil ke arahnya lalu membuka pagar. Wajahnya cerah seolah tak sabar menunggu. Anaya tersenyum spontan. Ia menepuk ringan pundak gadis itu. "Salma, apa kabar?" "Baik, Kak," jawab Salma cepat, nyaris tanpa jeda. Dari dalam rumah, seorang perempuan paruh baya menyusul ke ambang pintu. Wajahnya ramah, sorot matanya teduh dan hangat. Anaya refleks menunduk, meraih tangan perempuan itu dan menempelkannya ke keningnya. "Masuk Nak. Jangan sungkan." "Terima kasih Bu." Ruang tamu itu cukup luas. Sofa cokelat muda tersusun rapi, meja kayu di tengah sudah dipenuhi buku tulis, buku paket matematika SMP, dan alat tulis, semuanya tertata seolah Salma telah menunggu sejak tadi. Anaya kembali menoleh ke Salma. "PR yang kakak kasih kemarin sudah dikerjain?" "Sudah dong, Kak," jawab Salma dengan nada bangga. Anaya mengangkat alis. "Gampang, kan?" Salma terkekeh, menggaruk belakang kepalanya. "Lumayan sih, Kak. Tapi aku kerjain pelan-pelan." Anaya duduk di samping Salma, meletakkan tasnya di kursi kosong. Tanpa diminta, Salma langsung menarik buku ke arahnya. "Kak, ini PR-nya." Anaya membuka halaman demi halaman buku Salma, matanya bergerak pelan, teliti mengikuti setiap langkah pengerjaan. Soal pertama sederhana, tentang mencari satu nilai yang tersembunyi di balik persamaan. Salma menguraikannya dengan runtut, memindahkan angka ke sisi yang tepat, lalu menyederhanakannya sampai tersisa satu jawaban pasti. Langkahnya rapi. Tidak ada yang terlewat. Anaya melanjutkan ke soal berikutnya. Tingkatannya sedikit naik. Angka dan variabel saling berhadapan, menuntut ketelitian lebih. Salma menuliskan prosesnya panjang, hampir memenuhi dua halaman, tapi semuanya jelas. Tidak melompat, tidak asal. Soal ketiga, keempat, hingga kelima pun sama. Perlahan, tapi yakin. Anaya tersenyum tanpa sadar. "Semuanya benar, Salma." Salma menoleh cepat, matanya membesar. "Serius, Kak?" "Iya." Anaya menutup bukunya pelan. Wajah Salma langsung berbinar, senyumnya melebar penuh kebanggaan. Tak lama kemudian, seorang pembantu datang membawa nampan berisi teh hangat dan sepiring kue. Ibu Salma duduk di sofa seberang, memperhatikan dengan tenang sambil menyeruput teh. Tak ikut campur, hanya memerhatikan. Anaya mengambil pulpen. "Sekarang kakak kasih soal baru." Ia menuliskan satu persamaan sederhana, lalu menggeser buku itu ke arah Salma. Salma mengangguk mantap dan mulai menulis. Namun sebelum benar-benar tenggelam dalam hitungan, suara ibu Salma menyela dengan lembut. "Anaya ... terima kasih, ya. Sejak kamu ngajarin Salma, nilai matematikanya naik banyak. Dia juga sekarang lebih cepat paham kalau ketemu angka." Anaya tersenyum, sedikit menunduk. "Salma memang pintar, Bu. Dia niat belajarnya tinggi. Saya cuma bantu sedikit saja." Ibunya Salma tersenyum makin hangat. "Tetap saja. Silakan dimakan kuenya." "Terima kasih, Bu." Di saat yang hampir bersamaan, Salma menyentuh lengan Anaya. "Kak ... yang ini aku bingung." Jarum pulpennya melingkari satu baris. "Coba pindahin dulu semua x ke satu sisi. Pelan-pelan saja," ujar Anaya lembut. Salma mengangguk, kembali menunduk ke bukunya. Pulpen bergerak lagi, lebih hati-hati dari sebelumnya. Waktu berjalan tanpa terasa. Diisi suara kertas yang digeser, coretan kecil yang diperbaiki, dan sesekali anggukan puas dari Anaya saat Salma menemukan jawabannya sendiri. Jarum jam merayap ke angka berikutnya ketika Anaya menutup buku pelajaran itu perlahan. "Cukup ya untuk hari ini." Salma mendongak, sedikit lega tapi tersenyum. "Iya, Kak." Ibu Salma segera berdiri. Wajahnya masih menyimpan kehangatan yang sama sejak tadi. "Terima kasih banyak, Anaya. Sudah mau meluangkan waktu lagi. Salma jadi beda sekali sekarang sejak belajar sama kamu." Anaya ikut bangkit, menunduk sopan. "Sama-sama, Bu." Salma ikut berdiri dan berjalan mengantar sampai ke teras. "Hati-hati di jalan, Kak," ucapnya sambil melambaikan tangan kecilnya. Anaya tersenyum. "Iya. Belajar yang rajin, ya." Pagar itu terbuka lalu tertutup kembali di belakangnya. Anaya melangkah menjauh, menyusuri jalan depan rumah Salma sampai deru kota kembali menyambutnya. *** Klakson bersahut-sahutan. Mesin kendaraan meraung tanpa peduli. Matahari siang berdiri tepat di atas kepala, panasnya menusuk kulit, membuat Anaya merasa seperti dipanggang perlahan. Kemeja panjang yang ia kenakan hanya menahan sedikit sengatan, sisanya tetap menembus sampai ke tulang. Anaya berhenti sejenak di pinggir jalan, menatap angkot yang melintas satu per satu lalu menghela napas pelan. Uang ongkosnya sudah habis. Terpakai untuk perjalanan ke rumah Salma tadi. Tak ada pilihan lain. Anaya merapikan tas selempangnya, lalu melangkah kaki demi kaki menyusuri trotoar. Panas, lelah, dan jarak yang terasa lebih panjang dari biasanya ia terima dalam diam. Langkahnya pelan, tapi tetap bergerak seperti hidupnya yang tak pernah benar-benar memberi jeda. "Panas banget ... perut lapar, duit juga habis," gumamnya ketus sambil menyeret langkah di trotoar. Wajahnya masam, rahangnya mengeras. Beberapa orang yang berpapasan sempat melirik sekilas, lalu mempercepat langkah seolah ekspresi Anaya terlalu tajam untuk ditatap lama. Ada yang bahkan memilih menepi, menghindar tanpa alasan jelas. Tak jauh di belakangnya, dua pria muda berjalan sambil tertawa kecil. "Tuh cewek kenapa, sih? Mukanya serem banget," bisik pria berjaket merah. "Lagi haid kali," timpal temannya, cekikikannya tipis tapi menyebalkan. "Hahaha ... cakep-cakep galak," tambah yang pertama, tawanya kali ini pecah lebih keras, cukup untuk menusuk telinga. Langkah Anaya terhenti. Ia berbalik perlahan. Tatapannya tajam, dingin, menancap lurus ke arah mereka. "Maksud kalian apa ngetawain aku kayak gitu?" suaranya lantang, tak bergetar sedikit pun. Trotoar yang semula riuh mendadak terasa sunyi. Kedua pria itu saling pandang, senyum mereka lenyap seketika. Tak ada balasan. Tak ada nyali. Tanpa sepatah kata, mereka berbalik dan melangkah cepat menjauh. Anaya mendengus pelan. "Orang nggak jelas," gumamnya, lalu kembali berjalan, panas siang masih setia menempel di kulitnya. Karena tak kuat, Anaya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Akhirnya ia memilih duduk sebentar di bangku pinggir jalan. Dengan enggan, ia menekan nomor adiknya. "Halo, Do," suaranya lelah. "Ada apa, Kak?" sahut Aldo. "Jemput aku, ya. Uangku habis, nggak ada ongkos pulang," pinta Anaya. "Sorry, lagi nggak bisa. Aku lagi di rumah teman, mau ngerjain tugas." Anaya mendengus. "Tugas apa? Jangan-jangan kamu malah main lagi." "Ya Allah, nuduh aja. Jalan sendiri aja masa nggak bisa? Jangan manja deh." Tut ... Tut ... Telepon terputus. Anaya mendecak keras. "Dasar bocah kampret." Ia melangkah pelan, sampai kakinya terhenti di depan sebuah toko mainan besar. Lampu warna-warni masih menghiasi dinding kaca, berkedip ceria meski catnya mulai pudar dimakan waktu. Patung beruang putih yang dulu pernah jadi maskot toko masih berdiri tegak di pintu masuk, sedikit kusam tapi tetap menebarkan kesan ramah. Pandangannya kosong, namun hatinya bergemuruh. Semua terasa sama persis seperti dulu, saat orang tuanya masih ada. Kenangan itu datang begitu saja. Anaya kecil berlari-lari di dalam toko dengan mata berbinar. "Ayah, lihat! Boneka beruangnya besar sekali." serunya riang, menunjuk boneka putih hampir setinggi tubuhnya sendiri. Ayahnya, dengan kemeja sederhana dan senyum lebar, berjongkok di hadapannya. "Kamu yakin mau yang itu? Berat, loh. Nanti ayah yang repot gendong sampai rumah." Anaya kecil menggeleng cepat, rambutnya terayun. "Nggak apa-apa, Yah. Aku janji mau rajin belajar lagi kalau punya boneka itu. Kan aku juara satu!" Ayahnya tertawa, menepuk kepalanya lembut. "Iya, iya, anak Ayah pintar. Kalau gitu, boneka ini jadi hadiah spesial buat kamu." Ia menyerahkan boneka itu ke pelukan Anaya. Gadis kecil itu nyaris tenggelam di balik bulu putih lembut, wajahnya berseri-seri. "Makasih, Ayah! Aku sayang Ayah." katanya sambil mencium pipinya. Ayahnya hanya tersenyum, menggendong Anaya kecil yang memeluk erat boneka raksasa itu. "Ayah juga sayang kamu. Jangan pernah berhenti belajar ya, Nak. Biar kamu bisa punya masa depan lebih baik dari Ayah." Senyum kecil sempat muncul di bibir Anaya saat kenangan itu menyeruak, hangat sekaligus menyesakkan. Tapi segera pudar ketika suara penjaga toko memecah lamunannya. "Mbak, mau masuk? Toko sebentar lagi tutup." Anaya tersentak, buru-buru menggeleng. "Nggak, Mas. Terima kasih." Ia kembali melangkah, meninggalkan patung beruang yang kini hanya berdiri sebagai saksi bisu masa lalunya. Perjalanan berlanjut, sampai akhirnya ... Brukk! Kakinya tersandung batu, tubuhnya terjerembab ke aspal. Tasnya terhempas, buku-buku bertebaran. "Aduh." desisnya menahan sakit. Beberapa orang menolong, mengumpulkan barang-barangnya. Anaya buru-buru berterima kasih, lalu kabur ke tempat sepi karena malu. Ia duduk di bangku dekat pohon besar, mencoba memijat kakinya. Angin siang berembus, membuat matanya terasa berat. Ia hampir saja tertidur sebelum memaksa diri berdiri. Namun baru beberapa langkah, seseorang menabrak Anaya dari belakang. "Ouch!" Anaya hampir terhuyung jatuh. Ia cepat menoleh, mendapati seorang pria berkemeja hitam lusuh. Wajahnya pucat pasi, keringat membasahi pelipis, dan gelagatnya aneh. Matanya kosong, seperti tak berfokus pada apa pun, sementara bibirnya berkomat-kamit lirih, entah menyebut doa atau hanya ocehan tanpa arti. "Orang aneh." Batin Anaya, alisnya berkerut. Pria itu berjalan limbung, tak memperhatikan sekitar. Tanpa aba-aba, ia justru menyeberang jalan dengan langkah goyah. Jalanan sore itu ramai, deru mesin dan klakson bersahutan. Dari kejauhan, sebuah mobil melaju kencang, rodanya berdecit menelan aspal. Orang-orang di trotoar spontan menjerit. "Mas! Minggir! Mas, awas!" Jantung Anaya serasa ditarik ke tenggorokan. Ia tak sempat berpikir panjang. Kedua kakinya berlari secepat mungkin, menghantam trotoar dengan bunyi berdebam. Tangannya terjulur, menarik kasar lengan pria itu. Tubuh mereka berdua terhempas ke sisi jalan, jatuh keras di trotoar yang panas dan berdebu. Hanya beberapa inci jaraknya dari terjangan mobil yang melintas dengan raungan ban. Napas Anaya tersengal, d**a naik-turun. "LIAT-LIAT KALO JALAN! MAU MATI, HAH?!" bentaknya, suaranya pecah antara panik dan marah. Namun pria itu hanya berdiri perlahan, seolah tak mendengarnya. Ia menepuk debu di bajunya dengan gerakan lamban, lalu berbalik. Lelaki itu sempat menoleh sebentar pada Anaya. Namun tanpa sepatah kata, ia langsung pergi melangkah, menyisakan bayangan aneh yang mengendap di benaknya. Anaya masih terpaku di trotoar, jantungnya berpacu kencang seakan baru saja lepas dari maut. Keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara matanya mengikuti punggung pria aneh itu yang berjalan menjauh ke arah kerumunan. Di sekitarnya, suara-suara lain mulai bermunculan. "Ya ampun, itu orang parah banget. Diselametin malah kabur," celetuk seorang remaja yang barusan menyaksikan. "Iya, nggak bilang makasih lagi," timpal seorang pedagang kaki lima sambil menggeleng, menaruh gorengan ke wadah kertas. Seorang ibu yang sedang menggandeng anaknya mendekat dengan wajah cemas. "Mbak, nggak apa-apa, kan?" tanyanya lembut. Anaya menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia memaksakan senyum, meski tangannya masih gemetar. "Iya, Bu. Saya nggak apa-apa." Belum sempat ia benar-benar mengatur napas, mobil yang tadi hampir menabrak berhenti tak jauh dari situ. Ban depan miring ke arah trotoar, meninggalkan jejak hitam di aspal. Dari dalam, seorang sopir pria paruh baya turun terburu-buru, wajahnya pucat. "Ya Allah. Saya nggak nabrak orang, kan?" suaranya parau, panik. Ia memandang sekeliling, lalu segera menghampiri Anaya. "Astaghfirullah, saya kira tadi beneran kena. Saya udah ngerem sekuat tenaga." Anaya buru-buru menggeleng, mencoba menenangkan. "Nggak, Pak. Alhamdulillah nggak kena. Saya baik-baik aja." Sopir itu mengusap wajahnya, lalu menoleh ke jalan yang semakin ramai. "Tapi ... yang satu lagi ke mana? Kayaknya tadi ada dua orang yang nyebrang. Aduh, saya harap dia nggak kenapa-kenapa." Anaya ikut menoleh, namun pria aneh itu sudah terlalu jauh. Ia menggigit bibir, menahan rasa janggal yang tiba-tiba merayap di hatinya. Sopir kembali menatap Anaya, matanya penuh rasa khawatir. "Mbak beneran nggak apa-apa? Luka sedikit pun nggak? Kalau ada bilang aja. Saya siap tanggung jawab, kalau perlu saya antar ke rumah sakit sekarang." Anaya tersentuh oleh ketulusannya, tapi buru-buru menggeleng sambil tersenyum sopan. "Terima kasih, Pak. Tapi nggak usah, saya baik-baik aja kok. Cuma kaget aja tadi." Sopir itu masih tampak ragu, namun akhirnya mengangguk pelan. "Ya sudah, syukurlah kalau gitu. Kalau sampai terjadi apa-apa tadi, saya nggak tahu harus gimana." Orang-orang di sekitar mengangguk-angguk, sebagian masih membicarakan pria misterius tadi. Anaya hanya berdiri di sana, menelan ludah. Sisa ketegangan masih mengikat tubuhnya. Dan di benaknya satu hal yang jelas, kejadian barusan tidak terasa seperti insiden biasa. Namun begitu semua mata kembali pada kesibukan masing-masing, Anaya berdiri sendirian. Ia terdiam, memandang punggung pria itu yang kian menjauh di antara kerumunan. Suara klakson dan hiruk-pikuk kota kembali menyergap telinganya, tetapi pikirannya justru dipenuhi tanya, siapa sebenarnya orang itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN