Mata-mata

1555 Kata
“Wir, lo gak marah kan sama Ardin?” tanya Jacob ketika melihat sebuah benjolan di belakang kepala Wira. Wira menggeleng, “gue tau Ardin sedang dilanda kecemburuan yang gak bisa mengontrol dirinya sendiri. Emosinya yang mengontrol dirinya,” jawab Wira. “Lo dewasa banget, Wir!” Jacob tersenyum kecil. “Lo gue bawa ke rumah gue, gimana? Biar benjolan di belakang kepala lo segera terobati,” ajak Jacob. Wira menggelengkan kepalanya lagi, “ah gak usah repot-repot! Gue bisa pulang ke rumah gue sendiri kok. Terima kasih atas ajakannya,” Wira menolak halus. “Kalau begitu, mau gue antar pulang? Gue takut nantinya lo oleng di jalan lagi,” Jacob bersiap untuk mengantarkan Wira pulang, dan mengancing naik jaketnya. “Hmm, boleh,” tandas Wira. Jacob menarik kedua tangan Wira, dan dirangkulnya sobat karibnya itu. Jacob dan Wira segera menuju tempat parkir dan mencari motor Jacob. “Semoga kesalah pahaman antara lo dan Ardin cepat selesai ya, bro!” harap Jacob. “Gue harap pun gitu,” balas Wira. “Oh ya, tadi lo ke kampus bawa motor, gak? Motor lo gimana, ditinggal?” “Tinggal aja, paling bayar parkir semalem hanya dua puluh lima rebu,” kata Wira. “Baiklah,” Jacob mempersilakan Wira untuk menaiki motornya. Untuk keluar melewati gerbang kampus, mereka harus melewati terlebih dahulu kantin yang tadi didatangi oleh Wira dan teman-teman kelasnya. Motor Jacob yang memiliki suara khas, membuat Lusi mengarah ke suara motor itu. Lusi melihat wajah Wira yang memelas, dengan kaca helm yang terangkat. “Rib! Rib!” Lusi menyenggol bahu Ribka. “Iya?” sahut Ribka. “Lo lihat Wira sama laki-laki yang tadi di motor besar itu, gak?” tanya Lusi. “Hmm.. yang barusan lewat?” “Iya, benar,” “Aku cuma dengar suara motornya aja sih, gak ngerti siapa yang naikin,” jelas Ribka. “Wira yang barusan sama kita di sini, melas banget loh wajahnya,” kabar Lusi. Ribka tersenyum, “bukannya kata lo, kalau Wira itu selalu memasang wajah yang begitu ya kalau ada lo dan Mona?” “Iya sih, tapi kok di depan teman karibnya kok melas juga? Masa setiap orang yang bertemu dengannya, Wira selalu melas gitu sih,” Lusi berpikir ada yang tidak baik, nih. “Hahaha sejujurnya gue gak paham banget sih,” Ribka tak terlalu menganggap obrolan Lusi penting, lalu melanjutkan makannya. Sementara itu, hati Lusi tergetar dengan prilaku Wira yang membuatnya bertanya tanya. Kenapa Wira tidak pernah menampakan wajah yang sumringah? Entah, apa yang menjadi alasan Lusi menyimpan pertanyaan itu. Baginya, melihat seseorang yang selalu murung itu adalah sebuah masalah. “Ah, kenapa bisa gue mikirin orang yang gak ada hubungannya sama hidup gue, sih?!” batin Lusi yang berusaha menghapuskan sosok “Wira” itu. Mona kembali masuk ke dalam kantin, kali ini bersama perempuan yang cukup hitz di kampus, Vera. Namun, Mona tidak segera menuju meja yang semula, melainkan duduk di meja yang sudah disediakan sebagian anak-anak laki-laki. “Hmm, dasar gat*l ya, bisa bisanya duduk di meja paling depan sana. Mau digodain sama anak laki-laki kali ya,” Ribka terus saja sinis pada Mona. “Sssttt, jangan ngomong gitu, Rib! Mereka kan memang disediakan tempat untuk duduk. Gak ada yang salah kok,” Lusi membela Mona. “Kan dia bisa nolak dan duduk deket kita di sini dan—“ “Ribka, mungkin Vera yang ngajak duduk di situ, kan kita gak tau. Udah lah, berpikir jernih aja sesama teman,” nasihat Lusi yang menciptakan ketenangan. Ribka masih tidak senada dengan prilaku Lusi, yang selalu membela Mona. Bagi Ribka, Mona adalah perempuan sombong yang paling menjengkelkan. “Lo mau ke mana habis ini?” tanya Lusi. Sebelum menjawab, Ribka melirik jam tangannya terlebih dahulu. “Latihan, seperti biasa tiap hari Senin, Rabu, dan Jumat,” jawab Ribka. Lusi mengangguk. “Kirain nganggur, mau gue ajak hang out!” kata Lusi. “Tumben lo ngajak, hahaha,” ledek Ribka. “Soalnya kepala gue lagi puyeng habis ngerjain kuis Dinamika Kimia di kelas tadi,” tutur Ribka. “Oh gitu, jadi pelarian lo kayak stress itu hang out, ya? Tapi maaf ya Lus, gue gak bisa,” Ribka meminta maaf. “Iya gak apa-apa, lain kali aja hang out sama lo. Gue bisa ajak Mona juga kok,” lagi lagi Lusi menyebutkan soal Mona, yang membuat Ribka ah sudah lah. *** Esok harinya, dengan perjanjian yang sudah disepakati saat berada di depan Gedung Aula. Jacob, Wira, dan Ardin bertemu di depan halaman kampus yang biasanya menjadi tongkrongan mahasiswa lainnya. Bahkan, dosen genit pemburu mahasiswa cent*l pun nongkrong di sini. “Kalian bahas masalah ini langsung ke intinya saja, gue gak suka lama lama dan buang waktu,” kata Ardin, meminta percepatan. Ketika mereka bertiga duduk, Wira langsung menimpali, “Oke, tapi sebelumnya gue mohon sekali lagi sama lo, Ardin untuk percaya dengan semua yang gue jelaskan. Gue akan berbicara sebenar mungkin sesuai fakta.” “Okay,” balas Ardin sambil menyilakan kedua tangannya. “Oh ya satu lagi, gue mau ingin pembahasan ini berjalan lancar, tidak ada saling motong memotong perkataan, atau diikuti dengan keegoisan. Tetap santuy dan jangan tegang! Kita ini sahabat!” Jacob pun menekankan kalau persahabatan tidak harus tegang tegang hehe. Jacob meraih tangan Ardin dan Jacob lalu ditimpa pula dengan tangannya. “Sahabat selamanya, jangan sampai kendor!” ucap Jacob sebelum memulai pembahasan pada hari itu. “Oke, kita mulai ya, jujur beberapa hari terakhir ini Mona selalu ngikutin gue. Hal ini berawal waktu kita nongkrong di kantin. Gue yang lagi tersungkur di dekat taman, gara-gara kalian berdua ributin hal…. Entahlah gue juga gak paham. Di situ Mona nolong gue. Awalnya biasa aja sampai akhirnya gue paham kalau lo cemburu. Semenjak di situ, tiap ada gue pun Mona bertingkah aneh di depan gue. Ngerayu lah, dan sebagainya. Sampai-sampai Mona ninggalin nomor teleponnya ke gue, entah untuk apa yang pasti gue udah nge-sms Mona untuk ngejauhin gue,” jelas Wira dengan penuh kejujuran. “Yang lo makan bareng di restoran itu, gimana? Bisa bisanya lo ngajak Mona makan bareng!” balas Ardin, cukup bisa menenangkan dirinya. “Itu gak sengaja, Din. Serius deh, ah. Jadi, gue lagi jalan sendirian arah pulang, tiba-tiba di sebelah kiri jalan ada warung baru buka dan rame banget. Pakai acara beli satu gratis satu lagi. Ya udah, gue langsung mampir. Eh ternyata di sana udah ada Mona sama Ribka. Mona ngajak gue makan bareng supaya gak ngantri terlalu lama. Lagian, lo sendiri ngerti kan gue punya penyakit maag yang makannya gak bisa nunda nunda,” Wira menerangkan kembali. “Jadi intinya selama ini lo gak ada rasa apa apa ke Mona?” Ardin ingin menangkap topiknya. “Ya adalah,” sahut Wira. “Heh maksud lo apa!” Ardin seperti kebakaran jenglot, eh jenggot. “Sabar, Din! Kita dengar penjelasan dari Wira dulu,” kata Jacob dengan mengelus pundak Ardin. “Rasa kesal, benci, gak nyaman, dan hal-hal negatif lainnya maksud gue!” sambung Wira. Ardin menghela napasnya dan cukup lega dengan semua penjelasan dari Wira. “Sekarang sudah paham kan sebenarnya yang terjadi?” tanya Jacob ke Ardin. Ardin pun mengangguk. “Sampai di sini gue lumayan lega dengan penjelasan Wira. Kalau gue dengar dari cerita, memang Mona yang mendekati Wira duluan. Tapi gue tetap mau dengar dari penjelasan Mona. Maaf, gue sangat sensitif dengan persoalan hati,” Ardin yang sudah terlanjur baper sama Mona, malah ingin memperpanjang masalah ini. “Jadi kedepannya lo mau gimana?” tanya Jacob. “Panggilkan Mona juga,” jawab Ardin tegas. Jacob dan Wira saling pandang, “gak cukup ya penjelasan gue?” tanya Wira. “Bukannya gak cukup, belum bisa melegakan pikiran gue secara bebas. Kalau Syahrini bilang I feel free, gue enggak,” sahut Ardin. Dua temannya itu, Jacob dan Wira menghela. “Ya gak apa-apa kalau itu mau lo. Kebetulan Mona lagi ada di kantin sana. Kita temuin bareng aja,” usul Wira dan semuanya langsung menyetujui. Menuju ke arah kantin, mereka menyadari kalau sebagian mahasiswa sudah pulang ke tempat tinggalnya masing masing. Syukurnya, pintu kantin masih terbuka setengah dan ketika ditengok dengan seksama, masih ada dua orang pemesan di sana. “Eh, bukannya itu Mona dan Vera, ya?” tanya Ardin. “Iya, benar. Itu Mona, dan yang di sampingnya gue gak kenal,” jawab Wira. “Bentar deh, mereka kok kayak bisik-bisik seperti membicarakan sesuatu hal yang penting, ya,” Ardin menghentikan langkah ketiga laki laki itu. “Cepat ke sana!” Ardin menunjuk pintu samping kantin yang tertutup rapat. Di dekat sana, Ardin mengintip lubang kecil yang mengarah langsung pada meja Mona dan Vera. Lucunya lagi, bolongan itu dibuat oleh Geng uchul yang hobinya suka ngintipin perempuan. “Lo ngapain sih?” tanya Jacob yang benar benar tidak paham apa yang Ardin lakukan. “Ssssttt, kalian berdua jangan bersuara sedikit pun ya. Gue mau nguping semua pembicaraan Vera dan Mona. Sebentar lagi, gue akan dapat titik terang yang akan menjawab semua kecurigaan gue,” kata Ardin yang tetap fokus mengintip dan menguping lewat lobangan illegal tadi. Wira dan Jacob hanya bisa mengikuti apa yang Ardin minta. Meskipun di sana dipenuhi dengan semut angkrang dan nyamuk nakal, mereka bertiga mencoba bertahan demi mendapatkan sebuah petunjuk tentang Mona. “Eh, Jac, gini amat ya kepoin Mona,” bisik Wira pada Jacob yang berusaha menyingkirkan semut angkrang di kakinya. Jacob pun terkekeh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN