BAB. 31 - 32

730 Kata
BAB 31 Kedatangan Penata Hias Pagi datang dengan cahaya yang lembut, menyusup lewat celah jendela dan menerangi butiran debu yang melayang pelan di udara. Nayla sudah bangun sejak subuh. Seperti biasa, ia telah menyapu seluruh halaman, mengambil air dari sumur, dan menyiapkan kebutuhan dapur. Gerakannya lambat, teratur, seolah setiap detik dijalani dengan penuh kesadaran. Tak lama setelah matahari terbit, terdengar suara roda kereta yang berhenti di depan rumah. Beberapa orang turun, membawa peralatan dan bahan hiasan. Itu penata hias yang dipanggil Rosa. Suara langkah kaki dan obrolan mulai memenuhi ruangan. Rosa dan Miranda menyambut mereka dengan senyum lebar, menjelaskan apa yang mereka inginkan dengan nada antusias. Nayla berdiri di sudut ruangan, menunggu perintah. Ia tidak berbicara, hanya mengamati. "Kau, bantu angkat barang ini," perintah Rosa menoleh padanya. "Baik, Bu." Nayla berjalan mendekat, mengangkat kotak berisi bunga kertas dan pita dengan hati-hati. Ia meletakkannya di tempat yang ditunjuk, lalu kembali berdiri menunggu. Orang-orang itu mulai bekerja. Memasang hiasan di dinding, menyusun bunga di meja, menata kain-kain berwarna cerah. Ruangan yang tadinya sudah terlihat rapi kini berubah menjadi semakin meriah, penuh warna dan kesan bahagia. Miranda berputar mengelilingi ruangan, memeriksa setiap sudut. Wajahnya tampak puas, matanya berbinar melihat hasilnya. "Bagus sekali," katanya lantang. "Nanti semua tamu pasti akan terkesan." Ia berhenti sejenak di dekat Nayla, menatapnya sekilas dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau lihat? Semua terlihat indah dan sempurna. Berbeda dengan barang tua yang kau simpan. Ia tidak akan pernah bisa membuat suasana seperti ini." Nayla menunduk sedikit. "Setiap hal punya tempatnya masing-masing." Miranda mendengus pelan, lalu berbalik bergabung dengan Rosa dan penata hias. Nayla mundur perlahan menuju ambang pintu. Ia memandangi ruangan yang kini terlihat begitu hidup, namun baginya terasa asing. Seperti panggung yang disiapkan untuk orang lain, dan ia hanyalah penonton yang berdiri di pinggir. Ia melangkah keluar menuju halaman. Di sana, udara terasa lebih lapang dan sejuk. Ia berdiri di bawah naungan atap, memandangi langit yang berwarna biru cerah tanpa awan. Hiasan ini akan terlihat indah untuk satu hari. Lalu setelah itu, ia akan dilepas, disimpan, atau dibuang. Tapi kenangan yang tersimpan di hati... ia tidak akan pernah lepas, meski waktu terus berjalan. Ia menarik napas panjang, lalu kembali masuk ketika dipanggil untuk membantu menyiapkan minuman. BAB 32 Malam Sebelum Hari Itu Sore perlahan berganti malam. Pekerjaan penata hias selesai, dan mereka pamit pulang. Kini rumah kembali sunyi, namun suasananya terasa berbeda. Ruangan yang penuh hiasan berwarna-warni tampak sedikit suram diterangi cahaya lampu minyak yang redup. Rosa dan Miranda masih duduk di ruang tengah, memeriksa sekali lagi semuanya. Wajah mereka tampak tenang, seolah semuanya sudah sempurna. "Besok semuanya akan berjalan lancar," kata Rosa pelan. "Ya, Bu. Ini akan menjadi hari yang indah," jawab Miranda. Nayla berdiri di dapur, mencuci peralatan makan dengan gerakan lambat. Air yang mengalir terasa dingin di kulitnya, menenangkan pikirannya yang mulai terasa berat. Setelah selesai, ia berjalan menuju kamarnya, mengunci pintu pelan-pelan. Di dalam sana, cahaya lampu kecil menerangi sudut meja tempat sepatu tua itu tersimpan rapi di atas kain bersih. Ia mendekat, duduk di tepi tempat tidur, lalu membuka kain penutupnya perlahan. Sepatu itu terlihat sama seperti biasanya warnanya pudar, kulitnya mengelupas di beberapa bagian, namun tetap utuh. Nayla mengusapnya dengan lembut. Jari-jarinya bergerak pelan mengikuti setiap lekukan. "Besok hari itu tiba," bisiknya sangat pelan. "Rumah akan penuh orang. Penuh suara. Penuh warna." Ia berhenti sejenak, menatap sepatu itu dengan pandangan yang lembut. "Tapi aku tahu, di sini, kau tetap sama. Tetap diam. Tetap menjadi milikku. Tidak ada yang bisa mengubahnya." Ia teringat ayahnya yang tadi sempat berkata: "Semua akan berjalan seperti yang diharapkan." Ia tidak merasa sedih berlebihan. Seolah hatinya telah lama bersiap, telah lama menerima bahwa jalan hidupnya memang berbeda. Ia tidak membenci siapa pun, hanya merasa bahwa ada bagian dari dirinya yang harus tetap terjaga, meski di tempat yang sepi. Seperti sepatu ini. Ia tidak iri melihat sepatu baru yang berkilau. Ia tahu, ia punya cerita yang tidak dimiliki sepatu mana pun. Begitu juga aku. Ia menutup kembali kain penutupnya dengan hati-hati, lalu menyimpannya kembali di tempatnya. Setelah itu, ia berbaring perlahan di atas kasurnya, memandangi langit-langit kamar yang redup. Di luar, suara jangkrik mulai berbunyi, mengisi keheningan malam. Angin berhembus pelan melewati celah jendela, membawa kesejukan yang menenangkan. Nayla memejamkan matanya. Ia tahu, besok akan menjadi hari yang panjang. Namun ia juga tahu, apa pun yang terjadi, ia akan tetap berdiri, tetap bertahan, seperti sepatu tua yang ia sayangi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN