"Ayana, aku minta tolong padamu untuk menjadi sekretarisku beberapa hari ini. Kau tau kan aku sudah memecat Selly kemarin." Jovanka mengerutkan bibirnya. "Sa-saya, Pak?" "Ya, kau. Memangnya di mobil ini ada orang lain selain kau dan aku?" tanya David. "Haha, bapak yakin?" "Yakin, tidak mungkin aku suruh Paul menjadi sekretaris. Dia bisa merusak kerjaku." Jovanka tersenyum kaku. Ternyata alasan dia minta ditemani adalah menolong pria itu untuk jadi sekretarisnya. "Apa aku punya pilihan lain?" tanyanya mencoba bernegosiasi. "Ada." "Oya, apa itu?" "Jadi istriku." "Eh?" Jovanka sangat terkejut dan segera menurunkan pandangannya. David tersenyum, suka sekali melihat ekspresi wanita itu. "Bagaimana? Mau pilih yang mana?" "Ahaha, tentu jadi sekretarismu saja." "Oke!" Pria itu tersenyu

