Malam, Kiara.
Sudah tidur?
Kiara baru selesai mandi lalu mendapati handphonenya ada chat masuk dari nomor baru, senyum Kiara mengembang tatkala mengetahui siapa si pengiriman pesan itu.
Ya. Rama, Lelaki itu sempat meminta nomor nya saat hendak pulang dari restoran.
Kiara pun segera membalasnya dengan sumringah.
Belum, maaf tadi habis mandi jadi nggak tau ada chat.
begitu Kiara membalasnya, hingga mereka akhirnya larut dalam obrolan melalui w******p. Tak terasa jam menunjukan pukul dua pagi. Kiara yang sadar besok harus kerja, segera mengakhiri percakapannya.
udah pagi, aku tidur ya besok takut kesiangan dimarahin Pak Ari .
Santai aja, Ari tuh temen kecilnya Mas kok, nanti Mas yang bicara sama dia ya.
big no, jangan libatin urusan priabadi sama kerjaan. Pak Ari udah baik banget sama aku.
baik lah, sampai ketemu besok siang.
Kiara tak membalas pesan dari Rama lagi, takut malah tidak tidur hingga subuh jika terus di lanjutkan.
Kiara beranjak mematikan lampu kamar, bersiap tidur dengan perasaan yang amat bahagia....
*****
"Kia, gimana semalem langsung pulang?
"Goda Risa, tahu jika semalam ia di antar oleh Rama.
"Ya iya lah Mbak, emang mau kemana lagi?" ujar Kia, dengan wajah cemberutnya.
"Ya kirain mampir kemana dulu gitu hahaha.Ups!" Risa terbahak-bahak, melihat ekspresi Kiara, lalu menutup mulutnya sendiri dengan sebelah telapak tangan.
"Bay The Way, lusa kamu pindah ke lt 7 ya?" tanya Risa, pada Kiara yang sudah mulai menyalakan laptopnya dan hanya di angguki oleh Kiara.
"Hmm, sendiri lagi gue, males ah ama si Zahra suka rempong," selorohnya.
"Eh, eh, pagi-pagi udah ada yang ghibahin gue," sahut Zahra, tak sengaja mendengar namanya jadi perbincangan dua perempuan unik itu, saat berjalan menuju meja kerjanya.
Kenapa Zahra menyebut mereka unik? satu, Risa adalah perempuan jutek cules yang Zahra kenal. Sedangkan Kia adalah perempuan yang kayanya anti banget nongkrong, dan nge-date sama laki-laki. Mereka berdua sama-sama unik bagi Zahra, dan harus di lestarikan keberadaanya.
"Apaan sih, Ra, G-R banget. Aku sama Mbak Risa lagi ngomongin kepindahan gue ke lantai 7," sergah Kia, pada Zahra yang mulai berkicau.
"Waa-Whatt...? loh kok pindah?" Zahra terkejut mendengar kalau Kia akan pindah ke lt 7 yang artinya kan jauh darinya.
"Nah kan gini nih, berita penting lo nggak update giliran berita nggak mutu update mulu," crocos Risa, yang kini mulai banyak bersuara meski hanya dengan mereka bertiga saja.
"Ya deh, iya, apa perlu gue sama Risa ngomong ke Pak Ari, biar lo nggak di pindahin?" tawar Zahra, antusias yang di angguki oleh Risa juga.
"Udah, udah, nggak perlu. Memang dari awal tempat aku disana. Jangan minta hal kaya gitu ke Pak Ari, kesannya nggak profesional, ini kan urusan kerjaan." Kia akhirnya berkomentar, setelah mendengarkan perdebatan antara Zahra dan Risa.
Ting...
Sebuah chat mengalihkan perhatian Kiara dari tumpukan berkas yang sedari tadi ia cek.
Ting....
hingga sering kedua barulah Kia membuka room chat nya
Senyumnya mengembang, kalian pasti bisa menebak dari mana asal chat itu?
Rama, tentu saja. Siapa lagi yang membuat Kia tersenyum sumringah akhir-akhir ini, kalau bukan Rama.
Lagi ngapain?
Jangan lupa bentar lagi aku jemput kamu.
Kia memandang jam di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukan pukul 11:43, sebentar lagi jam makan siang, semalam Rama mengajaknya untuk makan siang bersama.
Maaf tadi lagi chek berkas.
iya sebentar lagi aku siap-siap, aku nunggu di halte bus aja ya.
Ting...
Apa gak kejauhan? gpp aku jemput di depan kantor aja. Biar nanti aku yang ngomong ke Ari sama Ricco kalo mereka tau
Ya udah terserah kamu aja lah.
Ting.. .
Marah,?
Gak, kalo udh deket chat, nanti aku turun.
Kiara pun segera membereskan semua peralatan kerjannya.
"Kia, makan apa nih, hari ini?" tanya Risa, yang bersiap juga untuk break.
"Maaf Mbak, hari ini aku ada keperluan ke-"
"Wah, wah. Kayanya ada yang udah punya gebetan nih, Ris," potong Zahra, yang entah dari kapan sudah bersandar di meja Risa.
"Wah, gue ketinggalan berita nih," sambung Risa, kini mereka berdua menatap Kia dengan tatapan penuh tanya.
"Engga, Ra. Mbak. Aku beneran ada perlu." Kia coba berkilah.
"Perlu apa?" tanya Risa.
"Anu, itu, kan aku ada mau beli sesuatu buat bahan tugas kuliah aku, kalo sore takutnya tutup." akhirnya Kia mendapat jawaban yang tepat.
"Oke, kali ini kamu lolos," ujar Risa, membuat Kia meringis mendengarnya, lalu segera bangkit dan meninggalkan kedua seniornya itu sebelum mereka semakin kepo.
Aku di depan gerbang Kantor. . .
Setelah menerima pesan Rama, gadis itu segera turun menuju halte bus seperti yang ia katakan pada Rama.
Kia menengok kanan dan kirinya, khawatir jika ada temannya melihat ia masuk ke dalam mobil Rama.
Tanpa Kia sadari, ada sepasang mata yang memperhatikanya dari jauh.
Kiara, aku nggak akan biarkan kamu begitu saja. Aku sudah menunggu lama mencari keberadaan mu yang ternyata ada di dekat ku. ucap seseorang dari balik pintu mobilnya sembari memperhatikan gadis yang sudah lama dicarinya menaiki mobil milik seseorang yang sangat ia kenal.