bukan dilan

1085 Kata
" ampun Bu, ampun..." Rintih nya sakit, siapa sangka wanita yang cukup tua dan menjadi penjaga perpus selama bertahun-tahun mempunyai tenaga cukup besar, jeweran nya tak main-main Penjaga perpus menggiring Fahri ke luar perpustakaan, menyetak nya keluar " Kamu kalau buat rusuh mending keluar sana gih" marah nya sambil melotot seram " ampun deh, Bu serius tadi itu ngak sengaja, aku cuman mau ngembaliin buku pinjaman saja" Fahri segera membuka tas gendong milik nya membuka isian nya, " ini Bu.. cuman mau ngembaliin ini kok, seriusan" mohon nya menyodorkan dua buku paket Perempuan menakutkan itu langsung mengambil nya tak sabaran " Kamu bakal dapet sanksi kalau begini terus, kamu tahu Fahri" " Maaf Bu, saya kan inget nya sekarang" " Dan jangan pernah ke mari lagi untuk teriak-teriak, kamu bukan orang gila atau orang hutan" " Iya Bu" cicit nya " Paham ngak!!" " Iya, iya, Fahri faham" Puas sudah memarahi anak Badung itu dirinya segera masuk kembali ke dalam perpustakaan, menyisakan seorang Fahri di luar sana " Hujan nya sudah berhenti beneran ya" tangan nya mengasah ke langit, rintik hujan sudah tak nampak ingin jatuh ke bumi Dia riang sekali dengan senyum mengembang, bukan membayangkan Montor Vespa biru kesayangan nya karena tak kena hujan lagi, tapi kali ini membayangkan sosok perempuan perpustakaan tadi Nina, Nina.. cantik nya, nama perempuan itu bagai mantra di kepala nya, bergegas ia berjalan ke parkiran mengambil kendaraan tercinta nya tersebut, maaf ya Vespa kau seperti nya tengah di dua kan oleh tuan mu karena sorang gadis Mungkin sudah waktu nya benda ke sayang nya ini membonceng gadis cantik, sudah lama ia berhenti menjadi seorang pria bergelar playboy semenjak dia ketahuan selingkuh itu hal memalukan Kenangan dimana diri nya di maki-maki oleh pacar nya yang lain ketika tak sengaja berpacaran dengan pacar nya yang lain juga di kafe, itu hal yang membuat ia tobat seketika, bukan karena sadar cuman malu saja ketahuan di depan umum sampai di lirik sinis oleh se-isi pengunjung situ Tapi sosok Nina rasa nya tak mungkin ia dua kan, kecantikan nya jauh di antara mantan pacar yang pernah ia beri gombalan langsung kelepek-klepek bak ikan di daratan Montor biru di Kendarai lelaki Tan itu terparkir rapi di depan warung kopi, tempat biasa nya ia nongkrong bersamaan temannya " Eh, nak Fahri.. mau kumpul-kumpul lagi ya" sapa pemilik warung ramah Sangking sudah sering nya hingga ibu Nanik hafal dengan diri nya ini beserta lainnya " Iya Bu, kang galih gimana kabar nya" " Ah, biasa bapak suka encok, emang gak sadar umur sudah tua masih saja kelayapan naik-turun manjat pohon" kata nya memberi tahu kondisi si suami yang juga dekat dan kenal dengan Fahri Belum juga mulut nya sempat meledek pria yang suka membuat gelak tawa di antara pelanggan-pelanggan lainnya sebuah suara di kenal mem-protes Kang galih muncul dari balik tirai pintu " Aku mau manjat pohon kelapa juga karena kamu, kalau ngak kamu pengen minum air nya mana mau aku susah-susah manjat ke atas" terlihat pria yang biasa di panggil kang galih berjalan sedikit kesusahan kedua tanggan nya seolah menyangga pinggang kiri nya, terlihat sekali ia sesekali menahan ngilu nya sakit. " Jadi ini ibu yang mau ya" kata nya jail mengoda perempuan pemilik warung itu " Iya tuh nak, sudah tau suami nya ngak bisa terus-terusan manjat pohon, eh. Dia nya pengen banget kelapa ya sudah dari pada beli manjat aja di belakang rumah" " Bapak sih mau aja" bela nya membenarkan diri tak mau kalah " Kalau aku ngak mau, kamu nya yang nge-rengek minta" " Kenapa gak beli aja sih kang" usul Fahri menengahi perseteruan pasutri ini " Mana mau dia nya, hemat..hemat itu motto hidup nya, mau beli kaos kaki aja kalau ngak sampe bolong ngak bakal beli lagi...aduh, aduh ampun" Istri nya dengan semangat 45 mencubit pinggang pasangan nya sampai menjerit kesakitan, Fahri terkikik geli melihat pasangan tak lagi muda ini nampak sekali bahagia sampa saat ini. " Ya sudah saya permisi dulu Bu Nanik kang galih, duluan" pamit nya mau pergi ke tempat ke-dua teman nya " Iya nak, silakan dari pada ngeliat cewek marah-marah, mau minum apa" tanya si pemilik warung " Yang biasa aja kang" dia sudah langganan sampai pemilik warung hafal, toh ia tak punya menu lain yang ingin di coba " Kopi s**u segelas sama rokok nya satu kan" ulang nya menghafal menu paten selalu di pesan nya ketika mampir kemari. " Siap, aku tunggu di tempat biasa nya kang". Biasa nya nampak satria selalu ber-dua dengan Bima, tapi yang nampak hanyalah satria seorang, dia tengah asik menikmati se gelas soda gembira nya " Sendiri aja" kata Fahri ikut duduk di kursi bambu, menaikan sebelah kaki nya ke atas kursi gaya ternyaman nya saat nongkrong " Tuh anak lagi di kamar mandi, tunguin aja" batang rokok sempat di angurin di asbak kembali ia raih dan di sesapi peluh asap rokok Malioboro nya. " Ngapain n***e tuh anak" asal Fahri ber- canda, satria menarik Putung nya menjauh " Mana mau tuh anak" satria menghembuskan asap rokok membentuk sebuah lingkaran, bermain-main dengan kepulan asap candu nya. Fahri terkekeh berlahan, ngomong-ngomong dia tak pernah melihat Bima berpacaran dengan seorang pun perempuan yang ia tahu pas SMP anak itu pernah sekali saja pacaran dengan sang mantan berjalan hampir 4tahun sebelum perempuan itu memilih putus mengakhiri hubungan mereka, itu saja yang ia tahu. Seorang anak yang masih memakai seragam seperti dua lainnya menyaman kan diri duduk di bangku panjang berhadapan dengan Fahri, itu Bima pria berbadan berisi dengan kulit hitam nya, Bima mengambil sebuah gitar ber setiker Slank, memainkan alat musik itu yang sempat ia angguri di atas meja ' jreng..jreng..' ia sama sekali tak punya sense musik tapi kata nya bergaya saja siapa tau se keren Bimbo ujar lelaki berwajah gahar tukang pembuat onar itu jika ada orang yang menanyai dia kenapa masih suka membuat sumbang melodi nya, kalaupun ia berdalih dia pasti berkata 'ah- pengamen cuman genjarang gengjreng juga dapet duit, gak masalah kalau gitar ku ini suara nya sumbang bukan salah ku' itu katanya ketika terik hari satria bertanya pada nya yang selalu memainkan benda coklat kesayangan nya " Eh! Dah lama bro" tanya Bima pada teman nongkrong nya, Fahri mencebik kan bibir nya "belum barusan juga pesen minum nya" Bima mengangguk sambil asik mencoba senar gitar nya, "ngomong-ngomong, Lo ngak punya pacar Bim" Fahri membuka percakapan di antara mereka Lupakan si satria yang asik nyebat dan melamun entah apa yang di pikir " Ngak, gua jomblo kok.. mau nyariin emang" kata nya tanpa memperhatikan si lawan bicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN