Zeva berdiri di depan pintu kamar Selina. Pria yang tak mudah terpancing emosi itu terlihat menggertakkan giginya entah berapa kali. Tetapi tak mungkin Zeva mendobrak masuk, bagaimana kalau kedua anak manusia itu tengah bercinta, Zeva bahkan tak sanggup membayangkan rasa malu yang harus ia hadapi. Ia menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan pelan, Zeva berusaha menahan diri. "Aku tidak boleh gegabah lalu mempermalukan diri sendiri, dari awal aku yang sudah mengijinkan Supir itu tinggal disini, lagipula apapun yang mereka lakukan itu bukan urusanku!" batinnya berusaha meredam emosi. Tapi tetap saja Zeva tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia menempelkan telinga kanannya ke pintu berharap akan mendengarkan suara Selina ataupun Ammar, ia sangat penasaran apa yang sedang di lakuka

