Pagi yang sudah diberisiki burung-burung pipit dan dinginnya kabut yang lewat, membuat mahasiswa Universitas Merem Melek semakin mager untuk kuliah. Ada yang hanya diam-diam saja di depan kelas, melamun melihati pohon, dan masih duduk di atas motor enggan menuruninya. Ketika suasana seperti ini tiba, sebagian besar mahasiswa memilih untuk bermesraan dengan selimut tebalnya di atas tempat tidurnya, dan melanjutkan perjalanan halu dari mimpi mereka.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi trio wek wek yang sudah kuliah di Universitas Merem Melek beberapa tahun yang lalu. Ardin, Jacob, dan Wira tetap masuk ke kampus untuk menimba ilmu jurusan mereka masing-masing. Masuk sih masuk, tapi di dalam kelas kalau pikirannya ambyar ya sama aja bohong.
“Jangan lupa setelah kelas berakhir, lo ke kantin, ya!” Ardin mengetikan sesuatu di ponselnya, chat lewat w******p terkirim dengan cepatnya pada Jacob dan Wira.
Dan, sampailah Ardin, Jacob, dan Wira di kantin setelah perjanjian itu disepakati oleh mereka bertiga. Tiga laki-laki yang memiliki tujuan bersama, yaitu mendekati perempuan incarannya, mempunyai obrolan yang sangat tersembunyi akhir-akhir ini.
“Gimana bro? Sudah siapkan rencana itu berjalan lancar mulai hari ini?” bisik Ardin dengan memandang satu per satu Wira dan Jacob.
Wira dan Jacob ikut menganggukan kepala.
“Akan gue coba,” ucap Jacob.
“Bagus. Gue percaya sama kalian bertiga, terutama soal rencana ini. Sekarang, berusahalah mencari gebetan lo berdua dan buka pembahasan receh dulu, sepakat?” ucap Ardin lagi dengan bisikan.
“YA!” Wira dan Jacob mengkoor. Mereka berdua beranjak dari duduknya dan membusungkan d**a mereka masing-masing. Mata Jacob dan Wira memincing ke arah lapangan, dan yakin sekali kalau ini harus berhasil.
“Wih! Tampan banget kalian berdua!” ujar Ardin dan menepuk tangannya.
“Sekarang?” tanya Wira ke Jacob. Jacob mengangguk dan tersenyum tipis.
“Eh eh, jangan main kabur aja dong! Bayar dulu ini nasi kuning ayam sama teh hangat lo berdua!” selip Ardin ditengah-tengah kefokusan itu.
“Eh iya lupa hehe,” Wira nyengir dan mengeluarkan dompetnya. Diselipkannya tangan lentiknya ke dalam dompet, mengambil kertas berharga yang tidak selalu dimiliki Ardin.
“Nih!” Wira melemparkan uang lima puluh ribu berwarna biru ke atas meja. “Kali ini gue nge-traktir kalian ya. Anggap saja uang ini sebagai bentuk peresmian kalau hari ini gue memberanikan diri untuk mendekati Lusi,” ucap Wira dengan mata yang masih mengarah ke lapangan kampus.
“Oh jadi inceran lo Lusi,” timpal Ardin sambil menganggukan kepalanya.
“Iya, aduh gue keceplosan lagi! s**t!” ujar Wira dengan wajah seriusnya.
Jacob yang tampak menahan rasa ketawanya, memilih diam dan menahan perut buncitnya agar tidak bergetar-getar. “Din, tolong bayarin pakai uangnya Wira, kita berdua mau jalani aksi,” pinta Jacob.
“Boleh, boleh, tapi kayaknya ini terlalu besar uangnya dan masih ada sisanya. Kalau gue sih—“
“Ya udah lo ambil aja sisanya, gak usah pidato panjang lebar,” celetuk Wira.
Ardin menyeringai. “Ngerti aja lo Wir! Oke lah kalian berdua silakan menjalankan misi pertama ini, dan terima kasih atas kembalian nasi kuning ini,” Ardin melambaikan tangannya. “Good luck!”
Jacob dan Wira melangkahkan kaki mereka ke pintu keluar kantin, tangan mereka diselipkan ke saku celananya dan dadanya dibusungkan seperti Captain Amerika. Padahal, Captain Bekasi aja gak masuk kualifikasi, sok sok an mau pakai gelar Captain Amerika lagi.
“Lo mau kemana, Jac?” tanya Wira tiba-tiba.
TOENG!
Jacob memandang Wira dengan penuh keheranan.
“Ya sesuai dengan rencana yang sudah dirancang, dong!” jawab Jacob.
“Iya, kemana, anjir?!” ucap Wira lagi.
“Lah, ya tergantung lo mau kemana,” balas Jacob.
“Gue gak ngerti sumpah, gue dari tadi bengong gak bisa mikir gimana cara mulai misinya,” raut wajah Wira menjadi lugu lugu bangsate.
Jacob menghela napasnya, “Untung aja lo teman gue ya. Kalau bukan, gak bakal gue tegur lo selama satu abad!” Jacob mulai geregetan.
Wira menyeringai. “Bantuin gue ya, soalnya gue masih belum paham, nih,” bisik Wira yang membuat Jacob mundur dari hadapan Wira perlahan-lahan.
“Lo kenapa Jac, bantuin gue lah, gue bener-bener newbie soal beginian mah,” Wira memelas.
“Ya gue juga newbie kali, jadi lo harus jalani masing-masing sebisa lo lah!” ucap Jacob dengan artian menolak dengan halus.
Ardin yang menatap kedua temannya, Wira dan Jacob yang dari tadi berdiri di depan pintu, dan tidak melakukan pergerakan atau langkah apapun, membuat Ardin terheran-heran hingga membuat Ardin menyeritkan dahinya. Maka dari itu, Ardin memutuskan untuk menghampiri Wira dan Jacob di depan pintu.
“Eh, kalian kenapa dari tadi masih di sini? Gak jalan ke tempat masing-masing?” tanya Ardin sambil memegang bahu kedua temannya itu.
Jacob menatap Ardin, “Lo ngerti Din, ternyata Wira dari tadi gak paham sama apa yang harus dia lakukan, dan dia harus ke mana itupun dia gak ngerti,” lapor Jacob.
Ardin menepok jidatnya. Bisa-bisanya Wira tidak memahami maksud dan tujuan hari ini dilakukan misi sekonyol itu.
“Wir,,,, wir.. walaupun ternyata gak ada kembalian dari bayaran nasi kuning ayam dan es the di kantin, gue bakal ngasih tau kok gimana dan apa yang harus lo lakuin hari ini,” Ardin mengusap tangannya di punggung Wira.
“Gini, gini, pertama lo harus cari tempat yang sering dikunjungi Lusi. Atau paling gampangnya kelasnya saja lah. Lalu, lo bikin obrolan yang hanya ada kalian berdua. Antara lo dan Lusi. Terserah lo mau buka obrolan apa, yang penting bisa lancar dan los doll ah obrolannya,” Ardin mengulangi pesan dari misi hari ini.
“Nah, gitu, lo masih belum paham juga?” balas Jacob.
“Oh, iya, sudah paham gue mah. Lets go lets go!” ucap Wira mengepalkan tangannya.
“Sip! Semoga beruntung ya kawan-kawanku!” Ardin menggenggam erat tangan Wira dan Jacob, dan dilihatnya mata teman cupunya itu satu per satu.
Akhirnya, Jacob dan Wira benar-benar memulai langkahnya untuk mendekati perempuan incarannya mulai hari ini. Entah bagaimana hasilnya, yang penting niat dan yakin kalau gebetan mereka bakal menolak mereka. Eh maksudnya bakal menerima mereka dengan apa adanya.
Jacob memutuskan untuk pergi ke lapangan kampus karena melihat adanya jadwal pencak silat hari ini di media sosial pencak silat. Jacob yakin sekali kalau Ribka bakal ada di situ, karena Ribka termasuk tim inti dari komunitas pencak silat di Universitas Merem Melek. Sementara itu, Wira melangkahkan kakinya yang diselimuti sepatu mahalan impor dari Korea, menuju kelas Lusi. Wira yakin sekali kalau Lusi adalah anak yang baik hati dan tidak sombong, serta tidak pernah absen ketika kuliah. Sudah pasti hari ini ia akan bertemu dengan belahan hatinya itu. Doakan berhasil ya teman-teman, kita beri semangat membara untuk Wira dan Jacob!
Prok.
Prok.
Prok.