Cerita cowok

1101 Kata
Memasuki gerbang besar sekolah nya Nina banyak mendapat kan sapaan dari anak-anak ber-seragam sama dengan nya, bahkan guru maupun staff biasa ia sapa ramah, siapa sih yang tak kenal Nina? Si cewek cantik dengan wajah ayu mirip artis sinetron, bahkan sikap baik nya menjadikan nya sosok idola populer di kalangan sekolah, tak hanya cantik dirinya juga pintar dalam bidang pembelajaran, astaga apa nya yang kurang dari perempuan se-komplit dia. Seseorang lelaki tinggi berkulit sawo matang nampak membuat nya lebih maskulin di tunjang wajah nya Memang di atas standar, dia datang tiba-tiba merangkul pundak si primadona sekolah membuat banyak pria-pria yang mengidamkan Nina hanya bisa mengigit jari melihat adegan tersebut Siapa lagi kalau bukan Fahri, salah satu pria yang beruntung mendapatkan Nina, bahkan dia bisa melingkarkan lengan kekar nya ke pundak si gadis, pamer. Bangga memiliki pacar Seperti nya. Nina deg-degan, di Landa suka karena tengah kasmaran, bagaimana tidak? Lelaki di sebelah nya adalah seorang pemain basket, kulit Tan eksotis nya cukup menegaskan seberapa dia maskulin. Tiba-tiba ingatan dengan perkataan sang ayah sebelum nya mengena di otak nya, melihat tangan Fahri menjuntai Nina segera mengambil tangan nya agar segera menyingkir dari nya, " kenapa" ujar Fahri tak paham. " Tidak apa-apa, hanya banyak orang, risih" tolak nya halus, tanpa di sadari oleh nya Fahri mengigit bibir nya menahan emosi, mereka sudah berpacaran hampir sebulan dan merangkul nya saja masih di tolak. Nina berpamitan dengan si pacar karena kelas mereka berbeda Fahri bukan anak IPA seperti nya maka mereka berpisah di ujung lorong. Dalam setiap langkah nya Nina merutuki kebodohan diri nya, ada rasa kecewa dia tak bisa memenuhi keinginan Fahri yang terlihat tulus dengan nya dan sekedar merangkul saja ia bahkan menolah permintaan sekecil itu Dilain pihak otak nya terus menerus mengingat kan nya tentang wejangan sang ayah belum lama ini ia terima, rasa nya seperti membohongi diri sendiri bagai mana tidak, dia tak mengaku bila sudah memiliki pacar namun di sisi lain ia juga tak bisa menceritakan itu, otak nya terasa ngebul. Apa aku egois, jika aku bohong soal Fahri. Batin Nina bingung Nina masuk ke dalam kelas yang masih di huni sedikit manusia karena jam masih menunjukkan 6.15pagi banyak anak-anak yang memilih masuk saat mepet jam 7 lebih. Nina menaruh tas selempang nya di atas meja secara kasar, otak nya sedang kusut kini butuh istirahat, maka ia letakan kepala cantik nya di atas tas. Di tempat Fahri dan teman se-geng nya tengah berkumpul di basecamp tempat mereka sering nongkrong, dimana lagi bocah SMA gabut melarikan diri mereka tempat aman untuk membolos adalah gudang terbengkalai dekat toilet perempuan yang cukup jarang di datangi oleh perempuan kalau tidak Terpaksa karena tempat nya kumuh dan cukup terpencil dari kelas " Wihhh.... Sekarang rajin sekali bro masuk pagi" celuk anak lelaki dengan rambut jambul nya Langsung di timpali oleh yang lainnya, "ya jelas, kan pacar nya idola sekolah" ledek teman lainnya kini berkulit gelap " Ya..elah, Lo berdua jangan rese dulu deh. Sini bagi rokok nya sat, Bim" todong Fahri menyodorkan tanggan nya agar di beri sebatang rokok gratis oleh dua teman nya, satria dan Bima. Satria terkekeh melihat tampang frustasi teman se geng nya, dia meraba kantung seragam serta kantung celana nya, mencari-cari benda di maksud. " Nihh, kelamaan si b*****t satu ini, Ngomong aja lagi kere" Bima yang berkulit lebih gelap dari Fahri menyodorkan sekotak rokok merek surya berserta korek nya dari dalam tas gendong nya. Satria tersenyum sok polos, paham saja kode nya pas tanggal tua, ya mau bagaimana lagi tak seharusnya juga mereka merokok saat masih berstatus pelajar, mana ada duit buat beli rokok yang tiap hari cari candu mereka sejak kelas satu SMA, niat nya sih coba-coba biar terlihat laki. Satria ikut menyambar rokok milik Bima, nyata nya rokok di bawa oleh Bima adalah rokok keretek begitu orang tua menyebut nya, rokok yang bahan kertas beserta tembakau nya Beli secara grosir yang akan di racik sendiri oleh pembuat nya, di linting se-kedemikian rupa. " Huk..hukk.. apa-apaan ini gila.. kuat banget bakau nya" Fahri terbatuk-batuk setelah menyesep sekali asap bakau tersebut, ini di level berbeda dari nya terlalu kuat masuk paru-parunya Berbeda dari Fahri baru pertama kali nyebat dengan rokok buatan ke-dua teman b******k nya malah asik menikmati rokok rumahan tersebut " Gilak.. aku ketipu, kirain beneran merek rokok ini, nyatanya bukan" Fahri mengusap sudut bibir nya tadi Muncar air liur, telunjuk dan jari tengah masih mengapit sebatang rokok yang membuat nya merasakan nyeri rasa terbakar di d**a Bima tersenyum saja melihat Fahri Seperi bocah baru dalam merokok, tapi memang di akui rokok racikan memiliki nikotin jauh lebih tinggi dari rokok pasaran karena bakau di gukana sangat tinggi nikotin apalagi Tak ada filer kapas rokok kebanyakan, kalau satria dia sudah biasa numpang nyebat dengan batang rokok buata Nya " Ini rokok kretek nama nya, kayak orang baru aja Lo" bima hanya melirik sekilas menikmati sesapan nikotin yang kata nya tak baik bagi kesehatan mereka, bibir nya rada ke coklatan mungkin efek merokok dini atau memang dia nya tak terlahir bersih alias mengikuti tone kulit nya memang coklat gelap. Satria tertawa mendengar Omelan khas nya Bima, anak itu memang suka meledek se kena nya, " rasa nya keras sih dari pada rokok biasa nya, tapi enak kok" satria menghembuskan nafas lewat mulut nya, mengeluarkan kepulan asap menyesakan Fahri Segera Fahri menutup lubang hidung segera sebelum rasa panas menyeruak kembali, " terus kalau bukan itu merek rokok nya kenapa di taruh di situ" protes Fahri menuding Bima Bima tersenyum nampak walaupun sibuk belahan bibir nya mengapit batang putih itu, " gini ya bro. Pertama kenapa gua make gini, soalnya gua lebih hemat bisa beli tembakau secara kiloan, beli kertas bungkus nya berapa sih, murah kok bisa dapet banyak... Makannya si bangsatt satu ini kadang numpang sama gua" mengatai si pelaku, satria hanya bisa cengengesan memang benar ada nya kalau dia mau protes " Kalau soal tempat nya sih ya karena gak ada tempat lain, ya kali rokok buatan ku di tarus di plastik bisa remuk semu" lanjut nya dan di tanggapi tawa oleh kedua nya " Tapi sesek bro" Fahri menepuk d**a nya, mengurangi rasa panas dan sesak dari paru paru nya. " Alah, entar juga kebiasaan... Makin tinggi nikotin yang Lo isep bakal ngerasa b aja Lo sama yang di jual di Alfamart" " Lah kenapa" " Cuman sensasi nya beda kayak makan permen mint" canda Bima memancing tawa Fahri kembali melihat batang tenagh menyala antara jemari nya, dia mencoba menyesap lagi batang bersumbu api itu lagi walaupun hasil nya sama saja membuat d**a nya terasa terhimpit, tapi toh kedua manusia di hadapan nya bisa kenapa dia malah jadi cupu begini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN