Bukan Suami yang Baik

1062 Kata
Arka terlihat canggung dan sedikit bingung. "Kiran, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Aku sangat khawatir," katanya pelan. "Khawatir? Kamu khawatir?" Kiran tertawa getir mendengar perkataan Arka. "Setelah semua yang kamu lakukan, kamu berani bilang kamu khawatir? Kamu pikir aku akan percaya omong kosongmu itu?" Maria segera berdiri di antara Kiran dan Arka, ia mencoba menenangkan situasi yang sudah mulai memanas. "Arka, mungkin ini bukan waktu yang tepat. Kiran butuh waktu untuk menenangkan diri." "Tapi, Ma ...." Arga yang berdiri di belakang Maria, menatap Arka dengan tajam. "Sudah cukup, Arka. Kamu seharusnya tidak ada di sini sekarang." Arka tampak terluka oleh kata-kata anggota keluarganya, tetapi ia tetap mencoba mendekati Kiran. "Kiran, aku tahu aku membuat kesalahan besar. Tapi aku benar-benar ingin memperbaikinya. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan." Kiran menggelengkan kepala dengan tegas. "Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kamu sudah memilih jalanmu sendiri. Aku tidak butuh penjelasan atau permintaan maafmu." Arka menghela napas berat, ia merasa putus asa mendengar penolakan Kiran. "Aku tahu aku salah. Aku benar-benar menyesal. Tolong, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Maria melihat ke arah Kiran, mencari tanda-tanda bahwa menantunya mungkin mau mendengarkan Arka. Tapi Kiran tetap keras kepala, ekspresinya tidak berubah. "Arka, mama pikir lebih baik kamu pergi sekarang," kata Maria tegas. "Kiran butuh waktu untuk pulih dan menenangkan diri. Kita bisa membicarakan ini di lain waktu." Arka terlihat sangat sedih, tetapi ia tahu bahwa tidak ada gunanya memaksa. "Baiklah. Tapi tolong, Kiran, aku akan selalu ada jika kamu butuh aku," katanya dengan suara penuh penyesalan sebelum berbalik dan pergi. Begitu Arka keluar dari ruangan, Kiran menarik napas dalam-dalam, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dari sisa amarah yang hampir meledak. "Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi semua ini, Ma," ujarnya, suaranya terdengar lelah. Maria mengelus bahu Kiran, mencoba menenangkan menantunya itu. "Tidak apa-apa, Sayang. Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Kami semua di sini untuk mendukungmu." Arga mendekat dan mengusap punggung Kiran juga. "Kami akan selalu ada di sini untukmu, Kiran. Kamu tidak sendirian." Waktu terus berjalan, malam pun semakin larut. Arga dan Maria berada di depan ruang tempat Kiran dirawat, berusaha memberi Kiran ruang untuk beristirahat. Meski demikian, Maria tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya terhadap menantunya itu. Wajahnya menunjukkan rasa cemas yang mendalam. "Ma, ini sudah malam. Mama lebih baik pulang saja," saran Arga, mencoba meyakinkan ibunya. Maria menggelengkan kepala. "Mama tidak bisa pulang, Arga. Kiran pasti membutuhkan mama di sini. Lebih baik kamu saja yang pulang." Arga menepuk bahu ibunya dengan penuh kasih. "Ma, biar Arga saja yang menjaga Kiran. Mama istirahat saja di rumah, ya?" Namun, Maria tetap bersikeras. "Tidak, Arga. Kamu kan besok bekerja. Lebih baik mama saja yang menjaga Kiran di sini. Noah juga sendirian di rumah, dia pasti membutuhkan kamu." Arga terdiam sejenak, mengingat putranya yang bernama Noah. Arga memiliki seorang anak dari pernikahannya dengan almarhum istrinya, Eva. Namun, Eva mengalami kecelakaan tragis ketika hendak menjemput Noah di sekolah. Sudah satu tahun sejak Eva meninggal, namun perasaan Arga kepada Eva masih begitu dalam. Bahkan sampai saat ini, Arga masih betah sendiri, baginya, tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan Eva di hatinya, meskipun Maria, memintanya untuk menikah lagi, terutama untuk membantu Arga merawat Noah, terlebih Noah masih membutuhkan sosok ibu. Namun, Arga selalu menolak. Arga menatap ibunya. "Ma, Noah memang butuh aku. Tapi aku yakin, dia juga mengerti kalau Kiran sedang membutuhkan kita sekarang." Maria terlihat bimbang, namun masih enggan meninggalkan rumah sakit. "Mama tetap tidak bisa pulang, Arga. Mama ingin berada di sini untuk Kiran." Tiba-tiba, Arka muncul di lorong rumah sakit, menghampiri mereka dengan langkah cepat. "Ma, Kak Arga, kalian lebih baik pulang saja. Biar aku yang menjaga Kiran," ujarnya dengan tegas. Maria memandang putranya yang satu itu dengan tatapan tajam. "Tidak, Arka. Setelah semua yang kamu lakukan, mama tidak yakin kamu bisa menjaga Kiran dengan baik." Arka menghela napas berat, mencoba meyakinkan ibunya. "Mama, aku adalah suaminya. Aku pasti akan menjaga istriku. Aku menyesali semua yang sudah terjadi dan aku ingin memperbaikinya." Arga yang melihat ketegangan di antara mereka, mencoba menjadi penengah. "Arka, Mama hanya khawatir. Tapi mungkin kamu benar. Kamu adalah suaminya, dan kamu harus bertanggung jawab." Maria tampak ragu, namun akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, Arka. Tapi kalau terjadi sesuatu, kamu harus segera menghubungi kami," katanya. Arka mengangguk. "Tentu, Ma. Aku janji akan menjaga Kiran dengan baik." Arga meletakkan tangannya di bahu ibunya, mencoba menenangkan. "Ayo, Ma. Kita pulang sekarang. Kiran akan baik-baik saja." Dengan berat hati, Maria akhirnya setuju. Arga membimbing ibunya keluar dari rumah sakit, memastikan ia tidak lagi merasa terlalu khawatir. Mereka berjalan menuju mobil dengan langkah yang lambat. Di perjalanan pulang, Maria tidak bisa berhenti memikirkan Kiran. "Arga, apakah kamu benar-benar yakin Arka bisa menjaga Kiran?" tanyanya dengan nada khawatir. Arga menghela napas panjang. "Ma, Arka memang telah membuat banyak kesalahan. Tapi mungkin ini saatnya dia memperbaiki dirinya. Kita harus memberinya kesempatan." Maria mengangguk pelan, meskipun hatinya masih berat. "Mama hanya ingin yang terbaik untuk Kiran. Dia sudah cukup menderita." "Begitu juga aku, Ma. Aku ingin yang terbaik untuk Kiran. Kita hanya bisa berharap Arka benar-benar berubah," kata Arga, mencoba meyakinkan ibunya sekaligus dirinya sendiri. *** Arka menggenggam erat tangan Kiran yang sedang tidur lemah di atas brankar, perasaan menyesal terus saja menjalar ke seluruh tubuhnya. Bagaimana tidak, selama dua tahun ini ia telah mengkhianati istrinya dengan menikah diam-diam bersama Lita. Setiap malam ia dihantui oleh rasa bersalah yang mendalam. Meskipun Arka tidak memiliki perasaan terhadap Lita, ada satu hal yang harus ia pertanggungjawabkan: Cleo, anaknya bersama Lita. Malam itu, saat sedang ada acara di kantornya, Arka terlalu banyak minum sampai ia lupa kendali dan melakukan hal b***t bersama Lita. Ketika tersadar dari mabuknya, ia merasa syok dan begitu menyesal. Namun, keterkejutannya belum berakhir sampai di situ. Beberapa minggu kemudian, Lita menghubunginya dan memberitahu bahwa ia sedang mengandung anaknya. Dunia Arka terasa sudah runtuh. Bagaimana ia bisa menjelaskan semua ini kepada Kiran, istri yang selalu setia mendampinginya? Arka menunduk, memandang wajah Kiran yang pucat dan lemah. Air mata menetes dari pelupuk matanya, menyatu dengan bibir tebalnya yang berwarna merah muda. "Maafkan aku, Sayang," gumamnya lirih. "Karena aku, kamu seperti ini. Maaf, aku bukanlah suami yang baik untukmu. Aku hanya bisa membuatmu sengsara. Maafkan aku ...." Tetesan air mata Arka jatuh ke tangan Kiran, membuat Kiran terbangun perlahan. Ia membuka mata dan melihat suaminya yang menangis tersedu-sedu. Rasa sakit dan kemarahan memenuhi hati Kiran. Begitu menyadari kehadiran Arka, ia langsung menepis tangan suaminya dengan kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN