Di Rumah Wira

1214 Kata
Mamaknya Wira yang wajahnya memang sekelas emak-emak sosialita, memang pantas mendapatkan barang yang bergelimang harga itu. Jacob dan Ardin yang berada di satu tempat sama Mamaknya Wira, jadi insecure yak an. Jacob yang duitnya pas-pasan hanya mengandalkan give away yang ada di Instagramnya. Sedangnya Ardin? Duh gak usah ditanya lagi, kencan sama perempuan aja pakai ngutang segala. Hadeh. “Dua tahun yang lalu, Ayahnya Wira selalu beliin Tante tas-tas branded gitu. Kalau dijual tuh ya, bisa dapat satu milyar loh, keren kan?” Mamaknya Wira melanjutkan kisahnya tentang suaminya, yang menyayangi dirinya dengan bentuk pemberian sebuah kado. Mamaknya Wira terkekeh, “Ada ada saja ya kalau laki-laki sudah jatuh cinta, semua jiwa raga beserta uangnya diberikan untuk isterinya, hehehe.” Ardin dan Jacob ngangguk-ngangguk aja sambil tersenyum mendengarnya. Mau dibalas bagaimana? Ardin dan Jacob tidak punya sesuatu yang dibanggakan, apalagi soal kado. Jadi, Ardin dan Jacob fokus ngelap aja lah, kali aja dikasih duit gara-gara capek ngelapin emas batangan segin beratnya. Klutak, klutuk, klutak, klutuk, dih jelek banget bunyi sepatu Wira yang sedang menuruni anak tangga. “Ardin, Jacob, kalian berdua kok gak naik ke lantai tiga, sih? Gue nungguin, anjim!” keluh Wira dengan wajahnya yang sayu. Capek nunggu? Iya, kayak nunggu doi ngasih nomor teleponnya ke Wira, eak siapa tuh? El yu es i. Ardin dan Jacob melihat Wira nyengir, “Lo gak liat kita berdua lagi ngapain?” tanya Ardin yang menaikan batang emas beserta kain putih yang sudah bercorak cokelat karena debu. Wira menepok jidatnya. “Mamak! Kenapa Mamak nyuruh Ardin dan Jacob untuk bersihin itu? Kan ada Bik Ayu tuh di dapur lagi nganggur sudah selesai masak. Aturan Mamak nyuruh Bik Ayu aja, ya kali teman-teman Wira disuruh ngelapin begituan,” Wira protes. “Wira Sayang, kebetulan Nak Ardin dan Nak Jacob juga nggak keberatan kok. Kali aja saat mereka bersihin emas batangan Mamak, tahun depan bisa beli sendiri pakai uang mereka, ya nggak?” balas Mamaknya Wira yang santuy. “Ehehehehe,” Jacob dan Ardin nyengir serentak. “Mak, Mamak itu mau minta bantuan atau pamer sih sama Jacob dan Ardin? Gak baik tau nggak. Mesti aja setiap ada tamu yang datang ke rumah sini, disuruh bersihin emas batangan punya Mamak. Maksudnya apa? Padahal kemarin waktu Dik Risa ke sini, Mamak juga minta bersihin, kan?” tegas Wira yang sedikit menyentil kelakuan Mamaknya. Mamaknya Wira segera menarik emas batangan yang masih terpegang oleh Ardin dan Jacob. Begitu juga dengan kain putih yang sudah kotor, segera ditarik oleh Mamaknya Wira. Jacob dan Ardin membiarkannya, sama-sama saling pandang ke arah Wira yang masih berdiri di anak tangga paling bawah. Wira menaikan dagunya, dan melirik ke anak tangga. “Din, Jac, ayo naik aja,” pinta Wira. Mamaknya Wira dengan wajah cemberutnya, tetap mengelap emas-emas kesayangannya hingga bersih bersinar seperti sunlight. Wira tak mengindahkannya, dan menyuruh kedua koleganya segera naik. Dengan berat hati meninggalkan kerjaan yang belum usai, Ardin dan Jacob izin dulu ke Mamaknya Wira. “Te, kami berdua izin naik, ya,” ucap Ardin. “Iya, Te, saya juga ya,” timpal Jacob. Tanpa menunggu balasan dari Mamaknya Wira, Jacob dan Ardin mempercepat langkahnya menuju anak tangga yang diinstruksikan Wira. “Eh gue gak enak banget loh sama Nyokap lo!” bisik Jacob si anak yang “gak enakan” sama orang lain. “Iya, Wir, gue juga. Nyokap lo baik banget sama kita berdua tadi, ceritain tentang Bokap lo juga,” Ardin menambahkan. “Ssssstttt, cepetan, naik dulu, kita ngobrol di atas aja,” Wira menepuk b****g milik Ardin dan Jacob untuk mengode menaiki anak tangga. “Huh, dasar anak tunggal ya. Bisa-bisanya malu-maluin saya di depan teman-temannya. Maksud saya itu kan bukan pamer, tapi memberi motivasi mereka untuk membeli barang seperti ini juga,” Mamaknya Wira menggosok-gosok emas itu, dan beberapa sudah mengkilap seperti keinginannya. “Bik Ayu! Bi… Bi Ayu!” Karena kecapean gosok-gosok terus, Mamaknya Wira memanggil Bik Ayu. “Iya, Nyonya?” Bik Ayu si perempuan paruh baya itu mendatangi Mamaknya Wira di ruang tamu. Tanpa disuruh, Bik Ayu sudah memiliki firasat, “Nyonya mau minta bantuan saya untuk mengelap emasnya? Baik, Nyonya,” daripada Mamaknya Wira makin kesel, Bik Ayu sudah paham sekali apa maksud Mamaknya Wira memanggilnya. Pokoknya, kalau sudah ada emas batangan berjejer di atas meja tamu, ada lap putih, dan ada pembersih, sudah pasti tujuannya adalah…… jadikan itu emas berkilau dengan cara digosok! *** “Gimana, Din, lo berhasil?” tanya Wira ketika tiba di balkon lantai paling atas. “Hmm, sepertinya berhasil, sih,” jawab Ardin yang masih setengah ragu. “Kok sepertinya, emang di lapangan tadi gimana cara lo nasehatin Mona?” Wira membuka obrolan, sambil mengambilkan dua botol minuman teh bermerk nasional dari showcase dua pintu itu. “Ya kayak yang gue rencanain sama Jacob,” ucap Ardin dengan jawaban yang kurang dimata Wira. “Ardin sudah ngejelasin ke Mona kalau cara Vera itu salah sampai minta dana ke Ayah lo. Dan, diakhir gitu si Ardin bakal ngasih tau ke Mona perusahaan mana yang bisa diminta dana untuk sponsor permodelan,” jelas Jacob sembari mengambil satu botol teh yang terpampang di atas meja. “Iya, benar, dan gue punya utang ke Mona untuk ngasih tau semua sponsor itu,” tambah Ardin. “Hmm, sounds good! Lumayan berjalan lancar kalau gitu, ya. Gue juga sebenarnya gak yakin banget Ayah gue bakal ngasih dana ke Mona. Secara kan, Ayah gue gak bergitu minat mendukung model. Dan, firasat gue benar, Mona malah diusir secara halus,” jelas Wira. “Iya, gue udah dengar percakapannya kok,” Ardin mengeluarkan satu buah alat rekaman berbentuk pulpen dari kantong celananya, dan diletakan di atas meja. “Sebenarnya agak kasihan sih, tapi dianya gak mau dengar nasihat gue sih,” lanjut Ardin dan meneguk teh dari botol yang sudah dibukanya. Wira berdecak, “terima kasih ya Din, atas bantuan lo yang mau ngarahin Mona ke jalan yang benar. Gue takut aja kalau Ayah gue tertarik modalin Mona dalam hal model—“ “Iya, sekarang mah musimnya sugar baby dan sugar daddy, ya Wir? Di i********: tuh banyak banget yang begitu. Iming-iming meniti karir pakai duit sugar daddy, eh ternyata nyantol juga masuk ke hati,” nyeletuk Jacob. Ardin langsung melempar pembuka tutup botol pada Jacob. “Omongan lo jangan nyiyir ya. Mentang-mentang lo aktif di i********: cuma ngarepin give away, ya jangan dicocoklogikan sama kasus Mona, dong!” Ardin tidak terima. “Sudah, Din, Jac, santai, santai. Gak usah permasalahin sugar baby dan sugar daddy itu, lah. Ayah gue bucin parah kok sama Mamak gue. Gak mungkin lah tertarik sama anak baru kemarin sore. Secara Mamak gue jago banget di… uh ah uh ah,” Wira membuyarkan suasana tegang itu. Tiga laki-laki yang sudah lama puber ini semakin paham apa yang diucapkan sama Wira. Mereka saling menatap nakal, dan semringah. “Parah lo ya, pasti ini soal ranjang! Ahahaha,” tebak Ardin. Wira tak kuat menahan tawa, hingga menutup mulutnya agar tidak terlalu keras tertawa. “Wira… Wira… jangan-jangan tiap malam lo selalu……..” “Nguping!” tebak Ardin lagi. “Bukan nguping, bro! Tapi suaranya itu loh, menembus dinding-dinding kamar gue tiap jam dua belas malam. Padahal kan jam-jam segitu, otak gue lancar-lancarnya ngerjain tugas akhir, hahahaha,” kali ini Wira benar-benar terbahak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN