Dari sejak pagi tadi hingga jam istirahat sekarang, Cylvi tak melihat ada sosok Gaara di sekitarnyadan bahkan cowok itu tak mengirim satu pesan pun padanya. Ia tak mengerti apa masalah yang Gaara alami namun, mempertimbangkan yang sedang terjadi cewek itu akhirnya memutuskan mengirimi Gaara sebuah pesan.
From : CVM Winata
Gak masuk ya lo?
Kok gue gak liat lo dari tadi.
Cylvi memang membolos pelajaran pertama hingga pelajaran ketiga hari ini. Gadis itu memilih bersantai di belakang sekolah bersama Mita dan Anna, mengabaikan beberapa guru yang berpatroli mencari mereka.
TING!
Cylvi dengan cepat membuka layar ponselnya berharap Gaara yang membalas pesannya. Namun, matanya berubah menjadi sayu ketika mendapati nama Andreaslah yang tertera di sana. Mau tidak mau, Cylvi pun membuka pesan tersebut.
From : Andreas
Lo lagi di mana, Cyl? Mau makan bareng nggak nanti istirahat?
Cylvi mendesah pelan. Ia tak menyadari jika suara desahan kecewanya berhasil menarik perhatian Mita dan Anna yang sedang sibuk memelototi olshop di ponsel Mita.
"Lo kenapa sih, Cyl? Tumben banget muka lo mirip sama baju emak gue yang udah gak kepake seratus tahun?" tanya Mita penasaran.
"Anjir! Umur emak lo emang sekarang berapaan sampe ada baju yang gak kepake seratus tahun?" sahut Anna dengan binar takjub di matanya.
Mita mengangkat bahunya singkat. "Gak tau. Gak pernah nanya gue."
"Anjir! Itu emak lo sendiri lo gak tau?" tukas Anna semakin takjub. “Durhaka banget lo jadi anak. Dikutuk jadi sapi perah baru tau lo.”
Mita memutar matanya malas. "So, Cyl? Jadi ada apaan? Tumben banget lo loyo gini," Ia dan Anna kembali fokus pada sosok Cylvi yang terdiam.
"Gak ada apa-apa," jawab Cylvi sesantai mungkin. “Emangnya gue kenapa?”
Anna mengernyit heran. "Yakin lo? Gak lagi ketuker kan otak lo hari ini? Soalnya lo aneh banget hari ini," tanyanya setengah main-main.
Cylvi menoleh ke arah Anna dengan tatapan bingung. Ia tidak mengerti dengan ucapan Anna. “Maksud lo apa?”
"Soalnya lo diem banget dari tadi. Kirain otak lo sama otak-otak jualannya pak Somad tertuker tadi pagi," cerocos Anna cengengesan.
Mita menyengir kecil. "Ya kali kalo otaknya Cylvi bisa dimakan."
"Palingan otaknya udah kabur duluan sebelum dimakan," balas Anna seenaknya.
"Elah. Otak Cylvi mah udah pro banget. Gak kayak otak lo, Na," cibir Mita yang membuat Anna melotot marah padanya.
"Otak gue kenapa?" ujar Anna menaikkan nada bicaranya.
"Otak lo otak udang!” cetus Mita lalu menghindari cubitan-cubitan dari Anna.
Cylvi mengembus pelan napasnya, ia tidak memedulikan kedua temannya yang sibuk berdebat hal yang sama sekali tidak penting.
TING!
Tangannya bergerak cepat saat ponselnya kembali berbunyi.
From : DU**IN D**UT
Beli 6 Gratis 6 Donut dari DU**IN DO**UT. Tukarkan SMS ini segera. Hanya berlaku untuk hari ini. Selama persediaan masih ada. Promo *651#
Gaara menduduki dirinya di kursi panjang atap sekolahnya. Ia mengabaikan layar ponselnya yang berkedap-kedip berulang kali. Anak-anak Tinders pasti sudah mengetahui keberadaannya di atap sekolah, jadi amat sangat tidak mungkin salah satu mereka sibuk menghubunginya sekarang. Di dalam kepalanya, ia berusaha mengingat apa yang menjadi alasannya berada di sini. Cylvi.
Kemarin tanpa disadari oleh Andreas dan Cylvi, Gaara mencuri dengar perbincangan keduanya. Gaara sadar, jika kemunculannya saat itu pasti akan mengubah bahasan mereka dan ia tidak akan bisa mendapat informasi apa pun. Tapi, cowok itu merasa sedikit banyak menyesal setelah mendengarnya.
Kenapa Gaara merasa Cylvi kesulitan menjawab pertanyaan Andreas? Jika memang Cylvi masih memiliki perasaan pada Andreas dan menganggapnya kebetulan lewat, Gaara bisa apa? Perlukah cowok itu memastikannya langsung dengan Cylvi?
"Gaar!" teriak Gilang dengan nyaring, di belakangnya terdapat anak-anak Tinders yang lain.
"Elah, oppa bolos kok gak ajak-ajak," ucap Riko yang duduk di sebelah Gaara.
"Oppa-oppa apa, Rik? Opahin hidup aku, Mas," seru Gilang menyengir lebar.
"Anjir lo, Lang. Oppaling gue sayang sama lo." Riko tak memedulikan tatapan jijik teman-temannya.
"Baper banget sih kamu, Dek," kata Gilang tertawa mentah.
"Sakit jiwa lo berdua! Kapan mau warasnya sih?" komentar Zilo yang disetujui Jacky dan Johan.
"Nggak. Kita sakit hati doang karena kamu giniin kita, Mas," ucap Gilang mendramatis.
"Gak usah ditanggepin, Lo. Biasa si Riko sama Gilang kalo lagi kehabisan obat mah jadi gini," kata Jacky tak peduli pelototan Riko dan Gilang.
"Gaar, lo ngapain di sini sendiri-sendiri?" tanya Johan yang dari tadi memerhatikan Gaara.
Gaara memang pendiam, tapi cowok itu biasanya tak menjauh dari Tinders kecuali kalau sudah ada masalah.
"Duduk," jawab Gaara cuek.
"Elah, Gaar. Kita juga gak liat lo lagi ngesot kali," sembur Gilang gemas.
"Hm."
"Tumben lo gak bareng Cylvi?" tanya Jacky menengok sana sini mencari sosok Cylvi.
"Iya. Biasa nempel kayak truk gandengan," timpal Zilo santai.
"Itu dia masalah gue," jawab Gaara tiba-tiba. Ia merasa ada baiknya bercerita dengan teman-temannya.
"Maksud lo?" Kali ini Riko berubah serius.
"Andreas, anak baru di kelas kita itu masa lalunya Cylvi."
"Hah? Lo cerita inti banget sampe gue gak bisa nangkap maksud lo sama sekali," gerutu Gilang dongkol.
Gaara menghela napasnya sejenak. "Kemaren Andreas ngirim pesan ke Cylvi, ngajak ketemuan. Lalu—"
"Lalu apa, Gaar?" potong Riko.
"Elah, t*i unta. Gaara lagi cerita, lo main potong-potong aja kayak kue nikahan mantan," semprot Gilang lagi-lagi dibuat jengkel.
Gilang dan Riko memang paling cerewet, malah Zilo pernah berkata kedua cowok itu lebih bawel dari cewek tulen.
"Gue sama Cylvi ketemuan sama Andreas di cafe. Tapi karna kebetulan si Andreas belom sampe, gue ke toilet pas udah di cafe. Pas balik udah ada Andreas."
"Lalu?" Kali ini suara Gilang.
"Gue denger cerita masa lalu mereka. Dulu Cylvi dan mungkin sekarang dia masih suka sama Andreas. Dan—"
Gaara berhenti berbicara.
"Dan apa? Elah. Penasaran nih gue," ujar Riko. “Gak usah digantung-gantung kenapa?” geramnya.
"Andreas nembak Cylvi kemaren."
Anggota Tinders terdiam.
"Dia gak tau lo pacaran sama Cylvi?" Johan lah yang pertama kali kembali membuka suara.
"Tau. Dia anggep gue cuma kebetulan lewat di hidup Cylvi."
"Tapi emang sih. Kan kalian jadiannya gara-gara ada Saras yang kemaren-kemaren," ucap Gilang mengingat-ingat awal mula cylvi dan Gaara disangka pacaran.
"Gue rasa sih nggak, Gaar. Kalo cuma kebetulan doang, rasanya agak janggal." Jacky mengutarakan pendapatnya.
"Apalagi lo sama Cylvi sering bareng," timpal Zilo.
"Gue rasa Cylvi masih suka sama Andreas. Menurut kalian, gue mesti gimana?" tanya Gaara pada teman-temannya.
"Lo harus mastiinnya sendiri, Gaar!" ucap Johan memberi saran.
Gaara termangu. “Kalo misal Cylvi beneran masih suka sama Andreas gimana?”
“Ya... lo harus lepasin Cylvi. Lo gak mungkin bisa nahan dia tetep di samping lo, sementara dia gak suka sama lo,” sahut Jacky dengan pikiran logisnya. “Lagian lo berdua yang bakal disakiti kalo lo maksa dia di sisi lo.”
Gilang dan Riko mengangguk setuju. “Lagi pula belum tentu juga si Cylvi masih suka sama Andreas, Gaar.”
“Lo mesti pastiin dulu sebelum lo ambil keputusan apa pun itu.”