(2)

1904 Kata
“Perkenalkan Bu, ini namanya Kak Wira Brata Umur Silasa. Kak Wira ini mau membantu saya untuk mencari dana acara pencak silat,” kata Lusi memperkenalkan Wira. Wira mangut-mangut saja memperlihatkan senyumnya yang dirasa manis baginya. “Oh begitu, maaf ya saya kira asisten pribadinya Lusi, hehe,” balas Bu Andya. Walaupun di dalam hati Wira timbul rasa geregetan, Wira masih bisa melengkungkan senyumnya demi kelancaran dana untuk acara Lusi. “Heheheh,” Wira hanya nyengir saja. “Bagaimana Mbak Lusi, berapa dana yang harus saya bantu untuk kelancaran acara Mbak Lusi di komunitas pencak silat?” tanya Bu Andya. “Ini proposalnya, Bu. Bisa Bu Andya baca-baca dulu dan terserah Ibu mau membantu dana berapa,” Lusi menyodorkan proposal yang sudah terjilid rapi ke hadapan Bu Andya. Slek. Slek. Slek. Lembar demi lembar dibaca dan dibolak-balik oleh Bu Andya dengan baik. Tampak gelang emas yang berjejer di kedua tangannya, berbunyi cik cik cik sembari Bu Andya menggoyangkan kertas proposal itu. “Total dana dari acara Mbak Lusi ada seratus lima puluh enam juta, ya.” Ucap Bu Andya setelah rampung membaca bagian pendataan anggaran. “Iya, Bu, benar,” balas Lusi sambil mengangguk dan tersenyum. “Kalau begitu saya nyumpang seratus lima puluh juta saja, ya. Maaf enam jutanya saya gak bisa, hehe,” ucap Bu Andya dan menutup kembali proposal acara itu. “HAH?!” Wira tersentak. Lusi cepat-cepat mencubit paha Wira. “Serius, Bu? Terima kasih banyak ya Bu Andya, semoga Bu Andya dan keluarga selalu dilimpahkan rezeki dan kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” Lusi kegirangan. “Iya, sama-sama. Semoga acaranya berjalan dengan lancar, ya, Mbak Lusi. Oh ya, saya kirim uangnya di rekening Mbak Lusi seperti biasa, kan?” tanya Bu Andya mengeluarkan ponselnya. Ternyata bukan sembarang ponsel, itu adalah ponsel yang silikonnya dilapisi emas 24 karat sebesar 10 gram (kayaknya). “Iya, Bu, nomor rekening yang biasa itu, masih punya kan, Bu?” jawab Lusi. “Masih dong, saya itu selalu siap menyimpan nomor-nomor mahasiswi yang saya kenal, hehehe. Ini, sudah ketemu,” Bu Andya memperlihatkan layar ponselnya ke Lusi. Dan Lusi pun mengangguk. “Baik kalau begitu, nanti saya hubungi Mbak Lusi kalau uangnya sudah mendarat di rekening,” kata Bu Andya. “Baik Bu, terima kasih sekali lagi ya, Bu. Saya dan Wira mohon pamit dulu, maaf mengganggu waktu istirahat Bu Andya,” Lusi dan Wira beranjak dari duduknya. “Silakan, silakan,” Bu Andya meraih tangan Lusi. Ketika Bu Andya berjabat tangan dengan Wira ia bertanya, “Kamu anaknya Pak Anwar, bukan?” katanya sambil menatap mata Wira. “Iya, benar, Bu,” balas Wira singkat. “Oh ternyata kamu toh,” Bu Andya angguk-angguk. Wira menyeritkan dahinya, “Emangnya kenapa, Bu? Apa yang terjadi sama saya?” Wira bingung. “Ah tidak mengapa. Senang bertemu denganmu, Wira. Saya sudah menduga sejak Lusi mengenalkan nama kamu. Nama yang tidak asing di telinga saya,” ungkap Bu Andya. Hal itu semakin membingungkan diri Wira, “Maksud Ibu bagaimana, ya? Apa kita sebelumnya pernah berkenalan?” “Oh, tidak, tidak, tidak, tidak pernah, kok,” Bu Andya mengangguk dan melepaskan cengkraman tangannya dari Wira. “Ya, silakan Wira dan Mbak Lusi, boleh pulang,” Bu Andya mempersilakan. Wira dan Lusi akhirnya kembali menaiki motor bebek dan putar balik untuk menuju rumah. Sepanjang perjalanan, Wira dan Lusi tidak saling bersapa satu sama lain. Lusi yang memandang pemandangan kiri dan kanannya yang dipenuhi sawah belukar, sementara Wira sibuk konsenrasi menyetir motor Lusi agar tidak terjadi kesalahan arah. Namun, hati Wira dan Lusi rupanya menyimpan pertanyaan yang sama soal Bu Andya. “Lo merasa ada yang aneh, gak?” tanya Wira dan Lusi bersamaan. Mereka berdua jadi terbelalak. “Kok sama?” ucap mereka berdua lagi. “Gue duluan ya,” Lusi menepuk pundak Wira. “Gue merasa ada yang aneh setelah gue bawa lo ke rumah Bu Andya,” kata Lusi. “Sama, gue juga merasa ada yang aneh, kok. Tapi, gue berusaha dengar versi lo dulu deh. Coba jelaskan, kenapa lo merasa ada sesuatu yang aneh?” Wira sedikit memelankan motornya, agar bisa jelas mendengar pernyataan dari Lusi. “Biasanya gue dan teman-teman komunitas kalau minta dana ke Bu Andya, paling besar dikasih satu juta doang. Bahkan kadang-kadang gak dikasih sama sekali. Tapi, kenapa ketika gue ngajak lo, Bu Andya jor-joran ngasih dana seratus lima puluh juta ya?” jelas Lusi sambil mengingat kembali raut wajah Bu Andya ketika antusiasnya memberi dana yang sangat besar itu. “Oh ya?” Wira ikut tersentak. “Emang anggota pencak silat sudah berapa kali minta dana ke Bu Andya?” lanjut Wira. “Sering banget, kayaknya tiap tahun ada lima kali kita ke rumahnya hanya untuk minta dana,” terang Lusi. Wira mengangguk, “Kalau gue liat-liat sih Bu Andya orangnya glamor, ya? Buktinya itu gelang emas dipake dari pergelangan tangan sampai siku,” ucapnya. Iya, kalau soal itu sih gue gak kaget. Malah biasanya itu kalung ada sepuluh kali bertengger di lehernya,” jelas Lusi. “Oh my god!” Wira kaget lagi. “Emangnya Bu Andya kerja apaan sih sebenarnya?” Wira penasaran. “Entah, gue pun sebenarnya baru kenal Bu Andya enam bulan yang lalu. Kalau dengar-dengar dari teman pencak silat, sih, dia punya perusahaan properti di kota,” jawab Lusi seadanya. “Perusahaan properti? Di kota? Nama perusahaannya apaan?” Wira makin penasaran. “Gak paham, ya, gue gak mencoba cari tau lebih karena gak penting menurut gue, hahaha,” kata Lusi yang membuat Wira tak bersemangat. “Harusnya dengan keanehan yang lo rasain, soal dana yang Bu Andya bantu, lo bisa selidikin, sih. Jangan-jangan itu uang gak bener lagi!” Wira mencoba mendramatisirkan suasana. “Hussss! Ngomong apaan sih, Wir!” Lusi menepuk punggung Wira lumayan keras. “Hahaha, bercanda. Tapi, apa lo gak kepo soal itu?” Wira tak gentar menggiring Lusi. “Lumayan, sih,” jawab Lusi tanpa pikir panjang. “Nah, belum lagi kenehan yang satunya, Bu Andya baru aja ngasih dana sebanyak itu ketika lo ngajak gue, kan?” tanya Wira. “Iya,” jawab Lusi. “Apalagi ketika percakapan terakhir lo dan Bu Andya, dia seperti gak asing kan dengan lo?” tegas Lusi. “Benar, gue juga heran dengan itu. Bisa-bisanya Bu Andya bikin pernyataan yang membuat gue kebingungan,” tegas Wira jua. “Sebenarnya gue penasaran sih sama siapa sebenarnya Bu Andya, dan apa pekerjaannya,” tambah Wira. Lusi terdiam. “Kalau lo gak penasaran, biar gue aja yang cari tau sendiri,” ucap Wira yang melihat tidak ada jawaban dari Lusi. “Eh, eh, eh, gue penasaran juga kok sebenarnya. Lo jangan langsung menyimpulkan gitu, ah,” Lusi manyun. Wira tersenyum tipis dari balik kaca helmnya, “Jadi, lo berniat kepoin soal Bu Andya, nih?” tanya Wira. “Iya, tapi bareng lo ya!” spontan Lusi. Wira tersenyum lagi, ia akan bersama Lusi lagi di lain kesempatan. “Oke, deal!” balas Wira. “Tapi, gak untuk dalam waktu dekat ini ya, lo ngerti sendiri kalau gue lagi sibuk sama kegiatan komunitas pencak silat gue di kampus,” ungkap Lusi. “Iya, gak masalah. Gue juga maklumin lo kok. Eh by the way habis belok kanan, belok mana lagi, ya? Gue lupa sumpah,” tanya Wira tiba-tiba. “Eh, gue juga lupa, hahaha, saking jauhnya sih perjalanan kita,” jawab Lusi yang bingung juga. “Lah? Kayaknya gue salah deh ngajak lo…. Hahaha,” celetuk Wira. “Ah, lo mah! Bentar, gue pakai aplikasi pencari jejak dulu,” kata Lusi dan langsung membuka resleting tasnya untuk mengambil ponsel. “Sip, lo bisa baca map, kan?” Wira memastikan. “Lo nanya apa ngejek?” imbuh Lusi. “Nanya, Lus, hahaha. Biasanya kan perempuan suka salah tuh kalau baca map,” kekeh Wira. “Oh ya? Perempuan yang mana? Emangnya Kak Wira punya perempuan yang lain?” tanya Lusi. “Punya,” jawab Wira singkat. “Oh, gitu?” respon Lusi yang memelankan nadanya. “Tapi itu dulu, sekarang mah gak ada. I feel free,” jelas Wira. Wira sengaja ingin melihat respon Lusi. Lusi mengukir senyum kecilnya dari balik kaca helmnya yang transparan. “Kenapa lo senyum gitu, Lus?” tanya Wira. Lusi lalu tersentak dan, “Eng.. eng.. enggak, Wir. Tadi gue cuma fokus aja perhatiin maps, takutnya salah-salah baca,” jawab Lusi yang langsung scroll ponselnya dengan matanya yang menatap tajam ke layar ponsel. “Oh gitu, ya udah,” Wira pura-pura percaya saja. “Jalannya jangan lupa kasih tau gue, ya,” terang Wira. “Oke, ini masih lurus aja sih nanti sekitar dua kilo lagi ada perempatan belok kanan,” info Lusi. “Baik, baik, baik,” balas Wira layaknya Ipin, kartun kesukaannya saat masih kecil. *** “Terima kasih ya, Mon, sudah mau traktirin gue makanan dan minuman enak kayak gini,” Ardin menyeringai, menumpukan piring-piring kotor miliknya dan Mona. “Iya, Kak. Kan udah gue bilang, ini traktirnya pakai uang iklan kok. Dan iklan itu ada kan baru-baru aja, sejak gue kepilih jadi model Butik Nyonya Endah,” kabar Mona dengan bibirnya yang tersenyum menyala. “Ternyata media sosial lo ngasilin duit juga, ya, hehehe,” imbuh Ardin. “Iya, Kak. Gue emang mau begitu sih dari dulu, media sosial juga tempat cari cuan,” tambah Mona. “Kak, apa kita bisa mulai investigasi kecil-kecilannya? Kebetulan gue udah dapat kontak model yang pernah diterima di Majalah Wajah Indonesia,” kabar Mona memperlihatkan layar ponselnya ke Ardin, “Ini namanya Rosalinda.” “Bisa, bisa. Lo kepoin aja gimana kelanjutan dari Majalah Wajah Indonesia di kota ini. Dan, secara gak langsung nanti lo kasih potret kalau kantor majalah tersebut telah disita,” ujar Ardin. “Oke, oke, gue laksanakan, Kak,” kata Mona. Mona mengetikan sesuatu di ponselnya. Dan, tak lama ia menghentikan aktivitasnya, “Kak, kenapa kita gak nanya ke Vera aja, ya?” lempar Mona. “Lo yakin?” Ardin menegaskan sambil melirik Mona. “Emangnya kenapa, ya?” Mona heran. “Lo ngerti sendiri kan sikapnya Vera gimana, tiba-tiba suka panas aja, gitu. Kalau gue sih kurang sepakat ya mau bahas permasalahan ini sama Vera,” jelas Ardin. Ibarat sudah mengenali Ardin lama dan tidak bisa mengelak, Mona auto setuju dengan pernyataan Ardin, “Iya juga ya,” Mona mangut-mangut. “Ya udah deh gak jadi,” terangnya dan melanjutkan kembali mengutak-atik layar ponselnya. Ardin terkekeh pelan, “Kalo lo mau coba, ya gak masalah sih, terserah lo,” Ardin memberi kesempatan. “Gak usah deh, nanti yang ada malah ribut dah gue sama Vera,” Mona tak sepakat. Ardin mengangguk, dalam hatinya berkata, “Kayaknya Mona mudah banget terprovokasi. Apa karena gue udah ahli atau memang dia tipe perempuan yang labil, ya?” pikir Ardin. “Nih, sudah gue hubungi Rosa. Namun, belum ada balasan,” ungkap Mona dan meletakan ponselnya di atas meja. “Setelah ada balesan, apa yang harus gue lakukan?” tanya Mona sambil menopang wajahnya. “Kepoin aja dasar-dasar kegiatan majalah akhir-akhir ini. Sok asyik aja, sampai akhirnya lo arahkan informasi soal keberadaan kantor majalah sebenarnya,” saran Ardin. Mona mendengarkan arahan Ardin dengan baik, ia kedua matanya pekat menatap kedua mata Ardin yang juga fokus padanya. Namun, ada gejolak yang berbeda dirasakan Mona pada saat itu. Kata demi kata yang dikeluarkan dari mulut Ardin, berubah jadi aura tamvan yang meningkat untuk Ardin, dari kacamata Mona sendiri. Ardin yang jago ngomong sejak menjadi mahasiwa baru, rupanya menjadi sebuah keuntungan bagi dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN