Segerombolan mahasiswa tiba-tiba saja saling sikut-sikutan dan berlarian menuju lapangan kampus yang ditengahnya sudah terpasang banner, “Wajah Indonesia” dekorasi ala-ala Hawai dibaluti dengan pohon kelapa imitasi, ikut memeriahkan dekorasi pada pagi hari itu. Musik yang mengalun kencang, terdengar hingga sisi-sisi ruang kelas. Padahal, masih banyak kelas yang belum mengakhiri jam pelajaran. Alhasil, banyak mahasiswa yang penasaran dengan deru melodi itu, tanpa mempedulikan dosen mencuap-cuap di depan kelas.
Semakin menit berlalu, musik itu semakin berganti-ganti genre dan sorak-sorai berbanding lurus. “Berisik banget, sih, gak konsen!” gumam Lusi yang tetap memperhatikan dosen berbicara. Namun tidak dengan teman-teman di kelasnya yang pikirannya sudah pecah.
Dosen yang sudah mengantongi umur tujuh puluh tahunan itu, wajar saja memberhentikan jam kelas. Selain suaranya tak sanggup terdengar di dalam kelas, ia juga terganggu oleh musik yang mengusik gendang telinganya. “Ah, baiklah. Karena suasana sekarang ini tidak kondusif, dan saya tidak mau kalian tidak paham, saya tunda saja mata kuliah hari ini. Ketua kelas, silakan cari kelas dan jam kosong setelah ini. Terima kasih,” rambut yang sudah memutih, sembari tangan yang terus bergetar, sang dosen dengan ikhlas menghentikan kelas.
“Ckck! Ini kampus gimana sih, mau mencerdaskan mahasiswanya atau sengaja jadi sponsor biar terkenal?” gerutu Lusi yang tidak bisa mencerna mata kuliah Biokimia pada pagi ini.
Dosen keluar tertatih-tatih menyusuri koridor yang sudah penuh gemuruh mahasiswa yang menyambut acara di kampus. Tampak lapangan kampus sudah tidak bisa dimasuki orang satu pun, saking sempitnya dibanjiri mahasiswa “kepo”.
“Lo gak ikutan nonton?” Ribka menyenggol Lusi yang sibuk merapikan bukunya.
“Ribka? Kok lo bisa tau kelas gue, sih?” seperti biasa, tanya Lusi dengan lemparan senyum.
“Ya tau dong, karena gue punya CCTV di setiap kelas!” jawab Ribka meyakinkan.
“Serius?” Lusi membesarkan kedua matanya.
Ribka terkekeh, “lo percaya?”
Lusi hanya mengangguk dengan innocent-nya. Ribka tertawa sekali lagi, “bagaimana bisa lo percaya dengan perkataan gue, gue cuma mahasiswi kecil kelas jelata, bayar uang semesteran aja pakai beasiswa keluarga miskin, masa bisa gue beli CCTV untuk dipasang di semua kelas?”
Lusi berdecak, “ya kali aja lo salah satu komplotan yang dipercaya kampus untuk memiliki itu.”
“Ah, gak masuk akal lah, Lus! Ayo ikut gue, lo gak kepo sama acara di tengah lapangan?” ajak Ribka.
Lusi yang memang suka ikut-ikutan doang, ngekorin Ribka untuk sampai di tempat yang Ribka inginkan.
“Gila, rame banget!” Lusi mencoba menerobos sekumpulan mahasiswa yang memadat, badannya yang lebih besar dari Ribka, sulit untuk meliuk-liuk seperti tubuh Ribka. Padahal, Ribka mudah sekali tuh nerobos semua orang di depannya.
“Tungguin gue dong, Rib!” teriak Lusi yang pakai acara sepatunya lepas di tengah-tengah.
Ribka terus menggenggam dan sesekali menarik tangan Lusi ketika Lusi kesusahan lewat. Ribka tetap membantu saja, tidak peduli dengan sindiran mahasiswa lain.
“Santai dong lewatnya!”
“Eh, jangan nyerobot, dong!”
“Kalau mau paling depan, datangnya pagi-pagi lah! Bikin susah aja lo!”
Ribka memang sosok pemberani dan masa bodoh, menganggap telinganya tertinggal di dalam tasnya. Jadi, Ribka tidak mendengar sindiran yang ditujukan padanya. Malahan, Ribka menginjak-injak setiap kaki yang berusaha menghalanginya. “Upssss sorry, gak lihat!” seperti itu alasan Ribka.
Don't stop, keep it movin'
Put your drinks up
Pick your body up and drop it on the floor
Let the rhythm change your world on the floor
You know we're running s**t tonight on the floor
Brazil, Morocco, London to Ibiza
Straight to LA, New York, Vegas to Africa
Musik yang jedag-jedug itu mewarnai seluruh lapangan kampus. Papan lebar yang bertuliskan “Wajah Indonesia” itu terambung-ambung ketika dihembuskan angin. Kini Lusi dan Ribka berada di barisan paling depan, mereka menengok ke kiri dan kanannya.
“Lo paham gak Lus, kalau ternyata kita salah barisan?” Ribka berbisik pada Lusi pasca menelik beberapa kali ke sekelilingnya.
Lusi menyeritkan dahinya, rupanya ia memiliki pikiran yang sama seperti Ribka. “Maksud lo, berada di tengah-tengah para laki-laki ini, ya?” balas Lusi dan membuat Ribka menganggukan kepalanya.
“Eh tapi kita lihat dulu aja, kali aja acaranya memang bagus dan diperuntukan untuk perempuan juga,” Lusi adalah orang yang selalu berpikir positif. Jadi, sekali-kali tidak mengapa kalau Ribka mengikuti perkataannya.
Ribka dan Lusi sepakat untuk menikmati tontonan pada pagi ini. Biarpun senggolan kiri kanan dari para laki-laki di sebelah mereka, Lusi dan Ribka terus melindungi dirinya masing-masing. Kedua tangan mereka dilipatkan di depan d**a, dan menginjak siapapun laki-laki yang menyenggolnya baik sengaja maupun tidak sengaja. Tak lupa, Ribka juga berpesan, “Berikan pandangan menyeramkan jika ada seseorang yang mengancammu, lotot saja sepuasmu!”
Musik kian dikeraskan, sorak-sorai dari para lelaki di samping Ribka dan Lusi tampak menikmati. Layar yang terpasang di depan sana menampilkan sebuah stopwatch yang mundur. Lima, empat, tiga, dua, satu……
Lima belas perempuan cantik dan elegan keluar dari bilik berwarna merah yang berada di belakang panggung. Kaki jenjang mereka berjalan di atas karpet merah yang sudah dipenuhi dekorasi dedaunan segar. Lenggok tubuh mereka saat berjalan, membuat penonton spontan menepukan tangannya. Teriakan nama-nama perempuan itu pun keluar dari mulut penonton yang sedari tadi menunggu (mungkin).
Vera…
Jhena…
Alisa…
Paula..
Destira…
Bla bla bla hingga akhirnya…..
Seorang perempuan dengan tinggi seratus tujuh puluh lima centimeter mengenakan gaun putih dengan aksesoris lengkap serba putih. Mahkotanya yang berwarna perak, menampilkan cahaya pekat tepat ketika matahari memantulkan sinarnya. Perempuan yang paling tinggi dari beberapa perempuan sebelumnya itu, melambaikan tangan kanannya dengan lentik, dan tangan kirinya memegang pinggang. Senyuman lebar yang telah dihiasi lipstik merah muda, menambah keanggunannya ketika berlenggak-lenggok di atas panggung.
Mona!! Mona!! Mona!!
Seperti mengenal perempuan super tinggi itu, Lusi menurunkan sedikit kacamatanya yang berembun karena napasnya sendiri. “Mon… mon… Monalisa?” ucap Lusi sambil mengingat kembali perempuan yang kemarin diajaknya makan siang gratisan.
Lusi yakin sekali kalau ucapannya tak salah tangkap, Lusi terikut senyum ketika Mona melebarkan kembali senyumannya. Mata Mona melirik satu per satu penonton yang menyebutkan namanya. Udah kayak artis aja disebut gitu. Tanpa sadar, Lusi menyebut pula nama temannya itu dengan melintangkan tangannya ke atas.
“Hey Mona!! Mona!! Lo cantik banget pakai gaun putih itu!” teriak Lusi kencang seperti ingin didengar langsung oleh Mona.
Ribka memandang Lusi di sebelahnya yang tidak seperti biasanya. Gadis kutu buku pendiam itu malah ikutan bersorak di acara seperti ini. “Gue pikir lo senang acara pengajian, ternyata event beginian lo malah kayak abang jago!” batin Ribka menggelengkan kepalanya melihat Lusi yang berteriak dan terloncat-loncat.
Namun, sesuatu hal menjanggal pada Ribka. Perempuan yang paling menjadi sorotan semua penonton, membuat dirinya teringat sosok perempuan centil yang marah-marah padanya karena meletakan brosur di motornya. “Ah iya! Itu kan perempuan yang sok kecantikan, ternyata model toh. Pantes saja gayanya selangit, terus banyak penggemarnya kayak gini malah bikin tuh perempuan shomboooong!” gerutu Ribka dalam hati.
Tidak seperti penonton di barisan depan lainnya yang suka cita menyambut lima belas perempuan cantik, Ribka berdiri lempeng saja tidak berekspresi. Tangannya tetap melipat, hanya matanya saja yang melirik satu per satu perempuan yang berjalan. Matanya sinis menelik perempuan yang berdiri, terutama yang bernama Monalisa itu. Ribka yang tidak tertarik dengan acara seperti ini, merasa menyesal sudah menerobos paksa hingga keteknya basah.
Sampailah pada acara perkenalan model. Nama Mona masih melambung-lambung di atas langit dengan suara para penggemarnya. “Hello people!” Mona menyapa dengan lambaikan tangan kanannya. “Perkenalkan, nama saya Monalisa, mahasiswa jurusan Ekonomi, dan masih semester satu! Senang bertemu dengan kalian,” kata Mona.
Perkenalan singkat itu mengundang kericuhan. Beberapa laki-laki di barisan tengah memaksa untuk menempati barisan paling depan. Banyak penonton berdesakan karena tidak ingin terlindungi saat menonton ke-lima belas model itu. Huuuffffttt, hhaaaaah, huftttt napas yang terengah dari sebagian penonton, membuat Ribka khawatir ada hal yang tidak diinginkan.
“Suasana gak menyakinkan, lo masih tetap tinggal di sini?!” tanya Ribka pada Lusi yang masih asyik saja lompat-lompat kayak tupai.
“Iya, gue di sini aja, gue mau mendukung Mona! Mona kan teman gue!” balasan Lusi itu membuat Ribka semakin malas.
“Heh! Coba lihat di belakang sana, banyak yang berdesakan dan membuat onar, lo nanti kena dampaknya loh! Ayok ikut gue!” Ribka menarik tangan Lusi untuk kabur dari barisan. Nahas, Lusi menepis dan tetap fokus menyemangati si cantik Mona.
Ribka pun sengaja meninggalkan Lusi yang dirasa keras kepala itu. Layaknya di awal, Ribka kembali menerobos barisan yang ada di belakang. Di tengah-tengah barisan, sudah banyak penonton yang terduduk lemas namun tim medis susah untuk menjangkau lantaran penonton makin memadat. Satu orang laki-laki yang sedang jongkok sambil memegangi kepala dan hidungnya, mengundang Ribka untuk datang. Tanpa basa basi, laki-laki itu ditarik oleh Ribka dan menyelusuri barisan untuk sampai di posko medis.
Brak! “Tim medis tolong bantu dia!” Ribka merebahkan laki-laki itu di tandu berwarna biru yang dikhususkan untuk laki-laki. Ribka langsung teriak dan menggedor-gedorkan meja untuk memberi isyarat pada tim medis ada seseorang yang harus dibantu.
“Hufffttttt, hufttt, hmmmm, aaaaaa, huuuu,” laki-laki itu menutup kedua matanya dan menarik napasnya keras-keras.
“Bantuin dong cepet! Jangan enak-enakan makan nasi padang lo ya!” Ribka menunjuk salah satu tim medis yang mementingkan nasi padangnya dibandingkan laki-laki yang sedang kesulitan bernapas.
Gertakan Ribka membuat semua tim medis auto sigap. Maklum, Ribka si perempuan yang memiliki paras menakutkan, dianggap raja hutan oleh teman-teman sepermainannya. Ribka mengamati tim medis melakukan tindakan pada laki-laki itu yang masih berusaha bernapas. “Tahan ya tahan!”
“Tolong ambilkan inhaler!” ucap seorang perempuan yang memakai jas dokter. Sebuah alat berwarna biru muda diberikan pada laki-laki itu. Alat mirip kaleng mini aerosol yang sudah berisi obat dan diatur tekanannya ini, disemprotkan ke dalam mulut. Semprotan itu menciptakan kabut atau kepulan yang langsung masuk ke paru-paru seseorang yang memakainya.
“Biarkan obatnya bekerja dulu,” perempuan berjas itu lalu mundur diikuti oleh beberapa rekannya yang tadi membantu.
Ribka mendekati laki-laki yang tadi dibantunya. Lama kelamaan, laki-laki itu mulai bernapas normal dan matanya terbuka lebar. Ribka memandang ke bawah, ke laki-laki itu dengan tatapan biasa aja.
“Lo bengek?” tanya Ribka pada laki-laki itu. Laki-laki itu rupanya tersendak hingga membuatnya terbatuk.
“Kenapa batuk? Kan gue nanya, lo tadi bengek?” Ribka mengulangi pertanyaannya.
Laki-laki itu berusaha tenang, dan merasakan terlebih dahulu obat yang diberikan tim medis. Ketika pernapasannya sudah membaik, laki-laki itu langsung duduk dan melepaskan inhaler secara pelan. “Terima kasih ya sudah tolongin gue di tengah kerumunan penonton, gue kira gue bakal mati keinjek,” ucapan pertama yang ditorehkan adalah permintaan maaf.
“Oh iya sama-sama,” balas Ribka singkat.
“Iya, gue bengek,” jawab laki-laki itu sambil menunduk. Ribka terkekeh. “Nama lo siapa?”
“Jacob,” balasnya.
“Jacob, laki-laki berhidung mancung dan berahang tegas sedang penasaran memasuki barisan penonton di lapangan kampus. Dengan keberaniannya yang maksimal, ia sengaja berdiri di tengah-tengah penonton. Tanpa sadar, kekuatannya diambil oleh negara api hingga akhirnya ia bengek! Hahahaha,” terang Ribka kemudian melanjutkan tawanya yang belum selesai.
Jacob menelan ludahnya, bisa-bisanya ada perempuan yang menjelek-jelekannya. Udah gitu tepat di depan wajah tampannya lagi. Berapa level tuh malunya Jacob? Kedua pipi Jacob memerah sembari melihat tawa dari Ribka yang mengakibatkan jerawat di pipinya memerah jua. Intinya, pipi mereka sama-sama memerah namun dengan perasaan yang beda.
“Bagaimana bisa perempuan yang gue diidolakan sejak kegiatan ospek itu bisa menghina gue? Padahal baru pertama kali bertemu loh, biasanya perempuan lain pada kesemsem sama gue, lah dia kok membuat hati gue berkecambuk malu, sih?” batin Jacob yang memutar balik pikirannya, tepatkah hati Ribka dikejar untuk didapatkan cintanya?