Proposal Time

1772 Kata
Ardin duduk di atas sofa kosong yang sudah disediakan untuknya. Ia menyeritkan dahinya dan mulai merangkai kata dalam pikirannya, untuk ditujukan pada Jacob dan Wira. “Gue mulai ngelihat dari sikap Mona, bahwa dia termasuk orang yang gampang dihasut, tanpa memikirkan resiko kedepannya,” Ardin membuka obrolan. “Maksud lo gimana?” timpal Jacob. “Ternyata Mona gak nyadar kalau dia sedang diperalat Vera untuk mendekati Wira. Dan, ternyata Mona mengamini segala perbuatan Vera,” jelas Ardin sambil menepok jidatnya. “Tapi, lo udah berusaha untuk ngeyakinin Mona kalau itu salah, kan?” kali ini giliran Wira yang bertanya. Ardin mengangguk, “tapi, Mona gak mau dengerin penjelasan gue sama sekali. Tapi gue berusaha memberi tahunya, ketika Mona dan Vera berada di basecamp model kampus,” jawab Ardin. “Kayaknya lo butuh ketemu lagi sama Mona deh!” saran Jacob. “Itu hal yang pengen gue lakuin, ketemu Mona lagi tetapi dengan syarat Vera tidak ada di situ,” balas Ardin. “Gue gak nyangka deh, apa benar Vera yang menjadi dalang di balik ini semua? Hmm, dia memanfaatkan jabatannya sebagai senior model, untuk memerintahkan Mona,” tutur Jacob. “Iya, gue juga gak nyangka, kok. Padahal Vera yang selama ini gue kenal di BEM pun, adalah anak yang ceria, dan baik baik aja kok,” timpal Ardin. “Justru yang baik baik itu biasanya tidak baik baik saja, lo paham kan maksud gue? Ya, ada sesuatu yang dia sembunyikan,” sahut Wira. Rupanya Ardin telah mengetahui kondisi yang menimpa Mona saat ini. Ardin paham kalau Mona rentan sekali untuk dihasut. Maka dari itu, ia ingin memberi penjelasan lebih pada Mona tentang kelicikan Vera. “Wir, Jac, kalian berdua mau kan bantuin gue, lagi?” tanya Ardin menatap kedua kawannya itu. “Jelas gue siap, kalau itu untuk kebaikan,” ungkap Jacob dengan spontan. “Gue udah pasti siap sedia kala, Din! Karena di sini yang akan dirugikan adalah gue dan keluarga gue,” kata Wira senada dengan Jacob. “Oke, terima kasih ya. Intinya, kalian berdua harus bikin gue dan Mona bertemu. Hal yang gue takutkan adalah Mona udah gak mau ngobrol apalagi ngomong sama gue,” Ardin pun khawatir. Jacob pun mendekati Ardin dan mengelus pundaknya, “tenang, Din! Gue akan berusaha membantu lo, begitu juga dengan Wira. Kita bertiga kan sahabat, udah paham apa yang harus kita lakuin untuk kebaikan sahabat,” Jacob menyeringai, dan Ardin membalas itu. “Kalian berdua memang teman gue yang paling triple baik deh!” ucap Ardin. Wira dan Jacob langsung memeluk Ardin. “Selama kita bisa bantu, kenapa tidak?” timpal Wira. *** Mona mengitari sekitar Jalan Kepanjen Raya sambil membawa kartu nama yang diberikan oleh Vera tempo hari. Membaca dengan seksama nama yang terpampang dalam kartu nama itu, Widodo Anwar yang mana sebagai Ayah dari Wira. Satu per satu Gedung yang menjulang tinggi, diperhatikan nama perusahaannya, Mona mencari perusahaan bernama PT. Oil and Gas, persis yang tertera dalam kartu nama pula. “Yang mana sih, kantornya?” ucap Mona sembari menelik satu per satu perusahaan perusahaan gas yang berjejer. Akhirnya, Mona sampai juga di depan perusahaan yang bertuliskan PT. Oil and Gas Contractor Service. Dari beberapa perusahaan yang mejeng, hanya perusahaan itulah yang namanya paling mirip. “Nah, mungkin ini kantornya, kebetulan mirip banget gambarnya dengan yang ada di foto,” ujar Mona semriwing tempat tujuannya ketemu. Satu orang satpam berjaga di depan kantor, segera menghentikan Mona yang memakai celana jeans. “Maaf, Mbak, kalau boleh tau apa keperluannya, ya Mbak?” tanya satpam. “Iya, Pak, saya mau bertemu dengan Pak Widodo Anwar, apa ada di kantor, ya?” jawab Mona. Satpam tersebut menyeritkan dahinya, menatap Mona dari ujung kaki sampai kepala. Menurut satpam, selama bekerja di sini semua tamu Pak Widodo selalu berpakaian formal batik, kemeja berkerah, atau jas. Kenapa sekarang perempuan muda ingin mendatangi Pak Widodo? “Pak, kok diam saja sih? Saya ingin bertemu Pak Widodo Anwar. Benar kan ini kantor beliau?” Mona membuyarkan lamunan satpam. “Oh iya, benar, Mbak. Kalau boleh tau lagi, keperluannya apa ya Mbak ingin bertemu Pak Widodo?” rupanya satpam itu masih kepo. “Ya mau bertemu saja, mau menyerahkan sebuah proposal ke Pak Widodo,” tutur Mona. Satpam pun mengerutkan dahinya (lagi). Lagi lagi, kali ini seseorang yang menyerahkan proposal ke Pak Widodo adalah anak perempuan yang masih muda. Biasanya, ibu ibu atau bapak bapak yang memiliki umur tiga puluh tahunan ke atas. Tapi kok? Ah sudahlah, memang pikiran si satpam aja yang terlalu kepo. “Proposal apa ya Mbak kalau boleh tau?” Ayo pak satpam, tanya terus sampai ke akarnya. Mona mulai jengkel dari tadi tidak bergerak gerak dan hanya berhenti di depan pintu kantor. Lagi pula, sinar matahari sangat nyentrik menyinari rambut Mona hingga menjalar ke wajahnya yang masih on make up. Mona segera mengambil selembar tissue dari dalam tasnya, dan mengelapnya perlahan. “Pak, maaf sebelumnya. Sebenarnya saya apa bisa bertemu Pak Widodo ya pada siang hari ini?” Mona mengambil inti tujuannya. “Hmmm,” satpam mulai berpikir. “Pak Beni, berikan saja perempuan ini akses untuk masuk dan bertemu Ayah,” suara laki-laki terdengar akrab sekali di telinga Mona. Laki-laki itu menegaskan untuk satpam agar Mona disegerakan masuk. “Kak Wira?” Mona terkejut Wira sudah ada di belakangnya. “Mona? Lo mau ketemu sama Ayah gue, ya?” tanya Wira dengan nada lembut. Mona mengangguk cepat, “Iya, tapi dari tadi susah banget gak bisa masuk masuk, hehe,” lapor Mona. “Kebetulan gue juga mau ketemu sama Ayah siang ini, lo barengan masuk sama gue aja yuk,” ajak Wira yang membuat Mona sumringah. “Pak, saya dan Mona izin masuk ya,” kata Wira. “Oh, silakan Den Wira, dan Nona Mona, silakan masuk. Ruangan Pak Widodo Anwar ada di lantai paling atas, ya,” sahut satpam sambil membukakan pintu menggunakan tap card-nya. “Terima kasih ya, Pak,” Ucap Wira sambil meliukan senyumannya, Mona pun mengikuti langkah Wira dari belakang. Mona menatap jejak Wira, kemana pun Wira melangkah, diikuti jua. Sebagai anak pemilik perusahaan minyak dan gas bumi, Wira diberi sebuah sapaan yang lembut sekali dari para pegawai Ayahnya. “Selamat siang, Den Wira,” “Selamat datang, Den Wira,” “Halo Den Wira, lama gak kelihatan nih. Datang-datang udah bawa calon aja hehe,” “Den Wira, calonnya cantik sekali, mau dikenalin sama Ayah, ya?” Beberapa sapaan yang dilontarkan para pegawai itu, hanya dibalas senyuman manis dari Wira. Berada bersama Wira, Mona dikira calon yang akan dikenalkan ke Pak Widodo. Kalau Mona digituin, pasti udah mencak mencak, beda dengan Wira yang selalu tenang dan memiliki kewibawaan yang tinggi. “Kak Wira,” bisik Mona. “Iya?” “Kak Wira sebelumnya gak pernah bawa perempuan ke kantor, ya?” “Enggak, emang kenapa?” “Gak apa-apa, kayaknya semua pegawai di sini pada kaget ya ngelihat Kak Wira jalan sama aku,” “Kenapa memangnya? Lo risih?” tanya Wira. Mona menelan ludahnya dan hanya menyeringai. “Ayo, ruangan Ayah gue ada di lantai paling atas. Kita naik lift dulu,” ajak Wira dan Mona mengikutinya tanpa protes. Berada di dalam lift bersama Wira, membuat Mona deg-degan. Bagaimana tidak, bersama orang yang “akan diminta untuk memodalinya” membuat Mona tak bisa berkata apa apa. Mona hanya mematung di belakang Wira, menunggu ke tempat tujuannya. Wira melirik Mona dari cermin kecil yang berada di depannya, Mona terlihat diam saja dan kaku. “Biasanya ini perempuan kalau di kampus berisik banget, kenapa sekarang kayak kambing ciut?” rasa rasanya Wira geli dalam batinnya. Cling.. cling.. cling.. tibalah lift yang ditumpangi Wira dan Mona di bagian lantai paling atas. Pintu lift terbuka, dan di luar situ sudah ada beberapa pegawai yang mengantre lift-nya. Seperti biasa ketika bertemu dengan Wira, semua pegawai memancarkan senyum mereka masing-masing, selembut mungkin. Dan, Wira pun hanya tersenyum dan mengangguk membalas senyuman itu. “Ruangan Ayah gue ada di depan sana, yang tulisan pintunya “Manager” lo bisa masuk,” kata Wira sambil menunjuk ke pintu yang ada di depan mereka. “Oh, oke, Kak Wira gak ikutan masuk?” Mona tak kuasa untuk masuk sendirian. Wira menggeleng, “gue gak punya kepentingan hari ini sama Ayah. Kan lo yang mau bertemu, ya kan?” Mona berasa tegang. “Gue kira Kak Wira mau jadi jubir gitu, ah tapi….” Ucap Mona dengan nada pelan. Wira terkekeh, “lo pasti bisa sendiri kok, ya udah masuk aja gue tunggu di lobi atas,” kata Wira dan langsung melangkahkan kakinya ke lobi pojok yang dipenuhi sofa berwarna cream. Mona menarik napasnya, memegang erat proposal yang sudah ia siapkan dari rumah. Mona menatap pintu yang akan ia masuki, “semoga keberuntungan berpihak padaku,” ujarnya dan mantap memasuki ruangan Pak Widodo Anwar itu. Tok.. tok.. tok.. Mona mengetuk pintu sebanyak tiga kali. “Siapa?” ujar suara laki-laki bernada berat dari dalam ruangan. “Saya Mona, Pak,” balas Mona. “Silakan masuk,” pinta Pak Widodo. Klek. Mona masuk dan menutup kembali pintu itu rapat rapat seperti sedia kala. Tampak seorang laki-laki berbadan besar, duduk di atas kursi putarnya dan dihadapkan banyak dokumen di depannya. Tampaknya itu adalah Pak Widodo, yang masih asik melihat dan mencatat sesuatu dari dokumen yang ia baca. “Permisi, Pak Widodo Anwar,” kata Mona dengan ramah. Pak Widodo melihat paras Mona, seseorang yang belum pernah ia lihat sekali pun. “Maaf, siapa ya?” balas Pak Widodo. “Saya Monalisa, Pak. Mahasiswa Ekonomi di Universitas Merem Melek,” Mona memperkenalkan dirinya sebentar. Pak Widodo menyeritkan dahinya, baru kali ini ada mahasiswa yang masuk sendirian ke dalam ruangannya. “Mau magang, ya? Maaf di kantor saya tidak terima mahasiswa magang,” Pak Widodo pun tidak tepat membaca pikiran Mona. “Bu.. bukan, Pak. Saya ke sini mau minta—” “Minta dana untuk sponsor acara? Kamu salah masuk ruangan, harusnya tinggalkan saja proposal di satpam, nanti saya baca,” lagi lagi Pak Widodo salah membaca. “Sudah banyak sekali mahasiswa yang minta dana sponsor ke sini, pasti itu kan maksud kamu kemari?” Mona menelan ludahnya, melihat gelagat Pak Widodo yang super sibuk dan tidak memerdulikan dirinya di sana, Mona makin pesimis. “Duh, kira kira berhasil gak ya?” Mona harap cemas. “Silakan ke bagian satpam saja letakan proposalnya di situ, gak perlu naik ke atas segala,” ujar Pak Widodo dan kembali mengurus dokumen yang ada di depannya. Mona berbicara pada hatinya sendiri, “Apakah ini pertanda bahwa kedatangan gue kemari adalah sia-sia? Buktinya, gue diusir secara halus gini sama Pak Widodo,” kaki Mona bergetar, rasanya ingin sekali ia keluar dari ruangan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN