Pertemuan Sejoli

1088 Kata
Langit semakin berwarna oranye, di saat Mona dan Ardin masih berkutat dengan kemacetan. Ardin menatap Mona dari kaca spionnya, Mona tampak suntuk dan beberapa kali mengangakan mulutnya dan melepaskan napas karena kantuk. Ardin tidak ingin kesempatannya berdua dengan Mona ini menjadi hal yang membosankan. “Mon, lo sudah makan belom?” tanya Ardin. Mona mendekatkan badannya, dan kepalanya berada di pundak Ardin. “Apa Kak? Maaf gue gak denger, bising banget soalnya!” balas Mona. Ardin jadi deg-degan mengetahui kepala Mona berada di pundaknya. Ini salah satu kejadian yang langka banget! Biasanya hanya makan bareng atau ngobrol dengan Mona, kali ini bahunya ikut geli-geli bahagia. “Hmm, lo mau makan dulu gak sebelum pulang ke rumah?” Ardin mengulang pertanyaannya. “Emmmm…” Mona berpikir dan melihat jam tangannya. “Sebentar aja, kok. Gue juga yang bayarin makannya,” seru Ardin agar kemungkinan berhasil mengajak Mona besar. Mona meringis, “Boleh deh Kak Ardin kalau dibayarin, hehehe.” Motor Ardin yang terperangkap macet, segera mengambil jalan lain agar bisa menuju rumah makan terdekat. Ardin membelokan stang motornya ke kiri, melewati gang kecil yang hanya bisa dimasuki satu motor. Gang itu seperti labirin, belok kiri dan ke kanan tanpa ada petunjuk untuk keluar. Ardin lihai sekali memilih belokan jalan, yang super sempit dan gelap itu. Mona yang diboceng, menatap sisi gang yang sempit dan padat rumah, hanya bisa menahan napas. “Kak Ardin, ini gang apaan, sih? Kok sempit dan padat banget. Gue ngerasanya sumpek,” ujar Mona yang memerhatikan kawasan yang lumayan kumuh itu. “Lo gak pernah lewat sini?” tanya Ardin, Mona menggelengkan kepala. “Ini namanya Gang Keramat, gang ini memang terkenal sangat sempit, kumuh, dan minum penerangan. Di sini banyak sekali kasus kriminalitas,” jelas Ardin. Mona menyeritkan dahinya, “Kok bisa banyak kasus kriminal? Apa Pemerintah gak pernah memantau daerah ini?” balas Mona. Ardin menghela napasnya, “Entahlah, dengar-dengar dari warga sekitar sih, Pemerintah jarang menengok ke daerah ini, di sini juga sulit mendapatkan bantuan sosial, kesehatan, dan sebagainya yang menjadi hak mereka sebagai warga kota,” tutur Ardin sepahamnya. Mona mangut-mangut, sambil melirik lagi kawasan yang sempit, yang pernah ia lalu. Dan, berselang lima menit kemudian, Ardin menemukan jalan raya penghubung jalan-jalan kota. Ardin dan Mona mengembuskan napasnya. “Akhirnya kita keluar juga dari daerah itu. Terasa panas sekali,” ujar Mona menyeka dahinya yang penuh keringat. “Lo gak suka sama tempat itu?” tanya Ardin. Mona menggeleng. “Terus kalau lo gak suka, apa lo gak akan balik ke daerah itu lagi?” tambah Ardin. Mona menggelengkan kepalanya lagi. Ardin berdecak, “Terus, langkah lo atau sikap lo sebagai mahasiswa, apa?” Mona tak paham, dahinya berkerut seraya mendengar pertanyaan dari Ardin. “Maksud Kak Ardin gimana deh? Gue beneran gak ngerti,” ucap Mona menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ardin tertawa kecil, merasa obrolannya yang dilontarkan terlalu berat untuk Mona. Ardin pun mewajarkan, mungkin Mona lagi lapar. Kan wajar tuh kalau lagi lapar, otak sering konslet. Mungkin lagi, Mona adalah tipe-tipe perempuan yang seperti. Yap! Sampailah Mona dan Ardin di depan rumah makan yang tidak terlalu kecil, namun tidak terlalu besar juga. Yang sedang-sedang aja, gitu. Mona dan Ardin menuruni motor, dan melepas helm mereka masing-masing. “Yuk, ambil tempat duduk di atas aja,” ucap Ardin dan refleks menggandeng tangan Mona. Mona tercengang, dan ia pun tidak keberatan tangan kanannya digenggam oleh kakak tingkat yang hampir menghukumnya waktu ospek. *** Jacob pusing banget ngerjain makalah yang diberikan oleh dosen. Beberapa kali ia harus merevisi makalah itu, tanpa ada alasan yang jelas kenapa direvisi. Bingung? Iya sama. Biasalah, beberapa dosen memang hobi membuat mahasiwa bingung. Itu adalah bentuk perhatian dari sang dosen agar mahasiswa itu semakin giat belajar dan berusaha. Percaya? Tidak usah dipercaya, karena itu bohong. Jacob nge-print beberapa kali di warnet depan gang rumahnya, karena print di rumahnya rusak habis kebanting sama Bundanya. Banyak sekali kertas-kertas tidak tertata digenggaman Jacob. Hal itu membuat kertas-kertas itu ada yang terbang, jatuh, dan untungnya masih ada yang di tangan Jacob. Jacob gelabakan deh, mana sudah malam, lampu gangnya kedap-kedip, takutnya ada kertasnya yang hilang tidak ketahuan sama dia. BRAK! Jacob terjatuh, dan membuat semua kertasnya terjatuh pula. Seorang perempuan yang menyebabkan Jacob demikian. Jacob kesal, berdiri dan menatap perempuan yang menabraknya samar-samar di matanya. “Apa lo!” tegas perempuan itu, Jacob belum melihat betul paras perempuan itu. Jacob mendekatkan wajahnya ke perempuan itu. Duh, nasib punya mata minus, ngelihat orang aja gak becus. “Heh! Ngapain sih lo!” perempuan itu mendorong agak keras d**a Jacob. Dorongan perempuan itu membuat jantung Jacob berdebar-debar. Padahal, dalam kegelapan loh, bisa-bisanya jantung Jacob banyak tingkah bukan main. Kaki Jacob juga sedikit gemetar, entah gara-gara berdiri di depan perempuan ini, atau kelamaan antre nge-print di warnet tadi. Entahlah, hanya Jacob yang paham itu. Namun, perempuan yang ternyata Ribka itu menjadi khawatir ketika ia mendorong Jacob. Ribka terkaku dan tidak bergerak sedikit pun. Ribka menggoyang-goyangkan tubuh Jacob yang ada di depannya. Benar, Jacob melemah. “Halo, lo gak kenapa-kenapa, kan?” Ribka menepuk pipi Jacob, Jacob menatap sayu ke langit. “Aduh, ini orang kenapa sih ya,” Ribka mendudukan Jacob di sebrangan jalan, dimana ada pos ronda yang sepi. Ribka merebahkan Jacob di tikar yang ada di pos ronda itu. “Halo, Mas? Adek? Kakak? Bangun dong,” Ribka menepuk lagi pipi Jacob. Ribka makin ketakutan, baru kali ini ada laki-laki yang didorong dadanya langsung kaku tak berdaya seperti Jacob. Ribka berpikir, apa salahnya? Dan, Ribka ingat kalau ia salah. Ketika berjalan tadi, Ribka tidak melihat ke arah depan, malah asyik men-scroll ponselnya membuka video-video TokTok. “Eh, bangun… lo Jacob yang waktu itu pingsan waktu acara kampus, kan?” Ribka mencoba mengingat, tidak asing dengan wajah Jacob. Jacob pun mengangguk. “Duh, kayaknya lo lemah fisik atau gimana, sih? Tolong bangun, Jac!” Mohon Ribka ke Jacob. Tidak lama kemudian, beberapa warga mendatangi pos ronda. Mereka merasa ada yang tidak beres, di malam hari nan gelap ada dua manusia beda kelamin yang duduk di pos ronda. “Ada apa, Neng?” tanya laki-laki bersarung seperti ninja, sambil membawa senter. “Eng… enggak tau ya Pak, dia tiba-tiba kaku gitu. Padahal gue cuma—“ “Udah, udah, gue gak apa-apa, kok,” Jacob akhirnya sadar dan terduduk. Ribka membuka tasnya, mengambilkan sebotol minuman. Untung saja Ribka selalu membawa sebotol minuman tiap latihan pencak silat. Kebetulan, malam ini Ribka lagi latihan karate. “Lo jahat ya!” tiba-tiba Jacob berbicara dengan nada tinggi. Laki-laki bersarung tadi juga ikutan kaget.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN