Semuanya Licik

1032 Kata
Selina berjalan terhuyung-huyung menuju pintu utama rumahnya, langkahnya tidak stabil karena efek alkohol yang masih mempengaruhi tubuhnya. Ia baru saja keluar dari Hotel setelah rencananya untuk tidur bersama Ammar gagal. Bahkan sang Supir meninggalkannya begitu saja di Hotel. Saat ia membuka pintu rumahnya, ia melihat Papa dan Mamanya duduk di ruang tamu, menatapnya dengan ekspresi khawatir dan kecewa. Selina mencoba untuk menyembunyikan keadaannya, tetapi ia tahu bahwa itu tidak mungkin. "Selina, kamu baik-baik saja?" tanya Mamanya, berusaha untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya. Selina berusaha untuk mengangguk, tetapi kepalanya terasa berputar-putar. Ia akhirnya jatuh ke sofa, merasa lelah dan tidak berdaya. Papa Selina berdiri dan mendekatinya, menatapnya dengan ekspresi kecewa. "Selina, apa yang terjadi? Kamu tahu bahwa kami tidak suka kamu minum alkohol," katanya tegas. Willy dapat mencium dengan jelas bau alkohol menyeruak dari tubuh putri satu-satunya itu. "Ini semua karena Papa!" bentak Selina dengan mata berkaca-kaca. "Apa yang terjadi Selina?" lirih sang Mama. "Mama gak perlu pura-pura tidak tahu, Mama tahu kan rencana Papa yang menjodohkan ku dengan Cucu pemilik HFG!" teriak Selina. Sang Mama menundukkan kepalanya tak sanggup menatap sang Putri. "Kita tidak punya pilihan lain Selina!" lirih sang Papa yang ikut menundukkan kepalanya. Pria paruh baya yang sudah beberapa kali menemui Psikiater karena depresi yang ia alami akibat kejatuhan Perusahaan yang tiba-tiba. "Kita masih punya banyak cara untuk menyelamatkan Perusahaan Pa, lagi pula apa Papa tidak khawatir dengan pemilik HFG, bukankah sejak dulu Kakek juga selalu bermusuhan dengan beliau, bagaimana kalau mereka menyusun rencana licik untuk merampas Perusahaan kita Pa," tangis Selina pecah. Willy terdiam. "Lagi pula bagaimana bisa aku menikahi pria yang selalu menjadi musuh dan rival ku! aku tidak bisa menikahi pria yang tidak ku cintai, bukankah selama ini Papa dan Mama selalu menuntut ku untuk melakukan apapun yang kalian suka bukan yang aku suka! kapan Mama dan Papa memikirkan perasaan ku? kapan Mama dan Papa bertanya apa keinginan ku!" sambung Selina. Wanita itu bahkan berbicara berapi-api. Mungkin karena efek alkohol membuatnya berani berbicara penuh percaya diri di hadapan kedua orang tua yang paling ia hormati. Willy dan sang istri tertegun. Mama Selina bangkit dari duduknya. "Selina, dulu Mama dan Papa pun merasakan hal yang sama seperti yang sekarang Selina alami, kami menikah tanpa cinta, bahkan setiap hari Mama merasa frustasi karena tahu bahwa tidak ada Mama di hati Papamu dan begitu juga sebaliknya, tapi demi kebahagiaan orang tua kami, kami terpaksa melakukan pernikahan itu, Mama tidak mau kau merasakan hal yang sama Nak, kalau memang kau tidak bisa menikah batalkan saja perjodohan ini, kita bisa memulai hidup baru," ujar sang Mama. Willy bangkit dari duduknya "Ya, yang di katakan Mama mu benar, maaf Papa yang terlalu ambisius mempertahankan Perusahaan yang menjadi kebanggaan Kakek mu, setidaknya kita bisa menjual saham yang tersisa, kita bisa memulai hidup baru," sambung Willy. Selina mendelik "Apa maksud Papa? saham Perusahaan kita akan di jual?" Willy mengangguk "Ya, Perusahaan itu tidak akan bisa bertahan tanpa bantuan HFG, Papa sudah pasrah-" "Tidak! aku tidak rela menjual saham Perusahaan kita Pa!" potong Selina. "Stop Selina! jangan buat Papa ragu." tegas Willy hendak pergi. "Gak Pa! Kakek pasti akan sedih." lirih Selina. "Itu kau tahu!" bentak Willy dengan wajah yang sudah merah padam. "Papa," panggil sang istri. Mama Selina kembali ketakutan karena takut depresi sang suami kambuh lagi. "Se-selina, berhenti membahas masalah ini, Mama takut Papa mu akan drop lagi," gumam sang Mama. Bruk... Sang Papa jatuh ke lantai sambil memegangi kepalanya. "Papa!" teriak Selina dan sang Mama bersamaan. Mereka pun memapah Willy menuju kamarnya, pria paruh baya itu tampak pucat dan linglung. Tentu saja hal ini membuat Mamanya sudah menangis terisak. "Tenang Pa, tolong jangan terlalu banyak berpikir," ucap sang Mama. Selina dan Mamanya pun membaringkan Willy. Tatapan pria itu kosong sambil menatap langit-langit kamar. Selina tak tahan melihat keadaan sang Papa, belum lagi ia tak bisa terima kalau saham Perusahaan harus di jual. Ia menarik nafasnya dalam-dalam "Apa hanya pernikahan saja yang bisa menyelamatkan Perusahaan kita Pa?" tanya Selina. Willy yang tadi terus menatap kosong ke atas perlahan-lahan menatap ke arah putrinya itu. "Ya Selina, untuk saat ini hanya itu saja yang bisa menyelamatkan kita Nak," jawab Willy. "Ta-tapi aku mencintai pria lain Pa," lirih Selina. Ia kembali menangis. "Si-siapa Selina?" tanya sang Mama penasaran. "Siapa Selina? dari keluarga dan Perusahaan apa pria itu berasal? apakah pria yang kau cintai itu bisa membantu kita? kalau begitu kau tak perlu menikahi Cucu pemilik HFG!" cecar Willy, tampak pria itu sangat bersemangat padahal tadi jelas-jelas ia hampir pingsan. Selina menyeringai. Ia bahkan hampir tertawa melihat perubahan sikap sang Papa yang tiba-tiba. "Kenapa Papa tiba-tiba terlihat sehat? apa selama ini Papa berakting?" batin Selina. Jujur ia mengasihani dirinya sendiri. Selina menggeleng. Ia tak mungkin menyebutkan nama Ammar, pria yang bukan berasal dari keluarga terpandang apalagi memiliki Perusahaan, tidak ada gunanya dia jujur pada Papa dan Mamanya karena yang ada Ammar akan di pecat bahkan di usir dan dia tidak akan lagi bisa melihat pria yang ia cintai itu. "Selina, katakan siapa pria itu?" tanya Mamanya lagi. "Dia bukan siapa-siapa Ma, dia tidak memiliki Perusahaan apalagi memiliki uang untuk membantu kita," jawab Selina datar. Willy berdecih "Kalau begitu kubur saja perasaan mu itu, tidak ada gunanya mencintai pria yang tak memiliki apapun Selina, kita tidak bisa hidup tanpa uang!" pekik Willy yang masih berbaring di ranjang. Tanpa mereka semua sadari, ternyata Ammar yang sedang mencari Selina untuk mengembalikan ponsel yang tertinggal di mobil dapat mendengar semua pembicaraan Keluarga kecil itu dari balik pintu. Hatinya terasa sesak dan sakit. Apa yang ia prediksi benar, tidak mungkin orang tua Selina mau menerimanya. Air mata menggenang di bola matanya, ia berusaha mati-matian agar air mata itu tidak jatuh. Buru-buru Ammar menyeka air matanya lalu pergi berlari menjauh sebelum ia ketahuan. Selina terduduk di tepi ranjang lalu memegang tangan sang Papa. "Kalau begitu apakah setelah menikah kami boleh bercerai Pa?" tanya Selina. Tentu saja hal ini membuat Willy dan sang Istri terkejut. Dari ucapan Selina terdengar jelas kalau putri mereka itu sepertinya mulai menyetujui pernikahan. Willy langsung bangkit dari ranjangnya, ia duduk berhadapan langsung dengan Selina dan balik menggenggam tangan sang Putri. "Tentu saja Selina, setelah menikah dan mendapat bantuan dari mereka lalu kondisi Perusahaan kita stabil, kau boleh minta cerai!" seringai Willy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN