Bareng Mona

2013 Kata
Hari itu, Ardin penuh dengan kebahagaiaan. Hal itu terpancar dari cara Ardin berjalan, dengan raut wajah yang tersenyum di bibirnya. Ia sigap mendatangi Mona yang sudah menunggunya di depan kampus untuk menjalankan rencana yang sudah mereka sepakati sebelumnya. “Aku siap, aku siap!” seru Ardin dalam hatinya menirukan kartun kesukaannya saat dirinya masih balita, Spongebob Squarepants. Dan tidak perlu mencari ke sana-ke sini, Ardin menatap dari kejauhan perempuan berambut panjang yang sedang menyilakan tangan, mengarahkan wajahnya ke depan layar ponsel, dan berdiri manis tepat di depan tulisan Universitas Merem Melek. Eits! Ardin harus mempersiapkan penampilannya dengan baik, tampan, dan berani, dong! Kalau bisa look Ardin harus kayak oppa-oppa Korea yang sedang membuka hati untuk seorang perempuan. “Rambut oke, tampang oke, baju oke. Memang ya, gue terlalu tampan untuk berada di kampus ini,” Ardin meninggikan dirinya saat mengaca di depan spion motor yang terparkir. “Berangkaaaaaaaat!” seru Ardin begitu antusiasnya. Tok. Tok. Tok. Seketika langkah Ardin terhenti di samping Mona, “Hallo, Mon!” sapa Ardin. Mona menengok ke samping kirinya, dan melengkungkan senyum, “Kak Ardin, syukurlah udah datang. Kita pergi sekarang, ya?” balas Mona. Ardin menganguk, “Boleh, pakai motor gue atau motor lo?” tanya Ardin. “Terserah aja sih,” jawab Mona. Namun, Ardin baru menyadari kalau motornya sedang habis bensin di parkiran sana. Buktinya saja, tadi ia nyamperin Mona pakai jalan kaki, kok. “Lah, begok banget gue, ngapain pakai acara nawarin pake motor gue…” batin Ardin menyesali perbuatannya. “Pakai motor lo aja gimana? Motor gue jauh banget parkirnya di dalam, belum lagi banyak motor parkir ugal-ugalan, nanti malah susah keluarnya. Mana sempat, keburu telat!” ucap Ardin. Ardin memang jago untuk berbohong demi terlihat macho di depan Mona. “Tuh pakai motor lo aja, kebetulan lagi parkir di depan,” lanjut Ardin mengarahkan telunjuknya ke motor Mona. Mona yang tipe orang percayaan, langsung mengiyakan saja, “Ya udah kalau gitu, ini kuncinya!” Mona melemparkan kunci motor dengan gantungan barbie ke Ardin. Hap! Kunci itu berhasil mendarat di tangan Ardin, “Meluncur!” ucap Ardin. Ngeng.. ngeng.. ngeng.. Motor Mona menyala, “Siap? Pegangan gue ya biar gak jatuh,” seru Ardin pada Mona dan memberi setengah kode. “Iya, Kak! Hati-hati ya jangan ngebut, biasanya di sana ada polisi yang jaga,” balas Mona. “Gampang, bilang aja kalau bokap gue Jenderal di Negeri ini,” ucap Ardin. “Hah? Emang iya beneran, Kak?” rupanya Mona setengah percaya. “Enggak, enggak Mon. Buat takut-takutin aja, biar polisi gak berentiin kita kalau ngebut, hehehe,” Ardin nyengir dari balik kaca helmnya. “Ya elah Kak!” Mona menepis pelan helm Ardin. Ardin dan Mona pun berjalan mengitari kota, untuk menuju kantor yang dimaksud Mona, yaitu kantor Majalah Wajah Indonesia. Kantor yang sudah terkenal jauh-jauh tahun sebelum Ardin dan Mona lahir, memang memiliki tempat yang tersembunyi. Hingga aplikasi pencari tempat yang ada di ponsel Mona, sulit menemukan letaknya. “Ini kita udah masuk gangnya, terus belok mana, Mon?” tanya Ardin yang memelankan motornya setelah memasuki gang yang tertera di alamat surat. “Katanya sih lurus lagi, nanti mentok belok kiri,” jawab Mona yang tetap memperhatikan titik keberadaan mereka di aplikasi itu. “Oke baiklah. Tapi makin masuk dan makin ke sana jalanannya sempit banget loh. Seriusan di sini ada kantor permodelan?” Ardin tampak ragu, “Apalagi kan katanya agensi lo udah besar,” imbuh Ardin. “Ini kantornya pindah, Kak. Udah tiga hari yang lalu, kalau kantor yang waktu itu di kota ya lumayan gampang dicarinya,” ungkap Mona. “Ya udah, gue percaya deh sama aplikasi itu. Kita ikutin aja,” timpal Ardin. Mona dan Ardin mengarahkan kendaraan motornya sesuai dengan arah yang berjalan di area aplikasi pencari jalan. Ardin yang menyimpan keraguan di benaknya, merasa sesuatu hal menjanggal. Ardin yang lebih dulu mengetahui kantor-kantor besar mana aja yang ada di kota, merasa ini bukan kantor terkenal seperti yang dibicarakan orang-orang. “Jalan sempit, akses masuknya sulit, udah gitu gak terdeteksi sama aplikasi lagi jalannya, ada yang aneh menurut gue,” keheranan itu disimpan saja oleh Ardin, tidak ingin menyakiti hati Mona. Tibalah mereka di depan rumah bertipe 35 seperti di perumahan-perumahan pada umumnya. Rumah yang berwarna full orange dengan corak polkadot merah, menyita pandangan Mona dan Ardin saat itu. Terlebih ketika terpampang jelas spanduk besar bertulis, “Rumah Ini Disita Karena Sengketa,” Pandangan mata Mona dan Ardin tidak terlepas dari tulisan yang terpajang jelas itu. Mereka memadukan pandangan mereka, penuh keheranan di dalam bola mata Ardin dan Mona. “Lo paham gak maksud gue?” tanya Ardin ketika memandang mata Mona dengan tegas. Mona mengangguk, “Ini sedang tidak baik-baik saja,” balas Mona. “Terus, apa yang mau lo lakukan?” tanya Ardin. “Entah, menurut Kak Ardin gimana? Bantu mikir dong, gue orangnya lamban berpikir nih,” keluh Mona. “Jalan pertama yang harus kita ambil adalah bertanya dengan warga sekitar, apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah ini. Mengapa bisa terjadi sengketa,” saran Ardin. Namun, melihat gang perumahan di situ cukup sepi dengan jarak rumah satu dengan lainnya juga cukup panjang, hal itu tidak memungkinkan. “Kayaknya gak mungkin, deh,” kata Mona yang celengak-celenguk menatap sekeliling gang itu. Ardin pun melakukan hal yang sama dengan Mona, melihat keadaan yang mungkin bisa sebagai tempat untuk mendapatkan informasi. “Lo benar, terus, langkah selanjutnya adalah kita tetap harus mencari informasi dengan baik tentang rumah atau agensi ini. Dengan cara—” Mona pun memotong. “Oh ini, gue punya kontak manager yang waktu itu ngekoordinir semua acara Majalah Wajah Indonesia. Apa kita bertanya ke beliau, ya?” saran Mona, yang telah mengecek bahwa kontak itu masih tersimpan di dalam memorinya. “Nanti dulu,” ucap Ardin. “Kalau kita bertanya dari orang di dalamnya, pasti ada hal-hal pro yang mereka tuai supaya tidak menyebarkan keburukan mereka. Gimana kalau kita bertanya pada kolega lo yang juga seorang model di sini?” saran Ardin lagi. “Kebetulan selama dua hari yang lalu ada acara pelatihan yang biasa di agensi ini. Ada beberapa yang ikut, eh kayaknya semuanya deh,” kata Mona. “Nah, tanya aja sama mereka yang ikut pelatihan itu. Barangkali tau,” ucap Ardin. “Ets! Kita ngelakuinnya ini di luar aja gimana? Ke kafe gitu biar lebih jelas dan kita bisa memecahkan kasus ini dengan baik,” tawar Ardin yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Mona yang tipe orang ayo ayo aja, langsung mengiyakan tawaran itu, “Kebetulan gue juga suka ke kafe kalau ngerjain tugas atau melepaskan penat, jadi ayo Kak!” timpal Mona bersemangat. “Kita harus memecahkan kasus ini sekarang juga.” “Hmm, siap. Tapi bayar sendiri-sendiri, gimana?” potong Ardin. “Iya gak masalah!” kata Mona. Mereka langsung tancap gas meninggalkan rumah yang dirasa cukup menganehkan, yakni sengketa. Dengan kecepatan yang sedikit tinggi, Ardin dan Mona keluar dari gang itu dan menghela napasnya panjang. Lalu, mereka mengarahkan motornya ke sebuah kafe yang tak jauh dari gang itu. Dan tibalah saran Ardin ke kafe yang berada di sebelah kanan gang. “Mau ke sini, gak?” tawar Ardin yang sudah memberhentikan motornya di depan sebuah kafe. “Loh, ini kan warung kopi, bukan warkop,” Mona protes. “Ya sama aja, Mon. Kan sama-sama jualan kopi,” balas Ardin. “Gak mau ah gak mau, cari kafe yang lain. Kalau di warung kopi mah gue gak bisa mikir jernih. Soalnya sempit, panas, bau, banyak asap rokok pula,” Mona benar-benar tak berkenan. Ardin menarik napasnya. “Dasar lo ya! Nanti kalau panas tinggal pindah di luar aja, lumayan kan ada angin segar. Terus kalau ada orang yang merokok, gue suruh matiin rokoknya, deh!” “Gak perlu, Kak. Jadi makin sibuk aja kalau gitu, namanya warung kopi gak enak kalau gak ngerokok. Kita cabut aja yuk!” Mona memaksa, tak ingin mengikuti saran Ardin. “Hmm, baiklah kalau begitu,” Ardin pasrah dan kembali menyalan motor. “Daripada gue gagal kencan sama lo, ya kan,” ucap Ardin pelan. “Hah? Apa? Maksudnya gimana, Kak Ardin?” Mona mendengar ucapan samar itu. “Ah enggak, tadi ada orang nyebrang,” balas Ardin. Di perjalanan, Ardin menyuruh Mona memilih kafe yang dikehendakinya. Dari situ, Ardin sudah memiliki firasat tidak enak, ya know lah lagi-lagi soal isi dompetnya. “Mati deh gue kalau Mona berhenti ke kafe yang mehong, dompet gue gak mampu, yang ada gue pura-pura kenyang aja kali ya kalau isi dompet gue gak mencukupi,” batin Ardin yang sudah membuat rencana sebelum Mona benar-benar ingin berhenti di sebuah kafe elit. Ternyata, apa yang kita pikirkan sudah pasti benar. Pikiran Ardin yang menebak Mona bakal berhenti di sebuah kafe mewah, ternyata benar juga. “Apa kan gue bilang,” bisik Ardin dalam hatinya. “Ayok, turun, Kak! Bagus banget kan kafenya,” ucap Mona antusias. “Gue gak pernah ke sini sebelumnya, hanya liat di Ig doang,” akunya. Ardin berat sekali melepaskan helmnya untuk singgah di kafe yang tampaknya mahal menjulang itu. Kafe yang ala-ala pantai dengan nuansa Bali itu, memang tampak sepi. Beberapa orang asing ikut menikmati kafe itu. Teng. Teng. Lonceng yang terpasang di depan pintu kafe, menyambut kedatangan Ardin dan Mona. “Selamat datang, Kak, mau duduk di sofa atau di kursi biasa?” tanya salah satu pelayan yang sudah stand by di depan pintu, lengkap dengan senyumannya. “Di kursi biasa aja, Kak. Kalau bisa yang nuansanya Bali banget, ya,” jawab Mona. Ardin menatap sekeliling ruangan kafe ini, dipenuhi corak-corak Bali dan lukisan pantai persis yang menjadi wisata Bali. Ardin hanya bisa menelan ludah, pengen sekali ke Bali tapi apalah daya dompetnya tidak mendukung. Tidak hanya dompet, bokapnya yang suka traveling pun gak punya duit buat mewujudkan ke Bali. “Di sini, Kak. Dan ini menu kami ya, semuanya ada dan bisa dipesan,” kata pelayan itu menyodorkan satu buku besar di atas meja. JRENG! Menu yang dibuat cukup mewah, dengan hidangan serba daging dan ayam, menambah rasa kemegahan sendiri siapapun yang melihatnya. Ardin yang sudah insecure membaca menu tanpa harga itu, yakin sekali jika satu buah menu bisa dihargai tiga kali lipat dari harga nasi di warteg. “Kak Ardin mau pesan apa? Pesan aja,” kata Mona membuka buku menu di depan Ardin. “Emm. Kayaknya gue minum aja deh, baru aja makan di kantin,” balas Ardin. “Gak usah sungkan, ayo makan aja bareng gue,” Mona merayu. “Enggak, terima kasih Mon,” Ardin menggelengkan kepala. “Kak, pesan orange jus dua, dan nasi goreng Bali seafood dua, ya,” ucap Mona dan mengembalikan lagi buku menu pada pelayan kafe. “Baik, Kak. Ditungu ya, terima kasih,” pelayan resto langsung menuju meja pemasakan. “Kok lo pesan dua, Mon? Gue kan gak makan,” ucap Ardin. “Iya, gak apa-apa Kak, kenapa? Gak ada duit buat bayar?” TENG! Ardin seperti dilempar pertanyaan boomerang. Ardin menyeringai, “Lo kok ngomongnya gitu? Emang tampang gue tampang gak punya duit ya?!” “Ya kali aja gitu. Udah Kak tenang aja, biar gue yang bayarin, kan gue yang ngajak ke sini,” kata Mona. “Serius? Itu makanan mahal loh, bisa-bisanya lo bayarin gue,” timpal Ardin. “Gak apa-apa, semalem gue habis dapat banyak endorse di i********:, jadi ya lumayan lah bisa buat traktirin Kak Ardin,” jelas Mona tersenyum. “Wah keren ya lo udah ada endorse banyak!” Ardin memberikan selamat. Di sisi lain, hatinya pun berkata, “Syukurlah, gue gak keluar duit banyak, hahaha.” “Kak, terima kasih ya sudah mau nganterin gue, udah gitu tempatnya gak jelas lagi,” imbuh Mona. “Iya, namanya juga orang baru, gue harus bantu lo cari tempat yang lo tujulah,” ungkap Ardin. “Baik banget loh Kak Ardin ini, jangan-jangan Kak Ardin suka sama gue, ya?!” lagi-lagi Mona melemparkan pertanyaan boomerang untuk Ardin. Apa yang harus Ardin katakan? Ardin berpikir dalam hati, "Apakah ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan gue ke Mona ya? Gue takutnya Mona bakal menghindar kalau gue terus terang suka sama dia," seketika Ardin maju mundur untuk terus terang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN